Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 22. Ajakan nyonya Bianca


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Seperti biasa, sepulang dari kuliah Tesla dan teman-temannya mulai bekerja paruh waktu dari jam enam sore hingga jam sepuluh malam di restoran milik ibunya Drew.


Mereka telah mahir melakukan tugas masing-masing dan Drew semakin sering pula mengunjungi restoran ibunya itu.


"Drew, Mommy sungguh tidak mengerti. Kenapa kau selalu kesini tiap malam?" tanya Nyonya Bianca.


"Tidak apa Mom, aku hanya merindukanmu. Jadi aku kesini saja sekalian makan malam bersamamu," balas Drew.


"Aneh sekali, biasanya kamu tidak pernah tuh setiap hari mengunjungi Mommy. Alasannya pasti selalu sibuk," ucap Nyonya Bianca.


"Ya waktu itu kan aku banyak pekerjaan dan sekarang kebetulan aku punya waktu luang untuk menghabiskan waktu bersamamu," balas Drew.


"Waktu luang kok setiap hari," celetuk Nyonya Bianca.


"Ya memangnya tidak boleh," balas Drew.


"Ya boleh."


Lalu setelah menghabiskan makan malamnya, Drew mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan, seperti mencari keberadaan seseorang.


"Apa yang sedang kau cari Drew?" tanya Nyonya Bianca ikut mengedarkan pandangannya ke sekitar.


"Tidak ada," balas Drew menggeleng. Lalu pandangannya seketika berhenti pada seorang gadis yang sedang membawa nampan berisi makanan dan mengikuti kemana langkah kaki gadis itu pergi.


Nyonya Bianca melihat hal tersebut, ia terus melihat Drew yang sedang asyik menatapi pekerjaan Tesla.


"Ehem!"


Drew segera memutar lehernya untuk menatap sang Mommy dan kembali menyantap menu penutup.


"Maaf, ayo kita makan lagi," ucapnya.


Nyonya Bianca menghela nafas panjang. "Drew, Mommy tidak mengerti kenapa kamu memperkerjakan Tesla dan teman-temannya disini."


"Mereka butuh uang Mom," balas Drew santai.


"Okelah kalau Tiara dan Marisa dia berkata memang butuh uang untuk tambahan biaya kuliah mereka. Tapi Tesla? Sepertinya gadis itu tidak kekurangan uang sama sekali sayang," ucap Nyonya Bianca.


"Kenapa Mommy berpikiran seperti itu? Dia bekerja disini itu sudah pasti karena ia sedang butuh uang Mom," balas Drew.

__ADS_1


"Begitu ya, setahu Mommy peternakan keluarga Tesla sangat besar dan mereka penyuplai daging bebek terbanyak di restoran kita. Ya cukup aneh saja bagi Mommy kalau dia kekurangan uang," ucap Nyonya Bianca.


"Belum lagi restoran serta rumah makan lainnya, sudah begitu papanya Tesla adalah tuan tanah di desanya. Drew, sekarang katakan pada Mommy dengan jujur, apa kamu yang memaksanya bekerja disini? Dan kalau benar, kenapa kamu melakukan itu?" cecar Nyonya Bianca.


"Mom, mana aku tahu dia butuh uang untuk apa. Mungkin dia ingin hidup mandiri dari uang pribadinya," balas Drew penuh dusta.


Pria itu menyudahi makan malamnya karena tidak ingin ditanyai oleh sang mommy lebih lanjut.


"Drew, apa Mommy boleh minta sesuatu darimu?" tanya Nyonya Bianca.


"Silahkan, kau ingin minta apa Mom?" balas Drew bertanya.


"Kau sudah dijodohkan oleh Daddymu, lain kali ajaklah calonmu untuk makan disini. Ya walau bagaimanapun juga Bella akan jadi menantu Mommy kan?" balas Nyonya Bianca.


"Baiklah, jika ada waktu aku akan mengajak dia untuk makan malam bersama denganmu disini," balas Drew datar.


Nyonya Bianca tersenyum senang. "Syukurlah kalau begitu, Mommy ingin sekali bisa dekat dengannya."


"Ya Mom, ya sudah. Ini sudah malam, aku harus segera pulang. Besok ada meeting dikantor," ucap Drew mengambil helm dan mengenakannya.


"Ya! Hati-hati sayang, jangan ngebut dijalan ya," balas Nyonya Bianca mengantar Drew hingga menaiki motornya.


...***...


Mansion Tuan Bams.


"Benarkah kau akan mengajakku makan malam, malam ini?" tanya Bella begitu antusias.


"Ya bukan aku yang mengajakmu, tapi mommy ku yang memintanya," balas Drew melalui ponselnya.


"Oh Mommy Serly, kah?" tanya Bella memastikan.


"Mommyku hanya satu yaitu Bianca," tegas Drew menekankan.


"Oh tante Bianca, Baiklah. Jam berapa Drew?" tanya Bella.


"Jam tujuh malam di Restoran Manyu," balas Drew cepat, lalu mematikan panggilannya tersebut secara sepihak.


"Hallo Drew! Cih, dia mematikan panggilannya. Menyebalkan sekali!" Bella meremat ponselnya karena kesal, sesekali berpikir akan sesuatu.


"Bagaimana ini, aku sama sekali tidak mengenal tante Bianca. Bagaimana kalau wanita itu tidak menyukaiku diawal pertemuan kami nantinya. Siapa yang bisa aku tanyai sesuatu tentang tante Bianca? Sepertinya aku harus bertanya kepada tante Serly," gumam Bella sambil berpikir keras.

__ADS_1


"Lebih baik aku bertanya saja pada tante Serly, mungkin dia bisa membantuku," ucapnya kembali.


Lalu jari-jari lentiknya itu mulai menekan pencarian kontak, dimana nama nyonya Serly terpampang pada layar ponselnya.


"Halo sayang," sahut nyonya Serly.


"Tante, Drew mengajakku makan malam ini," jawab Bella.


"Oh bagus dong! Itu berarti Drew mulai perhatian padamu sayang!" seru nyonya Serly merasa senang.


"Ya sebenarnya yang mengundangku adalah tante Bianca," balas Serly.


Nyonya Serly seketika memberengutkan bibirnya. "Oh begitu," balasnya malas.


"Iya Tante, jadi apa kau bisa memberitahu aku sesuatu tentang tante Bianca? Ya dari hobi atau kesukaannya begitu?" tanya Bella meminta saran.


Nyonya Serly semakin malas mendengarnya. "Maaf ya Bella, tante tidak tahu yang menjadi kebiasaan ataupun kesukaan-nya Bianca. Kalau kamu bertanya tentang apa kesukaan tante, maka jawabannya adalah uang dan berlian."


"Ya Bella juga tahu kesukaan tante itu adalah uang dan berlian, tapi aku sama sekali tidak mengetahui kepribadian tante Bianca tuh bagaimana," ucap Bella pusing sendiri.


Nyonya Bianca menghembus nafasnya kasar. "Bianca hanyalah wanita bodoh, tidak perlu berlaku spesial terhadap dirinya itu. Tidak perlu membawakan apapun padanya, atau berusaha menyenangkan hatinya. Karena apa? Karena yang akan menjadi mama mertuamu adalah tante Serly bukanlah si Bianca itu!" tegasnya menekankan.


Bella menelaah setiap perkataan nyonya Serly padanya. "Kau benar tante, dia sudah ditinggal oleh Om Hans. Dan sudah tidak memiliki apa-apa lagi, hanya restoran tua saja yang dia punya sebagai penyambung hidupnya. Kenapa juga aku harus repot-repot memikirkan semua itu."


"Ya benar, tidak perlu memusingkan masalah sepele seperti ini sayang. Cukup senangkan hati Drew saja, maka semua akan menjadi milikmu," balas nyonya Serly.


Bella menarik senyum. "Ya tante, secara Drew akan menjadi suamiku. Jadi aku harus berusaha menyenangkan hatinya dan bukanlah tante Bianca mommy-nya itu."


"Hem, ya sudah sekarang bersiaplah. Dandan secantik mungkin agar Drew terpesona olehmu," saran Nyonya Serly.


"Tentu tante, itu sudah pasti," balas Bella senang. Lalu panggilan tersebut pun dimatikan dan Bella mulai bersiap-siap mempercantik diri demi memenuhi ajakan Drew untuk makan malam bersama.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Hai Readers setia, mohon maaf ya kalau satu bab ini ceritanya tidak panjang. Karena penulis sedang mengikuti acara keluarga dan tidak sempat membuat hingga penuh.

__ADS_1


Dan jangan lupa memberikan dukungan berupa like, komen, gift, atau sisa-sisa vote untuk karya recehku ini.


__ADS_2