
Perusahaan Royce.
Twister telah tiba di perusahaan Tuan Hans dengan raut wajah kesal, ia segera menaruh koper hitam tersebut diatas meja kerja pemilik perusahaan besar itu dengan kasar, hingga mengejutkan beberapa orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Apa-apaan ini Twister!" protes Tuan Hans tidak suka.
Twaiter menatap semua orang yang ada di dalam ruangan sang ayah dan mereka mengerti hanya dalam sekali tatapan.
Dan setelah ruangan itu dalam keadaan sepi, Twsiter mulai mengutarakan maksud serta tujuannya menemui sang ayah.
"Daddy, jelaskan padaku apa arti dari semua ini? Kenapa kau membawa uang dan memberikannya kepada keluarga Sanyoto?" cecar Twister.
"Kenapa bertanya seperti itu kepada Daddy? Apa keluarga itu mengadu hal yang bukan-bukan kepadamu?" tanya balik Tuan Hans.
"Ini bukan masalah mengadu, hanya saja aku tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita semua," balas Twsiter.
"Sederhana saja, Daddy hanya memberikannya uang sebagai imbalan, karena telah menyelamatkan nyawamu sewaktu itu. Dan juga sebagai bentuk balas budi, karena telah merawatmu selama beberapa tahun didalam rumahnya," balas Tuan Hans.
"Selain itu? Apa Daddy tidak berkata sesuatu yang lainnya, yang menyakiti hati mereka? Atau Daddy sengaja memberikan uang ini dan bermaksud untuk menjauhkan keluarga Sanyoto dariku?" selidik Twister.
"Kenapa kamu beranggapan seperti itu, seakan-akan Daddy telah melakukan kesalahan disini. Kau keluarga Royce, apa salahnya Daddy meminta mereka menjauhimu dan melupakanmu karena kalian tidak memiliki hubungan darah."
"Lagipula sampai kapanpun kau adalah bagian dari keluarga ini, Jadi mana mungkin aku membiarkan kau menjadi bagian dari keluarga orang lain," balas Tuan Hans.
"Mereka telah menyelamatkan nyawaku dan merawatku seperti keluarga sendiri, walau aku dan keluarga Sanyoto tidak memiliki hubungan darah, akan tetapi mereka telah ku anggap sebagai bagian dari keluargaku sendiri," balas Twister.
"Untuk apa kamu melakukan itu? Dengan apa kau bisa membalas budi mereka jika bukan dengan materi?" tuntut Tuan Hans.
"Daddy aku mengenal sifat keluarga itu, dia tidak akan menerima uang atau materi seperti ini, karena mereka ikhlas menolongku tanpa imbalan apapun," balas Twister.
"Omong kosong! Daddy tidak percaya jika ada orang yang benar-benar ikhlas seperti yang kau katakan itu! Mereka memang tidak meminta imbalan apapun pada kita hari ini, tapi kita tidak tahu kedepannya seperti apa, Twister!"
"Bisa saja suatu hari nanti, salah satu dari mereka datang menemui keluarga kita, dan mengungkit hutang budi ini karena telah menjadi penyelamatmu, lalu meminta macam-macam kepada keluarga kita!
__ADS_1
"Atau bisa saja mereka merencanakan hal jahat lain, yang dapat merugikan keluarga Royce. Seperti meminta sebagian harta atau yang lainnya, dengan alasan kau adalah bagian dari keluarga mereka!"
"Jadi Twister, untuk itulah Daddy memberikan uang ini, karena Daddy ingin hubungan keluarga yang kamu sebutkan tadi itu diputuskan dengan segera!" tegas Tuan Hans.
Twister mendengus kesal, sambil menatap tajam sang ayah. "Ingatlah ini baik-baik Daddy, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melupakan jasa keluarga yang pernah menyelamatkanku. Dan bagaimanapun juga aku akan tetap menjadi bagian dari keluarga mereka!" balasnya lalu berbalik pergi.
"Twister! Bagaimana pun caranya, Daddy akan berusaha sekeras mungkin, agar kau bisa melupakan keluarga itu!" sergah Tuan Hans.
Twister menoleh ke belakang tanpa memutar tubuhnya. "Kalau begitu silahkan berusaha, atau jika perlu langkahi dulu mayatku!" kecamnya lalu melangkah pergi.
Tuan Hans mengetuk meja dengan tangan terkepal kuat. "Tidak disangka, Twister begitu peduli dengan keluarga dari kampung itu. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin nama baikku tercemar, hanya karena anakku sendiri punya hubungan dengan orang desa," gumamnya berpikir keras.
...----------------...
Mobil.
Sementara itu Twister melajukan mobilnya menuju desa, sambil menerima panggilan dari seseorang.
"Sorry Drew, aku tidak bisa kembali ke perusahaan. Ada hal penting yang harus aku kerjakan sekarang ini," balas Twister.
"Kerjaan apa? Kenapa mendadak seperti ini dan kenapa kau tidak memberitahuku sebelum pergi?" protes Drew.
"Kalau aku memberitahumu kau pasti akan mencegahku pergi, jadi lebih baik aku mengabarimu setelah sampai disana saja," ucap Twister.
"Sampai disana? Katakan Twister, sebenarnya kau ingin pergi kemana?" cecar Drew.
Twister menghembus nafasnya kasar, sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. "Aku ingin pergi ke desa Rawa Bebek dan sedang dalam perjalanan menuju kesana."
"Apa? Kau sedang pergi ke desa itu? Untuk apa Twister?" tanya Drew kembali.
"Aku tidak bisa menjelaskannya disini sekarang Drew, sudah ya. Aku sedang mengemudi, nanti ku hubungi kembali," ucap Twister.
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati dijalan dan jangan lupa hubungi aku setibanya disana," balas Drew. Lalu mematikan panggilan tersebut.
__ADS_1
...----------------...
Desa Rawa Bebek.
Tesla dan kawan-kawan telah tiba di rumah pak Sanyoto, dan mereka bertiga langsung disambut oleh ibu Tyas.
"Yu semuanya masuk, ibu sudah menyiapkan makanan dan kamar untuk kalian selama menginap disini," ajak Ibu Tyas ramah, setelah selesai menyambut ketiga gadis-gadis dihadapannya.
"Iya Bu terima kasih," patuh Marisa dan Tiara tersenyum semang.
Kedua gadis itu pun secara spontan mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tinggal Tesla, dan tidak sedikit mereka menunjukkan raut kagum.
"Rumahmu luas dan sejuk sekali Tesla, aku suka sekali rumah dengan gaya perdesaan seperti ini," puji Marisa.
"Betul sekali, aku juga suka sekali. Rumahmu bikin betah," ucap Tiara menimpali.
"Hem, kak Bagas juga berkata seperti itu!" seru Tesla teringat. Raut wajahnya yang senang seketika berubah murung, saat tidak sengaja menyebut nama Bagas.
Tiara dan Marisa menatap satu sama lain, lalu merangkul Tesla untuk menyemangati.
"Jangan sedih begitu dong, bukankah kamu yang bilang sendiri, kalau kakak angkatmu itu, masa depannya akan cerah jika tinggal bersama dengan keluarga aslinya," ucap Marisa.
"Iya Tesla, pasti kakak Bagasmu itu akan selalu mengingatmu dan akan mengunjungi keluargamu suatu hari nanti," sambung Tiara.
Tesla mengangguk, tapi hatinya ragu. "Semoga saja, tapi mana mungkin kak Bagas akan datang kesini dan mengingat keluargaku lagi," batinnya berkata seperti itu, sambil memegangi dadanya yang terasa sesak, akibat luka benturan yang ternyata belum sembuh sepenuhnya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1