
Beberapa hari kemudian.
Tesla dan kawan-kawan telah tiba di Ibukota setelah beberapa hari berlibur di desa Rawa Bebek. Mereka kembali ke kost putri Melisa, dan akan beraktifitas sedia kala pada esok harinya.
"Hei, bagaimana kalau malam ini kita pergi ke mall dan nonton bioskop?" tanya Marisa memberi usul.
"Boleh, aku ingin sekali nonton film The Little Memed yang lagi rame itu," seru Tiara.
"Setuju tuh! Aku pengen nonton film putri dugong itu juga," seru Tesla antusias.
Mereka bertiga pun akhirnya sepakat untuk menghabiskan malam ini dengan pergi ke mall, selain ingin membeli sesuatu dan makan malam, para gadis-gadis juga ingin menonton film yang sedang digandrungi oleh semua orang.
Sedangkan ditempat berbeda, setelah selesai mencoba setelan jas dan juga gaun pengantin untuk hari pernikahannya, Bella bermaksud mengajak Drew untuk berjalan-jalan sejenak.
"Drew, kita belum pernah jalan-jalan bersama. Bagaimana kalau kita menghabiskan malam ini dengan jalan-jalan ke suatu tempat?" ajak Bella.
"Wah benar juga, Mommy sangat setuju kalian keluar bersama-sama. Dengan begitu, kalian bisa lebih mengenal satu sama lain," ucap Nyonya Marlyn.
"Benar, Mommy juga setuju. Kalian berdua bisa berkencan tanpa gangguan," balas Nyonya Sherly setuju.
Bella tersenyum, lalu menatap Drew. "Bagaimana kalau kita nonton bioskop, sudah lama aku tidak keluar rumah dan menonton film-film bagus," ucapnya memberi saran.
Drew memutar bola matanya malas. "Kalau mau menonton film, kenapa tidak di rumah saja. Aku punya bioskop pribadi dan kau bisa menonton sepuas hatimu."
"Drew, kenapa seperti itu. Banyak hal yang ingin ku ketahui tentang dirimu, aku juga ingin menonton berdua denganmu. Kalau menonton sendirian di rumah sama sekali tidak ada spesialnya," balas Bella.
"Drew, Bella benar. Sekali-kali cobalah jalan-jalan keluar rumah," saran Nyonya Sherly dan disetujui oleh Nyonya Marlyn sedikit mendesak.
Drew menghembus nafas kasar. "Baiklah, tapi setelah nonton bioskop, aku ingin kita kembali ke rumah."
Bella menarik senyum dan mengangguk. "Tentu, aku akan menurutimu Drew."
Nyonya Marlyn dan Nyonya Sherly menyambut gembira kejadian tersebut, dan mereka berharap hubungan keduanya terjalin harmonis.
Tapi nyatanya tidaklah begitu, karena Drew sama sekali tidak ingin menggandeng lengan Bella atau apapun itu yang berkaitan dengan jalan bareng.
"Jalan saja duluan," ketusnya.
Bella menghela nafas kasar, jika bukan karena ingin membalaskan dendam Matt. Wanita cantik itu tidak akan mau jalan-jalan berdua dengan pria kaku seperti Drew.
"Drew dibioskop sedang ada film The Little Memed, aku ingin menontonnya!" seru Bella menunjuk sebuah layar bergambarkan putri dugong dihadapannya.
Drew berdecih dan tidak mau menonton film anak kecil seperti itu. "Kenapa kita tidak film bertemakan kriminal dan horor saja. Tunggu disini aku akan memesan tiketnya disana," ucap Drew menghampiri loket.
"Apa-apaan sih dia," batin Bella merasa keberatan.
Namun entah mengapa pria itu kembali dengan membeli dua tiket berjudulkan The Little Memed.
__ADS_1
"Loh, bukankah kau tadi ingin menonton film kriminal. Tapi kenapa jadi berubah begini? Sudah begitu kenapa kita tidak menonton di premier dan malah memesan kursi biasa?" tanya Bella bingung dan memprotes ruangan yang akan mereka duduki nanti.
"Berisik, kau kan yang bilang tadi mau menonton film ini. Jadi aku membelikan film ini saja, lagipula aku sudah bosan menonton film bertema kekerasan itu," balas Drew penuh dusta.
Karena yang sebenarnya terjadi adalah, pria itu tidak sengaja melihat Tesla dan kawan-kawan memesan tiga karcis untuk menonton film The Little Memed.
Sehingga Drew menguntit agar bisa menonton bareng dengan mereka, serta memesan kursi yang sejajar dengan ketiga gadis sederhana itu.
"Daripada aku mati bosan bersama si Bella, mending aku mengerjai ketiga cewe-cewe beda spesies itu," gumam Drew tersenyum smirk.
Setibanya di dalam, suasana temaram begitu kentara menyelimuti seisi ruangan gedung, banyak pasangan muda mudi yang mengisi setiap kursi.
Serta sejuknya pendingin ruangan membuat para penonton merasa nyaman, tetapi tidak untuk ketiga gadis kampung dideretan bangku tengah.
Mereka menggigil kedinginan dan Drew terkekeh melihat hal itu.
"Dasar kampungan," batin Drew melihat ketiganya saling selimutan.
"Ada apa Drew?" tanya Bella berbisik.
"Tidak ada," balas Drew juga berbisik. Ia tidak mau sampai ketiga gadis desa itu mengetahui jika dirinya berada disebelah mereka, apalagi Tesla yang kini berada disebelahnya.
Drew duduk bersama calon istri, namun pandangannya selalu saja kesebelah kiri dimana Tesla berada.
Ia tidak tertarik dengan film bertema laut dengan putri berbadan setengah ikan itu, karena ia sedang sibuk memperhatikan gadis disebelahnya.
Yang selalu saja bisa menarik perhatiannya.
"Maaf," ucap Tesla menyadari kesalahan tanpa kesengajaan itu, lalu menarik lengannya dengan segera.
Drew tersenyum senang, walau tersentuh sedikit. Nyatanya dapat membuat denyut nadinya berdesir kuat.
"Tidak apa," jawab Drew menyembunyikan wajahnya.
Tesla kembali menikmati jalannya film, dengan hati bertanya-tanya. Siapakah gerangan pria disebelahnya itu? Serasa kenal dengan suaranya.
"Drew? Itu tidak mungkin! Mana mau dia menonton film seperti ini dan duduk di bangku biasa," batin Tesla menepis semua dugaan-dugaan tersebut.
Hingga pada akhirnya tayangan itu pun berakhir dan satu persatu penonton mulai meninggalkan ruangan.
Drew terdiam menunggu suasana agar sedikit sepi, lagipula jalan berdesakan seperti itu membuatnya malas.
"Tunggu sebentar ya, jepitanku hilang." Tesla berlari kembali ke kursinya.
"Kok bisa hilang sih? Emangnya kamu nonton sambil garuk-garuk kepala hah?" tanya Tiara heran. Ada-ada saja kelakuan temannya itu.
"Kalau begitu kita berdua tunggu di depan ya," ucap Marisa dan segera menggandeng lengan Tiara agar keluar dari ruangan dingin itu.
__ADS_1
"Ya," ucap Tesla lalu mencari disetiap sudut kursinya.
Drew melihat Tesla kembali dan ia menyuruh Bella keluar duluan.
"Ayo kita keluar, aku ingin ke toilet."
"Duluan saja, aku akan keluar setelah semuanya telah sepi," balas Drew masih setia duduk di kursinya.
"Baiklah, kalau begitu aku duluan," ucap Bella karena tidak tahan ingin buang air kecil.
Drew mengangguk dan menatap Tesla yang masih sibuk mencari jepitan rambutnya yang hilang.
"Kemana sih jepitannya, kalau kak Bagas tahu aku menghilangkannya. Dia pasti akan kecewa padaku," gumam Tesla. Karena jepitan tersebut merupakan hadiah kecil dari Twister saat dia berulang tahun, tahun kemarin.
"Mencari ini," ucap Drew kepada Tesla yang tengah mencari kolong kursi.
Tesla menatap uluran tangan dengan jepitan rambutnya disana. "Iya ini jepit rambutku, terima kasih." lalu memakaikannya kembali.
"Sama-sama," balas Drew.
Tesla menegadah keatas dan ia terbelalak. "D-drew," ucapnya terbata.
Drew tersenyum lembut. "Iya, ini aku."
Tesla mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, karena bingung dengan keadaan yang terjadi. Seluruh pertanyaan lantas berputar disekeliling kepalanya.
"Bagaimana bisa dia ada disini, pasti aku sedang berhalusinasi. Bisa jadi dia adalah sesosok makhluk astral yang menjelma seperti Drew," oceh Tesla sambil menggeleng dan segera pergi dari tempatnya.
Namun Drew dengan cepat menarik lengan Tesla, hingga gadis itu jatuh terduduk diatas pangkuannya.
"Enak saja bilang aku ini makhluk astral, kalau tidak percaya maka pandang dan lihatlah wajahku ini baik-baik," ucap Drew dengan senyum hangatnya yang mampu membuat siapapun meleleh.
Tesla menelan ludahnya susah payah dan wajahnya berubah memerah seperti kepiting rebus, apalagi saat Drew terus memandang wajahnya dan memeganginya agar tidak lari.
"Lepaskan aku, apa kau tidak malu hah!" sergah Tesla berusaha melepaskan lingkaran tangan Drew pada pinggang rampingnya.
"Lihat dulu wajahku ini dan pastikan sendiri kalau aku ini benar-benar manusia asli," balas Drew. Ia tidak akan melepaskan Tesla sampai gadis itu benar-benar tersadar akan dirinya.
"Ya aku percaya itu kamu, Drew. Tapi sekarang lepaskanlah aku!" ucap Tesla berontak dan segera berdiri setelah Drew melepaskan rangkulannya.
"Orang gila!" ketus Tesla lalu pergi menjauh dari Drew.
"Eh seenaknya saja kalau bicara, aku ini Drew. Drew Royce! Bukan orang gila!" sergah Drew kepada Tesla yang telah menjauh. Lalu pria itu tersenyum setelahnya.
"Kenapa aku selalu saja berdebar bila didekatnya dan kenapa aku tidak bisa marah walau ia menghinaku?" batin Drew dengan segala rasa dihatinya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.