Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 29. The Monster.


__ADS_3

Mansion Tuan Bams.


Bella pulang ke rumah dalam keadaan berantakan, dengan berjalan tertatih-tatih, ia berusaha menutupi rasa sakit pada bagian intinya itu, akibat kejadian semalam dimana ulah beringas Matt kepada dirinya.


"Matt breng-sek, awas saja kalau dia tidak berhasil menjalankan apa yang aku pinta!" dengus Bella.


Dirinya harus membayar mahal, karena telah ceroboh meminta sesuatu dari Matt.


"Bella, kamu habis dari mana? Kenapa tidak pulang semalam dan kenapa sulit sekali menghubungi nomormu?" cecar tuan Bams.


"Oh Daddy, aku habis menginap di rumah temanku. Maaf juga aku tidak menghubungimu karena ponselku kehabisan baterai," balas Bella beralasan.


Wanita itu memang sering menginap di rumah temannya dan mendapat kebebasan kemanapun ia mau, jadi tuan Bams dan nyonya Marlyn tidak mempermasalahkan putrinya tidak pulang asal bisa menjaga diri.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat berantakan seperti ini dan jalanmu juga tertatih-tatih?" cecar tuan Bams.


Bella seketika kikuk, dia bingung harus berkata apa kepada orang tuanya. "Tidak apa Daddy, kakiku hanya terkilir ringan. Jadi sedikit nyeri," balasnya penuh dusta.


"Kakimu terkilir? Kenapa tidak bilang daritadi? Sini coba Mommy lihat," ucap Nyonya Marlyn khawatir.


"Tidak apa Mom, sudah ku oleskan obat pereda nyeri. Nanti juga sembuh," balas Bella menenangkan.


"Oh begitu," balas Nyonya Marlyn menatapi putrinya yang terlihat kusut.


"Oiya Mom, Dad. Aku lelah sekali dan ingin istirahat di kamar," ucap Bella kemudian.


"Ya sayang, istirahatlah kamu terlihat lelah dan berantakan. Oh iya, nanti malam keluarga Royce ingin mengajak kita dinner bersama lagi. Kau harus segar sebelum bertemu dengan mereka," ucap nyonya Marlyn.


Bella mengangguk. "Baiklah Mom," balasnya lalu masuk ke dalam kamar.


...----------------...


Sirkuit.


Rombongan Drew telah tiba di sirkuit terdekat dari perusahaan mereka, dengan membawa beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk mencoba kemampuan dalam melakukan uji coba balapan.


Motor kebanggaan Twister semasa hidup pun mulai diturunkan, begitu pula para kru telah siap pada tugas dan posisi mereka masing-masing.


"Dimana Bagas?" tanya Drew pada salah satu kru-nya. Karena ia begitu tak sabar ingin sekali melihat Bagas menunjukkan kebolehannya.


"Tadi ada bersama dengan Sam," balas kru tersebut.


"Kenapa lama sekali, sedang apa mereka?" tanya Drew.


"Entahlah," balas Kru itu lalu pergi setelah Drew mengijinkannya.


"Kemana Bagas, Sam juga belum tiba." Drew merasa risih dengan keadaan sirkuit, dimana orang-orang mulai memperhatikan dirinya.


Sementara itu Bagas menatapi helm serta baju khusus pembalap yang terpampang rapi di dalam sebuah etalase kaca.

__ADS_1


"Kau ingin apa Bagas?" tanya Sam penasaran.


"Sam, aku ingin mengenakan pakaian ini," balas Bagas.


Sam mengernyitkan dahinya. "Apa? Kau ingin mengenakan baju balap milik Twister? Ku sarankan lebih baik jangan Bagas, karena aku tidak ingin Drew sampai menganggapmu terlalu berani dan berlebihan."


"Bukankah kau ingin mengungkap siapa dalang yang menyebabkan kecelakaan Twister sewaktu lalu?" tanya Bagas.


"T-tentu saja," balas Sam. "Tapi apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya kemudian.


"Kalau begitu, munculkan aku dimuka umum sebagai Twister!" balas Bagas tak ragu.


Sam berusaha menelan ludahnya yang tercekat dan menatap Bagas dengan keyakinan diri tinggi. "Apa kau yakin? Apa kata publik jika kau muncul sebagai Twister?"


"Tapi hanya itu cara yang bisa kita lakukan untuk memancing pelaku agar keluar dari persembunyiannya," balas Bagas.


Pikiran Sam seketika tercerahkan dan membenarkan perkataan Bagas.


"Kau benar Bagas, pelaku sesungguhnya harus di tangkap dan ia harus bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi kepada Twister. Dengan begitu nama baik sahabat lamaku yang sempat tercemar, kembali bersinar!" ucap Sam mendukung.


Bagas menarik senyum dan mengangguk. "Bagus! Kalau begitu kita harus segera keluar dari sini dan berusaha menggegerkan publik," ucapnya. Lalu meraih pakaian Twister untuk dikenakan, berikut helm untuk menutupi wajahnya.


Tak butuh waktu lama, Bagas telah mengenakan pakaian pembalab profesional milik almarhum Twister Royce, membuat Sam sejenak terkesima.


Ia memindai penampilan Bagas setelah memakai pakaian tersebut, dirinya dibuat takjub karena pria dihadapannya itu, begitu mirip dengan sosok Twister Royce semasa hidupnya.


"T-tidak mungkin, b-bagaimana bisa kau mirip dengannya?"


Bagas membuka kaca helmnya dan tersenyum. "Kalau kau berkata demikian, itu berarti bagus. Ayo kita turun kejalanan," ajaknya.


Sam merangkul Bagas dengan kedua mata berkaca-kaca, seakan ia sedang merangkul sahabat baiknya itu.


"Oh Bagas terima kasih, aku sangat merindukan Twister sahabatku dan hari ini kau mewujudkan hal itu. Aku yakin Drew akan sama terkejutnya denganku setelah melihatmu berpakaian seperti ini," ucapnya haru.


"Kalau begitu ayo kita kejutkan dia," balas Bagas.


Kedua pria itu pun keluar dari sebuah ruangan dalam gedung, lalu menghampiri Drew yang telah menunggu mereka sejak dari tadi.


...***...


Kondisi sirkuit yang cukup ramai diisi oleh para penyewa yang ingin mencoba rasanya berkendara, serta sensasi memacu adrenalin dalam balapan di arena bergengsi tersebut.


Hiruk pikuk di area itu pun perlahan terhenti, dimana sosok tidak asing mulai memasuki arena sirkuit.


"T-the monster!" seru diantara mereka yang mengenali.


Sebutan untuk nama samaran Twister saat menjadi seorang pembalap profesional kala itu, dan hal tersebut dipertegas melalui baju khususnya, dengan nomor punggung 35 dan bertuliskan The Monster pada bagian belakang bawah.


"T-tidak mungkin! Oh Tuhan itu Twister!" sahut seseorang dari kubu yang lain.

__ADS_1


Kebisingan tersebut sukses memancing perhatian Matt, yang sedang tertawa bersama dengan kru-nya karena telah berhasil merengkuh kenikmatan dari Bella.


Pria itu memicingkan kedua matanya. "Bagaimana mungkin, bukankah serangga itu telah mati!" ketus Matt tidak percaya.


"Tapi Matt, dia nyata! Apa itu hantunya?" balas salah satu kru dari Matt, dengan bulu kuduk berdiri.


"Bodoh!! Aku tidak percaya!" sergah Matt. Pria itu bergegas bangun dari tempat duduknya dan membelah kerumunan yang menghalangi jalannya.


Hingga akhirnya mereka berdua saling berhadapan dan suasana memanas terjadi diantara keduanya.


"Buka helm mu dan tunjukkan wajahmu pada semua orang Twist!" titah Matt ingin memastikan.


"Aku tidak akan membuka helmku sebelum aku bisa mengalahkanmu Matt," balas Bagas.


Sam menengahi keduanya. "Jangan menganggunya Matt." Lalu menyingkirkan Matt dari jalannya agar bisa dilewati oleh Bagas.


Matt menyingkir dan menatap tajam kedua pria seumuran dengan dirinya itu. "Aku tidak percaya dia itu Twister," ucapnya yakin.


"T-tapi dia benar-benar mirip seperti Twister, bagaimana kalau itu benar dia Matt? Apa dia akan menceritakan kejadian asli mengenai kecelakaannya saat itu?" bisik salah satu kru Matt ketakutan.


"Berisik!" sarkas Matt memukul kepala kru nya. "Lakukan apapun agar kita bisa membongkar kedok penipu itu!" titahnya kemudian.


"Baik Matt!" patuhnya.


...***...


Sementara itu Drew kembali terpaku menatap sesosok pria yang baru saja datang menghampirinya. Berjalan penuh wibawa diiringi oleh sorak sorai para penggemar lama.


Twister! Twister! Twister!


Drew terperangah dan hampir saja menangis jika Bagas telat membuka kaca helmnya.


"Aku Bagas," ucapnya menegaskan.


Drew menarik kembali air matanya dan mengangguk entah karena apa, namun ada satu keinginan yang harus ia sampaikan. Rasa hati yang tidak dapat dibohongi.


Drew menatap Bagas sekali lagi, pakaian itu helm itu dan semuanya. Hingga pada akhirnya ia pun tidak tahan lagi untuk mengatakannya.


"Twister aku ingin memelukmu!"


.


.


Bersambung.



__ADS_1


__ADS_2