Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 110. Menikmati alam.


__ADS_3

Angin berhembus lembut bersama dengan suara tawa Drew dan Tesla yang tengah berboncengan, berkeliling naik sepeda di tengah-tengah sawah nan luas, seperti berada di tengah hamparan permadani kaki langit.


Drew turun dari sepeda milik Pak Sanyoto yang tengah kelimpungan mencari sepedanya untuk mengajak Tesla berjalan kaki, sambil menuntun sepeda tua mengikuti kemana langkah kaki mereka membawanya.


Hingga tibalah keduanya di sebuah gazebo milik petani sekitar dan mereka duduk sejenak untuk menikmati alam sekitar.


"Tidak kusangka pemandangan desa ini sangat luar biasa," puji Drew mengibaskan rambutnya yang tertiup angin siang menjelang sore.


"Ya, pemandangan disini bukan satu-satunya pemandangan indah di desa ini, tapi masih banyak lagi tempat-tempat indah lainnya," balas Tesla.


"Benarkah? Bisakah kau membawaku keliling mengunjungi tempat-tempat itu?" tanya Drew antusias.


"Bisa, tapi tidak hari ini. Selain karena jarak tempatnya yang cukup jauh dari sini, sudah begitu hari juga sudah semakin sore. Jadi tidak mungkin cukup waktu bagi kita kalau pergi sekarang," balas Tesla.


"Oh begitu, jadi kapan kira-kira kita bisa kesana?" tanya Drew semangat ingin pergi.


"Entah, tapi jika kau ingin pergi kesana. Kau harus berangkat pagi-pagi sekali, karena untuk mencapai tempat itu kita harus mendaki bukit agar bisa menikmati pemandangan sekitar," balas Tesla.


"Mendaki bukit?" tanya Drew.


"Benar, kita harus mendaki bukit," balas Tesla.


"Memangnya ada apa diatas bukti itu?" tanya Drew sedikit tertantang.


"Diatas bukit itu ada air terjun dan kita bisa melihat panorama alam sekitar yang indah dari atas sana. Lalu kau bisa merasakan udara sejuk diatas bukit pegunungan walau dibawah terik matahari, belum lagi kau juga bisa mendengar suara kicauan burung dimana-mana dan suara-suara binatang lainnya," jelas Tesla.


Drew terdiam memikirkan itu semua, sambil membayangkan hal indah yang dikatakan oleh Tesla.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita berdua pergi kesana esok pagi?" tawar Drew.


"Besok pagi? Memangnya kau akan menginap disini?" tanya Tesla.


"Ya aku akan menginap di desa ini selama beberapa hari. Selain aku ingin memantau pembangunan hotel dan restoranku sudah sampai mana, Twister juga ingin aku melihat rumah sakit yang baru saja selesai dibangun bersamanya," balas Drew.


Tesla mengangguk paham. "Oh begitu," balasnya.


"Iya sayang, lalu bagaimana dengan ajakanku tadi? Besok apa kau mau mengajakku keatas bukit?" tanya Drew.


"Mau, tapi sebelum pergi aku harus meminta ijin pada Papa."


"Baiklah kalau begitu, aku juga akan meminta ijin pada Papamu agar bisa membawamu kesana," ucap Drew menawarkan bantuan.


"Boleh, tapi meminta ijin pada Papa tidaklah semudah yang kau pikirkan. Mungkin kau butuh melakukan sesuatu untuk menyenangkan hatinya, atau melakukan sesuatu yang bisa membuat Papa percaya padamu," ucap Tesla.


"Baiklah kalau begitu, aku akan memikirkan caranya agar Papamu mengijinkannya," balas Drew memandang hamparan sawah nan luas didepan matanya, lalu berganti menatap Tesla.

__ADS_1


"Hari-hari berlalu sangat cepat, tidak terasa sebentar lagi Twister akan menikah dengan wanita pujaan hatinya. Aku hanya berharap mereka berdua bahagia dan menjalani hidup rumah tangga dengan rukun dan langgeng sampai tua," harap Drew.


"Kau benar, kita hanya bisa berdoa agar mereka berdua hidup bahagia," balas Tesla.


Drew tersenyum menatap Tesla, lalu menarik pinggangnya agar bisa duduk lebih dekat dan merangkulnya. Pria itu menepuk pundak sebelah kanannya, seolah memberi ijin kepada Tesla yang duduk disebelahnya agar bersandar dibahu.


Mereka lalu bersama-sama menatap ke depan.


"Tesla, kita sudah berpacaran selama dua bulan belakangan ini. Katakan padaku, bagaimana denganmu? Apa kau sudah siap menerima lamaranku?" tanya Drew ingin tahu.


Tesla kembali salah tingkah ditatap lekat oleh Drew, apalagi dipeluk seperti itu membuatnya mengeluarkan keringat dingin.


"Baru dua bulan Drew, aku masih ingin mengenalmu lebih dekat lagi." Tesla memalingkan wajahnya saat Drew terus saja menatapnya.


"Menyebalkan, memangnya mau berapa lama lagi kau ingin mengenal diriku yang tampan ini? Kita sudah cukup waktu berkenalan dan berdekatan dan kurasa kita berdua sangatlah cocok," cebik Drew.


"Bukan begitu, kau tahu kan kalau aku ini masih kuliah. Setidaknya tunggulah sampai aku menamatkan S1-ku," balas Tesla.


"Itu terlalu lama sekali," protes Drew.


"Ya, maaf. Tapi kau harus mengerti, aku ingin fokus menyelesaikan kuliahku dan aku juga ingin kau fokus mengatur perusahaanmu, ditambah lagi kau harus belajar lebih banyak tentang bisnis perhotelan dan wisata agar usaha barumu berjalan lancar," balas Tesla.


"Kau benar, terjun di dunia bisnis perhotelan dan pariwisata merupakan hal baru bagiku. Itu salah satu PR terbesarku saat ini," ucap Drew menyadari.


Drew tersenyum. "Terima kasih sudah mengingatkanku, selama kau belajar mengejar gelar S1 mu, maka aku juga harus belajar hal baru dalam bisnis lain dan setelah pembangunan ini rampung, aku pasti sibuk sekali nanti dan aku tidak punya waktu untuk berduaan denganmu."


"Ya tidak apa, yang penting kita masih bisa berkomunikasi."


"Begitu ya, kalau begitu sering-seringlah menghubungiku dan memberikan kabar tentang dirimu," pinta Drew.


"Tentu," balas Tesla tersenyum dan mengangkat kepalanya yang bersandar pada bahu Drew. "Hari sudah gelap, bagaimana kalau kita pulang?"


Drew mengangguk. "Iya ayo kita pulang," balasnya lalu berdiri dan mereka berdua kembali menaiki sepeda menuju rumah.


...***...


Setibanya mereka di rumah, Drew segera menyandarkan sepeda ontel yang telah ia gunakan tadi didinding. Lalu mendekati Tesla yang menunggunya di depan pintu.


"Duduklah dulu, biar aku buatkan kau teh manis hangat."


Drew mengangguk. "Terima kasih."


Tesla masuk kedalam menuju dapur untuk membuatkan segelas teh manis hangat dan juga makanan untuk makan malam.


Tak butuh waktu lama, Tesla telah menyiapkan minuman dan juga makanan untuk disantap bersama. Mereka terlihat mesra, terkadang saling suap menyuapi dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Ada nasi di bibirmu," ucap Drew mengutip nasi di sudut bibir Tesla, hingga membuat gadis itu tersipu malu, apalagi Drew menyelipkan kerlingan genit pada matanya.


Sementara itu, Pak Sanyoto juga baru saja tiba dikediamannya sambil menggerutu dan mengeluh, karena capek sehabis berjalan kaki ke peternakan.


Pria bulat itu menatap Drew yang sedang makan romantis bersama dengan putrinya di teras depan rumahnya dan juga sepeda ontel yang telah bersandar didinding.


"Oh pantas saja dicariin tidak ketemu, ternyata sepedaku dibawa sama si bocah semprull itu!" dengus Pak Sanyoto akhirnya mengerti. "Kakiku sampai bengkak karena berjalan kaki, eh dia malah enak-enakkan berdua disini bersama itik kecil kesayanganku," ocehnya tiada henti.


Ia pun mendengus kesal, lalu mendekati Drew dengan hentakan kuat disetiap langkahnya, sambil menggulung lengan baju hingga kesiku.


"Ehem!" Pak Sanyoto berdehem ketika Drew mengusap bibir putrinya yang belepotan sambal.


Sedangkan keduanya spontan terjingkat kaget dan Drew segera menarik lengannya. "Papa mertua," sapanya tersenyum.


"Jangan panggil aku papa mertua! Katakan padaku, apa kamu tadi yang bawa sepeda itu hah?" tanya Pak Sanyoto menunjuk sepeda ontel kesayangannya.


"I-iya," jawab Drew.


"Gara-gara kamu pakai sepeda itu, aku jadinya jalan kaki ke peternakan dan kedua kakiku ini rasanya pegal sekali!" keluh Pak Sanyoto.


"Maaf Pak, aku benar-benar tidak tahu jika sepeda itu milik bapak." Drew meminta maaf.


"Ya Pah, jangan salahkan Drew. Ini salah Tesla yang tidak ijin dulu pada Papa kalau kami berdua mau pinjam sepedanya. Lagian sejak kapan Papa ke peternakan naik sepeda? Bukannya selalu nebeng naik andongnya pak Mukhlis?" cerocos Tesla.


"Pak Mukhlis sakit, jadi tidak bisa menjemput Papa. Ya sudahlah Papa maafkan, tapi lain kali minta ijin dulu kalau mau meminjam barang orang lain!" tegurnya menatap Drew sinis.


"B-baik," jawab Drew.


Pak Sanyoto lalu membuang wajahnya dan segera masuk daripada berdebat, apalagi perutnya sudah keroncongan. Namun sebelum jauh masuk kedalam, Pak Sanyoto berpesan.


"Jangan kecewakan putriku dan jangan buat dia menangis," ucapnya.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Next \=\=> Twister menikah dan Mutia resmi menjadi menantu keluarga Royce.


Bagaimanakah perlakuan nyonya sherly kepada Mutia?


Tunggu bab selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2