
"Tentu saja aku menyukainya," jawab cepat Drew tanpa berpikir lagi. Membuat wajahnya seketika memerah tidak karuan saat menyadari jika sang ibu sedang menjebaknya agar mengaku.
Nyonya Bianca melebarkan senyumnya dan menatap Drew nakal. "Hem ... Benarkah begitu?" godanya pura-pura terkejut.
Drew lantas menggelengkan kepala. "Tidak Mom, kau salah paham. Aku tidak menyukainya," ralatnya cepat.
"Sudahlah jangan mengelak lagi, Mommy tahu kau menyukai gadis itu," balas Nyonya Bianca.
"Mana buktinya?" tanya Drew masih mengelak.
"Semua bukti terlihat jelas dari sikap dan juga ekspresi wajahmu itu Drew," balas Nyonya Bianca menebak tepat.
Membuat Drew seperti terkena tamparan keras dan akhirnya ia terdiam, sambil tertunduk malu menyembunyikan wajahnya yang memerah semu.
"Baiklah, k-kau benar Mom, aku memang menyukai Tesla," balas Drew akhirnya mengakui.
Nyonya Bianca bersorak dalam hatinya dan tersenyum sumringah. "Akhirnya kau mengakuinya Drew!" serunya.
"Ya ... Tapi mau kah kau berjanjilah padaku, Mommy. Bahwa kau tidak akan memberitahukan perasaanku ini kepada orang lain, apalagi kepada Tesla," pinta Drew berharap dan masih memalingkan wajahnya.
Nyonya Bianca tersenyum dan menarik wajah Drew agar mau menatapnya. "Kenapa kau harus malu? Mencintai seseorang itu tidak salah bukan? Dan mengapa kamu tidak ingin sampai Tesla tahu bahwa kau mencintainya?"
Drew menarik nafas dalam-dalam dan menatap ibunya. "Kau memang benar Mom, tidak salah jika kita mencintai seseorang. Tapi aku hanya tidak mau dia sampai tahu kalau aku menyukainya," balas Drew menolak untuk mengutarakan.
"Kenapa? Bukankah lebih baik menyatakan perasaanmu kepadanya," tanya Nyonya Bianca ingin tahu.
"Itu karena aku malu dan aku tidak tahu perasaan Tesla terhadapku seperti apa. Apakah dia membalas perasaanku ini atau malah sebaliknya? Sudah begitu aku juga takut setelah menyampaikan perasaan suka-ku ini padanya, dia malah berubah risih dan tidak mau dekat denganku lagi karena tahu jika aku ini memiliki rasa untuknya," balas Drew khawatir.
Nyonya Bianca mengangguk pelan. "Mommy mengerti kekhawatiranmu itu sayang, kau takut Tesla akan pergi menjauh darimu setelah kau mengutarakan perasaanmu kepadanya. Akan tetapi, Mommy lebih senang jika kau segera mengungkapkan perasaanmu itu sebelum terlambat, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari," ucapnya mengerti dan berusaha memberi semangat agar Drew berani mengungkapkan perasaannya.
"Tapi Mom, bagaimana kalau dia menolak cintaku?" tanya Drew enggan.
__ADS_1
Nyonya Bianca menghela nafas panjang. "Dicoba saja belum, tapi kau malah sudah berpikir dia akan menolakmu. Drew, yang namanya di tolak dalam menyampaikan perasaan cinta itu adalah sesuatu hal yang wajar. Akan tetapi yang terpenting bagimu sekarang ini adalah kau harus segera mengeluarkan isi hatimu dan mengutarakan perasaanmu kepadanya."
"Kenapa aku harus mengutarakannya? Aku belum siap dan aku butuh waktu lebih untuk itu," balas Drew gemetar.
"Seberapa dalam cintamu padanya dan sudah berapa lama kau mencintai Tesla, sayang?" tanya Nyonya Bianca.
"Entahlah, aku rasa akhir-akhir ini aku mulai menyadari jika aku memiliki rasa untuknya," balas Drew mengingat-ingat.
"Drew, apa kau tahu kenapa Mommy ingin kau cepat mengutarakan perasaanmu itu padanya?" tanya Nyonya Bianca.
Drew menggeleng. "Tidak tahu, memangnya kenapa?"
"Itu karena rasa cintamu pada Tesla belum terlalu dalam dan Mommy tidak ingin hatimu ini sampai terluka serta merasakan sakit hati berlarut-larut jika cintamu di tolak olehnya nanti. Akan tetapi berbeda hal lagi jika kau telah jatuh cinta terlalu dalam padanya, hatimu ini akan merasakan sakit teramat sangat, yang mungkin saja bisa mengakibatkanmu masuk dalam keterpurukan. Dan Mommy tidak mau hal itu sampai terjadi padamu," balas Nyonya Bianca menjelaskan.
Drew sedikit tercerahkan oleh penjelasan dari sang ibu. "Baiklah, secepatnya aku akan menyampaikan perasaanku ini pada Tesla.
Nyonya Bianca tersenyum dan memberi nasihat. "Syukurlah kalau begitu, Mommy senang mendengarnya. Akan tetapi Drew, berjanjilah pada Mommy, setelah kau menyampaikan perasaanmu itu. Terimalah apapun jawaban dari Tesla entah itu jawaban menyenangkan atau tidak dan kau tidak boleh memaksakan kehendakmu padanya."
Drew tersenyum dan menggenggam tangan ibunya. "Terima kasih Mom, aku berjanji akan selalu mengingat nasihatmu."
"Baik Mommy, aku mengerti. Terima kasih atas dukungan dan juga saran-saranmu!" Drew mengangguk paham, lalu mengecup punggung tangan sang ibu bertubi-tubi.
Nyonya bianca tersenyum dan mengusap puncak kepala Drew. "Semoga kau berhasil mendapatkan cintamu dan selalu bahagia setelah berjalan bersama cintamu," doanya.
Bersamaan dengan hal tersebut, Twister menghampiri Nyonya Bianca dan Drew yanh sedang duduk bersama.
"Mom," sapa Twister mencium pipi ibunya tanpa malu, lalu duduk di sebelahnya.
Nyonya Bianca tersenyum. "Kau datang kesini juga," ucapnya mengusap wajah putra sulungnya.
"Tentu, memangnya Drew tidak memberitahumu kalau di rumah sedang ada sekelompok ibu-ibu sosialita bergaya glamor seperti toko emas berjalan sedang berkumpul membahas harta," balas Twister ketidaksukanya kepada genk ibu tirinya.
__ADS_1
Drew merasa geli dengan penuturan Twister. "Toko emas berjalan? Kau bisa saja Twister! Tapi memang begitu sih, apalagi si nenek lampir itu. Dia bagaikan wanita berkelip," ucapnya meledek.
"Hush jangan berkata seperti itu, mau bagaimanapun juga dia adalah ibu tiri kalian dan kalian harus tetap menghormatinya," ucap Nyonya Bianca.
"Untuk apa menghormatinya, dia tidak pantas mendapatkan hormat dari kami," tolak Drew.
"Benar, di dunia ini hanya ada satu wanita yang tidak pantas di hormati oleh kami. Ya si nenek lampir itu contohnya," timpal Twister lalu meminta tos kepada Drew.
"Benar, aku setuju dengan ucapanmu itu Twister!" seru Drew mengangguk.
"Kalian ini, kenapa tidak mencoba mendekatkan diri kalian kepadanya. Siapa tahu ibu tiri kalian itu baik," ucap Nyonya Bianca.
"Baik apanya, nenek lampir itu hanya sibuk cari muka!" decak Drew.
"Sudahlah, jangan membicarakan wanita itu. Membuat selera makanku jadi hilang saja," ucap Twister menyudahi. "Mom, aku ingin makan disini," pintanya kemudian.
"Baiklah," patuh Nyonya Bianca lalu menyiapkan hidangan makan malam untuk putra sulungnya.
"Oh iya, kalian berdua berbincang apa tadi? Kenapa aku melihat Drew seperti malu-malu?" selidik Twister setelah sang ibu kembali membawakannya makan malam.
"Ssstt!!" Drew memberi kode kepada ibunya agar tidak memberitahukan hal yang mereka bicarakan tadi kepada Twister karena malu.
"Kenapa kau melarang Mommy untuk bicara dan kenapa dengan wajahmu itu?" cecar Twister merasa bingung dengan sikap Drew.
"Drew sedang jatuh cinta," balas Nyonya Bianca menyerobot dan tidak peduli dengan larangan Drew.
Twister melebarkan kelopak matanya. "Jatuh cinta? Dengan siapa?" tanyanya antusias.
"Siapa lagi kalau bukan dengan Tesla adik angkatmu itu," jawab Nyonya Bianca jujur. Membuat Drew merasa malu tidak karuan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.