
Drew menggigit potongan pancake buatan Tesla, sambil melamun dan tersenyum. "Tidak disangka pancake buatannya sangat enak," batinnya memuji, namun enggan mengucapkannya atau sekedar berterima kasih.
"Bagaimana rasanya?" tanya Tesla menunggu.
"Hem, lumayan." Drew mengangguk samar dan membersihkan sisa susu kental manis yang berserakan di bibirnya.
"Rasanya cuma lumayan, tapi kau menghabiskan pancake buatanku hingga piringnya bersih," balas Tesla.
"Itu karena aku mencintai kebersihan," balas Drew beralibi.
"Cih! Kalau kau benar-benar mencintai kebersihan, maka cuci mukamu dulu sebelum makan tadi," ucap Tesla menunjuk air liur kering pada sudut bibir Drew, hingga wajah pria itu mendadak merah semu.
Dengan segera, Drew berlari ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. "Bikin malu saja!" batinnya.
...***...
Sementara itu, Tuan Hans telah tiba memasuki desa Rawa Bebek, dengan dikawal oleh beberapa anak buahnya. Pria paruh baya itu tidak ingin membuang-buang waktu untuk menemui kedua putranya.
Maka dari itu, Tuan Hans tidak akan berjalan kaki ataupun berhenti hanya untuk sekedar menikmati indahnya alam sekitar. Karena ia harus menyeret kedua putranya keluar dari desa tersebut.
"Alam disini memang bagus, tapi kedua putraku tidak cocok berada di lingkungan kampung seperti ini," ucap Tuan Hans setibanya di depan pintu keluarga Sanyoto, yang di tunjuk oleh Sam sendiri sebagai sandera.
Martino yang kala itu turut menemani, segera mengetuk pintu dan betapa terkejutnya sang pemilik rumah oleh kedatangan orang yang sudah tidak asing lagi dihadapannya.
Tuan Hans menatap datar, sambil melipat kedua tangannya didepan dada, seakan enggan menyapa sang pemilik rumah.
Sedangkan pak Sanyoto sendiri yang melihat ketidaksopanan tersebut, segera melipat kedua tangannya kebelakang, seperti enggan menyambut tamunya.
Kedua bapak-bapak itu pun saling terdiam cukup lama diambang pintu dan menatap satu sama lain dengan tatapan tajamnya.
Sehingga pada akhirnya Martino mengerti dan memulai perbincangan agar tidak terjadi tegangan arus pendek, yang mengakibatkan ledakan emosi dari sang majikan dan juga sang pemilik rumah.
"M-maaf pak," sapa Martino mendadak gugup.
"Cari siapa? Dan ada keperluan apa datang ke rumah ini?" jawab Pak Sanyoto bertanya.
"Permisi, apa tuan muda Twister dan tuan muda Drew ada didalam rumah anda?" tanya Martino membalas seramah mungkin.
"Ada didalam," balas Pak Sanyoto.
"Apa boleh anda memanggilkannya?" pinta Martino.
__ADS_1
"Heh! Kalau mau ketemu sama mereka, panggil saja sendiri," balas Pak Sanyoto malas. Lalu duduk di bale bambu sambil membaca koran.
"Baiklah kalau begitu ijinkan saja masuk ke dalam untuk memanggil mereka," ijin Martino.
Tuan Hans mendengus kesal saat melihat Martino malah tunduk kepada Pak Sanyoto. "Tidak perlu menginjakkan kedua kakimu ke dalam rumah gubuk ini," ucapnya.
Pak Sanyoto mencebik, sambil membuang mukanya karena kesal. "Anak sama bapak kelakuannya sama saja, sama-sama membuat orang jengkel!"
Tuan Hans menghembus nafas kasar, sambil menatap sinis pria bulat yang pergi meninggalkannya duduk dan membaca koran.
Lalu dengan lantang dia memanggil kedua putranya itu agar keluar, tanpa menginjakkan kedua kakinya ke dalam.
"Twister!"
"Drew!"
Pekik Tuan Hans dan tak lama setelah itu, dirinya dikejutkan oleh penampilan Drew yang baru saja keluar dari kamar mandi sehabis membersihkan diri.
"D-daddy? K-kenapa Daddy bisa ada disini?" tanya Drew begitu terkejut melihat sang ayah ada di desa itu juga.
"Drew apa-apaan kamu ini? Kenapa berpakaian seperti ini!" protes Tuan Hans melototi. Ketika melihat Drew hanya memakai sarung kotak-kotak dengan kaos kuutang putih polos seperti gaya berpakaian pak Sanyoto.
Drew kembali memindai penampilannya dari pinggang hingga kebawah kaki, awalnya ia juga merasa keberatan dan menolak memakai baju Pak Sanyoto.
"I-ini trend terbaru, fashion dengan gaya perdesaan yang sederhana." Drew berkacak pinggang agar sang ayah mempercayainya.
Namun Tuan Hans tidak percaya, malah bertambah kesal. "Menjijikkan!" umpatnya.
Karena baru sehari Drew berada disini, nyatanya putranya itu telah bergaya mengikuti gaya pria bulat diujung sana. Bayangkan saja jika Drew tinggal dan berada didesa ini selama 1 tahun, Tuan Hans yakin Drew akan menumbuhkan kumis setebal milik pak Sanyoto.
Begitulah yang ada didalam pikiran Tuan Hans, sambil bergidik geli.
"Buka pakaianmu sekarang Drew! Daddy benar-benar tidak menyukainya!" tegur Tuan Hans.
"Daddy, aku datang kesini terburu-buru dan lupa membawa baju salinan. Kalau aku buka, aku harus pakai apa?" balas Drew.
Tuan Hans mendengus kesal, lalu menatap anak buahnya. "Martino, buka pakaianmu dan berikan kepada Drew!" titah Tuan Hans.
"S-saya? Kalau saya berikan pakaian ini, lalu saya pakai apa Tuan?" tanya Martino enggan memberikan.
"Tukar dengan pakaian yang Drew kenakan sekarang ini!" ucap Tuan Hans tidak mau tahu.
__ADS_1
"B-baiklah," balas Martino pasrah.
"Tidak perlu, biar aku memakai ini saja. Tidak akan lama, setidaknya sampai Twister datang dan aku akan segera meminta baju salinan padanya," ucap Drew menolak dan disambut helaan nafas lega Martino.
Sementara itu, merasa mendengar ada keributan di depan rumahnya, Tesla pun segera menghampiri.
"Siapa Drew?" tanya Tesla. Dan ia melebarkan kedua matanya saat melihat orang yang datang adalah ayahnya Drew sendiri.
"Tuan, anda datang jauh-jauh kesini. Kenapa tidak duduk terlebih dahulu, biarkan saya membuatkan anda minum," ucap Tesla menyapa.
"Tidak perlu, aku tidak sudi menerima apapun dari kalian!" balas Tuan Hans menolak mentah-mentah.
"Ayo Drew kita pulang! Daddy tidak ingin kamu berlama-lama berada di kampung ini dan tinggal bersama dengan mereka!" ucap Tuan Hans kemudian.
"Ya cepat, pulang saja sana! Siapa juga yang sudi menerima tamu angkuh dan kaku seperti kanebo kering!" celetuk Pak Sanyoto sambil menyembunyikan wajahnya dari balik koran.
Tuan Hans menggertakkan giginya karena sebal, terlebih ketika melihat anak buahnya juga ikutan terkekeh.
"Ayo Drew kita kembali! Daddy muak berlama-lama disini," ucapnya gemas melihat pak Sanyoto yang berganti posisi, dari baca koran menjadi mengelus-elus bebek kesayangannya - Sardi, dengan gaya angkuh.
"Tapi Daddy, aku tidak mau pulang tanpa membawa Twister!" tolak Drew.
"Twister bisa menyusul nanti, tapi yang jelas kau harus segera kembali!" ucap Tuan Hans tegas.
Drew menggeleng. "Tidak Daddy, kenapa aku harus mematuhimu," tolaknya.
"Karena kau akan segera menikah Drew! Apa pantas bagimu menginap di rumah orang lain, apalagi ada seorang wanita didalamnya! Daddy tidak mau mengambil resiko, pokoknya hari ini juga kamu harus ikut pulang bersama dengan Daddy!" titah Tuan Hans.
"Tidak Daddy, aku tidak mau pulang. Aku hanya mau pulang bersama dengan Twister!" bantah Drew bersikukuh.
"Biarkan dia menginap di sini Daddy," ucap Twister yang baru saja tiba.
Tuan Hans menoleh dan menatap tajam Twister yang sama menatap tajam dirinya.
"Aku berjanji akan menjaganya dan mengawasi Drew agar tidak bertindak diluar keinginanmu," sambung Twister.
Tuan Hans menghembus nafas kasar. "Baiklah, aku percayakan Drew kepadamu." Lalu mengajak anak buahnya pergi dari desa Rawa Bebek.
Drew terperangah melihat kejadian tersebut, entah mengapa sang ayah yang begitu keras kepala, berubah luluh jika berhadapan dengan Twister. Sungguh berbeda sekali jika sedang berdebat dan saling berhadapan dengannya, mereka seperti tidak menemukan titik terang.
.
__ADS_1
.
Bersambung.