
Rumah Makan Sunda.
Bagas dan Tesla menyambut penuh syukur hidangan yang tersaji di hadapannya itu, tapi tidak dengan Drew. Dia hanya mengeluh dan mengeluh, karena tidak menemukan makanan mewah pembangkit selera orang kayanya.
"Apa disini tidak ada masakan eropa?" tanya Drew kepada pelayan yang lalu lalang.
Tesla menangkup kedua sisi kepala Drew, lalu mengarahkannya kepada papan nama tempat makan mereka saat ini.
"Apa kau bisa baca tulisan yang ada disana hah? Rumah Makan Sunda! Jadi jangan minta makanan yang aneh-aneh!" ucap Tesla ketus.
Drew menggeleng dan menarik kedua tangan Tesla agar terlepas dari kepalanya. "Apaan sih! memangnya bertanya itu dilarang hem?"
"Tidak ada yang melarang, tapi dipakai dong logikanya!" balas Tesla.
Bagas menghela nafas panjang. "Apa kalian berdua bisa duduk dengan tenang? Perutku lapar sekali dan aku ingin makan," ucapnya meminta.
Tesla mengerti, dia pun duduk dengan tenang. Begitupun Drew, dia duduk manis sambil memutar-mutar lalapan jengkol muda diatas meja.
"Makanan apa ini? Seperti kancing Lepis," gumam Drew dan sontak membuat Tesla tertawa.
"Haha ... Kancing lepis? Kau ini ada-ada saja. Ini namanya jengkol muda, ini enak sekali jika dimakan bersama dengan sambal terasi," ucap Tesla mencontohkannya.
Drew sontak membuang jengkol muda tersebut, karena dianggap beracun oleh dirinya. "Oh MY God! Aku memegang benda bau!" ucapnya kelabakan sendiri.
Tesla mendengus, lalu mengutip jengkol itu dan membukakan kulit arinya. "Cobalah belajar menghargai makanan, kalau tidak suka setidaknya jangan dibuang."
"Bukannya tidak menghargai, tapi aku terkejut saja. Ku pikir jengkol yang kulitnya berwarna coklat gelap, ternyata ada yang kulitnya hijau juga," balas Drew menatap aneh.
"Kalau yang ini jengkol muda, dan yang kau bilang tadi jengkol tua," balas Tesla memberitahu.
"Bagiku jengkol tetaplah jengkol, buah itu beraroma tidak sedap," balas Drew enggan memakannya.
"Ya sudah kalau tidak mau makan," balas Tesla tidak mau ambil pusing. Ia hanya bisa menatap keduanya menyantap makanan dengan lahap, sesekali menatap menu yang lainnya.
"Cobalah dimakan makanan yang kau suka saja," ucap Bagas menawari.
Drew tersenyum getir, bukannya dia tidak suka. Melainkan ia sama sekali belum pernah memakan makanan seperti itu.
"Ini ikan apa?" tanya Drew mengayunkan ikan sepat asin dan menatapnya bingung.
"Itu ikan asin," balas Bagas.
"Apakah ini enak?" tanya Drew lagi.
"Kalau tidak enak, mana mungkin warung ini begitu ramai pengunjung," balas Bagas.
__ADS_1
"Sudahlah Kak, jangan diladeni. Biar saja perutnya kelaparan," serobot Tesla dengan mulut penuh dengan makanan.
"Makan saja, maka kau akan tahu rasanya," ucap Bagas.
Drew menggigit kecil ujung buntut ikan aain itu dan mengunyahnya perlahan, sesekali menyengir. "Asin!" ucapnya spontan.
"Makan pakai nasi dan yang lainnya, seperti ini." Bagas menunjukkan kepada Drew.
Drew merasa malas dan Tesla yang melihatnya merasa gemas akan tingkah pria disebelahnya itu. Dengan cepat ia mengutip makanan, lalu menyuapinya ke mulut Drew.
"Kau seperti anak kecil yang susah makan, sekarang makanlah. Biar aku tunjukkan bagaimana cara memakannya," ucap Tesla menyodorkan makanan itu.
Drew awalnya ragu-ragu, namun sang perut mengkhianati si pemilik. Rasa lapar berhasil mengalahkan egonya, hingga Drew pun membuka mulut dan mencoba menikmati.
"Hem, not bad but not good."
"Bagaimana enak?" tanya Tesla.
Drew mengangguk pasrah, entah karena lapar atau memang rasa makanannya yang enak. Namun Drew senang sekali disuapi oleh wanita cantik disebelahnya itu.
"Bagus, sekarang makan lagi sampai lidahmu itu terbiasa dengan masakan Indonesia," ucap Tesla.
Drew terus menatapi Tesla dan mulai hanyut dalam lamunannya, perlakuan kasar serta perhatian dari gadis itu kepadanya, terbukti mampu membuat dirinya merasa nyaman dan juga senang.
Setelah menyelesaikan makan malam yang terlalu malam itu, Bagas kembali memikirkan sesuatu tentang siapa pria yang telah berani ingin mencelakai adiknya.
"Kak, kenapa melamun? Kau sedang memikirkan apa?" tanya Tesla.
"Tidak ada," balas Bagas menggeleng.
"Oiya, kenapa kak Bagas datang kesini?" tanya Tesla.
"Papa yang meminta kakak kesini, dia terus saja mengkhawatirkan dirimu dan tidak bisa tidur nyenyak tiap malam," balas Bagas.
"Papa itu terlalu berlebihan, sudah aku katakan kalau aku baik-baik saja disini."
"Iya. Tapi jika hari ini aku tidak datang, mungkin kau akan celaka," ucap Bagas.
"Iya kau benar, Kak. Terima kasih karena telah menyelamatkanku," balas Tesla.
"Ya sama-sama. Tapi aku merasa pria tadi sengaja ingin mencelakaimu," duga Bagas.
"Siapa yang berniat mencelakai wanita seperti dia ini? Kau pasti yang tidak berhati-hati dan tidak menengok kanan-kiri saat menyebrang jalan bukan?" ucap Drew menyela, sambil mengusap perutnya yang kekenyangan karena telah menghabiskan tiga porsi makanan sekaligus.
"Sebelum menyebrang aku sudah tengok kanan-kiri tuh dan kondisi jalan sudah sepi juga, tapi tidak tahu tiba-tiba datang motor begitu saja," balas Tesla menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Apa yang telah kau lakukan? Maksudku, kau melakukan kesalahan apa hari ini, sampai ada orang yang mengincarmu?" selidik Bagas.
Tesla berpikir sejenak. "Hanya menyumpal mulut wanita sombong," balasnya enteng.
Drew terkekeh. "Bagas, apa kau tidak tahu. Adikmu begitu bar-bar sekali, dia menyumpal mulut seorang wanita yang sedang menjadi tamu di restoran Mommy ku dengan cabai sampai bibirnya bengkak. Bahkan dia berani menertawai tamu mommyku itu saat menangis," ucapnya mengadukan.
Tesla mencubit paha Drew dan menatap tajam. "Jangan berkata apapun pada kakakku," bisiknya dengan sudut bibir.
Bagas menatap tidak suka adiknya itu. "Sudah berapa kali aku katakan, jangan pernah tunjukkan sikap kasarmu itu. Kau boleh membela diri saat kau merasa terancam, tapi melukai orang lain tanpa alasan yang jelas, itu tidak dibenarkan!" tegasnya.
"Tapi wanita itu bersikap tidak baik kepada atasanku dan aku tidak suka dengan nada bicaranya yang angkuh," balas Tesla membela diri.
"Terus, apa yang kau dapat setelah melakukan semua itu?" tanya Bagas.
"Dia dipecat!" jawab Drew menyerobot.
Bagas menghela nafas panjang. "Kau hanya akan mendapat kerugian, lain kali berpikirlah sebelum bertindak."
"Baik Kak," balas Tesla.
"Sudahlah jangan dibahas lagi, hari sudah malam. Biar aku mengantarmu ke kos," ucap Bagas.
"Ya, lalu bagaimana denganmu? Apa kau akan pulang lagi ke desa atau ada tujuan lain disini?" tanya Tesla.
"Papa dan mama memintaku untuk mengawasimu, jadi aku tidak bisa pulang selama beberapa waktu. Dan selama aku tidak bisa pulang aku akan mencari pekerjaan di kota ini," balas Bagas.
Drew menegakkan posisi duduknya dan begitu antusias. "Kau ingin bekerja? Bagaimana kalau bekerja di perusahaanku saja? Kebetulan aku sedang membuka lowongan dibagian perakitan mesin motor," ucapnya menawarkan.
"Jangan bekerja dengannya, aku tidak setuju!" cegah Tesla. Karena ia sudah tidak ingin ada hubungan apapun dengan Drew setelah dipecat dari restoran nyonya Bianca.
"Jangan dengarkan adikmu yang cerewet itu, bekerjalah denganku. Aku akan memberikanmu gaji tinggi serta tempat tinggal yang nyaman," balas Drew tidak mau kalah.
"Deal!" ucap Bagas setuju.
"Bagus!" seru Drew senang.
Tesla menurunkan kedua bahunya. "Ah terserah kau saja," dengusnya kesal.
Drew berkaca-kaca menatap Bagas. "Twister, aku seperti melihatmu kembali," batinnya merasa haru.
.
.
Bersambung.
__ADS_1