Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 21. Tukang cekik.


__ADS_3

"Aku? Melayanimu?" ucap Tesla keberatan.


Drew mengangguk pasti. "Ya tentu saja," sahutnya. Lalu memanggil senior di restoran itu untuk menunjukkan kepada Tesla bagaimana caranya melayani pengunjung dengan baik.


"Pertama kau harus menyambut ramah pengunjung yang baru saja tiba dan mencarikannya meja kosong," ucap Drew.


Pria itu keluar dari restoran dan menunggu di pintu masuk dan meminta Tesla untuk membukakan pintu dan menyambut kedatangannya.


"Menjijikkan," umpat Tesla merasa jijik dengan tingkah angkuh Drew yang sedang berdiri menunggu dibukakan pintu oleh Tesla.


"Mana tata kramamu, harusnya kau sedikit membungkukkan badan saat menyambut tamu yang datang. Ulangi lagi!" ketus Drew.


Tesla mengepal erat kedua tangannya dan menatap sinis Drew yang bertingkah seperti seorang yang berkuasa.


Dan tak lama setelah itu, Drew masuk dengan langkahnya yang angkuh. "Bagus pertahankan kesopanan itu dan segera carikan aku meja kosong!" titahnya kembali.


Trsla menatap kesekeliling dan banyak sekali meja kosong untuk diduduki, kenapa pula harus dirinya yang mencarikan meja kosong. Kalau seorang tamu bisa duduk sendiri.


"Sebagai seorang waitress kau harus mengarahkan jalan menuju meja kosong dan lain sebagainya," oceh Drew panjang lebar.


Tak mau banyak berdebat, Tesla memandu Drew untuk masuk ke dalam dan menunjukkan meja kosong unutk ditempati.


"Tidak, meja ini terlalu kecil." Drew memangku kedua tangan dan menggeleng.


"Oh begitu, bagaimana kalau anda duduk disini?" tawar Tesla berusaha sabar.


"Tidak, meja ini terlalu besar," tolak Drew.


"Baiklah, mari ikut saya. Bagaimana kalau meja disini?" tunjuk Tesla.


"Terlalu bersinar."


"Kalau disini tuan?"


"Terlalu gelap," jawab Drew enteng.


Tesla mendesis kesal, seolah-olah Drew sedang mempermainkan dirinya.


"Oke ini meja terakhir, apa anda suka Tuan muda Drew yang terhormat?" tanya Tesla.


Drew meraba permukaan meja dihadapannya, mengukur serta menepuk-nepuk pinggiran meja. "Sempurna," ucapnya lalu duduk.


"Bawakan aku menunya," titahnya kemudian.


Tesla mengangguk dan membawakan menu untuk Drew. "Ini Tuan," ucapnya.


"Oke bawakan aku menu paling terkenal dan paling mewah di reatoran ini!" pinta Drew.


Tesla merasa bingung, karena dia belum tahu menu andalan restoran tempatnya bekerja itu. "Apa menunya?" bisiknya kepada waitress senior.

__ADS_1


"Ini," tunjuk waitress senior dan Tesla mengangguk paham.


Setelah memilih menu, Tesla menyajikan menu andalan restoran tersebut, yakni bebek peking dan juga menu lainnya.


"Pakaikan aku serbetnya," ucap Drew.


Waitress senior menunjukkan bagaimana cara memakaikan serbet untuk pengunjung model angkuh seperti Drew kepada Tesla.


"Jadi begini?" tanya Tesla melebarkan kain diatas pangkuan Drew dengan sedikit menunduk.


Drew tidak sengaja menatap wajah polos Tesla dari dekat dan ia tersenyum lembut saat itu juga.


"Ya benar," balas waitress senior.


Tesla tersenyum puas, lalu mengulangi kegiatan tersebut hingga lancar dan sempurna.


Nyonya Bianca memperhatikan tingkah putranya dari kejauhan, dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan. Terkadang wanita paruh baya itu tersenyum, terkadang ia geleng-geleng kepala sendiri dan terkadang ia takjub dengan tingkah Drew yang mampu mengatur layaknya bos.


Tapi satu yang menjadi pertanyaannya hingga saat ini adalah. "Bagaimana Drew bisa mengenal gadis itu dan kapan mereka bertemu?" batinnya.


Beberapa saat kemudian, Tesla mengistirahatkan diri, setelah melakukan latihan panjang melayani tamu restoran. Dari tata berbicara, menyajikan menu dan lain sebagainya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Tiara yang kebetulan membersihkan meja di dekat Tesla.


"Aku baik," balas Tesla lemah.


"Sepertinya begitu, dia benar-benar tidak membiarkan aku salah sedikitpun," balas Tesla.


Bersamaan dengan hal tersebut, Nyonya Bianca menghampiri mereka berdua. "Boleh aku duduk?" tanyanya.


Tesla buru-buru berdiri dari tempat duduknya dan mempersilahkan nyonya Bianca duduk. "Silahkan nyonya," ucapnya ramah.


"Jangan panggil aku nyonya, panggil saja chef Bianca," balas Nyonya Bianca.


"Baik chef Bianca," balas Tesla menunduk.


"Kalau tidak keberatan, aku ingin meminta waktumu sebentar. Bisakah kau duduk disini bersamaku?" ucap Nyonya Bianca menarik satu kursi untuk Tesla.


"Baiklah," balas Tesla lalu duduk. Sedangkan Tiara dia undur diri untuk mengerjakan pekerjaan lainnya.


Nyonya Bianca menatap baik-baik wajah Tesla dan tersenyum. "Apa kau mengenal putraku sebelumnya?"


"Aku bertemu dengannya saat di desa," balas Tesla.


"Desa?" tanya Nyonya Bianca bingung, karena selama ini putra nya anti dengan yang namanya desa.


"Ya, dia datang ke desaku bersama dengan temannya Sam."


"Ohh, pasti dia sedang mengurus pekerjaan disana," ucap Nyonya Bianca.

__ADS_1


"Tidak chef, setahuku dia datang ke desa untuk ba---" Tesla tidak dapat melanjutkan perkataannya karena Drew tiba-tiba membekap mulutnya.


"Mommy, kau sedang apa disini? Kenapa berbincang dengan seorang pelayan?" tanya Drew dengan satu tangan membekap mulut Tesla.


"Drew apa yang kau lakukan, lepaskan dia!" tegas nyonya Bianca tidak suka dengan sikap kasar Drew.


Drew melepaskan bekapannya dan berbisik di telinga Tesla. "Jangan bilang pada Mommy ku kalau aku pernah datang ke desamu untuk ikut balapan!" bisiknya penuh penekanan.


Tesla menautkan kedua alisnya dan berpikir, kenapa Drew sampai melarangnya untuk berkata jujur.


"Ada apa Drew? Kenapa kau berbisik seperti itu?" cecar Nyonya Bianca penuh curiga.


"Tidak Mommy, aku hanya bilang kepadanya kalau menjawab pertanyaan dari mu harus dengan sopan santun," balas Drew sekenanya.


Nyonya Bianca menghela nafasnya kasar, lalu menatap Tesla. "Baik, sekarang jawab pertanyaanku tadi. Bagaimana kalian bisa saling kenal?"


"Seperti yang tadi Mommy dengar, kami pertama kali bertemu di desa." serobot Drew.


"Mommy tidak bertanya padamu Drew," ucap Nyonya Bianca.


"Ya chef, kami bertemu di desa."


"Di desa? Apa kau dari desa?" tanya nyonya Bianca.


"Iya, aku dari desa Rawa Bebek," balas Tesla tidak malu.


"Oh dari desa Rawa Bebek, kebetulan menu bebek peking yang diolah oleh restoran Manyu dikirim langsung dari desamu," balas Nyonya Bianca.


"Benarkah? Kalau begitu apa kau mengenal peternakan bebek Sanyo bersaudara?" tanya Tesla antusias.


"Tentu saja, bebek di peternakan Sanyo Bersaudara berkualitas terbaik. Apa kau mengenalnya juga?" balas Nyonya Bianca bertanya.


"Aku anak pemilik peternakan itu," balas Tesla.


Nyonya Bianca melebarkan kelopak matanya dan memindai Tesla dengan baik-baik. "Jadi kau anaknya pak Sanyoto dan ibu Tyas?"


"Benar!" seru Tesla senang.


"Ternyata kau sudah besar sekarang, aku jadi teringat saat pertama kali membuat kerja sama dengan perternakan orang tuamu itu. Kau masih sangat kecil dan terlihat menggemaskan saat mencekik leher bebek jantan yang selalu menganggumu," kekeh Nyonya Bianca.


Tesla terkekeh malu. "Masa si chef, aku justru tidak ingat sama sekali. Tapi papa pernah bilang kalau aku suka sekali memelintir leher bebek yang suka menyosorku sampai lemas," balasnya.


Drew menelan ludahnya susah payah sambil memegangi lehernya. "Dia tukang cekik rupanya," batin Drew mulai was-was.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2