
Restoran Manyu.
Tesla termenung memikirkan hari ini, dimana hari minggu ini adalah hari penting untuk Drew dan juga Luna, yang telah melangsungkan acara pertunangan mereka.
Ia lebih banyak melamun daripada bekerja, hingga ditegur oleh sang pemilik restoran.
"Tesla, jika kamu tidak bersemangat bekerja hari. Lebih baik istirahat saja di rumah," ucap Nyonya Bianca mengerti.
"Tidak apa-apa Chef, aku baik-baik saja," balas Tesla menolak lalu kembali membersihkan meja.
Nyonya Bianca menghembus nafasnya perlahan dan prihatin melihat keadaan Tesla. "Acara pertunangan Drew dengan Luna, sudah pasti hal itu-lah yang membuat hatinya terguncang dan membuatnya tidak fokus bekerja," batinnya mengerti hal itu.
Sedangkan di sudut parkiran sana, Drew menatapi kegiatan Tesla dari dalam mobilnya. Dinding kaca pada restoran tersebut, memudahkan Drew dalam menatap wanita pujaan hatinya yang tengah bekerja melayani para tamu di dalam sana.
Andaikan saja ia bisa mendekat, tentu ia sudah masuk ke dalam sana, menunjukkan sikap tengil dan angkuhnya, agar bisa berbincang berdua dan bercanda tawa seperti dahulu.
Akan tetapi hal itu kini tinggallah hanya kenangan dan Drew harus mengikhlaskan segalanya, mengingat statusnya sekarang ini.
Bersamaan dengan hal tersebut, ponsel Drew berbunyi tanpa pesan masuk dan ia merasa malas setelah tahu siapa yang telah mengirim pesan padanya.
Sayang, kamu ada dimana? Pulang-lah, hari ini kita kedatangan tamu penting.
Drew mematikan ponselnya lalu melemparnya ke belakang jok mobilnya, agar tidak terus mendengar panggilan dari Luna yang terus saja menganggunya.
"Kedatangan tamu penting? Itu kan menurutmu. Tapi bagiku, itu tidak penting sama sekali," oceh Drew sambil melajukan kendaraannya.
Dan setibanya ia di rumah, Drew disambut oleh Luna yang masih sama cantiknya dengan tadi pagi, hanya saja dresnya telah bertukar dengan yang baru.
"Drew, cepatlah ikut denganku. Ada yang ingin ku kenalkan padamu," seru Luna menarik lengan Drew agar ikut bersamanya. "Drew mana cincin pertunangan kita?" tanyanya kemudian.
"Disimpan!" jawab Drew beralasan, sambil menepis lengan Luna.
Namun Luna segera mengeratkan pelukannya itu, agar terlihat romantis didepan semua orang. "Oh begitu, nanti dipakai ya." Lalu mereka duduk bersama, dengan semua orang telah berkumpul dalam satu ruangan yang sama.
Termasuk sepasang suami istri berumur sama dengan Nyonya Sherly, yang nampak asing bagi Drew.
"Mama, Papa. Ini dia Drew, calon suaminya Luna!" seru Luna memperkenalkan Drew kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Pak Bambang beserta istrinya yaitu Bu Magda tersenyum ramah. "Kami berdua adalah orang tuanya Luna, sekaligus sepupunya Sherly," ucap Pak Bambang memperkenalkan dirinya kepada Drew, sambil mengulurkan lengan kanannya dan Drew menyambut seikhlasnya uluran tangan tersebut.
"Luna, beruntung sekali kamu punya calon suami setampan ini. Mama senang melihatnya, kalian terlihat sangat cocok sekali!" puji Bu Magda senang.
"Ya donk, calon suamiku ini sangatlah tampan." Luna semakin mengeratkan pelukannya di lengan Drew.
Nyonya Sherly tersenyum dan mereka berbincang mengenai masa depan keduanya. "Maaf, kami terburu-buru mengikat mereka berdua dan tidak menunggu kalian sampai disini terlebih dahulu."
"Tidak apa Sherly, kami mengerti. Terima kasih karena sudah mewakili aku sebagai ibunya," balas Bu Magda memaklumi.
"Itu sudah pasti Kak Magda, Luna sudah aku anggap seperti putri sendiri. Jadi mengenai masa depan Luna, aku merasa harus ikut membantu mengurusnya," ucap Nyonya Sherly senang.
"Kalau begitu aku merasa tenang mendengarnya dan kami berharap agar hubungan mereka berjalan lancar hingga jenjang pernikahan," harap Bu Magda.
"Amin," sahut semua yang ada disana kecuali Drew.
"Ngomong-ngomong, kapan rencana pernikahannya?" tanya Pak Bambang sudah tidak sabar.
"Pak Bambang, kalau mengenai tanggal resepsi pernikahannya kapan, maka jawaban dari kami adalah belum pasti. Karena ada tanggung jawab yang ingin Drew selesaikan terlebih dahulu," balas Tuan Hans.
"Drew sedang merintis bisnis baru dan lahan bisnisnya itu masih dalam tahap pembangunan, selain itu Drew masih berhutang padaku dan juga hutang di bank. Dan dia bertekad tidak akan menikah sebelum semuanya selesai," balas Tuan Hans mewakili keinginan Drew yang telah disepakati oleh mereka berdua sebelumnya.
"Oh begitu, memangnya berapa lama lagi semuanya selesai?" tanya Pak Bambang sedikit kecewa kalau tanggal pernikahan putrinya agak lama.
"Tiga tahun," serobot Drew to the point.
"T-tiga tahun? Bukankah itu waktu yang cukup lama? Bagaimana kalau kalian sampai berubah pikiran?" cemas Bu Magda.
"Kak Magda, janganlah berkata seperti itu. Kan suamiku telah menjelaskan kepada kalian apa alasan Drew sampai lama menikahi Luna. Tapi kalian tenang saja, yang terpenting mereka berdua ini sudah bertunangan bukan? Jadi aku rasa hal itu tidak perlu dikhawatirkan," timpal Nyonya Sherly.
"Kau benar Sherly, aku hanya berharap Drew tidak mengecewakan Luna," balas Bu Magda.
"Maaf ya Tuan Hans, bukannya kami terburu-buru nafsu. Tapi ada pepatah mengatakan lebih cepat lebih baik dan kami sendiri sebagai orang tua, takut terjadi hal yang tidak-tidak. Seperti kebablasan begitu," ucap Pak Bambang mendesak pernikahan Luna dan Drew dipercepat dengan berbasa-basi.
"Tidak akan, aku percaya pada Drew," ucap Tuan Hans yakin.
Bersamaan dengan hal tersebut, ponsel Tuan Hans berbunyi dan ia pun meninggalkan ruang itu untuk menjawab panggilan.
__ADS_1
"Aku harus mengangkat panggilan ini dulu, sepertinya masalah pekerjaan kantor. Kalian mengobrolah," ucap Tuan Hans menatap panggilan dari Martino.
"Tidak masalah sayang, kau selesaikan saja pekerjaanmu," balas Nyonya Sherly.
"Hem, Martino memberi pesan aku harus pergi sekarang. Kalian sudah lama tidak berjumpa, kalau begitu aku rasa lebih baik kalian berkumpul bersama disini untuk berbincang dan temu kangen dan ajak sepupumu untuk menginap disini," ucap Tuan Hans sebelum pergi.
"Ya sayang, aku mengerti." Nyonya Sherly tersenyum dan mengantar sang suami ke depan rumah.
Sedangkan Drew yang sudah tidak betah berkumpul bersama dengan sekumpulan orang asing itu pun beranjak bangun dari tempat duduknya.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Luna menahan.
"Aku banyak pekerjaan," balas Drew menjawab sekenanya agar bisa menghindar dari Luna dan keluarganya.
"Baiklah," balas Luna melepaskan.
Hingga tinggallah mereka berkumpul bertiga didalam ruangan tersebut, dan masing-masing dari mereka mulai menunjukkan sifat aslinya.
"Luna, rumah ini luas dan megah sekali seperti istana saja. Kalau kamu sudah menikah nanti, jangan lupa ajak Mama untuk tinggal disini," bisik Bu Magda.
"Benar sekali, Papa juga senang berada disini. Sofanya empuk sekali dan makanannya juga enak-enak," ucap Pak Bambang menimpali. Ia juga merasa senang karena banyak pelayan wanita muda di sekeliling rumah itu, sehingga ia merasa segar apabila melihat wanita cantik setiap harinya.
"Ya, tapi sabarlah kalian berdua. Aku masih harus berusaha mendapatkan kepercayaan Om Hans dan Tante Sherly, terutama calon suamiku sendiri. Drew begitu susah dibujuk, bahkan aku sampai bingung harus bagaimana lagi melunakkan hatinya," balas Luna merasa kesulitan.
"Kalau begitu biar Mama bantu kalian agar bisa bersama," ucap Bu Magda menyusun rencana agar pernikahan Drew dan Luna di percepat.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Luna antusias.
Bu Magda menempelkan bibirnya dibelakang telinga Luna dan membisikkam sesuatu, entah apa yang wanita itu katakan. Akan tetapi Luna nampak senang mendengarnya.
"Baiklah, akan aku coba."
.
.
Bersambung.
__ADS_1