
Keesokan harinya.
PT Oto Motor.
Drew menatapi Bagas yang sedang bekerja mengontrol produksi dari kejauhan, ada rasa ingin menanyakan tentang rasa keingintahuannya tentang pertanyaan semalam.
"Tanya atau tidak ya?" batinnya lalu berjalan mendekat dan berdiri disamping Bagas.
Bagas menoleh. "Oh Drew kau berada disini, ku pikir kau sedang bersama dengan Sam di kantor."
"Ya kebetulan aku harus melihat produksi kali ini," balas Drew mencari alasan.
"Oh begitu," ucap Bagas.
"Ya ... Bagas, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tanya Drew mengajak.
Bagas menarik senyum. "Boleh, kita akan makan siang bersama. Tapi setelah aku menyelesaikan laporan ini," balasnya bersedia.
Drew tersenyum senang. "Bagus! Kalau begitu segera selesaikan laporan ini!" serunya.
Bagas mengangguk. "Siap Bos!" patuhnya terkekeh.
Drew tiba-tiba meleleh hatinya, senyum Bagas mengingatkan dirinya kembali akan Twister. "Senyum itu," batinnya mengenali walau ada parut di bibir Bagas, namun rasanya begitu sama seperti melihat Twister.
"Ya sudah, selamat bekerja." Drew kembali ke kantor dan menunggu waktu makan siang tiba.
...----------------...
Kampus.
Kejadian tadi malam membuat Tesla tidak fokus dalam belajar, ia selalu saja teringat akan pertanyaan Drew.
"Untuk apa dia menanyakan hal itu padaku?" batinnya bertanya-tanya.
"Woii kenapa daritadi aku melihatmu melamun saja?" tanya Marisa dan Tiara duduk disebelah Tesla.
"Benar, kau juga terlihat seperti kurang tidur. Ada masalah apa?" tanya Tiara menimpali.
Tesla menggeleng. "Tidak ada, hanya teringat keluarga saja."
Marisa dan Tiara kompak membulatkan bibir mereka. "Oh begitu ... Bagaimana kalau liburan ini kita beramai-ramai ke desa mu Tes?" saran Marisa.
"Ya aku setuju," sambut Tiara.
Tesla mengulas senyum. "Jadi kalian mau nih liburan disana?" tanyanya memastikan.
"Ya tentu saja mau, apa kamu mau liburan di desa ku?" tanya Marisa balik.
Tiara refleks menggeleng. "Tidak mau Marisa, kampungmu kejauhan, harus menyebrang pulau dan naik pesawat dulu!" tolaknya.
"Ya sudah kalau begitu, kita berlibur di desa Tesla saja. Kan kampung dia tidak terlalu jauh seperti kita," balas Marisa memberi penjelasan.
"Ya kalian benar, rumahku tidak terlalu jauh seperti kalian. Oke kalau begitu, liburan kali ini kita bermain di rumah ku saja!" seru Tesla menyetujui.
"Asyik!" seru Marisa dan Tiara bersamaan.
"Makan yuk!" ajak Marisa.
"Mau makan dimana?" tanya Tesla.
"Kita makan diluar kampus saja, aku bosan makan di kantin. Lagipula makan di luar lebih murah," ucap Tiara.
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita ke depan," ucap Marisa.
Ketiga gadis tersebut pergi meninggalkan kampus, untuk mencari makan siang dan mereka bertiga memilih menyantap nasi padang sebagai menu siang mereka.
Sedangkan disisi lain, seorang pria kembali memata-matai aktifitas Tesla hari ini. Pria itu menyeringai dan membuang puntung candu dan menginjaknya ditanah.
"Keluar juga dia," ucap Matt bersiap-siap. Pria itu mengintai secara diam-diam, dan menunggu waktu yang tepat untuk beraksi.
...***...
Sementara itu Sam mengendarai mobil kantor dan membawa Drew serta Bagas menuju restoran untuk menyantap makan siang.
"Mau makan dimana nih?" tanya Sam.
"Restoran Manyu," balas cepat Drew. Karena bukan tanpa alasan, ia ingin membawa Bagas menemui sang Mommy.
"Bagaimana menurutmu Bagas?" tanya Drew.
"Aku ikut saja," balas Bagas.
Drew menarik senyum. "Ya sudah Sam, kita makan siang di restoran mommyku saja."
"Oke," balas Sam lalu memacu kendaraannya menuju Restoran Manyu.
Setibanya mereka disana, Drew segera memesan menu makanan andalan yang ada di restoran itu. Dan seperti biasa Drew hanya ingin dilayani oleh sang pemilik restoran secara langsung.
"Dasar anak manja," keluh Nyonya Bianca terpaksa harus keluar dari dapur dijam makan siang yang sibuk, hanya untuk melayani tamu khususnya.
"Mom," sapa Drew menyambut Nyonya Bianca yang baru saja keluar dari pintu dapur.
"Ya Drew, kenapa menganggu Mommy dijam sibuk hah? Disini banyak pramusaji yang bisa melayanimu," protes Nyonya Bianca.
"Tapi Mommy sangat sibuk Drew, banyak tamu yang datang untuk makan siang hari ini."
"Sudahlah Mom, jangan menolak. Karyawanmu kan banyak disini, suruh mereka saja yang melayani semua orang dan kau harus melayaniku sekarang," balas Drew memaksa.
Nyonya Bianca menghela nafas panjang. "Ya sudah, tapi mommy tidak bisa lama-lama. Setelah menyajikan makanan, mommy harus kembali ke dapur!" ucapnya menekankan.
"Baiklah tidak masalah," balas Drew menyetujui.
Drew terus menggandeng lengan ibunya dan mengajaknya untuk duduk bersama disatu meja yang sama dengan yang lainnya.
Wanita paruh baya itu mengunci sesosok pria yang tengah duduk disamping Sam dan terdiam menatapi Bagas. "T-twister," batinnya.
"Mom," ucap Drew.
Nyonya Bianca menggeleng. "Ah tidak mungkin dia," ralatnya.
"Mom, kenalkan ini Bagas. Karyawan baruku dan Bagas ini adalah Mommyku, chef di restoran ini," ucap Drew memperkenalkan.
Bagas menarik senyum, lalu berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan. "Perkenalkan nyonya, aku Bagas," sapanya ramah.
Nyonya Bianca menyambut uluran tangan itu, sesekali membandingkan Bagas dengan putra sulungnya yang sudah lama tiada. "Aku chef Bianca."
Drew menatapi reaksi keduanya. "Biasanya naluri seorang ibu tidak akan pernah salah, apakah Mommy merasakan hal yang sama denganku. Dimana Bagas memiliki kesamaan dengan Twister," batinnya.
"Mom, duduklah. Sekarang layani kami semua," ucap Drew meminta.
Nyonya Bianca menarik senyumnya. "Tentu, tentu saja Drew. Mommy akan melayani kalian seperti anak Mommy sendiri," balasnya senang.
"Benarkah? Apa kau ingin melayani aku juga chef?" tanya Sam antusias.
__ADS_1
"Tentu saja, kalian semua berarti kalian bertiga yang duduk disini," balas Nyonya Bianca menegaskan.
"Wah kalau begitu aku duluan ya," ucap Sam tanpa ragu menyodorkan piring kosongnya agar diisikan makanan.
"Bawa kesini piringmu juga," ucap nyonya Bianca kepada Bagas.
"Ini," balas Bagas mengulurkan piringnya.
"Mom, aku dulu." Drew menyerobot piring Bagas dan memintanya dilayani terlebih dahulu.
"Drew sabarlah sedikit, biar kakak Twistermu dulu," ucap Nyonya Bianca terlepas begitu saja.
Drew dan Sam sontak terpaku, lalu menatap nyonya Bianca yang gemetaran.
"Maaf, aku salah. Bagas maksudku," ralat cepat nyonya Bianca dengan raut wajah sedihnya.
"Tidak perlu meminta maaf, aku mengerti." Ucap Bagas, lalu mengambil piring yang telah diisi makanan oleh nyonya Bianca dan memakannya.
Nyonya Bianca menarik senyum getir dan segera menyadarkan diri sendiri, jika pria yang dihadapannya tu bukanlah Twister melainkan orang lain.
"Putraku telah berada di surga, bagaimana mungkin dia bisa ada disini," batinnya menyadari.
Drew menunduk sedih, ternyata sang mommy juga memikirkan hal yang sama dengannya dan menganggap Bagas sebagai Twister.
...***...
"Drew, Mommy dengar kemarin acara lamaranmu dengan Bella. Apa itu benar?" tanya Nyonya Bianca, setelah selesai menghabiskan makan siang.
Drew mengangguk. "Ya, seperti biasa Daddy memaksaku untuk menerimanya. Karena kalau menolak permintaan itu, Daddy akan menghancurkan bisnisku."
"Daddymu punya sifat keras kepala, jadi jangan buat ia marah."
"Benar, aku tidak mau tuan Hans sampai mencekikku karena selalu berada dipihakmu," serobot Sam.
Pria itu selalu teringat akan kemarahan tuan Hans saat Twister meninggal sewaktu lalu dan menjadi bulan-bulanannya.
"Tapi aku tidak mencintainya, aku juga belum mau menikah secepat itu," balas Drew mengutarakan perasaannya.
"Biarkan cinta menyusul sayang," ucap Nyonya Bianca.
Drew menghela nafas pasrah. "Entahlah, aku tidak yakin."
"Yakin saja," balas Nyonya Bianca lalu menatap Bagas. "Oiya Bagas, bagaimana denganmu? Bisa cerita sedikit tentang dirimu?" tanyanya ingin tahu.
"Aku hanya orang desa biasa, apa yang menarik dariku," balas Bagas.
"Oh kau ternyaga dari desa, desa mana?" tanya Nyonya Bianca.
"Desa Rawa Bebek," balas Bagas.
"Oh desa Rawa Bebek, berarti asalmu sama seperti Tesla," ucap nyonya Bianca.
"Bagaimana desanya tidak sama, Bagas ini kakaknya Tesla Mom," serobot Drew memberitahu.
Nyonya Bianca melebarkan kelopak matanya dan terkejut. "Desa Rawa Bebek? Kakaknya Tesla? Setahuku Pak Sanyoto tidak mempunyai seorang putra," batinnya mulai berdebar kencang.
.
.
Bersambung.
__ADS_1