Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 64. Demo


__ADS_3

Keesokan paginya.


"Tuan tanah! Tuan tanah!" pekik Pak Muktar.


"Apa sih Muktar? Bikin kaget orang saja!" sergah Pak Sanyoto tidak jadi membuang hajat.


"Maaf Tuan tanah, ada warga desa ramai-ramai kesini. Mau demo katanya," balas Pak Muktar terengah-engah.


"Mau demo? Demo apaan sih!" tanya Pak Sanyoto heran.


"Tidak tahu Tuan," ucap pria pengurus beberapa lahan milik Pak Sanyoto itu sambil menggeleng.


Tak berselang lama kemudian, anak buah Pak Sanyoto yang biasa membantunya mengurus kandang juga datang menghampiri.


"Juragan! Juragan! Gawat juragan!" pekik Mukhlis tersengal-sengal sehabis berlari.


"Ada apa Mukhlis?" tanya Pak Sanyoto terkejut. Karena tidak biasanya dia melihat anak buahnya itu ke rumah dalam kondisi panik.


"Peternak bebek dan ayam dari warga lain datang ke peternakan kita, lalu demo disana. Katanya mau ke rumah juragan sambil bawa obor!" jelas Pak Mukhlis menceritakan kondisi di sekitar peternakan.


Pak Sanyoto menghembus nafas kasar dan berkacak pinggang, hingga menunjukkan perut bulatnya yang buncit.


"Ya sudah biarkan saja, kalau mereka mau datang. Datang saja kemari, tidak usah dicegah. Saya mau tahu apa, yang membuat mereka sampai ingin demo di rumah saya ini!" ucap Pak Sanyoto meladeni.


"Baik Juragan!"


"Baik Tuan tanah!"


Patuh Pak Mukhlis dan Pak Muktar bersamaan.


Mendengar keributan, Ibu Tyas yang baru saja hendak pergi ke bengkel menghampiri sang suami. "Ada apa si Pah, pagi-pagi sudah banyak anak buah kita yang kalang kabut?" tanyanya ingin tahu.


"Para warga mau demo di rumah kita, papa yakin ini ada sangkut pautnya dengan orang perusahaan kemarin," balas Pak Sanyoto.


Ibu Tyas menghela nafas panjang. "Terus bagaimana langkah Papa? Apa kita harus menyerahkan lahan kita kepada pengembang itu?"


"Penghasilan kita ada disini, bagaimana papa bisa menjualnya ke tangan orang asing. Sudah begitu, bagaimana nasib ratusan karyawan kita yang sudah puluhan tahun mengurusi lahan dan juga ternak," ucap Pak Sanyoto semakin mumet.

__ADS_1


"Tapi para warga banyak yang mendukung menjual tanah mereka, mama jadi takut mereka akan melakukan kekerasan kalau keinginannya itu tidak terpenuhi," balas Ibu Tyas khawatir.


"Sudahlah, mama tidak perlu pusing. Ini urusan papa, mama pergi ke bengkel saja," ucap Pak Sanyoto.


"Tapi bagaimana dengan papa? Mama akan hubungi orang bengkel untuk menghandle kerjaan mama dulu kalau begitu," balas Ibu Tyas enggan pergi, kemudian menghubungi anak buah montirnya kalau ia tidak bisa datang ke bengkel.


Beberapa saat kemudian, para pendemo telah tiba di kediaman Pak Sanyoto. Mereka berbondong-bondong menggeruduk rumah sang tuan tanah dengan membawa beberapa papan aspirasi serta obor dan beberapa perlengkapan demo lainnya.


Tidak seperti orang pengecut yang selalu bersembunyi saat di demo oleh masa kebanyakan, Pak Sanyoto justru berdiri dibarisan paling depan.


Berharap agar bisa mendengar keluhan langsung dari para warga yang mendemo dirinya.


Kami ingin menjual lahan!


Dengarkanlah permintaan kami!


Kami butuh biaya untuk hidup!


Pak Sanyoto membaca papan-papan serta tulisan berisi beberapa keluhan yang tertuju untuk dirinya, lalu meminta para pendemo agar tetap selalu tenang dan tidak berbuat anarkis saat ingin menyampaikan aspirasi mereka.


"Tuan tanah! Kami telah sepakat akan menjual lahan sawah kami kepada pengembang, pihak perusahaan itu telah setuju membeli lahan sawah kita dengan harga yang tinggi," ucap salah satu warga mewakili.


"Apa alasan kalian ingin menjual tanah kalian begitu saja dan kenapa kalian semua begitu yakin, jika pihak pengembang itu akan membayar tinggi atas lahan-lahan kita?" tanya Pak Sanyoto.


"Penanaman benih padi hingga menjadi gabah membutuhkan waktu lama, Tuan. Sudah begitu cuaca tidak menentu seringkali membuat sawah kita gagal panen."


"Ditambah lagi biaya lain seperti pupuk dan desinfektan yang mahal membuat kami tidak mendapatkan untung, bahkan merugi sebelum waktunya panen, Tuan." balas salah satu warga mengiba.


"Kami hanya warga miskin yang butuh uang untuk menyambung hidup, demi masa depan anak-anak kami. Kami tidak tahu harus mencari biaya kemana lagi jika bukan menjual tanah-tanah ini!" timpal warga yang lain.


"Bagi kami para petani miskin, tidak masalah hidup serba kekurangan dan hanya mengandalkan upah tidak seberapa. Tapi kami tidak ingin melihat anak kami mengalami nasib yang sama seperti kami ini, Tuan."


Mereka satu persatu mengadu dan memberikan pernyataan tentang keinginan menjual lahan demi mengadu nasib di Ibukota atau paling tidak untuk modal awal dalam berusaha.


"Saya mengerti keluhan anda dan keinginan anda semua ini, tapi jika lahan saya juga di jual. Maka bagaimana dengan nasib para pemuda serta para warga yang telah bekerja disini selama puluhan tahun? Mereka penggerak ekonomi desa kita, bayangkan saja kalau lahan saya ini saya jual. Mereka sudah tidak memiliki lapangan pekerjaan lagi," balas Pak Santoyo dan dibenarkan dengan para pekerjanya.


"Jadi maaf, saya tidak akan menjual lahan saya ini karena saya tidak bisa mengorbankan semua pekerja saya yang telah berusaha keras, hanya demi keuntungan segelintir orang," ucap Pak Sanyoto kemudian memberi keputusan.

__ADS_1


"Kau sangat egois Tuan tanah! Kau memang orang berkecukupan yang tidak memikirkan beban hidup karena punya penghasilan tinggi dari hasil sawah dan juga hasil ternakmu, tapi bagaimana dengan kami."


"Lahan kami hanya itulah satu-satunya harapan, agar kami bisa mengubah nasib kami menjadi lebih baik!" seru salah satu warga.


"Ya benar itu benar!" sahut para warga pendemo lainnya.


Desakan demi desakan agar pak Sanyoto menjual lahannya kepada pihak perusahaan, membuat pria paruh baya itu semakin dilema.


Disatu sisi ia tidak ingin menyerahkan lahan miliknya kepada perusahaan, yang akan menyebabkan banyaknya pengganguran didesa serta tempat tinggal para pekerjanya yang akan tergusur nanti.


Disisi lain, ia juga tidak ingin sampai warga desa menyalahkan dirinya atas lahan mereka yang gagal terjual karena keinginan untuk mempertahankan lahannya sendiri.


"Tolong berikan saya waktu, paling lama sampai satu minggu untuk memikirkan semua ini. Jadi bapak-bapak dan ibu-ibu, saya minta kalian pulanglah ke rumah. Saya janji pada minggu depan, saya akan memberikan jawabannya!" ucap Pak Sanyoto sebelum demo itu dibubarkan oleh pihak keamanan desa.


...----------------...


PT Oto Motor.


Sam, Twister dan Drew seperti biasa mengerjakan pekerjaan kantor mereka. Hingga suatu waktu, Sam mulai membuka percakapan.


"Twister, aku dengar calon tunanganmu telah tiba di Indonesia dan sedang berkunjung ke perusahaan daddymu," ucap Sam memberitahu.


"Terus mau diapakan?" tanya Twister masa bodo.


"Ya tidak mau diapa-apakan sih, cuma memangnya kau tidak penasaran dengan paras wajah calon tunanganmu itu? Aku dengar dia cantik loh," bisik Sam.


Twister menoleh dan menatap Sam datar. "Aku tahu dia cantik, karena dia wanita. Kalau tampan itu lelaki," balasnya.


"Ya nenek-nenek salto juga tahu hal seperti itu, tapi menurut yang aku dengar, wanita itu tinggal lama di Dubai dan kalau tidak salah keluarga calon tunanganmu itu saudara dekat dengan Matt. Bisa dibilang dia adalah adik sepupunya Matt," ucap Sam memberitahu.


Twister terdiam sejenak. "Apa kau bilang tadi? Wanita itu adik sepupunya Matt?"


"Ya, aku tahu dari Martino. Pria bujang lapuk itu yang memberitahuku," balas Sam.


Twister kembali terdiam dan memikirkan sesuatu. "Apa yang terjadi? Apa ini suatu kebetulan atau ada sesuatu yang direncanakan?" duganya bergumam.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2