Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 58. Nasi goreng.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Setelah diurut semalam, kondisi tangan serta dada Tesla sudah terasa lebih baik. Gadis itu begitu riang, karena dadanya sudah tidak sakit lagi setelah bangun pagi.


"Wah tangan mak Ijah benar-benar mujarab sekali, dadaku terasa lebih enteng," puji Tesla takjub.


Berbeda sekali saat malam diurut tadi, wanita itu menangis tersedu-sedu dan memarahi mak Ijah karena terlalu sakit mengurutnya, ia juga mengadu kepada semua orang seperti anak kecil, terutama kepada Twister.


Namun pagi ini, seperti tidak mengingat kejadian memalukan dirinya kemarin malam, Tesla keluar dengan senyum sumringah dan hati senang.


"Wah senang sekali putri kesayangan papa pagi ini, pasti sudah sembuh ya," sapa Pak Sanyoto semanh melihat putrinya telah sembuh.


"Ya, sudah tidak ngilu lagi, Papa. Biasanya kalau aku angkat lengan seperti ini, rasanya pasti berat dan tidak enak. Tapi sekarang sudah enteng," balas Tesla seraya menunjukkan putaran pada bagian bahu dan juga lengannya.


"Syukurlah kalau begitu, benar kan kata papa mu ini, kamu itu keseleo. Untung saja papa buru-buru membawa mak Ijah untuk urut kamu, coba kalau tidak, sampai kapanpun kamu tidak akan sembuh dan terus-terusan minum obat dari dokter," ucap Pak Sanyoto merasa keputusannya telah benar.


"Ya juga ya, pijatan mak Ijah memang mantap. Mantap sakitnya," balas Tesla mengangguk. Namun tetap memuji kehebatan urutan dari tukang pijat nenek-nenek dulu.


"Ya walau sakit, setidaknya kamu sembuh," ucap Pak Sanyoto merasa lega.


"Karena aku sudah sembuh, biarkan aku yang menyiapkan sarapan pagi untuk kita semua," seru Tesla semangat.


"Siap, kalau begitu biar papa yang siapkan bara tungkunya."


"Waduh, semangat betul papa sama anak ini. Tumben sekali," ucap Ibu Tyas yang baru saja masuk ke dalam dapur.


"Ini si Tesla sudah sembuh, katanya mau merayakan kesembuhannya ini," balas Pak Sanyoto terbatuk-batuk saat meniup kayu api.


"Oh jadi kamu sudah sembuh sayang?" tanya Ibu Tyas.


"Iya Ma, sudah lebih baik daripada sebelumnya," balas Tesla mengangguk.


"Syukurlah, bilang sama mama, sekarang kamu mau buat sarapan apa?" tanya Ibu Tyas ingin membantu.


"Hari ini aku mau buat nasi goreng spesial," balas Tesla sambil menyiapkan bahan.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu biar mama bantu kamu potongin bahan-bahannya. Boleh kan?" ucap Ibu Tyas bertanya.


"Tentu saja boleh, karena di rumah kita sedang banyak tamu. Jadi aku membutuhkan bantuan mama," balas Tesla.


"Siap kalau begitu!" seru Ibu Tyas sambil mengambil alih menyiapkan bahan.


Sementara itu, Tiara dan Marisa baru saja bangun. Mereka bergegas pergi ke dapur karena mencium wangi lezat disekitar sana.


Dan bukan hanya mereka saja yang pergi ke tempat memasak tersebut, Twister pun nampak memasuki area dapur, sambil memuji aroma lezat dari masakan yang tersaji.


"Hem ... Wanginya enak sekali," puji Twister. "Kalian sedang memasak apa? Kenapa tidak memanggilku untuk membantu menyiapkan ini semua?" ucap Twister merasa keberatan.


"Tidak perlu repot-repot kak, aku mengerti kau sedang sibuk siap-siap pulang ke kota. Jadi aku tidak berani menganggu tidurmu," balas Tesla.


Tak berselang lama kemudian, Drew menghampiri dapur karena mencium aroma lezat juga.


Ia segera mendaratkan bokongnya pada kursi dan menghirup dalam-dalam aroma masakan yang ada dihadapannya, setelah menyapa semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Nasi goreng ini sepertinya enak," ucap Drew.


Drew seketika menurunkan senyumannya, lalu menarik diri agar duduk bersandar pada kepala kursi dan mendorong nasi tersebut.


"Kenapa Drew?" tanya Twister tidak mengerti.


"Nafsu makanku tiba-tiba saja menurun drastis," balas Drew enggan menyentuh.


Tesla mendengus kesal, lalu mengambil piring berisi nasi goreng yang memang disisakan untuk Drew seorang.


"Ya sudah kalau tidak mau jangan dimakan!" ucap Tesla ketus. "Dasar orang tidak tahu terima kasih!" gerutunya kesal. Lalu menyudahi sarapan paginya karena entah mengapa hatinya merasa sakit saat hasil karya masakannya dihujat oleh orang lain.


"Drew, kenapa kau bersikap seperti itu sih! Kenapa kau tidak bisa menjaga ucapanmu!" tegur Twister.


"Iya, kau seorang pria. Tapi mulutmu seperti wanita!" dengus Marisa. Ia juga menyudahi makan paginya dan meninggalkan meja makan agar tidak berhadapan dengan Drew.


Begitu pula dengan Tiara, gadis itu juga mengoceh karena tidak menyukai sifat Drew yang terlalu angkuh dan sombong.

__ADS_1


Sedangkan pak Sanyoto hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Drew, rasanya ia sudah kecapean sendiri menghadapi pria kota satu ini.


"Dasar orang tidak tahu terima kasih!" ucap pak Sanyoto sedikit mendengus kesal sebelum kabur dan memilih menyantap sarapan paginya dengan sang istri diteras depan rumah.


Hingga pada akhirnya hanya tinggal Drew dan Twister yang masih berada di meja makan.


"Aku kecewa sekali padamu Drew, aku pikir selama menginap disini kau bisa lebih menghargai seseorang. Tapi nyatanya kau lebih sulit berubah dibandingkan dengan anak kecil. Kau harusnya banyak belajar dalam mengontrol sikapmu apalagi menjaga ucapanmu itu!"


"Apa kau tahu, mereka yang ada disini sudah kesal melihat tingkah angkuhmu, bahkan pak Sanyoto mengharapkan kau kelaparan dan tidak mendapat sarapan pagi hasil masakan putrinya,"


"Tapi Tesla, tiba-tiba dia mengambil piring dan menyisakannya untukmu agar kau mendapat makanan pagi. Tapi sayangnya kau tidak menghargai usaha dan juga rasa pedulinya," tegur Twister.


Pria tampan itu juga merasa kecewa sekali dengan sikap sang adik, hingga ia pergi meninggalkan Drew seorang diri di meja makan dan bergabung dengan yang lainnya di teras depan rumah.


Drew menatap hampa sekitarnya, tidak ada yang menemaninya dan memandang kearah sebuah piring, dimana Tesla menaruh nasi goreng untuknya di dalam rak makanan.


Lalu ia menghembus nafasnya ke udara. "Apa aku seburuk itu?" gumam Drew sedikit menyesali tingkah sombongnya.


Pria itu beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan mengambil nasi goreng itu dan kembali duduk diatas meja makan.


Ia menatap lama nasi goreng spesial buatan tangan Tesla, dengan topping telur mata sapi diatasnya itu.


Perlahan tapi pasti, Drew akhirnya menyantap makanan tersebut dan menarik senyumnya, seketika ia menyadari. Apa yang dilihat oleh mata belum tentu terasa buruk.


Seperti saat sekarang ini, dengan lahap pria itu menghabiskan nasi goreng buatan Tesla hingga tak bersisa, lalu menaruh catatan kecil dibawah piring bekas makannya itu sebelum ia dan Twister pergi untuk kembali ke kota.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Maaf kemarin penulis tidak update bab karena ada acara nikahan keluarga, terima kasih untuk readers setia yang terus mengikuti dan mendukung karya receh penulis ini.

__ADS_1


terima kasih.


__ADS_2