
Mansion Royce.
Luna pulang dalam keadaan marah, setelah mendapatkan penolakan dari Tesla yang tidak mau membantunya dalam membujuk Drew agar kembali ke rumah.
Aku dan dia sudah tidak punya hubungan lagi, jadi kau salah orang jika meminta bantuan kepadaku.
"Dasar wanita kampungan! Berani sekali dia menolak permintaanku padahal aku sudah memintanya baik-baik dan sempat menangis didepannya!" geram Luna menghentak-hentakkan kedua kakinya disepanjang jalan masuk.
Melihat putrinya telah kembali, Bu Magda bergegas menghampiri dan bertanya mengenai usaha putrinya itu.
"Bagaimana sayang? Apa kau sudah bertemu dengan Tesla? Apa kau berhasil meminta bantuannya? Apa dia mau membantumu?" cecar Bu Magda bertubi-tubi, membuat Luna semakin jengkel saja.
"Mama, aku baru pulang. Apa bisa kita duduk sebentar dan membiarkan aku meminum segelas air dulu?" jawab Luna ketus.
Bu Magda menarik senyumnya, saat melihat reaksi kesal dan ekspresi jutek diwajah putrinya itu, Bu Magda yakin, bahwa usaha Luna tadi tidak membuahkan hasil baik.
"Ah sudahlah, dari wajahmu sudah kelihatan kalau kamu itu gagal membujuk mantan pacarnya Drew. Iya kan?" cibirnya.
"Wanita itu sama seperti Drew, dia keras kepala sekali. Padahal aku sudah membuang air mata berhargaku ini didepan dia, tapi dia malah cuek bebek dan tidak mempan dengan bujukkan-ku, Mah!" sesal Luna.
Bu Magda menghela nafas panjang dan mengusap punggung putrinya. "Sudahlah jangan marah-marah lagi, biar kita pikirkan cara lain."
Luna mengangguk dan mereka masuk ke dalam kamar untuk mendiskusikan kembali.
...----------------...
Kampus.
Sementara itu dilain tempat, Tesla kembali tidak fokus belajar di dalam kelas, karena memikirkan perkataan Luna mengenai Drew yang pergi dari rumah.
"Tidak mungkin Drew pergi dari rumah karena alasan seperti itu, tapi kalau Drew pergi. Dia pergi kemana?" batin Tesla kepikiran.
Dan lamunan itu pun membuat ia ditegur oleh Pak Tedy sang dosen, yang sedang mengajar di dalam sana.
__ADS_1
"Tesla! Apa kau bisa berhenti memandangi jendela itu?" tegur Pak Tedy.
Tesla terjingkak kaget dan langsung berdiri. "M-maaf Pak! Bisa di ulang lagi pertanyaannya?" tanyanya sambil cengengesan.
Semua siswa pria disana jadi tersenyum-senyum melihat Tesla yang nampak lugu, atau bisa dibilang mereka terpesona dengan kecantikan teman satu kelas mereka itu saat melakukan tingkah konyol namun menggemaskan.
Untung saja gadis itu cantik, karena kalau tidak, sudah pasti ia akan di bully habis-habisan oleh semua murid disana.
Pak Tedy menghela nafas panjang, melihat semua muridnya bahu membahu membela Tesla agar tidak dihukum olehnya karena kedapatan melamun di dalam kelas.
"Baik, tapi berjanjilah kau tidak akan melamun lagi saat jam pelajaran berlangsung!" tegur Pak Tedy.
"Baik Pak, terima kasih!" jawab Tesla sambil membungkuk.
Hingga tibalah jam pelajaran telah usai, Tiara dan Marisa segera mendekati sahabatnya itu untuk bertanya mengenai sesuatu.
"Apa yang kamu pikirkan tadi Tes?" tanya Marisa.
"Iya, terus siapa wanita yang datang menemuimu tadi pagi?" tanya Tiara menambahi.
Serta alasan Drew pergi, berdasarkan cerita yang telah disampaikan oleh Luna.
"Kau percaya?" tanya Marisa.
"Tentu tidak, aku percaya Drew tidak melakukan hal kotor seperti itu," jawab Tesla yakin.
"Benar, walau Drew kelihatannya seperti cowok nakal. Tapi aku yakin Drew tidak melakukan hal seperti itu, apalagi kepada wanita yang tidak ia sukai," timpal Tiara.
"Hem, aku setuju dengan ucapan Tiara. Tapi yang jadi pertanyaannya sekarang adalah, ada dimana Drew sekarang ini?" tanya Marisa.
Seketika mereka bertiga berpikir, dan mencocokkan berbagai tempat yang dinilai memungkinkan untuk ditinggali oleh Drew selama kabur dari rumah.
Akan tetapi nyatanya Drew tidak ada dimana-mana tempat, bahkan Sam pun tidak tahu keberadaan Drew saat ini. Terlebih Drew juga tidak mengaktifkan nomor ponselnya, sehingga semua orang tidak bisa mengubunginya atau tidak dapat melacak keberadaannya.
__ADS_1
"Ada dimana Drew?" pikir Tesla bertanya-tanya. Bohong saja hatinya kalau tidak merasakan cemas saat mengetahui mantan kekasihnya itu sedang tidak diketahui keberadaannya sekarang ini.
Sementara orang-orang terdekat Drew seperti nyonya Bianca dan Twister pun, juga tidak tahu keberadaan Drew saat ini.
"Semua ini salah Daddy kalian, kalau pria itu bukanlah ayah kandung kalian. Maka sumpah demi apapun, aku akan menuntutnya hingga ke pengadilan!" geram Nyonya Bianca saat berita Drew pergi dari rumah terdengar juga ke telinganya.
"Tenangkan dirimu Mom, nomor Drew memang tidak bisa dihubungi dan dia juga tidak berkata apapun kepada siapapun diantara kita, sampai kita semua tidak tahu ada dimana dia saat ini. Entah apa alasan Drew pergi tanpa kabar seperti ini, tapi aku yakin ada tujuan dibalik alasannya itu," ucap Twister yang kala itu mengunjungi ibunya untuk menanyai keberadaan Drew.
"Ya tapi masalahnya ada dimana dia sekarang? Mommy sangat khawatir dia akan bertindak diluar kendali atau melakukan hal-hal buruk seperti dulu lagi," cemas Nyonya Bianca.
"Drew sudah dewasa, dia pasti tahu bagaimana cara membedakan mana jalan yang benar maupun jalan yang salah. Dan aku yakin Drew kini pasti sedang berada di suatu tempat, yang menurutnya baik, yang dapat menenangkan hati dan juga pikirannya saat ini," balas Twister menenangkan.
Nyonya Bianca mengangguk. "Semoga saja, semoga saja semua yang kau ucapkan itu benar Twister."
"Semoga saja, Mom. Dan menurutku lebih baik untuk sementara waktu ini kita biarkan saja Drew menyendiri terlebih dahulu," saran Twister dan menahan semua orang agar berhenti mencari keberadaan Drew.
"Kau benar, Drew pergi pasti merasa tertekan sekali dengan keinginan sepihak Hans. Dia dipaksa mengakhiri hubungannya dengan wanita yang ia cinta, demi menikahkannya dengan wanita lain yang sama sekali tidak ia sukai. Selain itu Hans lebih mempercayai wanita itu daripada putranya sendiri," ucap Nyonya Bianca merasa gemas jika mengingat perilaku jahat mantan suaminya.
Twister menghela nafas panjang, sambil berusaha menenangkan emosi yang bergejolak dalam hatinya. Ia hanya berharap Drew segera pulang ke rumah, atau paling tidak mereka mendapat kabar jika Drew baik-baik saja.
...----------------...
Desa Rawa Bebek.
Sementara itu, di tempat yang jauh dimata, sejauh mata memandang, Pak Sanyoto berkacak pinggang, sambil menatapi seorang tamu pria asing datang entah darimana, tahu-tahu sudah duduk saja didepan meja makan keluarganya.
"Dasar bocah semprull tidak tahu malu! Nasi satu bakul dan lauk pauk-ku kau habiskan semuanya sendiri!" ucap Pak Sanyoto kesal sambil mengetuk-ngetuk bakul nasi kosong diatas meja makan dihadapan Drew.
"Maaf, Papa mertua. Tapi aku lapar sekali," ucap Drew tanpa merasa bersalah. Sesekali cengengesan melihat Pak Sanyoto yang emosi akibat naik darah karena ulahnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.