Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 87. Kebakaran.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Desa Rawa Bebek.


"Juragan! Juragan! Juragan!" pekik Pak Mukhtar berlari menghampiri rumah Pak Sanyoto.


Pemilik rumah itu pun bergegas keluar dari rumahnya dengan memegangi sarung kotak-kotaknya agar tidak melorot.


"Ada apa Mukhtar pagi-pagi sudah kebakaran jenggot?" tanya Pak Sanyoto bingung.


"Annu Juragan! Annu itu! Annu di kandang! Ada api!" ucap Pak Mukhtar terpenggal-penggal karena sulit mengatur nafasnya.


"Annu apa? Annu siapa? Api di annu siapa?" cecar Pak Sanyoto penasaran.


"Kebakaran! Kandang bebek kita yang baru saja dibangun kebakaran, Juragan!" pekik Pak Mukhtar memberitahu.


"Apa! Kebakaran?" pekik Pak Sanyoto terkejut bukan main. Pria bulat itu pun bergegas menuju peternakan baru, yang masih dalam tahap pembangunan dan rencananya akan rampung minggu ini, untuk kebutuhan daging di restoran Manyu 2.


Namun disaat mendengar berita tidak menyenangkan itu, serta melihat banyaknya kepulan asap hitam pekat menyelimuti seluruh lahannya. Sirnalah harapan Pak Sanyoto untuk bisa memenuhi kebutuhan daging bebek, sesuai dengan kesepakatan bersama dengan nyonya Bianca sebelumnya.


Ia meratap sedih bercampul kesal dan begitu syok saat melihat kayu serta bangunan hampir jadi dihadapannya itu telah hangus termakan api.


"Alamak, lalu bagaimana dengan anakan bebek kita, Mukhtar? Apa bebek kita selamat semuanya?" tanya Pak Sanyoto cemas.


Terburu-buru pria itu berlari untuk melihat kondisi itik-itik kecilnya yang masih berada dikandang kecil, sebelah kandang yang baru saja terbakar.


"Anakan bebeknya selamat Juragan, kami sempat menyelamatkannya. Beruntung belum dipindahkan ke kandang yang baru, jadi tidak ada yang terbakar anakannya," balas Pak Mukhtar dan beberapa pekerja milik Pak Sanyoto masih berusaha memadamkan titik api.


"Syukurlah kalau begitu," ucapnya menghela nafas lega. "Tapi bagaimana kandang kita bisa terbakar Mukhtar?" selidik Pak Sanyoto mengundang pertanyaan.


"Tidak tahu Juragan, pagi-pagi saya lihat api sudah besar. Sudah begitu tidak tahu penyebabnya apa," balas Pak Mukhtar apa adanya.


Pak Sanyoto merasa kesal dan menduga jika kebakaran kandang bebek barunya merupakan perbuatan orang tidak bertanggung jawab. Akan tetapi yang jadi pertanyaannya adalah, siapa orang yang telah berani melakukan hal merugikan itu dan apa maksud serta tujuan dari melakukan hal tersebut?


Kebakaran kandang milik Sanyoto mengundang beberapa warga desa, termasuk pak kepala desa yang turut menghampiri tempat terjadinya kebakaran.


"Ada apa ini, Tuan Tanah?" tanya Pak Kepala Desa untuk menindaklanjuti.


"Tidak tahu Pak Kepala Desa, tahu-tahu kandang bebek saja ini sudah habis terbakar saja," balas Pak Sanyoto lemas.


Pak Kepala Desa menghela nafasnya. "Apa sudah dicek semuanya? Mungkin konsleting listrik."

__ADS_1


"Kandangnya baru saja dibangun Pak Kades dan belum dipasang aliran listrik, jadi saya yakin penyebabnya bukanlah itu," balas Pak Sanyoto.


Bersamaan dengan hal tersebut, salah satu pekerjaan Pak Sanyoto datang menghampiri dengan membawa benda yang dicurigai sebagai akar dari kebakaran kandang barunya.


"Tuan tanah, saya menemukan ini jauh dibelakang kandang." Mukhlis menyerahkan beberapa dirigen bekas minyak tanah dan juga kayu obor bekas menyala yang masih sedikit kecil.


Sesuai dengan dugaan pria bulat itu, kebakaran di kandang barunya ini adalah murni kejahatan seseorang atau ulah oknum yang tidak bertanggung jawab.


"Yang sabar ya Tuan Tanah, saya sebagai kepala desa akan membantu mencari tahu siapa orang yang telah berbuat jahat kepada warga dan menyebabkan musibah ini semua," ucap Pak Kades berusaha menenangkan.


"Terima kasih Pak Kades, saya berharap pelaku kejahatan ini segera ditangkap," balas Pak Sanyoto.


"Segera akan kami usahakan Tuan tanah dan saya juga akan memberikan hukuman yang setimpal, kepada siapapun warga yang telah berani melakukan perbuatan kriminal ini!" balas Pak Kades bertekad.


Lalu Pak Kades mengerahkan penjaga keamanan desa dan menugaskan mereka untuk menyidak satu-persatu atau menahan sekelompok orang tidak dikenal yang patut dicurigai untuk dimintai keterangan.


Sedangkan Pak Sanyoto mengangguk setuju dan segera memanggil seluruh anak buahnya untuk membereskan sisa-sisa kebakaran dan memberikan tugas untuk berjaga-jaga agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.


...***...


Pada malam harinya, kediaman Sanyoto dilempari batu oleh sejumlah orang tidak dikenal, hingga kaca jendela disekitar rumahnya pecah dan hal tersebut membuat sang pemilik murka.


"Setann alas!! Siapa kalian yang telah berani menganggu ketenangan rumah saya ini hah!" gertaknya emosi. Namun tidak ada satu orang pun yang muncul dihadapannya.


Akan tetapi secarik kertas yang menempel pada batu tersebut, membuat ia tidak jadi melemparkannya.


Jual seluruh lahanmu atau kehidupanmu beserta dengan keluargamu akan terus kami usik!


Pak Sanyoto meremas kertas tersebut dan melemparnya ketanah sambil mengumpat kasar. "Breng-sek!"


"Hei dengar ya! Sampai kapanpun saya tidak akan pernah mau menjual tanah saya ini!" sergah Pak Sanyoto bersiteguh dan menatap kesekeliling, sesekali berharap bertemu dengan orang yang telah berani memberikan teror serta ancaman untuk keluarganya.


"Ada apa Pah?" tanya Ibu Tyas yang baru saja tiba di kediamannya.


Pak Sanyoto segera membawa istrinya masuk agar tidak terkena lemparan batu atau teror sejenisnya, lalu memberitahukan kejadian belum lama tadi yang menimpah rumahnya.


"Ma, ada orang yang berani berbuat ulah lagi kepada keluarga kita. Tapi Papa tidak tahu siapa orang itu, tapi Papa yakin orang yang mengancam kita ini adalah orang yang sama seperti waktu dulu," balas Pak Sanyoto berhati-hati.


"Maksud Papa, orang-orang dari pihak pengembang?" tanya Ibu Tyas memastikan.


Pak Sanyoto mengangguk samar. "Ya siapa lagi kalau bukan mereka," balasnya yakin.

__ADS_1


"Tapi Pah, bukankah daddy nya Twister telah menarik orang-orang mereka untuk tidak menganggu ketenangan desa ini?" tanya Ibu Tyas.


"Benar, Papa juga tidak mengerti. Tapi kejadian pelemparan batu di rumah kita pasti ada sangkut pautnya dengan kebakaran tadi," balasnya menduga.


Ibu Tyas geram mendengarnya. "Siapapun itu dan apapun maksud serta tujuannya, Mama sudah tidak bisa tinggal diam lagi. Sepertinya Mama harus meminta bantuan para jawara desa kampung kita ini untuk membantu menyelidiki siapa dalang dibalik semua itu," balasnya gemas.


"Hem, Papa setuju. Semoga saja kita segera menemukan titik terang dan menangkap pelakunya," balas Pak Sanyoto.


...***...


Keesokan paginya.


Pagi-pagi sekali kediaman Sanyoto kedatangan banyak orang, mereka adalah para warga desa yang sebelumnya mendemo untuk menjual lahan-lahan mereka kepada pihak pengembang.


Dan meminta Pak Sanyoto agar mau menjual seluruh lahannya untuk dijadikan perumahan elit, agar tanah mereka bisa dibeli oleh pihak pengembang dan mendapatkan bonus jika berhasil.


Hal tersebut membuat Pak Sanyoto berdecak kesal, lalu bersiteguh untuk tidak menjual lahannya meski hanya satu centi meter saja.


"Jual saja Tuan tanah, dengan begitu desa kita ini bisa kembali damai!" teriak provokator di tengah kerumunan dan membuat para warga desa tersulut emosi.


"Iya egois sekali! Menjual lahan saja tidak mau, padahal tidak ada ruginya menjual lahan yang ingin dibeli oleh perusahaan besar!" teriak seseorang lagi dan membuat demo semakin memanas.


"Kasian warga desa yang sedang butuh biaya!" begitulah kata-kata orasi yang dilontarkan untuk Pak Sanyoto.


Hingga pada akhirnya Pak Kades yang melihat ketentraman desanya terganggu segera menenangkan warga desa dan menegur Pak Sanyoto.


"Tuan Tanah, tolong dengarkanlah suara mereka. Kalau begini terus desa kita ini akan selalu bersitegang seperti ini," ucap Pak Kades yang ternyata tidak memihak kepadanya.


"Jangan sembarangan! Bukankah kemarin pihak perusahaan sudah membatalkan rencana pembangunan di desa ini, tepatnya dilahan milik warga desa termasuk lahan saya? Lalu kenapa kasus seperti ini bisa muncul lagi Pak Kades!" tuntut Pak Sanyoto emosi.


"Sebenarnya pihak pengembang tidak menutup sepenuhnya rencana pembangunan rumah elit, dan perusahaan besar itu menyerahkan kuasanya kepada pihak pengembang untuk menggandeng perusahaan lain dalam melanjutkan rencana pembangunan dikawasan ini Tuan Tanah! Dan perusahaan lain itu bersikukuh ingin mendapatkan lahannya milik Tuan Tanah!" jelas Pak Kades.


Pak Sanyoto membelalakan kedua matanya, sesekali mendengus kesal. "Tidak mungkin, perusahaan milik daddynya Twister tidak mungkin melakukan hal tersebut."


"Saya juga tidak percaya, tapi proposalnya menyebutkan seperti itu Tuan Tanah!" balas Pak Kades memberitahu.


Pak Sanyoto menghembus nafas kasar dan memijat pelipisnya yang berdenyut, tanpa berkata lagi pria itu menghilang dikerumunan para warga yang sedang mendemo dirinya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2