Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 63. Rencana pembangunan.


__ADS_3

Perusahaan Royce.


Tuan Hans kedatangan tamu penting hari ini, salah satu dari tamu itu berperawakan tinggi besar, memakai cincin batu akik di setiap jemarinya dan datang bersama dengan seorang wanita bertubuh tinggi semampai dan berparas cantik seperti wanita timur tengah.


"Senang bertemu denganmu lagi Tuan Anjas!" seru Tuan Hans mengulurkan lengannya.


"Senang bertemu denganmu juga Tuan Hans!" seru Tuan Anjas membalas jabat tangan pria yang akan menjadi besannya.


"Silahkan duduk," ajak Tuan Hans mempersilahkan.


Mereka bertiga pun duduk, dengan senyuman jelas terukir disetiap wajah mereka.


"Jadi ini dia putrimu?" tanya Tuan Hans takjub akan kecantikan Alia.


Tuan Anjas mengangguk. "Iya, dia baru saja pulang dari Dubai. Dan bermaksud liburan disini selama beberapa hari sampai hari pertunangannya dengan Twister tiba."


Alia tersenyum dan menyapa Tuan Hans dengan segala rasa hormat, membuat pria itu membulatkan tekad akan menjodohkan Twister dengan Alia bagaimana pun caranya.


"Putrimu selain cantik, dia juga memiliki sopan santun. Sepertinya dia juga gadis penurut," ucap Tuan Hans menilai.


"Benar Tuan Hans, Alia adalah wanita penurut dan aku yakin, setelah ia menikah dengan putramu. Alia akan menjadi satu-satunya menantu yang dapat diandalkan dan dapat memuaskan suami tentunya," gurau Tuan Anjas.


Tuan Hans tertawa dan senang mendengarnya, karena sejatinya ia memang mencarikan menantu yang tidak suka memberontak dan selalu tunduk dibawah kekuasaan suami.


"Wanita memang harus selalu menuruti keinginan suami, apalagi dalam masalah puas memuasi," ucap Tuan Hans lalu berubah diam.


Seketika pria paruh baya itu teringat akan kemarahan sang mantan istri, serta makiannya dimasa lalu.


Ucapan kasar yang membuatnya sakit hati, dimana sang mantan istrinya itu selalu membantah dan tidak menyetujui pola pikirnya, mengenai wanita harus selalu menuruti keinginan suami apapun yang ia pinta, terutama masalah ranjang.


Kalau kau hanya berpikir demikian tentang seorang wanita, terutama kepada seseorang wanita yang bernama istri, maka kau tidak pantas disebut sebagai manusia.


"Bianca ..." batin Tuan Hans lantas menyadarkan diri.


"Ada apa Tuan Hans?" tegur Tuan Anjas.


"Tidak ada Tuan Anjas ... Bagaimana kalau kalian berdua minum sesuatu terlebih dahulu," ucap Tuan Hans menawari. "Silahkan diminum," ucapnya kemudian.


"Baiklah," balas Tuan Anjas sukacita. Begitupun dengan Alia, ia mengambil satu gelas berisi anggur merah.


"Kau minum wine juga?" tanya Tuan Hans.


Alia mengangguk. "Hanya sedikit om, tidak bisa banyak-banyak."


"Begitu ... Twister pernah meminum wine dengan kadar alkohol 40 persen, setelah itu dia mabuk dan tidak sadarkan diri. Lalu para maidku menemukan ia sedang tertidur pulas di tengah taman pada pagi harinya."


"Waktu itu Twister bersikeras kalau dia sudah tidur diatas kasurnya yang empuk. Padahal yang terjadi adalah anak itu tidak pergi kedalam kamar, melainkan pergi ke taman dan tidur di tumpukan rumput liar," ucap Tuan Hans menceritakan pengalaman Twister saat pertama kali meminum alkohol, sesekali tertawa geli jika mengingatnya.


"Haha ... Begitu kah Tuan Hans?" ucap Tuan Anjas tidak kalah tertawa kencang.


Tuan Hans mengangguk. "Benar Tuan Anjas, semenjak saat itulah ia tidak mau lagi meminum minuman beralkohol," balasnya memberitahu.

__ADS_1


"Putramu tidak kuat minum ternyata," ucap Tuan Anjas menggeleng.


"Twister memang tidak kuat minum, tapi adiknya berbeda. Drew suka sekali minum bahkan dia sering mabuk-mabukkan," balas Tuan Hans.


Tuan Anjas terperangah. "Oh begitu, jadi putramu yang kedua suka minum ya."


"Ya hanya saja kebiasaan itu sudah berhenti semenjak kakaknya kembali," balas Tuan Hans.


"Syukurlah kalau Drew telah berhenti minum, karena minuman keras tidak baik untuk kesehatan," balas Tuan Anjas.


"Kau benar Tuan Anjas, sudahlah jangan membahas masalah minum dan kebiasaan buruk putraku," ucap Tuan Hans.


Lalu mengganti topik pembicaraan mengenai masa depan kedua putranya dan juga bisnis perusahaan.


"Tuan Anjas, seperti yang kau ketahui, aku ingin sekali mengajakmu bekerja sama untuk membangun perumahan elit di daerah perdesaan dan kebetulan aku telah menemukan lokasi yang cocok," ucap Tuan Hans.


"Hem, dimana lokasi itu?" tanya Tuan Anjas tertarik.


"Desa Rawa Bebek," balas Tuan Hans.


"Desa Rawa Bebek?" tanya Tuan Anjas memastikan.


"Benar,"


"Desa itu memang sangat luas dan lokasinya cukup strategis, tapi kita tidak tahu bagaimana tanggapan warga sekitar sana jika tanah mereka dibeli untuk membangun perumahan elit. Sudah begitu kita juga tidak tahu apa warga disana mau melepas tanah mereka atau tidak," balas Tuan Anjas.


"Tanah didesa sangat murah, mungkin kita bisa mengiming-imingi warga desa untuk menjual tanah mereka dengan harga tinggi," saran Tuan Hans.


"Hanya agar mereka mau melepas tanah mereka, setelah itu kita lakukan 3 kali pembayaran dengan cara dicicil dan tanpa bunga tentunya," balas Tuan Hans.


"Hem, selama masa pembayaran kita sudah harus melakukan pemasaran. Dengan begitu biaya operasional lain bisa terlaksana," ucap Tuan Anjas menyetujui usul Tuan Hans.


"Kalau begitu, kita coba saja menego harga tanah disana," saran Tuan Hans.


"Baiklah, aku akan coba mengunjungi desa itu. Semoga saja mereka mau melepas tanah mereka," balas Tuan Anjas.


Tuan Hans tersenyum miring, ia sangat berharap sekali seluruh tanah desa Rawa Bebek bisa diambil alih olehnya, dengan begitu ia bisa memberi pelajaran kepada keluarga Sanyoto atas perlakuan yang pernah ia terima.


Terutama karena keluarga tersebut masih berhubungan dengan kedua putranya.


...----------------...


Desa Rawa Bebek.


"Tuan tanah! Tuan tanah!" pekik seorang warga desa memanggil.


"Ya ada apa Muktar?" tanya Pak Sanyoto yang baru saja keluar dari rumahnya.


"Ada tamu di kantor kepala desa, katanya mau bertemu dengan tuan tanah desa ini," balas Pak Muktar.


"Siapa?"

__ADS_1


"Tidak tahu, kesana saja Tuan," balas Pak Muktar.


Pak Sanyoto menghela nafas panjang, kemudian memakai sandal lalu pergi ke kantor kepala desa. Dan setibanya disana, Pak Sanyoto disambut ramah oleh beberapa orang didalam kantor tersebut.


Terutama oleh pria berperawakan tinggi besar yang memakai topi koboi dan cincin batu akik pada jari jemarinya.


"Perkenalkan nama saya Anjas," ucap Tuan Anjas memperkenalkan diri.


"Sanyoto," balas Pak Sanyoto masih heran dengan kedatangan orang-orang berpakaian rapi disekitarnya.


"Begini Pak tuan tanah, saya dengar anda ini pemilik sebagian besar lahan didesa Rawa Bebek, benar begitu?" tanya Tuan Anjas.


"Betul betul betul!" balas Pak Sanyoto meniru gaya karakter Ipin.


"Kalau begitu saya tidak mau basa basa lagi, apa Pak Sanyoto mau menjual sebagian tanah di desa ini kepada pihak perusahaan kami?" tawar Tuan Anjas.


"Tunggu, apa maksudnya itu? Datang langsung tawar tanah orang lain seenaknya saja," ucap Pak Sanyoto merasa keberatan.


"Begini tuan tanah, bapak Anjas ini ingin membangun perumahan elit disekitaran sini. Dan kebetulan tanah yang ditunjuk adalah milik tuan tanah sendiri, yang berada didepan sana dengan alasan lokasinya strategis," ucap Pak Kades menjelaskan.


"Tidak mau, saya tidak akan menjual tanah hasil kerja keras saya beserta keluarga begitu saja kepada orang lain," tolak pak Sanyoto.


"Tapi dari yang kita ketahui, ternak bebek desa ini sedang mengalami penurunan. Banyak warga yang setuju menjual tanah mereka agar bisa mengadu nasib ke ibu kota dan sisanya untuk membeli beberapa ternak dan harta lain."


"Tapi keinginan warga desa nampaknya tidak akan terwujud, jika tuan tanah sendiri tidak ingin melepas tanah tuan."


"Ya kalau mereka ingin menjual tanah mereka ya silahkan, tapi saya tetap tidak akan menjual tanah saya," balas Pak Sanyoto enggan.


"Tanah tuan begitu luas, luasnya saja mencapai ratusan hektar. Sedangkan tanah para warga jika dikumpulkan paling banyak hanya beberapa hektar saja," bujuk pak Kades.


"Benar, pembangunan rumah elit membutuhkan lahan paling sedikit 200 hektar, jika hanya beberapa hektar saja, maka perusahaan tidak mungkin membangun perumahan diatas tanah yang cuma sedikit itu," ucap Tuan Anjas menjelaskan.


"Pikirkan lagi Tuan, nasib warga tergantung pada tuan tanah. Mereka membutuhkan uang untuk membayar kebutuhan hidup dengan menjual tanah mereka kepada perusahaan yang tepat," bujuk pak Kades terus menerus.


Pak Sanyoto menggeleng. "Tidak! Apapun alasannya saya tidak akan menjual tanah saya, titik!" tolaknya dengan tegas kemudian permisi untuk pergi.


Tuan Anjas mengepal eras tangannya kesal, lalu menelepon Tuan Hans dan memberitahu penolakan pak Sanyoto.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Next \=\=> Drew membatalkan pernikahannya setelah tahu jika Matt pernah meniduri Bella.


Lalu, desa Rawa Bebek mengalami kericuhan dari para warganya yang berbondong-bondong mendatangi kediaman pak Sanyoto dan mendemo dirinya karena dinilai egois, karena tidak ingin menjual tanahnya ke perusahaan.


"Kami hanya warga miskin yang butuh uang untuk menyambung hidup, kami tidak tahu harus mencari biaya kemana lagi jika bukan menjual tanah-tanah kami!"

__ADS_1


__ADS_2