
Restoran Manyu.
"Sayang!" seru Nyonya Bianca gembira saat melihat kedatangan kedua putra tampan kesayangan ke restorannya.
"Hai Mom!" seru Drew memeluk sang ibu pertama kali.
"Mom, apa kabarmu?" tanya Twister sambil memeluk Nyonya Bianca setelah Drew.
"Kabar Mommy baik, bagaimana dengan kalian?" tanya Nyonya Bianca.
"Kabar kami juga baik," balas Drew dan Twister.
"Ya sudah ayo duduk dulu. Apa kalian sudah makan siang?" tanya Nyonya Bianca.
"Belum, untuk itulah kami datang kemari," jawab Twister tersenyum.
Nyonya Bianca mengulas senyum dan merasa senang sekali, karena berkesempatan makan bersama dengan kedua putranya.
"Kalau begitu, ayo kita makan siang bersama ya," ajak Nyonya Bianca dan menggiring kedua putranya ke arah meja kosong untuk mereka.
Drew dan Twister dengan senang hati mengapit masing-masing lengan ibunya itu dan berjalan beriringan menuju meja khusus untuk mereka.
"Sudah lama tidak bertemu dengan kalian, bahkan satu kabar tentang kalian pun tidak ada. Mommy pikir kalian berdua telah melupakan Mommy," ucap Nyonya Bianca sedikit sedih dan mengeluarkan isi hatinya karena kesepian.
"Mana mungkin kami melupakan wanita spesial sepertimu Mom, maaf karena kami seminggu ini tidak memberimu kabar. Karena kami berdua sedang sibuk akhir-akhir ini," ucap Drew memberitahu.
"Kalian sibuk apa? Sam bilang kalian sedang pergi bersenang-senang," balas Nyonya Bianca sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kami tidak pergi untuk bersenang-senang, Mom. Hanya mengunjungi rumah pak Sanyoto," balas Twister.
"Benarkah? Jadi kalian pergi ke desa Rawa Bebek? Terus mengapa kalian tidak mengajak Mommy, lalu apa tujuan kalian datang kesana?" cecar Nyonya Bianca merasa iri.
Sebab semua orang telah pergi ke desa Rawa Bebek, termasuk kedua karyawan magangnya yang sedang cuti bekerja karena ingin liburan ke desa tersebut.
"Tadinya aku tidak ingin pergi kesana, tapi setelah tahu Twister pergi mendadak ke desa itu, mau tidak mau aku menyusul Twister dan berusaha membawanya agar kembali ke kota," balas Drew.
__ADS_1
"Benarkah begitu?" tanya Nyonya Bianca dan Drew mengangguk.
Nyonya Bianca menatap Twister. "Twister kenapa kau pergi mendadak seperti itu? Apa terjadi sesuatu kepada keluarga Tesla?" tanyanya khawatir.
Twister menceritakan awal mula kedatangan sang ayah ke apartemen Drew, dengan membawa sejumlah uang agar keluarga Sanyoto memutuskan hubungan, serta menjauh dari kehidupannya.
"Daddymu memang benar-benar tidak mengerti apa arti hubungan, hubungan kekeluargaan bukan hanya dari keluarga kandung saja. Tapi orang-orang terdekat yang peduli dan mengasihi kita, itu termasuk hubungan keluarga juga," ucap Nyonya Bianca.
"Benar, aku telah menganggap keluarga Sanyoto sebagai keluargaku. Saat mereka pergi karena kecewa, bagaimana mungkin aku tinggal diam begitu saja," balas Twister.
"Ya Twister, tapi syukurlah mereka telah melupakan kejadian itu dan menerimamu kembali. Walau bagaimana pun Mommy termasuk berhutang budi kepada keluarga itu karena telah menyelamatkan dan merawat kau saat terluka," ucap Nyonya Bianca.
Twister menarik senyum, ia begitu senang karena pikiran dan hati sang Mommy sejalan dengan hati maupun pikirannya.
Berbeda dengan Drew, dia hanya tahu keluarga hanya sebatas nama-nama yang tercantum pada kartu keluarga, kecuali nama sang ayah dan ibu tiri.
"Sekarang ceritakan pada Mommy, bagaimana keadaa Tesla sekarang? Apa dia sudah baikkan sekarang?" tanya Nyonya Bianca sambil memotongi daging bebek untuk kedua putranya.
"Aku rasa dia sudah lebih baik, bahkan pagi ini Tesla membuatkan kami semua sarapan pagi sebelum pergi," balas Twister.
"Oh begitu? Jadi dia bisa memasak, bagaimana rasa masakannya? Apa dia juga rajin?" tanya Nyonya Bianca antusias.
Sebab pria itu sempat membaca tulisan tangan adiknya sebelum kembali dan Twister sangat senang, Drew akhirnya bisa mengucapkan kata ajaib yaitu kata maaf dan terima kasih, apalagi kepada seorang wanita
"Benarkah begitu Drew, kau menyukai makanan sederhana buatan keluarga Sanyoto?" tanya Nyonya Bianca sulit percaya, mengingat Drew termasuk pria pemilih makanan.
"Ya sebenarnya terpaksa saja karena perutku sudah lapar," balas Drew berbohong. Padahal tadi pagi dia sempat memuji masakan Tesla.
"Tesla gadis yang baik, sepertinya cocok jika dipasangan dengan Twister. Ya kan, Drew?" celetuk Nyonya Bianca. Membuat Twister dan Drew seketika tersedak nafas mereka bersamaan.
"Eh b-begitu kah? Tapi menurutku mereka sama sekali tidak cocok!" jawab Drew menolak dengan tegas.
Lantas saja hatinya berubah gelisah dan tiba-tiba saja merasa tidak rela mendengar pernyataan itu, apalagi sampai terjadi.
"Mom, apa yang kau bicarakan ini. Tesla sudah ku anggap sebagai adik sendiri. Bagaimana bisa aku menjadikannya pasangan hidup," protes Twister.
__ADS_1
"Ya Mommy kan hanya menduga saja, siapa tahu selama kau berada di dekat Tesla, ada perasaan lain dalam hatimu itu. Habisnya kau begitu perhatian sekali sampai rela menyusul dia sampai ke desa dan meninggalkan adik kandungmu yang sesungguhnya," balas Nyonya Bianca berbicara sesuai dugaannya.
"Yang aku lakukan kepadanya adalah bentuk tanggung jawabku dan juga rasa terima kasihku karena ia pernah berjasa merawatku saat sakit. Sudah begitu, Tesla telah ku anggap sebagai adik sendiri dan aku tidak memiliki perasaan sebagai seorang kekasih," balas Twister menegaskan sekali lagi.
"Ya Mommy hanya asal bicara saja, jangan dimasukan ke hati. Lagipula daddymu telah mencarikan calon untukmu sendiri, jadi mana bisa Mommy merubah keputusan itu," ucap Nyonya Bianca tersadar.
Twister menghembus nafasnya panjang. "Daddy telah mencarikan aku pasangan hidup dan aku telah berjanji akan menerima wanita pilihan daddy kelak. Jadi Mom, aku minta padamu agar tidak mengkhawatirkan aku."
Nyonya Bianca menarik senyumnya. "Kau pria berhati besar, siapapun wanita yang akan menjadi pendampingmu kelak, Mommy hanya bisa berdoa agar dia bisa menjadi istri yang baik dan kalian bisa hidup bahagia dalam menjalani bahtera rumah tangga."
"Benar, wanita yang di akan menjadi pendamping Twister sangatlah beruntung," serobot Drew.
"Terima kasih Mom, Drew. Sudahlah jangan bahas masalah bahtera rumah tangga. Drew, kau saja belum menikah, kau malah membahas masalah rumah tanggaku yang aku sendiri bahkan belum mengetahuinya bagaimana," balas Twister.
"Benar, lebih baik kita makan saja." Drew menyodorkan sesuap nasi untuk sang ibu dan mereka menyantap makan siang bersama.
...----------------...
Mansion Royce.
Nyonya Sherly telah menyelesaikan makan siangnya seorang diri, ia menatap lurus kedepan, dimana seluruh makanan hasil kreasinya tidak terjamah satu pun.
"Aku sudah selesai makan siang, tolong dibereskan semua makanan ini!" titah Nyonya Sherly kepada pelayannya.
"Baik Nyonya, tapi makan siang dimeja masih belum tersentuh," ucap kepala maid memberanikan diri.
"Buang saja!" sergah Nyonya Sherly kesal. Lalu beranjak pergi dari kursinya dengan raut wajah marah.
"Kedua anak itu, aku harus segera menundukkannya!" batin Nyonya Sherly.
Sebab ia takut sekali, kedua putra tirinya akan lebih memihak kepada nyonya Bianca. Terlebih dia tidak memiliki seorang keturunan, membuat Nyonya Sherly takut tidak mendapat warisan suatu hari nanti.
Wanita paruh baya itu mempersiapkan diri untuk menyusul kedua putra tirinya ke restoran Manyu dan berusaha membujuknya pulang, atau paling tidak berusaha mengambil sedikit perhatian dari salah kedua putra tirinya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.