Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 122. Meluruskan


__ADS_3

Drew segera menaiki mobilnya dan pergi, setelah panggilan teleponnya selalu saja dialihkan oleh Tesla, serta beberapa pesan darinya yang tidak kunjung dibalas.


"Ayolah sayang angkat teleponnya," gumam Drew terus berusaha menghubungi nomor Tesla. Namun hingga detik ini, usahanya itu tidak membuahkan hasil satu pun.


Drew membanting ponselnya hingga terpental kedepan dashboard mobilnya dan merasa kesal karena kejadian tadi. Ia berharap agar Tesla tidak salah paham kepadanya, akibat ulah Luna saat ia melakukan video call dengannya barusan.


Hati pria itu begitu gelisah dan diliputi ketakutan akan kekecewaan Tesla kepadanya, namun apapun itu ia harus menemui sang kekasih hati untuk meluruskan semua.


Sedangkan Luna tersenyum senang saat melihat Drew yang berubah kalang kabut, dan ia berharap aksinya tadi dapat membuat kerenggangan hubungan antara Drew dengan kekasihnya.


"Bagus sayang, lain kali lebih berani lagi ya," puji Nyonya Sherly saat Luna menceritakan segalanya.


"Ya Tante, Luna akan berusaha lebih keras lagi," balas Luna senang.


"Ini uang untukmu, kau bisa pakai untuk beli apapun yang kau mau. Beli segala keperluan untuk menambah kecantikkanmu dan juga barang-barang bagus lainnya," ucap Nyonya Sherly sambil menunjukkan bukti transfer ratusan juta dari rekeningnya.


Luna spontan menatap buas saat melihat nominal luar biasa yang dikirimkan oleh tantenya itu, dalam benaknya sudah terbayang-bayang akan keuntungan lebih jika berhasil masuk menjadi bagian dari keluarga Royce.


"Terima kasih Tante, aku menyayangimu. Aku berjanji akan mempergunakan uang ini sebaik mungkin dan berusaha keras agar Drew jatuh cinta kepadaku," ucap Luna memeluk erat Nyonya Sherly dan berterima kasih kepadanya.


Nyonya Sherly tersenyum. "Sama-sama sayang dan jangan kecewakan Tante," balasnya.


Setelah itu Luna segera mengurai pelukannya, dan dengan hati gembira ia menuju kamarnya untuk bersiap-siap menghabiskan uang tersebut.


"Aku mau ke mall, aku mau belanja, beli perhiasan, aku mau perawatan ke spa," celoteh Luna seperti membuat daftar rencana dalam otaknya.


...----------------...


Restoran Manyu.


Semenjak Restoran Manyu 2 dibuka, Tesla memutuskan untuk bekerja paruh waktu seperti kedua temannya membantu pekerjaan nyonya Bianca.


Selain untuk menambah uang saku, Tesla juga merasa senang dan tidak merasa kesepian lagi, karena dapat bekerja bersama dengan kedua sahabatnya, tidak seperti saat berada di dalam kamar kost yang membuatnya bosan seorang diri.


Seperti saat sekarang ini, mereka bertiga sedang makan bersama didalam restoran itu dijam istirahat siang.


Marisa menyenggol bahu Tesla, setelah melihat sahabat karibnya tengah melamun dan hanya mengaduk-aduk makanan diatas piring dengan sendoknya.


"Tes, kamu kenapa sih dari tadi melamun saja?" tanya Marisa.


Tesla menggeleng lemah. "Tidak ada," balasnya lesu.


"Kalau ada masalah cerita saja, siapa tahu kita berdua bisa bantu kamu," ucap Tiara dan di sambut anggukan kepala Marisa.

__ADS_1


Tesla kembali terdiam, apakah pantas menceritakan rasa cemburunya itu kepada orang lain perihal kejadian menyakitkan hati yang ia lihat melalui video call dengan Drew tadi pagi.


"Tidak ada yang penting, aku hanya merindukan keluargaku saja," balas Tesla berbohong.


"Bukannya belum lama kamu ketemu mereka, masa sudah kangen lagi," ucap Marisa tidak percaya.


"Ya benar, jangan bohong Tes. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kamu bertengkar dengan Drew?" tanya Tiara mencoba menerka.


Tesla akhirnya menceritakan kejadian tidak mengenakkan tadi pagi kepada dua temannya itu, dimana ada wanita asing di dalam rumah Drew.


"Wanita itu terlihat cantik dan sekksi, dia juga terlihat mesra saat mengantar makanan untuk Drew. Bahkan aku sempat melihat wanita itu mendorong Drew dengan tubuhnya," ucap Tesla mengadu.


Marisa merasa geram, sampai refleks mengebrak meja dihadapannya. "Siapa sih wanita itu! Berani sekali dia menggoda Drew!" sentaknya tidak terima dan turut sakit hati mendengarnya.


"Drew sempat cerita kemarin, Daddynya tidak menyetujui hubungan kami berdua dan mengenai wanita itu, Drew pernah bilang dia akan dinikahkan dengan anak sepupu dari mommy tirinya. Dan aku yakin wanita yang Drew maksud itu adalah wanita yang aku lihat saat video call tadi," balas Tesla menangis. Membuat Tiara dan Marisa merasa syok mendengarnya.


"Lalu, apa Drew mau menikah dengan wanita itu?" tanya Tiara.


"Drew bilang tidak mau, tapi aku tidak tahu perkataannya itu bisa dipegang atau tidak," balas Tesla semakin terisak. Hatinya terasa sakit saat teringat wanita tadi sempat mengelus dada berotot Drew yang sedang bertelanjang dada.


Marisa dan tiara mengusap-usap punggung Tesla bersamaan, berusaha menenangkannya dari isak tangis akibat rasa sakit hati dan kecewa karena cinta.


"Sudah jangan menangis lagi, kalau kau percaya pada Drew dan cinta kalian berdua benar-benar kuat. Aku yakin, rintangan seperti ini akan mudah di lewati," ucap Marisa.


Tesla mengangguk. "Kalian benar, terima kasih ya," ucapnya merasa lega setelah bercerita kepada sahabat baiknya dan hatinya sedikit tenang setelah mendapatkan dukungan semangat.


"Sama-sama, sekarang cobalah angkat panggilan dari pacarmu itu. Siapa tahu dia sedang mencarimu saat ini," ucap Marisa.


Tesla mengangguk pelan dan mengangkat panggilan Drew. "Hallo," ucapnya.


Sedangkan Drew di ujung panggilannya menghela nafas lega. "Hallo, kau ada dimana? Sayang kenapa panggilanku tidak diangkat dan kenapa kau selalu saja menolaknya?"


"Maaf, aku sibuk bekerja dan baru sempat menerima panggilanmu," balas Tesla beralasan.


"Sudahlah jangan meminta maaf, ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu. Jadi jangan pergi kemana-mana, tunggu aku datang ke restoran mommy," pinta Drew.


"Baik," balas Tesla lalu panggilan tersebut berakhir.


Setibanya di restoran, Drew segera mencari keberadaan Tesla. Ia bergegas menarik lengan Tesla itu agar pergi menjauh, padahal pekerjaannya masih belum terselesaikan.


"Drew, apa kau tidak lihat tadi aku sedang membersihkan meja. Bisakah kau tidak menarikku seperti ini," pinta Tesla sedikit menarik lengannya kembali.


"Ikut denganku," titah Drew tidak mau tahu.

__ADS_1


Tesla terdiam dan mengikuti kemana langkah kaki Drew membawanya pergi, lalu tibalah mereka di dalam ruangan nyonya Bianca, yang kebetulan sang pemilik restoran itu sedang tidak berada di tempat karena sibuk mengurus restoran barunya selama beberapa hari.


Drew segera mengunci pintu ruangan tersebut, lalu mendudukkan Tesla dan mengungkungnya agar tidak bisa lari.


"D-drew," ucap Tesla terbata dan merasa tidak bebas karena pergerakannya terkunci dan jarak mereka yang terlalu dekat.


"Kenapa tidak mengangkat panggilanku dan mengapa kau tidak membalas satu pun pesan dariku, hem?" tanya Drew semakin mendekatkan wajahnya.


Tesla membuang mukanya, sambil menahan dada Drew yang semakin mendekat kearahnya. "Sudah ku bilang aku tadi sibuk."


"Sibuk? Jangan bohong sayang. Apa kau marah melihat kejadian tadi?" ucap Drew menanyai.


Tesla terdiam dan hanya menutup kedua matanya. "Tidak, memangnya apa yang aku lihat?"


"Tatap aku Tesla," pinta Drew sambil menarik dagu Tesla agar mau menatapnya. "Apa kau habis menangis?" tanyanya kemudian.


"Tidak, aku tidak menangis. Tadi kelilipan debu saat membersihkan meja," balas Tesla berdusta, membuat Drew semakin habis kesabaran.


Dengan cepat pria itu mendorong raga Tesla hingga terbaring diatas sofa, lalu dengan sengaja ia menindih Tesla diatasnya.


Tesla pun terbelalak. "Drew, apa yang kau lakukan? Menyingkirlah dari hadapanku!" sentaknya mendorong raga Drew agar menyingkir dari atas tubuhnya.


"Tidak, aku tidak mau pergi sebelum kau menjawab dengan jujur pertanyaanku tadi," balas Drew memegangi kedua tangan Tesla dan menunggu jawaban darinya.


Tesla mengepal erat kedua tangannya dan menatap marah Drew. "Ya aku melihatmu dengan wanita tadi, dia memakai pakaian sekssi dan mengusap dadamu dengan manjanya. Lalu kau juga menatapnya tanpa berkedip. Jadi apa kau puas dengan jawabanku? Kalau begitu cepatlah menyingkir dari hadapanku!" geramnya.


Drew menelan ludahnya yang tercekat dan perlahan menarik dirinya atas Tesla, lalu ia duduk dan berusaha menjelaskan semuanya.


"Maaf, tapi percayalah. Aku dan dia tidak ada hubungan apapun, aku juga tidak tahu kalau wanita itu ternyata sedang menginap disana," ucap Drew jujur.


"Apapun bisa terjadi, apalagi aku tidak tahu kondisi disana seperti apa. Jadi mana bisa aku percaya padamu dengan begitu mudahnya," balas Tesla.


"Tesla, ku mohon jangan berkata seperti itu. Bukankah kita sudah berjanji akan selalu setia dan saling percaya? Kita juga sudah berjanji akan selalu menjaga perasaan kita masing-masing dan ku mohon percayalah padaku, kalau aku tidak akan mengkhianatimu," ucap Drew meyakinkan.


Tesla menatap lekat wajah Drew dan mencari kebenaran diantara kedua manik matanya. "Baiklah aku percaya padamu, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau perasaanku terluka saat melihatmu bersama dengan wanita lain."


Drew memeluk erat Tesla dan menciumi puncak kepalanya. "Terima kasih kau masih percaya kepadaku, aku berjanji tidak akan mengkhianati kepercayaan yang kau berikan kepadaku dan sekali lagi aku minta maaf jika aku membuatmu terluka."


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2