
Bagas mengurai pelukan Drew. "Apa yang sedang kau bicarakan ini!" tegasnya.
"Twister, apa kau benar-benar tidak mengingatku? Aku Drew adikmu!" balas Drew meyakinkan.
Tesla terperangah mendengar pengakuan tersebut dan menatap Bagas yang terdiam menatapi Drew.
"Siapa Twister? Jangan bicara omong kosong, sekarang pergilah dari sini sebelum aku habis kesabaran!" ancam Bagas sambil menunjuk pintu keluar rawat inap.
"Twister, kau kakakku. Kau mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu dan dinyatakan meninggal karena terluka parah. Tapi setelah ku selidiki dan bertanya padanya, orang yang meninggal itu bukanlah dirimu dan aku sangat yakin kau masih hidup dan kau adalah Twister kakakku!" ucap Drew penuh keyakinan.
"Kalau begitu terima saja kenyataan jika kakakmu itu telah tiada dan jangan mengaku-ngaku sebagai adikku lagi, karena adikku hanyalah Tesla seorang!" tegas Bagas sambil duduk di tepi ranjang.
"Twister sadarlah! Aku adikmu dan bukanlah dia!" tunjuk Drew pada Tesla. "Pasti kau sedang mengalami amnesia, maka dari itulah kau tidak mengingatku. Bagaimana kalau kau ikut denganku ke rumah sakit terbaik di kota ini untuk menyembuhkan ingatanmu itu," sambungnya kemudian.
"Aku 100 persen sehat, ingatanku juga masih sangat baik. Aku tidak butuh bantuan apapun darimu. Sekarang pergilah, aku tidak ingin mendengar omong kosongmu lagi!" usir Bagas dingin.
Drew tergugu, bahkan cairan bening diatas pelupuk matanya tidak dapat terbendung lagi. "Kau adalah Twister, kau kakakku!" ucapnya menegaskan. "Aku mohon pulanglah ke rumahmu," lanjutnya.
Bagas menatap Drew yang memohon diatas kakinya, lalu merangkul Tesla. "Rumahku ada bersama dengannya dan asal kau tahu saja Drew, walau semua perkataan yang kau bilang tadi tentang diriku adalah benar nyata seperti itu, akan tetapi aku akan tetap memilih keluarga sederhanaku."
"Twister ... " lirih Drew. "Kenapa kau berkata seperti itu? Kenapa kau memilih orang lain daripada keluargamu sendiri!" sergahnya tidak terima.
"Sudah ku katakan kalau aku bukanlah Twister atau kakakmu itu!" bantah Bagas. Lalu berdiri dan membawa Drew agar keluar. "Pergilah, jangan buat keributan disini. Adikku perlu istirahat," ucapnya kemudian.
Drew terpejam dan merasakan sesak dalam dadanya, lalu ia menatap tajam Tesla. "Kau telah merebut kakakku! Aku bersumpah akan merebutnya kembali dari keluarga kampunganmu itu dan membawanya kembali ke tempat yang seharusnya! Yaitu keluarga Royce!" tegas Drew menekankan sambil menunjukkan amarahnya.
Bagas tidak banyak bicara dan membalas perkataan tersebut, ia hanya menutup pintu kamar rawat inap itu dengan segera. Sambil menghela nafas panjangnya, lalu kembali duduk di samping Tesla.
"Dia begitu berisik," ucap Bagas.
Tesla memalingkan wajahnya. "Kenapa?"
"Kenapa apanya?" tanya Bagas.
"Kenapa kau berbohong padaku Kak? Kau bilang waktu itu namamu adalah Bagas dan kau tidak punya keluarga dimanapun," balas Tesla kecewa.
"Jangan dengarkan perkataan orang itu, dia hanya belum bisa menerima kenyataan yang ada, kalau kakaknya telah meninggal dunia," balas Bagas tidak peduli.
Tesla menoleh dan menatap Bagas. "Benarkah seperti itu? Lalu bagaimana jika semua yang dikatakan olehnya itu benar? Apa kau sedang hilang ingatan atau sedang berpura-pura baik demi membalas budi keluargaku saja? Atau ada hal lain yang kau sembunyikan dari kami semua?"
__ADS_1
Bagas menghembus nafasnya panjang. "Percayalah, aku tidak sedang mengalami amnesia atau sejenisnya. Aku juga tidak sedang berpura-pura baik, demi membalas budiku padamu maupun keluargamu."
"Jika kau memang tidak sedang hilang ingatan, tolong jujurlah padaku tentang semuanya. Apakah yang dikatakan oleh Drew itu benar? Kau adalah Twister kakaknya?" tuntut Tesla.
Bagas mengangguk pelan. "Baiklah aku mengaku. Ya aku memang Twister dan Drew adalah adikku," balasnya jujur.
Tesla kembali memalingkan wajahnya dan mendengus. "Ternyata kau telah berbohong kepadaku selama ini," ucapnya kecewa sekali. "Kenapa kau berbohong padanya dan jika dia benar tentang dirimu yang sebenarnya, lalu kenapa kau tidak kembali kepada keluargamu?" cecarnya.
Bagas menghela nafasnya panjang. "Menurutku Royce bukanlah keluarga, melainkan ladang bisnis dengan menumbalkan cita-cita anak-anaknya demi keuntungan semata agar bisa memperbesar kekuasaannya. Untuk itu aku lebih memilih dianggap mati oleh semua orang demi bisa hidup bebas dan tidak terikat oleh hubungan keluarga yang dingin," ungkapnya.
"Lalu bagaimana dengan adikmu? Apa kau tidak menyayanginya sampai tega meninggalkan dia sendirian didalam keluarga seperti itu? Bukankah itu namanya egois? Kau pergi bebas, sementara adikmu sendiri mengemban tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu," ucap Tesla menurut pikirannya.
Bagas mengusap puncak kepala Tesla dan tersenyum. "Aku memang egois, tapi itu kulakukan demi kebaikan Drew sendiri."
"Apanya yang baik? Bagiku kau hanya mementingkan dirimu sendiri!" tukas Tesla.
"Ya terserah kau mau bilang apa, aku memang pria seperti itu. Sudahlah jangan terlalu banyak pikiran, kau tidak akan mengerti. Lebih baik tidur dan istirahat saja," balas Bagas lalu pergi keluar.
"Tunggu," cegah Tesla.
"Kenapa?" tanya Bagas.
"Tidak jadi," balas Tesla mengurungkan niatnya.
"Aku hanya bingung, memanggilmu Bagas atau Twister?" balas Tesla.
"Kau suka memanggilku yang mana?" tanya Bagas.
"Aku suka memanggilmu kak Bagas," balas Tesla.
"Ya sudah, kalau begitu panggil aku seperti itu. Oiya, aku telah mengabari papa dan mama tentang kondisimu sekarang ini. Mungkin malam mereka akan sampai disini," ucap Bagas.
"Benarkah mereka akan datang?" tanya Tesla, ia sedikit senang saat mendengar kedua orang tuanya ingin menjenguk.
"Ya, mereka begitu cemas apalagi papa. Dia langsung menangis setelah mendengar kau mengalami kecelakaan," balas Bagas.
Tesla menunduk. "Sudah ku duga, papa pasti sangat sedih setelah mendengar kabar seperti ini."
Bagas menarik senyum. "Orang tuamu begitu penyayang, bahkan dengan ku saja dia begitu perhatian. Bagaimana aku bisa pergi meninggalkan keluarga semacam itu," ucapnya lalu keluar dari kamar rawat inap.
__ADS_1
Tesla terdiam setelah mendengar perkataan Bagas yang baru saja ia katakan, separah apa keluarga Royce, sampai-sampai Bagas sendiri tidak ingin kembali ke keluarga aslinya.
...----------------...
Disisi lain.
Drew menjambak rambutnya karena frustasi, awalnya pria itu merasa senang saat tahu jika Twister ternyata masih hidup.
Namun rasa bahagianya tiba-tiba terhempas begitu saja, setelah mendengar pernyataan sang kakak yang lebih memilih orang lain ketimbang keluarganya sendiri.
Drew begitu sedih dan juga marah, ia sampai melempar apapun benda yang berada disekitarnya itu hingga pecah dan berantakan. Dan bersamaan dengan hal tersebut, bel pada unit apartemennya berbunyi.
Drew menghembus nafas kasarnya ke udara, lalu berjalan malas menuju pintu depan dan membukanya.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Bagas didepan muka pintu. Pria itu ternyata menyusul Drew yang pulang ke apartemen.
Drew terpaku karena senang, ingin sekali memeluk Bagas, namun egonya memilih untuk menolak. "Untuk apa kau kemari, pergilah!" sergahnya marah.
Bagas segera menahan pintu yang dihempaskan oleh Drew dengan tangan kosongnya, hingga adegan dorong mendorong pintu pun terjadi.
"Biarkan aku masuk," ucap Bagas.
"Untuk apa! Pergilah!" tolak Drew.
"Biarkan kakakmu ini masuk Drew!" sentak Bagas.
Drew terbelalak, hingga melemahkan dorongannya dan itu dimanfaatkan oleh Bagas untuk masuk ke dalam.
"Kapan kau bisa berubah menjadi dewasa Drew," keluh Bagas.
Drew mengepal erat kedua tangannya dan menunduk sedih. "Apa yang kau bicarakan? Pergilah dari sini, kau bukan kakakku!"
Bagas mendekati Drew dan merangkulnya. "Maaf, aku tadi kasar padamu."
"Untuk apa meminta maaf, kau bukan Twister. Kau bukan kakakku, kau hanyalah orang lain!" ucap Drew masih meluapkan kekesalannya.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Bagas.
.
__ADS_1
.
Bersambung.