Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 35. Masih hidup.


__ADS_3

Sebuah Bar.


Matt melenggang masuk ke dalam Bar, dimana Bella telah menunggunya sejak dari tadi. Pria itu segera merampas satu ciuman dari bibir Bella dan duduk disebelahnya dengan rasa bangga.


"Berhentilah berbuat seperti itu padaku Matt!" ucap Bella menahan wajah Matt yang ingin merampas satu ciuman lagi.


"Kenapa kau menolaknya sayang? Apa ini balasan darimu atas kesuksesanku?" dengus Matt menarik dagu Bella agar mau menatapnya.


Bella menoleh dan menatap Matt. "Apa maksudmu? Apa kau berhasil mencelakai wanita gembel itu?" ucapnya.


Matt menghentak kerah kemejanya dan tersenyum lebar. "Tentu saja aku berhasil membuat wanita itu celaka hingga terluka parah dan kabarnya sekarang ini ia sedang dirawat di rumah sakit," balasnya memberitahu.


Bella tersenyum senang, hatinya merasa puas sekali mengetahui jika Tesla telah celaka. "Rasakan! Itulah akibatnya kalau berani macam-macam dengan Bella Kusuma!" ucapnya menggebu.


"Ya, bagaimana kalau kita merayakannya? Satu ronde, dua atau sampai pagi?" rayu Matt membelai wajah mulus Bella.


"Tidak Matt, aku telah diikat oleh pria lain." Bella menunjukkan cincin pertunangannya dihadapan Matt.


"Aku tidak peduli," balas Matt. Lalu melepas cincin pertunangan tersebut dan menaruhnya didalam tas Bella. "Kalau diluar kau tetap milikku," sambungnya.


Matt menarik tengkuk Bella dan menciumnya mesra, lalu tanpa ragu membawanya ke tempat biasa untuk menunaikan hasratnya.


"Matt, kita tidak boleh terus seperti ini. Bagaimana jika ada yang tahu mengenai hubungan kita?" ucap Bella merasa khawatir.


"Sudah ku bilang aku tidak peduli," balas Matt mulai menanggalkan satu persatu pakaian Bella maupun dirinya sendiri.


"Tapi,"


Matt segera membungkam mulut Bella dengan bibirnya sebelum gadis itu berhasil menyelesaikan kalimatnya, ia melumaat mesra dan terus menjelajah tanpa jeda.


Sedangkan Bella sendiri mulai terpancing akan permainan liar pria itu, hingga membuat dirinya tidak sanggup untuk menolak perlakuan manis Matt dan melanjutkan ke tahap berikutnya.


Kini Bella tidak peduli lagi dengan ikatan pertunangannya, karena ia sendiri telah tertutup kabut hasrat. Namun satu hal yang pasti, wanita itu tidak boleh lupa meminum obat kontrasepsinya agar tidak terbuahi oleh Matt.


Karena Matt sendiri tidak ingin memakai pengaman saat bermain.


...----------------...


Rumah Sakit.


"Aku pergi mengurus administrasimu dulu," ucap Bagas beranjak pergi.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Tesla.


Bagas menatap Drew. "Tolong temani dia sebentar," pintanya.


Drew mengangguk. "Serahkan saja padaku," balasnya tersenyum miring menatap Tesla.


Karena pria itu sudah tidak sabar, ingin mencecar berbagai pertanyaan mengenai Bagas, dan yang pastinya juga ingin melampiaskan kekesalan akibat dibohongi kemarin malam.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Tesla merasa aneh.


Drew duduk disamping Tesla. "Kau membohongiku kemarin malam ya?" balasnya bertanya.


"Membohongimu apa?" tanya balik Tesla.


"Jangan berpura-pura tidak tahu, sebenarnya Bagas itu bukan kakak kandungmu. Ya kan?" tuntut Drew.


"Kalau dia bukan kakak kandungku, memangnya kenapa? Apa hubungannya denganmu?" ucap Tesla.


"Katakan saja padaku, bagaimana kau bisa bertemu dengan Bagas? Apa kau bertemu dengannya saat ia sedang kecelakaan atau semacamnya? Lalu dimana kalian bertemu pertama kali?" cecar Drew menuntut, sambil mencondongkan dirinya hingga mendekat.


Tesla menelan ludahnya susah payah dan menatap Drew yang begitu serius menatapnya. "A-apa maksudmu?" tanyanya gugup.


Tesla menghembus nafas kasar. "Aku bertemu dengannya dijalan saat itu,"


"Dijalan? Lalu bagaimana? Ceritakan padaku," serobot Drew.


"Sabar lah, kau membuat lukaku semakin sakit saja." Tesla memegangi dadanya yang terasa sesak akibat benturan.


"Ck! Jangan beralasan, cepat ceritakanlah!" Paksa Drew.


"Ya baiklah, tapi tolong menjauhlah dariku!" pinta Tesla.


Drew menarik diri kemudian duduk dengan tenang, menunggu Tesla menceritakan segalanya.


"Aku pertama kali bertemu dengan kak Bagas saat berusaha mengejar pencuri bebek peliharaanku dan pencuri itu berlari hingga masuk ke jalan besar perdesaan."


"Sebenarnya aku ingin membiarkan saja pencuri itu pergi dan memilih pulang, karena hari sudah petang dan hampir gelap. Akan tetapi saat aku hendak berbalik, tiba-tiba saja aku mendengar sesuatu seperti suara benturan keras dari arah jalan besar."


"Aku menghampiri sumber suara itu dan setibanya di jalan besar, aku melihat sudah ada dua orang pria sedang berbaring dalam kondisi terluka."


"Lalu apa yang terjadi?" cecar Drew.

__ADS_1


"Aku begitu takut waktu itu, kemudian menyadari kalau mereka baru saja terlibat aksi kecelakaan. Aku juga baru sadar jika si pencuri bebek itu rupanya telah tertabrak oleh motor kak Bagas dan meninggal karena kepalanya menghantam pembatas jalan."


"Aku begitu panik dan segera menghampiri kak Bagas karena ia memanggilku dan meminta pertolongan. Kemudian aku membangunkan kak Bagas, lalu memapahnya agar menepi terlebih dahulu dan mendudukannya di dekat semak belukar. Sementara si pencuri bebek itu aku biarkan tergeletak di tengah jalan, karena aku takut saat melihat wajahnya yang telah hancur berlumuran darah."


"Lalu?" tanya Drew menyimak.


"Aku pergi meninggalkan kak Bagas sebentar, untuk memanggil warga desa. Karena aku tidak kuat kalau memapahnya sendiri dan jarak ke desa juga lumayan jauh," jawab Tesla.


"Apa tidak ada orang disana hah?" tanya Drew.


"Jalanan itu sangat sepi dan gelap apalagi sehabis magrib, jalanan itu juga selalu dipakai genk motor untuk kebut-kebutan jika malam hari tiba," balas Tesla.


"Lalu?" tanya Drew masih penasaran.


"Setelah berhasil memanggil beberapa warga desa, aku kembali kejalan besar dan meminta warga desa untuk menggotong kak Bagas dan juga si pencuri bebek itu. Tapi sebelum aku kembali kesana ternyata dia telah dibawa oleh mobil ambulans," balas Tesla apa adanya.


"Lalu apa lagi yang kau tahu?" cecar Drew, dia sampai meremas kain sprei karena tidak sabar mendengar kelanjutannya.


Tesla berpikir sejenak. "Tidak ada lagi, yang ku tahu saat si pencuri bebek itu dibawa ke mobil ambulans, banyak sekali orang-orang kota berdatangan dan menyerukan nama Twister."


Drew sontak terbelalak mendengar hal tersebut, hingga lemas seketika. Bahkan emosinya meluap-luap saat ini dan tanpa sadar ia meneteskan air mata.


"Sudah ku duga, kak Twisterku masih hidup."


Tesla menatap bingung ekspresi Drew yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. "Kau kenapa? Apa kau mengenal kak Bagas?" tanyanya.


Drew menatap Tesla dan memegang erat kedua bahunya. "Tentu saja aku mengenalnya, bahkan aku mengenalnya dengan sangat baik." balasnya menggebu-ngebu.


Tesla refleks meringis, karena cengkraman kuat Drew pada kedua bahunya. Lalu sebuah tangan menarik Drew agar menjauh dari Tesla.


"Apa yang sedang kau lakukan kepada adikku!" tukas Bagas yang baru saja tiba setelah mengurus administrasi.


Drew tidak menjawab pertanyaan itu dan mengabaikan ketidaksukaan Bagas atas sikapnya kepada Tesla. Ia lantas menoleh dan menatap sendu, lalu segera memeluk erat pria itu dan menangis.


"Ternyata dugaanku terhadapmu selama ini benar, aku tahu kalau kau masih hidup Twister," ucap Drew tersedu-sedu. Membuat Bagas seketika melebarkan kelopak matanya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2