Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 57. Mengurut Tesla.


__ADS_3

Semenjak kejadian di kandang bebek tadi, Drew jadi suka melamun sendiri. Itu dikarenakan wajah Tesla selalu saja terngiang-ngiang didalam benaknya, sesekali tersenyum sendiri.


Namun bukan hanya hal aneh itu saja yang terjadi dan pertama kali ia rasakan kali ini, Drew kerap merasakan debaran menggila saat membayangkan wajah Tesla.


"Ada apa ini, apa yang terjadi kepadaku? Kenapa jantungku berdebar tidak karuan saat memikirkan dia dan wajahnya itu, kenapa selalu saja terbayang didalam kepalaku?" gumam Drew sambil memegangi jantungnya yang berdetak kencang.


"Mungkinkah? .... Apa mungkin aku telah terkena virus mematikan?" batin Drew menduga ia sedang terkena penyakit serius.


Pria itu menghela nafas panjang sekali, sambil merapihkan barang-barang yang harus ia bawa untuk pulang besok pagi. Lalu menghampiri Twister yang berada di bengkel ibu Tyas.


Sementara itu disisi lain, Tesla merasakan hal yang sama dengan apa yang sedang Drew alami. Wanita itu tiba-tiba melamun sendiri, karena memikirkan kejadian belum lama tadi, dimana wajah Drew kembali terngiang-ngiang didalam kepala kecilnya.


Senyum lembut dari pria itu, senyum yang tidak pernah ia lihat selama mengenal sesosok Drew yang angkuh dan sombong selama ini.


"Senyumnya membuat siapapun merasa hangat," batin Tesla. Lalu menggelengkan kepalanya cepat. "Ah apa yang aku pikirkan, kenapa aku jadi memikirkan pria menyebalkan itu ya?" batinnya tidak mengerti dan terus menepis wajah Drew yang selalu memutari kepalanya.


Gadis itu memegangi dadanya yang terus berdetak kencang, dan berusaha menurunkan irama jantungnya itu karena debaran tersebut ternyata berpengaruh juga pada luka dalam dadanya.


Tesla menarik dalam-dalam udara sekitarnya, sesekali meringis sakit, bila mengingat luka didadanya yang masih belum sembuh sepenuhnya.


"Kenapa Tes?" tanya Marisa yang kebetulan melihat kejadian tersebut.


"Tidak apa-apa, hanya ngilu dibagian dadaku ini." Tesla mengusap-usap dadanya yang terasa sakit.


"Sepertinya harus di urut deh, bisa jadi kamu itu keseleo dan uratmu ketarik." Tiara memberi saran.


Tesla menggeleng. "Tidak mau!" tolaknya cepat.


"Benar juga, sejak kecelakaan waktu itu, kamu kan belum pernah diurut. Ya sudah nanti malam papa panggilkan mak Ijah, biar kamu sembuh sakitnya. Siapa tahu benar kata temanmu itu, urat tanganmu keseleo," serobot pak Sanyoto yang baru saja tiba di kamar gadis-gadis saat mendengar putrinya merasakan sakit lagi.


"Tidak mau, Papa. Sakit!" bantah Tesla, dan seketika wajahnya berubah pucat pasi dan segera memeluk gulingnya, menuju sudut ranjang.


"Tidak ada kata tidak mau! Pokoknya malam ini kamu harus di urut, titik!" ucap Pak Sanyoto bersikukuh.


"Jangan Pap," tolak Tesla kembali.


"Bodo, pokoknya papa tidak mau tahu. Kamu harus segera diperbaiki urat-uratmu itu," ucap Pak Sanyoto tegas. Lalu tanpa basa basi pergi dari rumah untuk membawa mak Ijah.


Mendengar Tesla akan di urut malam ini, Drew tiba-tiba saja teringat pengalaman pertamanya saat diurut oleh mak Ijah sewaktu dulu.


Seketika, senyum jahatnya terukir diwajah tampannya. "Haha, dulu dia menertawaiku. Sekarang ini gantian aku-lah yang akan menertawainya," gumam Drew dalam hati.

__ADS_1


...***...


Malam harinya.


Sesuai dengan jam dan juga tempat yang telah ditentukan, Mak Ijah sang pengurut handal dari desa, yang namanya telah tertulis didalam sertifikat sebagai tukang urut paling profesional seantero desa, mulai memasuki kediaman Sanyoto dengan senyum sumringahnya.


"Malam," sapa Mak Ijah.


"Malam Mak, yu silahkan masuk!" sapa Ibu Tyas ramah.


"Kali ini siapa yang mau diurut?" tanya Mak Ijah.


"Si Tesla," balas Ibu Tyas setengah berbisik.


"Oh begitu, ya sudah. Sudah lama tidak urut si cantik, semoga saja kali ini dia tidak mengamuk." ucap Mak Ijah mengingat pengalaman pertama saat Tesla diurut olehnya.


Gadis kecil itu mengamuk dan melemparinya dengan tahi bebek.


Tak butuh waktu lama, Mak Ijah telah tiba di kamar Tesla. Wanita bau tanah itu menyengir dan menunjukkan deretan giginya yang memerah bekas menyirih.


"Sayang," sapa Mak Ijah kepada Tesla yang tengah memucat.


Mak Ijah duduk di sisi Tesla sambil mengeluarkan minyak urut yang biasa ia gunakan untuk memijat pasiennya.


Sedangkan para penonton sudah tidak sabar lagi menunggu adegan penyiksaan itu dimulai, terutama Drew. Namun keinginan itu terkubur, mwngingat bagian yang akan diurut nanti.


"Dasar mesum, dulu mengintip putriku di telaga dan sekarang kau juga mau mengintip anakku yang lagi diurut hah!" dengus Pak Sanyoto sambil menjewer telinga Drew dan menariknya agar keluar dari kamar putrinya.


"T-tidak pak, kau salah paham!" bantah Drew. Sebenarnya dia ingin bersorak atas penyiksaan mak Ijah, seperti Tesla dulu menyorakinya.


"Alahh! Dasar penipu, saya tidak percaya. Ayo kamu menjauh dari kamar putriku!" tarik pak Sanyoto gemas.


Lalu pria bulat itu menutup pintu kamar putrinya dan membiarkan mak Ijah melakukan tugas sebagaimana mestinya.


...***...


"Oke Mak mulai ya," ucap Mak Ijah mengusap-usap minyak diatas telapak tangan, lalu mulai mengurut.


"Pelan-pelan ya Mak," pinta Tesla dengan rasa was-wasnya.


"Tidak sakit, kalau sakit bilang saja." Mak Ijah berkata demikian.

__ADS_1


Tesla menelan ludahnya dengan susah payah dan ia mulai berkeringat dingin.


"Santai saja, jangan di kakuin, nanti uratnya jadi pada kenceng," ucap Mak Ijah.


"I-iya, Mak." Tesla berusaha rileks, namun selalu saja ketegangan yang terjadi.


Terlebih saat menyentuh bagian yang sakit, gadis itu mulai memberontak. "Sakit Mak!" pekiknya sambil nge-reog.


Drew terkekeh mendengar jeritan itu dari balik pintu depan, entah apa gunanya pria itu berjongkok di depan sana, hanya karena senang mendengar suara penderitaan orang lain.


"Syukurin!" ocehnya merasa puas.


Mak Ijah yang sudah berusia tidak muda lagi, mulai kewalahan menghadapi perlawan yanh diberikan oleh Tesla.


Dengan segera wanita paruh baya itu meminta bala bantuan dari orang-orang yang berada di dalam rumah tersebut, agar mau memegangi Tesla, karena pasiennya kali ini memberontak seperti orang kesurupan.


"Aing maung!" tatap Tesla.


"Aing kucing oyen!" balas Mak Ijah.


Tak butuh waktu lama, bala bantuan pun datang. Dia adalah Tiara dan Marisa, serta Ibu Tyas datang menghampiri untuk memegangi kedua tangan dan kaki Tesla.


"Pegangin dulu ya, ini Mak mau benerin uratnya yang kepelintir." Mak Ijah memberi tahu.


"Ya Mak," jawab Tiara, Marisa dan Ibu Tyas bersamaan.


Tesla semakin menjerit-jerit, namun apalah daya, ia tidak bisa berkutik dan pada akhirnya gadis itu harus menerima pijatan mematikan Mak Ijah dengan pasrah.


Sedangkan Drew semakin terkekeh dibuatnya, dan pak Sanyoto yang kesal akhirnya mendepak Drew agar menjauh dan berhenti menertawai putrinya yang sedang kesakitan.


"Dasar semprul! Orang lagi menderita dia malah tertawa!" ucap Pak Sanyoto kesal.


.


.


Bersambung.



Nih sertipikat Mak Ijah.

__ADS_1


__ADS_2