Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 28. Sosok Twister.


__ADS_3

"Bagaimana, apa berhasil?" tanya Bella.


"Gagal," balas Matt.


"Kenapa bisa gagal Matt?" tanya Bella tidak mengerti.


"Ada orang yang menyelamatkannya," balas Matt apa adanya.


Bella mendengus kesal. "Ck! Aku sudah berharap banyak padamu Matt! Tapi kau sama sekali tidak berguna dan tidak bisa diandalkan!" ketusnya tidak terima.


Matt mencengkram dagu Bella dan menatap tajam. "Kau selalu saja berkata aku ini tidak berguna, apa perlu aku buktikan padamu apa arti kata berguna hah!" ucapnya tersenyum smirk.


Bella terbelalak, melihat gelagat Matt ia berubah menjadi ketakutan. "A-apa yang ingin kau lakukan Matt?"


"Menangih janjimu," balas Matt.


"Tidak! Kau gila Matt! Kau telah gagal dan kau tidak berhak menangih apapun dariku!" tolak Bella.


Matt tersenyum miring. "Aku memang telah gagal dan tidak bisa memenuhi keinginanmu mencelakai seseorang, tetapi kesempatan memilikimu malam ini tidak boleh sampai gagal."


"Matt breng-sek! Aku tidak mau disentuh olehmu! Kita sudah sepakat sebelumnya, sebelum kau berhasil mencelakai wanita itu. Maka aku tidak akan pernah memberikan tubuhku ini padamu!" sergah Bella.


"Biarkan urusan itu menyusul setelah menghabiskan malam kita yang indah ini Bella," balas Matt tidak mau tahu.


Lalu tanpa basa basi, pria itu membekap Bella dan membawanya ke kamar hotel untuk menuntaskan hasratnya.


...----------------...


Keesokan harinya.


PT. Oto Motor.


Drew mengajak Bagas berjalan-jalan mengelilingi pabrik perakitan mesin motor miliknya itu, dengan semangat ia menjelaskan kepada Bagas bahwa usaha yang ia rintis tersebut, merupakan impian terbesar dirinya dengan sang kakak-Twister.


"Oh jadi kau punya kakak? Lalu ada dimana kakakmu itu?" tanya Bagas.


"Ya aku punya seorang kakak, tapi dia sudah meninggalkan dunia ini untuk selamanya," balas Drew sedih.


Bagas terdiam lalu menepuk pundak Drew. "Maaf aku tidak tahu akan hal itu, maaf karena sudah menanyakan hal itu kepadamu," balasnya menyesali.


"Tidak apa Bagas," balas Drew. Kemudian mereka melanjutkan keliling produksi, lalu Drew mengenalkan Bagas kepada Sam.


"Dia adalah Sam, asisten kepercayaanku sekaligus teman kakakku terdahulu," ucap Drew.


"Aku tahu, kita pernah bertemu di desa," ucap Bagas menjabat tangan Sam.


"Senang berkenalan denganmu Bagas, selamat bergabung di Oto Motor," balas Sam senang. Dia tidak menyangka Bagas akhirnya bisa dekat dengan Drew.

__ADS_1


"Terima kasih," balas Bagas.


Mereka bertiga berjalan bersama, menjelaskan tentang mesin dan juga proses perakitannya. Drew begitu senang karena Bagas rupanya sangat tangkas dan cepat tanggap, sedangkan Sam senang melihat Drew seperti mendapatkan kembali semangat hidupnya.


"Twister, jika kau masih hidup, maka kau-lah yang sedang berdiri bersama Drew disini," batin Sam.


...***...


Jam makan siang, Sam menghampiri Bagas yang masih asyik menatapi mesin motor ber-CC besar, yang terpajang didalam pabrik tersebut.


"Sedang apa disini?" tanya Sam lalu duduk.


"Sam, aku hanya sedang melihat-lihat motor balap ini. Sungguh luar biasa, apa motor ini pernah dipakai?" tanya Bagas.


"Ini motor balap Twister temanku, kakaknya Drew yang telah almarhum. Dia pembalap hebat, namun kecelakaan saat balapan beberapa tahun yang lalu. Membuat Twister harus meregang nyawa," balas Sam.


"Jadi begitu, aku tidak menyangka kalau Drew adalah adik seorang pembalap Twister. Selama ini yang ku dengar, pembalap Twister tidak pernah menyebutkan identitas asliya. Bahkan dia juga menggunakan nama samaran saat balapan," ucap Bagas.


"Benar, itu karena ia tidak ingin sampai tuan Hans tahu kalau dirinya adalah seorang pembalap motor, sebab tuan Hans sendiri tidak pernah mengijinkannya mengikuti profesi berbahaya itu," balas Sam menjelaskan.


"Profesi pembalap motor memanglah berbahaya, bahkan nyawa yang jadi taruhannya. Tidak heran orang tua Twister melarang anaknya menjadi pembalap. Tapi sungguh disayangkan sekali, pembalap pro seperti Twister harus kehilangan nyawanya, karena mengikuti balap liar dengan anak berandalan," ucap Bagas mengatakan hal yang ia baca dari artikel.


Sam menggeleng. "Media memang mengatakannya seperti itu, namun kenyataannya Twister dicurangi oleh seseorang dan aku yakin itu," balasnya yakin.


Bagas menoleh. "Dicurangi? Apa yang membuatmu yakin akan hal itu?"


"Twister pernah di tantang oleh seseorang, ia setuju karena si penantang akan mengganggu Drew jika menolak ajakannya itu. Hingga suatu ketika Twister pergi untuk memenuhi tantangan tersebut."


"Twister mau tidak mau harus mengikuti balapan itu, karena dia dihadang oleh kelompok genk motor yang menjadi lawannya. Dan Twister tidak bisa pulang sebelum menyelesaikan balapannya," tutur Sam menjelaskan.


"Jadi disitukah awal bencana terjadi? Twister mengalami kecelakaan saat mengikuti tantangan itu?" tanya Bagas.


Sam mengangguk. "Benar, dia meninggal karena mengalami kecelakaan tunggal. Tapi yang membuatku curiga adalah Twister pasti telah di curangi, karena sebelumnya ia sempat ragu dengan jalanan yang ia hadapi kala itu."


"Twister mengatakan kalau banyak sekali batu kerikil halus yang berserakan di jalan yang ia lalui, serta adanya lampu sorot yang menyilaukan mata diujung jalan, hingga ia tidak dapat melihat jalan dengan jelas dan akhirnya menabrak tiang pembatas."


"Twister meninggal saat itu juga, balapan liar dengan anggota geng motor membuat reputasinya sebagai pembalap profesional menjadi tercemar."


"Polisi juga tidak ingin menyelidiki kasus tersebut, karena mereka berpikir balapan liar adalah ilegal dan tidak dibenarkan oleh siapapun, maka untuk itulah kematian Twister dianggap kelalaian sendiri."


"Tapi aku yakin temanku tidak akan mengalami kejadiaan naas itu jika bukan karena seseorang yang telah mencelakainya," tutur Sam pedih.


"Siapa orang yang pantas kau curiga sebagai dalang dibalik itu semua?" tanya Bagas sambil mengelus body motor Twister dengan tatapan seriusnya.


"Entahlah, tapi ada satu orang yang menurutku paling bisa melakukan apapun demi kemenangan dan orang itu ialah Mattew," balas Sam.


"Matt? Bukanlah dia pembalap motor sekelas Twister juga, apa alasanmu menuduhnya?" tanya Bagas.

__ADS_1


"Ya, hanya dialah satu-satunya orang yang selalu ingin memang dari Twister dan dialah satu-satunya orang yang tidak menyukai keberhasilan Twister," balas Sam.


Bagas perlahan menaiki motor Twister dan menyalahkan mesin motor tersebut. Sesekali menarik gas sekencangnya.


Broom!!!


Drew melebarkan kelopak matanya dan ia mengetahui dengan betul suara motor tersebut, bergegas ia berlari menuju sumber suara dengan hati yang berdebar kencang, debaran kuat akan rindu terhadap saudara kandungnya.


"Twister," batin Drew bergetar.


Namun bukanlah Twister yang ia lihat, melainkan orang lain yang menunggangi kuda besi milik almarhum kakaknya itu.


Alih-alih ingin memarahi orang yang telah lancang menaiki motor almarhum sang kakak tanpa ijin, Drew malah terdiam menatapi Bagas yang sedang menduduki motor Twister.


Seketika bayang-bayang sang kakak membayangi sosok Bagas, hingga Drew sendiri tidak bisa membedakannya.


Sam menelan ludahnya susah payah, ia begitu takut Drew akan marah saat mengetahui Bagas tanpa ijin menaiki motor Twister. Namun reaksi itu belum ditunjukkan oleh Drew, hingga membuat Sam terheran-heran, karena Drew hanya diam membeku saja.


"Drew," sapa Sam menepuk pundak Drew agar tersadar.


"Maaf aku menaiki motor almarhum kakakmu tanpa ijin," ucap Bagas setelah mematikan mesin motor tersebut.


"Tidak apa-apa," balas Drew dan itu membuat semua orang yang mendengarnya syok.


Karena bagaimana tidak, biasanya Drew tidak akan pernah memaafkan siapapun orang yang telah berani menaiki motor Twister, walau itu orang terdekatnya sendiri.


"Apa kau bisa balapan?" tanya Drew membuka suaranya.


"Tidak," balas Bagas.


"Bagaimana kalau kau mencobanya disirkuit?" ucap Drew menawari.


"Drew apa kau yakin?" tanya Sam, karena setahu dirinya. Drew akan sedih apabila mendengar suara motor Twister, apalagi ia ingin orang lain yang mengendarainya.


"Aku hanya ingin melihatnya saja," balas Drew.


"Kenapa kau ingin aku mengendarai motor ini?" tanya Bagas.


"Aku hanya ingin tahu kemampuanmu saja," balas Drew. Padahal yang sebenarnya adalah ia ingin sekali menghidupkan sosok Twister melalui Bagas.


"Kalian begitu sama, perawakanmu, suara beratmu dan juga wibawamu," batin Drew bergetar.


"Baiklah, aku akan mencobanya," jawab Bagas sambil mengusap kepala motor Twister.


Drew mengulas senyum dan memberikan kunci motor Twister kepada Bagas. "Kalau begitu tunggu apa lagi."


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2