
Tesla menyempatkan diri untuk berbincang sejenak bersama dengan teman-temannya di depan pintu utama restoran sebelum ia pergi dari tempat itu.
"Tesla kalau kau berhenti kerja, lebih baik aku juga berhenti kerja saja," ucap Marisa merasa sedih.
"Iya, kami bisa bekerja disini kan berkat dirimu. Kalau kamu pergi maka lebih baik kami ikut pergi juga," timpal Tiara.
"Jangan bodoh, kalian membutuhkan uang untuk biaya kuliah dan jangan sia-siakan kesempatan ini. Sudah begitu ambil sisi positifnya, aku jadi hidup bebas tanpa beban pekerjaan lagi. Kalian berdua kan tahu, kalau aku bekerja disini karena paksaan dari si Drew brekele itu," balas Tesla.
Kedua matanya menatap tajam Drew yang sedang bersin dikejauhan sana.
"Ya tapi mau bagaimana pun juga, kami turut sedih kau dipecat dan tidak bisa bekerja bersama-sama lagi," ucap Marisa.
"Sudahlah jangan bersedih lagi, kita masih bisa bertemu di tempat kuliah dan dikamar kos," balas Tesla menenangkan.
Tiara dan Marisa mengangguk. "Kau benar Tes, kalau kau sampai duluan di kamar kos. Tolong beresin kasurku ya," pinta Marisa.
Tesla mengangguk. "Ya, nanti kamar kalian biar aku yang bereskan."
"Terima kasih," balas Tiara dan Marisa bersamaan.
Lalu Tesla melangkahkan kakinya keluar dari Restoran Manyu, setelah berpamitan kepada teman-temannya dan akan pulang ke kos seorang diri.
Di keramaian jalan raya Tesla memilih berjalan kaki, mengingat jarak restoran dengan tempat kosnya yang tidak terlalu jauh.
Sementara itu Drew mengikuti Tesla di sepanjang perjalannya pulang dan menawarkan tumpangan.
"Ayo naik!" titah Drew menghadang jalan Tesla.
"Tidak mau," balas Tesla terus melengos pergi.
"Dasar cewek galak, ayo naik sebelum aku berubah pikiran!" ketus Drew.
"Ya sudah kalau begitu berubah pikiran saja, tidak ada yang memintamu!" balas Tesla tidak kalah ketus.
Drew menghembus nafasnya kasar, lalu melajukan motornya perlahan.
"Aku sedang berbaik hati mengantarmu pulang, seharusnya jangan menolak ajakanku ini. Karena tidak biasanya aku mau mengajak seorang wanita desa biasa sepertimu untuk duduk diatas motor mahalku ini," ucap Drew berbangga diri, sambil menepuk-nepuk jok belakang motornya.
Tesla menghentikan langkahnya dan menatap sinis Drew. "Berhenti mengikutiku dan aku tidak butuh tumpanganmu itu, lagi pula siapa yang sudi duduk di atas motor mahalmu ini, jika aku bisa berjalan kaki seorang diri!" dengusnya kesal.
"Memberi tumpangan tapi masih sempat saja menunjukkan sikap sombongnya dan merendahkan orang lain," gerutu Tesla kemudian.
__ADS_1
"Baiklah, jangan salahkan aku karena tidak memberikanmu tumpangan dan jangan menyesal kalau kau sakit kaki karena berjalan seorang sendiri setelah ini!" teriak Drew.
Tesla menutup kedua telinganya karena merasa terganggu dengan suara Drew yang terus meneriakinya.
"Ya sudahlah," ucap Drew. Kemudian pria itu pun memutar balik kendaraannya dan pergi untuk pulang menuju unit apartemennya.
"Baguslah, dia sudah pergi," ucap Tesla merasa lega, lalu menengok kanan dan kiri karena ingin menyebrang jalan.
Dirasa sudah cukup aman Tesla pun menyebrang jalan, namun tiba-tiba saja sebuah motor sport entah datang darimana, melaju begitu kencang kearahnya.
Sehingga dirinya tidak sanggup menghindar, karena terlalu cepatnya kejadian tersebut, membuat Tesla hanya bisa mematung di tengah jalan.
Bersamaan dengan hal itu, seorang pria menepikan kendaraan bermotornya, lalu secepat kilat berlari dan membawa raga Tesla agar menyingkir hingga ke tepi jalan.
Tesla memandangi pria yang telah menyelamatkannya dan akhirnya ia tersadar.
"Kenapa diam saja? Kemana jurus bebek ngibritmu itu?" ucap pria yang masih menggunakan helm itu.
Tesla melebarkan kelopak matanya dan tersenyum senang. "Kak Bagas!" serunya.
"Kenapa bengong saja di tengah jalan hah! Coba kalau aku tidak menyelematkanmu tepat waktu, kau bisa tidur di rumah sakit sekarang ini!" ucap Bagas menceramahi.
Tesla tidak peduli dengan omelan dari kakaknya, karena dia sendiri sedang sibuk memeluk pria bertubuh tegap dan tinggi itu.
"Lepaskan dulu pelukanmu, tidak enak dilihat oleh orang lain." Bagas mengurai pelukan Tesla dari pinggangnya.
"Ya," patuh Tesla.
Tak lama setelah itu, Drew yang mendengar teriakan para warga yang melihat kejadian di jalan pun segera menghampiri Tesla yang terlihat baik-baik saja.
Pria itu menatap lekat sesosok pria yang begitu dekat dengan Tesla dan tersenyum saat mengetahui siapa pria tersebut.
"Apa kau Bagas?" tanya Drew menyingkirkan Tesla dari sisi bagas, hingga gadis itu terhuyung.
"Ya aku Bagas," jawab Bagas.
"Aku Drew, apa kau masih mengingatku?" tanya Drew.
"Tentu aku mengingatmu, kau yang tempo hari menyewa villaku," balas Bagas.
"Benar! Kalau begitu senang bertemu denganmu lagi!" seru Drew gembira. Karena ketika melihat Bagas, ia merasa seperti melihat kakaknya kembali.
__ADS_1
Tesla mencebik dan menarik Drew agar menjauh dari kakaknya. "Pergilah dari sisi kakakku!" lalu menggandeng lengan Bagas. "Kita baru saja bertemu, kau malah mengabaikan aku dan berbincang dengan orang lain!" protesnya.
"Aku hanya menyapanya saja, kenapa kau harus menyingkirkan aku seperti itu!" ucap Drew tidak terima.
"Dia kakakku dan kau siapanya dia? Sok akrab sekali," ketus Tesla lalu menasehati Bagas. "Kakak, aku sarankan lebih baik jangan dekat-dekat dengan pria ini, dia hanya bisa menyebabkan masalah saja!"
"Seenaknya saja kalau bicara!" bantah Drew.
"Memang kenyataannya seperti itu," balas Tesla meledek.
"Sudahlah jangan bertengkar, lebih baik kita mencari tempat duduk terlebih dahulu." Bagas melerai pertengkaran kecil tersebut.
"Baiklah, bagaimana kalau kita duduk di resto itu saja," tunjuk Tesla mengajak.
"Jangan! Makan makanan di pedagang kaki lima, makanan disana murah, dan sudah pasti tidak sehat karena terkena debu jalanan! Bagaimana kalau ikut denganku saja, aku tahu tempat yang sesuai untuk kita berdua," serobot Drew.
Tesla menyunggingkan bibirnya dan menatap kesal Drew. "Memangnya kau siapa hah! Sampai terus menerus ikut campur reuni dadakanku ini! Lebih baik kau pergi saja dari sini dan jangan ganggu momen baikku dengan kak Bagas!"
"Siapa yang mengganggumu, aku hanya menawarkan yang terbaik. Apa salahnya? Dan kenapa kau jadi memarahiku?" balas Drew tidak terima.
Bagas memutar bola matanya malas. "Sudah jangan berdebat! Apa kalian tidak malu dilihat oleh orang banyak karena bertengkar di tempat terbuka seperti ini!" tegasnya.
"Sekarang biarkan aku yang memilih tempatnya dan tidak ada dari kalian yang boleh protes dengan pilihanku, termasuk dirimu Drew!" sambungnya.
"J-jadi kau mengajakku Bagas?" tanya Drew senang.
"Ya ikut saja, memangnya kenapa."
"Terima kasih! Aku senang sekali," ucap Drew gembira, karena ada banyak hal didalam kepalanya, itu yang ingin ia tanyakan kepada Bagas.
"Dasar pengganggu!" cebik Tesla, lalu mengekor pada Bagas dan naik motor bersamanya.
Drew bergegas menyusul Bagas kemana pun pria itu pergi, hingga sampailah mereka di sebuah tempat makan saung sederhana, seperti rumah makan lesehan.
...***...
Sementara itu Matt merasa kesal dan memukul kepala motornya itu sekuat tenaga, karena gagal menyerempet Tesla dengan motor besarnya.
"Kalau bukan karena pria asing tadi, mungkin wanita itu sudah masuk rumah sakit sekarang ini dan aku bisa tidur dengan Bella malam ini juga! Argh!" sarkasnya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.