
Lima tahun yang lalu.
"Bagaimana ceritanya kamu bisa bertemu dengan pria ini Tesla?" tanya Ibu Tyas panik saat mengetahui putrinya membawa pria asing dalam keadaan terluka ke dalam rumahnya.
"Aku bertemu dengannya dijalan ma, sepertinya korban tabrakan."
"Kenapa tidak telepon keluarganya atau telepon ambulan untuk dibawa ke rumah sakit kota?" tanya Ibu Tyas tidak mengerti.
"Dia menolak Mah, katanya lebih baik mati dijalan daripada harus ke rumah sakit," balas Tesla apa adanya.
Ibu Tyas menggeleng, sambil menghembus nafas kasar. "Apa dia punya trauma ke rumah sakit?" batinnya menduga demikian.
"Darahnya banyak sekali dan lukanya juga cukup dalam, Tesla pergilah ke puskesmas desa kita dan cari dokter atau tenaga medis yang bisa membantu kita disini," ucap Ibu Tyas menyuruh.
"Baik Ma," jawab Tesla patuh.
Tak berselang lama kemudian, Tesla berhasil membawa seorang dokter muda yang sedang melakukan kunjungan kerja untuk melayani warga desa kurang mampu.
"Dokter, tolong periksa pria ini," ucap Ibu Tyas meminta.
"Baiklah Bu," patuh Dokter wanita itu bernama Mutia. Lalu duduk ditepi ranjang dan memeriksa keadaan pria berlumuran darah disebelahnya.
"Bagaimana dokter?" tanya Ibu Tyas.
"Dia mengalami luka cukup parah dan kita harus membawanya ke rumah sakit besar di kota segera," balas Dokter Mutia.
"Jangan bawa aku ke rumah sakit ... " lirih Twister tidak ingin dibawa ke rumah sakit besar, karena ia tidak mau sampai keberadaannya diketahui oleh orang-orang rumah. Terutama sang ayah.
"Tapi kau terluka dan kau butuh perawatan medis!" tegas Dokter Mutia.
"Benar, kau kehilangan banyak darah dan luka terbukamu ini harus segera di jahit!" timpal Tesla yang kala itu membersihkan darah kering serta membalut luka dengan perban seadanya.
"Jangan, obati aku disini saja." Twister memaksa berkata seperti itu, membuat semua orang tidak punya pilihan lain selain melakukan perawatan sebisanya.
"Baiklah, tapi berjanjilah kau harus kuat menghadapi serangkaian pengobatan dariku. Disini tidak ada alat penunjang medis yang canggih dan kau harus menahan rasa sakit selama obatnya belum sampai disini," ucap Dokter Mutia.
Dokter wanita itu pun bergegas mengeluarkan peralatan medisnya, serta meminta kepada keluarga Sanyoto agar membawakan beberapa obat yang diresepkan olehnya.
"Tesla, tolong ambilkan obat ini yang ada di pusat kesehatan desa."
"Baiklah, aku mengerti!" patuh Tesla lalu bergegas ke pusat kesehatan desa sambil membawa kertas berisikan resep obat dan alat medis lainnya.
Sedangkan Ibu Tyas membantu Dokter Mutia membersihkan luka Twister.
Tak butuh waktu lama Tesla akhirnya datang dan segera memberikan obat itu kepada Dokter Mutia untuk digunakan.
"Ini Dok," ucapnya tersengal-sengal.
"Terima kasih," balas Dokter Mutia terheran-heran. Mengingat jarak rumah itu dan pusat kesehatan desa lumayan jauh.
"Tahan sedikit, mungkin ini akan sakit." Dokter Mutia menyuntikkan obat bius pada kulit terbuka yang sudah di sterilkan, lalu menjahit luka itu satu persatu dengan jarum dan benang medis.
Twister mengangguk paham, sesekali meringis kesakitan saat jarum mulai menembus kulitnya dan selama proses perawatan itu terjadi, Twister tidak henti-hentinya menatap wajah dokter Mutia dari jarak dekat.
Satu jam telah berlalu dan Dokter Mutia telah selesai memberikan pengobatan untuk Twister, ia menasehati pasiennya agar tidak melakukan aktifitas berat, yang membahayakan luka basahnya itu.
"Aku akan kembali besok pagi dan sore harinya untuk memantau kesehatanmu," ucap Dokter Mutia sebelum kembali ke pusat kesehatan desa untuk menjalankan tugas sosialnya lagi.
"Baiklah, terima kasih," balas Twister dengan senyum hangat diwajahnya.
Hari-hari terus berlalu, Dokter Mutia selalu datang untuk mengunjungi pasiennya yang bernama Twister demi mengecek kondisi kesehatan serta luka-luka yang ia tangani sebelumnya.
Hari-hari kebersamaan itu pula membuat Twister semakin jatuh hati kepada dokter Mutia, terlebih saat mengetahui jika wanita itu memiliki hati emas dan lembut.
Yang bukan hanya merawat dirinya, akan tetapi menangani semua pasien-pasiennya di desa dengan setulus hati, ikhlas dan tanpa pamrih.
__ADS_1
Kegiatan sosial yang dilakukan oleh dokter wanita itu pula membuat rasa cinta Twister kepadanya semakin mendalam, namun sayangnya Dokter Mutia harus pergi, demi menjalankan aksi sosialnya di desa lain.
Dan sebelum ia pergi untuk mengemban tugas, Dokter Mutia memberikan secarik kertas untuk pasien istimewanya yang tampan.
Semoga lekas sembuh.
Twister merasa kehilangan dan selalu menunggu kehadiran Dokter Mutia di desa, namun hingga detik ini, Twister belum melihat sesosok wanita itu dimanapun.
Twister menghela nafas panjang setelah mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. "Semoga kita bisa bertemu lagi," ucapnya. Lalu pergi kembali ke perusahaan Drew.
...***...
PT. Oto Motor.
"Twister, katakan padaku. Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Drew setibanya Twister di kantor.
Dan Twister menjelaskan kepada Drew tentang kekacauan di desa Rawa Bebek, begitu pula kedatangan Tesla di perusahaan sang ayah.
"Dia benar-benar berani," puji Drew setelah mendengar cerita jika Tesla datang seorang diri ke perusahaan ayahnya, demi mendapatkan keadilan.
"Ya dia sangat berani dan aku bangga padanya," balas Twister.
"Lalu, apa yang terjadi setelahnya?" tanya Drew kembali.
Twister menatap Drew dengan wajah penasarannya. "Kau ingin menanyakan keadaanku atau ingin menanyakan keadaan Tesla?" tanyanya skak mat.
Drew seketika menarik diri. "Ya menanyakan keadaanmu dan sekalian keadaan dia juga tentunya."
"Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja, dan Tesla juga sudah selamat sampai di kampus," balas Twister.
"Syukurlah," ucap Drew menghela nafas lega. "Aku pikir Daddy akan melakukan hal kejam kepadanya," ucap Drew selanjutnya.
"Tentu saja tuan Hans tidak berani macam-macam kepada Tesla selama ada Twister disampingnya, karena kalau tidak, Twister akan melakukan hal diluar keinginan tuan Hans sendiri. Benar begitu sahabatku?" tanya Sam menepuk pundak temannya.
"Kau benar, setidaknya aku bisa mengambil keuntungan dari masalah yang datang kali ini," ucap Twister.
"Ya setidaknya aku tidak terikat dengan perjanjian dengan Daddy lagi, karena dia sendiri telah mengingkari janjinya," balas Twister dan memberitahu jika dirinya tidak ingin meneruskan perusahaan Royce serta dijodohkan dengan wanita pilihannya, karena Tuan Hans sendiri telah mengingkari janji.
"Kau benar-benar membuatku takjub, Twister. Tapi apa yang akan terjadi setelah ini? Apa kau yakin daddy akan benar-benar melepaskanmu begitu saja? Apalagi berita pertunanganmu dengan Alia sudah tersebar kemana-mana," ucap Drew risau.
"Aku tidak peduli, walaupun mereka hadir diacara pernikahanmu dan menyalahkan ku atas putusnya sebuah hubungan. Aku akan menerima kesalahan itu, namun tetap menolak menerima kembali hubungan tersebut," balas Twister teguh.
Drew berbinar menatap Twister. "Andaikan aku punya keberanian menolak keinginan Daddy seperti dirimu," ucapnya.
Twister tersenyum. "Memangnya kau tidak berani? Menurutku kau punya nyali lebih tinggi daripada aku. Dan buktinya adalah perusahaan yang kau bangun sendiri ini, perusahaan tanpa restu Daddy, tapi terus berjaya sampai aku kembali."
Drew tersenyum dan mengangguk membenarkan pernyataan Twister. "Kau benar, aku punya keberanian dan aku juga tidak bisa berdiri disini tanpa dukungan dan peran serta kalian disisiku."
"Ah Drew, kau terlalu lebay!" ucap Sam menyentil buliran bening pada ekor matanya.
"Sudahlah, bagaimana kalau kita makan di restoran. Aku yang akan traktir!" Twister mengajak semuanya.
"Aku setuju, jarang-jarang Twister mentraktir kita makan di luar," balas Sam menyetujuinya.
"Kau benar, sepertinya akan ada pertanda baik hari ini," ledek Drew.
"Dasar anak ini, karena kau berani menyindirku. Maka jangan protes saat aku memilih tempat kaki lima untuk mentraktir kalian," balas Twister.
"Kenapa tidak ke restoran saja," rengek Drew.
"Makan di kafe saja," balas Twister masa bodo.
Lalu ketiga pria itu akhirnya keluar dari perusahaan dan pergi menuju kafe terdekat.
...***...
__ADS_1
Kafe.
"Aku begitu kagum dengan kak Twister, selain wajah pria itu tampan, dia juga pemberani dan memiliki karakter kuat," ucap Tiara.
"Benar, aku sependapat denganmu. Benar-benar wanita beruntung jika berhasil mendapatkan hatinya," timpal Marisa.
Ngomong masalah mengambil hati, Tesla masih berpikir siapa wanita beruntung yang telah membuat Twister jatuh hati.
Hingga lamunannya itu membuat ia tidak sadar, jika ada seseorang pria yang mendekat kearahnya.
"Kenapa dunia ini begitu sempit sekali, lagi-lagi aku bertemu dengan kalian," ucap Drew menyugar rambutnya kebelakang.
Tesla menoleh dan ia berdecih. "Cih! Dia lagi, dia lagi. Memangnya tidak ada tempat lain sampai kau harus datang ke tempat yang sama ini!" dengusnya kesal.
"Eh perkataan macam apa itu, jangan salahkan aku tapi salahkan si penulis cerita," keluh Drew.
Mendengar Drew mengoceh, Sam segera menarik Drew agar menyingkir, lalu menyapa para gadis-gadis.
"Hai," sapa Sam ramah dan semua gadis-gadis tersenyum.
"Hai juga," sapa ketiganya hangat, tapi berubah jutek saat kembali melihat Drew.
"Mana kak Twister?" tanya Tesla.
"Ada, sedang parkir mobil," balas Sam.
Tesla nampak senang, saat melihat kakak angkatnya mulai muncul di muka pintu. Ia segera melambaikan tangannya dan memintanya untuk duduk disebelah mejanya yang kosong.
"Duduklah disini," ucapnya.
"Tentu," balas Twister dan tidak memperdulikan Drew yang protes.
"Tumben sekali makan di pinggir jalan seperti ini, memangnya tidak takut adikmu akan sakit perut nanti," sindir Tesla melirik kearah Drew.
"Kau bisa saja, jangan menyindir orang. Bagaimana kalau kau ajak teman-temanmu makan sepuasnya, biar aku yang traktir," ucap Twister dan langsung disambut keceriaan para gadis-gadis.
"Lumayan bisa hemat," celetuk Marisa.
Twister terkekeh. "Kalian begitu dekat, bagaimana kalau kalian bertiga datang diacara pernikahan Drew dan menjadi bridemaids disana."
"Kami bertiga jadi bridemaids?" tanya Tiara.
"Ya, bridemaids." Twister mengangguk.
"Hei Twister, aku yang menikah kenapa jadi kau yang mengatur!" protes Drew.
"Dia adikku dan ini adalah teman-tannya, lagipula kita belum punya bridemaids untuk membantu diacara pernikahanmu nanti," balas Twister menjelaskan. "Bagaimana apa kalian setuju?"
"Tentu!" seru Marisa dan Tiara bersamaan.
"Bagaimana dengannya?" tanya Drew menunjuk kepala Tesla.
"Baiklah, kau ikut saja." Tesla mengangguk setuju.
Drew tersenyum senang mendengarnya, namun lagi-lagi dia menekan egonya agar tidak menunjukkan ekspresi itu.
"Baiklah, nanti aku akan memdaftarkan nama kalian ke WO ku dan nanti mereka akan mengatur jadwal kalian dan menjelaskan apa saja tugas-tugas kalian," ucap Drew. Sambil menyantap makan siang yang baru saja tersaji dihadapannya.
.
.
Bersambung.
...----------------...
__ADS_1
Next \=\=> pernikahan Drew akan batal, saat Tesla tidak sengaja mendengar percakapan Alia dan Bella diruang ganti baju.