Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 131. Acara pertunangan.


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Satu hari sebelum pertunangannya dengan Luna, Drew menyempatkan diri untuk menemui Nyonya Bianca dan memberitahukan tentang acara pertunangannya, yang akan dilangsungkan esok hari di istana Royce yang megah.


Nyonya Bianca merasa sedih dan mengusap wajah putranya dengan kedua tangan. "Kau akan bertunangan dengan wanita yang tidak kau cintai dan itu pasti sangatlah sulit untuk kau terima dengan mudah. Drew sayang, apapun keputusanmu, Mommy hanya berharap kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri, walaupun itu bukan bersama dengan wanita yang kau cintai."


"Kebahagiaanku ada bersama denganmu, jadi jangan bilang aku akan bahagia bersama dengan wanita lain," balas Drew dan sempat melirik dimana Tesla tengah bersembunyi darinya sekarang ini.


Nyonya Bianca hanya bisa mengangguk perlahan dan menggenggam tangan Drew, ia sangat sedih ketika putranya itu tidak mendapatkan cinta yang ia inginkan dan gagal hidup bersama dengan wanita yang ia cintai.


Ia hanya berharap ada keajaiban lain, yang dapat menghentikan hubungan tidak diinginkan olehnya itu, seperti saat pernikahannya Drew dengan Bella yang gagal terdahulu.


Drew menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dan telah menunjukkan pukul sembilan malam tepat. "Mommy, aku harus pulang," ucapnya pamit.


"Hem, baiklah. Jika kau butuh sesuatu, datanglah kesini dan jangan sungkan untuk bercerita apapun kepada Mommy," balas Nyonya Bianca.


Drew tersenyum dan mengangguk. "Ya, Mom. Aku pasti akan mengunjungimu," balasnya. Sesekali melirik Tesla yang terlihat masih setia bersembunyi disudut sana.


Sedangkan Tesla yang bersembunyi agar tidak terlihat oleh Drew pun mengintip, dan ia mulai keluar dari tempat persembunyiannya setelah melihat tidak adanya Drew di tempat itu lagi.


"Syukurlah dia telah pergi," batin Tesla. Lalu keliar dari tempat persembunyiannya.


Drew melihat itu dari kejauhan, ingin rasanya menghampiri dan memeluk erat gadis pujaan hatinya itu dari belakang, lalu membawanya pergi bersama dirinya.


Namun apalah daya, semakin Drew berusaha mendekat, Tesla akan semakin menjauh darinya.


Drew melajukan kendaraannya dan pergi dari tempat itu, bersiap menghadapi hari esok. Dimana hari menyakitkan dalam hidupnya, yaitu mengikat hubungan dengan wanita yang tidak ia cintai.


...----------------...


Keesokan harinya.


Mansion Royce.


Luna menatapi wajahnya yang telah dirias oleh team make up dari bridal pada pantulan cermin dihadapannya, sambil tersenyum memikirkan masa depannya yang sudah pasti akan cemerlang dan bergelimangan harta karena sebentar lagi dirinya akan menjadi bagian dari keluarga Royce.


Pikiran tamaknya seketika mencuat lebih tinggi, sampai memandang rendah orang lain yang berada di sekitarnya.

__ADS_1


Seperti saat sekarang ini, wanita itu dengan santainya memerintah kepada para pelayan di dekatnya agar mau menuruti setiap keinginannya, walau itu hal sepele yang bisa dilakukan olehnya sendiri.


Bahkan Luna tega menyuruh Mutia yang sedang hamil muda.


"Kak Mutia, tolong ambilkan sepatu hak tinggiku di depan kamar itu ya," pinta Luna selayaknya tuan putri.


"Memangnya tidak bisa kau ambil sepatumu sendiri?" tanya Mutia enggan.


"Kau lihat sendiri-kan Kak? Aku baru saja di rias dan kuku jariku baru saja di hias, aku tidak mau semua ini sampai rusak gara-gara mengambil sendal ku yang cukup jauh didepan sana," balas Luna tidak peduli.


Mutia menghela nafas panjang, jika bukan karena Luna akan menjadi adik iparnya dan dia tengah bertanggung jawab akan penampilan Luna pada acara ini, maka sudah pasti dia tidak akan mau menuruti keinginan wanita manja itu.


"Baiklah," balas Mutia.


Luna tersenyum smirk dan merasa senang karena telah berhasil memerintah Mutia. "Huh! Aku senang sekali karena dia menuruti keinginanku, baiklah kalau begitu bersiaplah kau akan ku jadikan sebagai pelayanku hari ini," batinnya jahat.


"Belum jadi menantu saja sudah bertingkah seperti itu, bagaimana kalau dia sudah resmi menikah dengan tuan muda Drew?" cibir pelayan yang ada disana dan terdengar di telinga Mutia saat mengambilkan sepatu hak tinggi untuk Luna.


"Hati-hati jika bicara, tembok ini seakan punya telinga dan kalian bisa terkena masalah nantinya," tegur Mutia.


"Untuk Luna, sudah waktunya dia pakai sepatu," balas Mutia.


Mirna dan yang lain saling menatap satu sama lain dan merasa kasihan dengan nyonya muda mereka. "Nyonya muda biar saya saja yang mengantarkan sepatu ini ke kamar Nona Luna, anda beristirahatlah."


"Baiklah, ini sepatunya." Mutia memberikan sepatu berhak tinggi tersebut kepada Mirna dan Mirna si pelayan bergegas pergi ke kamar Luna.


Tapi tak lama setelah itu, terdengar suara Luna memaki seseorang. "Dasar pelayan tidak tahu diri! Aku tidak mau dipakaikan sepatu oleh pelayan rendahan seperti dirimu itu!" sentak Luna kepada Mirna.


Mendengar hal tersebut, Mutia mengecek keadaan di dalam kamar Luna. Ia terkejut melihat Mirna sudah menangis sambil menunduk dan bersimpuh.


Luna yang melihat Mutia datang pun segera menegurnya. "Kak Mutia, kau kemana saja sih? Aku maunya dipakaikan sepatu olehmu dan bukan sama si pelayan kotor ini. Lihatlah, karena kukunya yg tajam dan hitam. Kulit kakiku tergores karenanya, sudah begitu dia tidak mengerti cara memakaikan sepatu mahal dikakiku ini!" keluh Luna menunjukkan kakinya yang masih mulus tanpa cacat cela.


Mutia menghela nafas panjang. "Kalau begitu, kenapa kau tidak pakai sendiri sepatumu?"


Luna mencebik, "Kak Mutia, kan sudah ku katakan dari awal. Kalau kuku-ku ni baru saja dirias, dan aku juga tidak bisa menjangkau sepatuku ini, karena terhalang dresku yang sangat mahal dan mewah. Bagaimana kalau dresnya sobek saat aku membungkuk nanti?" jawabnya penuh maksud.


Mutia mendesaah panjang dan akhirnya mengalah. "Baiklah," ucapnya lalu berjongkok dan memakaikan sepatu dikaki Luna.

__ADS_1


Sedangkan Luna sendiri merasa puas karena berhasil membuat Mutia patuh kepadanya, dan ia yakin setelah menikah nanti. Dirinya yang akan berkuasa di rumah besar tersebut, mengingat kakak iparnya yang terlalu lemah.


"Sudah," ucap Mutia berdiri dari jongkoknya.


Luna tersenyum dan memainkan kedua kakinya. "Ah cantik sekali, sepatu mahal ini memang pantas dipakai dikakiku. Benarkan Kak Mutia?"


Mutia tersenyum tipis. "Benar, memang cocok dipakai olehmu," jawabnya.


"Hari ini adalah hari istimewa untukku, aku berharap acara pertunanganku dengan Drew berjalan lancar tanpa adanya gangguan," ucap Luna pada diri sendiri.


Wanita itu kemudian berdiri dari tempat duduknya, dengan membusungkan dadanya dan wajah yang terangkat keatas, lalu melangkah turun dengan anggun menuju lantai dasar, untuk berkumpul bersama dengan keluarga Royce yang telah menunggu kedatangannya dibawah sana.


Dan setibanya di ruangan khusus dengan taburan dekorasi dimana-mana, Luna tersenyum penuh dan merasa senang. Terlebih saat melihat Drew yang berparas tampan serta berpakaian rapi tengah menunggu kehadirannya.


"Sayang, kamu cantik sekali!" seru Nyonya Sherly memuji.


"Terima kasih Tante," jawab Luna begitu gembira.


"Kalau begitu cepatlah kita duduk sekarang!" ucap Nyonya Sherly menggandeng lengan Luna agar ikut dengannya dan duduk bersama dengan keluarga Royce.


Nyonya Sherly mendudukkan Luna disebelah Drew, agar mereka bisa terlihat sebagai pasangan. Lalu, tanpa banyak menguras waktu. Pertunangan itu pun berlangsung dengan lancar tanpa adanya gangguan.


Luna menatapi cincin berlian penuh kilauan yang kini telah tersemat dijari manisnya, lalu menatap Drew yang tengah terdiam menatap hampa pemandangan dihadapannya.


Luna pun memanfaatkan kesempatan tersebut dengan memeluk lengan Drew, hingga Drew terperanjat kaget.


"Menyingkir dari lenganku dan jangan mendekatiku!" tepis Drew.


Luna terpaksa menarik kembali uluran tangannya. "Maaf, apa aku mengejutkanmu? Tapi kita ini kan sudah bertunangan, jadi apa salahnya kalau aku mendekatimu sayang," ucapnya berusaha mesra.


Drew membuang wajahnya, lalu tanpa banyak bicara pria itu pergi setelah acara pertunangannya selesai.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2