
Mansion Royce.
Nyonya Sherly mendapat kabar dari anak buahnya yang bekerja di perusahaan tuan Hans, jika Drew ingin meminjam uang perusahaan yang jumlahnya tidak sedikit.
"Sayang, aku dengar Drew meminjam uang padamu. Apa itu benar?" tanya Nyonya Sherly penasaran dan bertanya langsung kepada suaminya.
"Ya benar, dia butuh uang dan aku harus meminjamkannya," balas Tuan Hans.
"Tapi uang sebanyak itu untuk apa?" tanya Nyonya Sherly heran.
"Membeli tanah di desa," balas Tuan Hans datar.
"Membeli tanah? Untuk apa? Sudah begitu belinya di desa lagi. Sayang apa kamu tidak salah meminjamkan uang perusahaanmu kepada Drew?" ucap Nyonya Sherly merasa keberatan.
Tuan Hans menatap istrinya tidak suka. "Memangnya kenapa? Apa masalahnya denganmu? Yang jelas aku tidak meminta uang darimu," balasnya.
"Bukan begitu, sayang. Maksudku, Drew selama ini tidak bersumbangsih dalam perusahaanmu, malah ia selalu saja membangkang dan menentangmu meneruskan perusahaannya," balas Nyonya Sherly. Entah sebab apa, tapi yang jelas wanita itu tidak setuju jika Drew menggunakan uang perusahaan suaminya.
Tuan Hans menatap istrinya dingin. "Walau Drew tidak tertarik meneruskan bisnisku atau menjadi penerus perusahaanku seperti Twister saat jni, akan tetapi Drew tetaplah putraku. Disaat ia membutuhkan bantuanku, tidak ada salahnya aku membantunya. Dan satu hal lagi, untuk apa ia membeli tanah disana, kau tidak perlu ikut campur."
"Tapi sayang, jumlahnya cukup besar. Ditambah Drew harus membayar cicilan perusahaannya yang sedang ia gadaikan ke Bank, lalu apa kau yakin dia mampu membayar utang ke perusahaanmu tiap bulannya?" ucap Nyonya Sherly merasa ragu.
"Berisik! Aku tahu apa yang terbaik untuk putraku dan aku yakin Drew mampu melunasi hutangnya kepada bank maupun kepada perusahaanku," balas Tuan Hans yakin.
"Sayang, pikirkanlah ke depannya bagaimana?" cegah Nyonya Sherly menyadarkan.
"Aku tidak peduli dengan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi ke depannya akibat pinjaman dari Drew, karena semua masalah yang terjadi pada mereka awalnya berasal dariku! Jadi aku merasa ini bukanlah tanggung jawab Drew, melainkan ada tanggung jawabku juga!" tegas Tuan Hans.
Pria itu pun pergi dari hadapan Nyonya Sherly dengan hembusan nafas kasar setelahnya.
Nyonya Sherly mencebik. "Menyebalkan sekali, kenapa setelah pulang dari desa. Dia juga ikut-ikutan bertingkah aneh," gerutunya kesal. Dan tidak mengerti dengan semua yang terjadi dengan perubahan sikap sang suami.
"Awas saja, kalau sampai perusahaan suamiku goyah keuangannya, apalagi sampai memotong hak bulananku. Maka sumpah demi apapun, aku tidak akan memaafkan anak kurang ajar itu!" batin Nyonya Sherly mengumpat.
Dirinya merasa tidak rela, setelah tahu uang sebanyak itu dihamburkan untuk kepentingan yang tidak jelas. Selain itu ia juga tidak mau sampai uang belanja pribadi bulanannya sampai berkurang, gara-gara keinginan Drew yang dinilai egois dan tidak bermanfaat.
...----------------...
Desa Rawa Bebek.
__ADS_1
Malam harinya.
Sam dan Drew telah tertidur pulas setelah seluruh badannya diolesi minyak gosok oleh Mak ijah, setelah sebelumnya merengek merasakan pegal-pegal pada sekujur tubuhnya sehabis bekerja keras seharian membuat kandang.
Keduanya mendengkur cukup keras, hingga Twister tidak bisa tidur dibuatnya. "Mereka berisik sekali," gerutunya kesal. Lalu keluar dari kamar untuk mencari udara segar.
Dan setibanya ia di depan rumah, ia bertemu dengan Ibu Tyas yang sedang membereskan peralatan bengkelnya.
"Biar aku bantu," ucap Twister menawarkan bantuan.
"Tidak perlu, ini sudah selesai," balas Ibu Tyas menutup kotak pekakasnya.
"Apa mama pergi ke bengkel besok?" tanya Twister.
"Tentu saja, bengkel Mama sudah tutup selama beberapa hari semenjak kasus si keparatt Malin itu. Dan gara-gara bengkel tutup, pekerjaan Mama jadi menumpuk. Banyak sekali traktor dan juga mesin-mesin mobil rusak yang harus segera diperbaiki," balas Ibu Tyas.
"Baiklah, besok aku akan pergi ke bengkel membantumu," ucap Twister tidak tega.
"Tidak perlu, Mama bisa mengatasinya sendiri. Lagipula kau harus membantu adikmu bertemu para warga bukan," balas Ibu Tyas tidak mengapa.
"Kau benar," ucap Twister mau bagaimana lagi. Ia harus menyelesaikan tugas tersebut sebelum kembali ke Ibukota.
Twister mengangguk dan membenarkan. "Kau benar, Mama. Baiklah aku akan menginap disini selama beberapa hari," balasnya setuju.
"Bagus, Mama senang mendengarnya. Dengan begitu kita bisa menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari," ucap Ibu Tyas senang.
Twister pun memutuskan akan menginap di rumah Pak Sanyoto selama dua hari ke depan, setelah sang ibu angkat memintanya untuk menginap di rumahnya.
Selain karena pekerjaan membuat kandang baru belum selesai, Twister juga ingin membantu Drew dalam melakukan mediasi kepada para warga desa, yang tetap bersikeras ingin menjual lahan mereka kepada pihak perusahaan.
"Jika butuh sesuatu katakan saja pada Mama dan jangan sungkan meminta apapun pada kami," ucap Ibu Tyas tersenyum.
"Ya Mama, aku mengerti." Twister membalas dengan senyuman.
"Hari sudah malam kau beristirahatlah," ucap Ibu Tyas.
"Aku belum bisa tidur, Mama duluan saja temani Papa," balas Twister.
"Ya sudah kalau begitu, Mama ke kamar dulu. Selamat malam," ucap Ibu Tyas.
__ADS_1
"Selamat malam," balas Twister. Lalu kembali menatapi gelapnya malam di luar rumah Pak Sanyoto, ditemani suara jangkrik dan hembusan angin malam.
Sementara itu, Tesla yang kebetulan belum tidur mendekati Twister yang sedang duduk di depan teras rumahnya seorang diri, lalu duduk disampingnya.
"Kakak," sapa Tesla.
Twister menoleh. "Kenapa belum tidur?" tanyanya.
"Aku belum bisa tidur," balas Tesla.
"Ada apa? Katakan saja," ucap Twister menunggu.
"Maaf aku telah salah paham kepadamu dan maaf juga aku pernah memaki kalian berdua," ucap Tesla akhirnya berani berucap juga. Setelah kejadian gugup dikandang tadi, yang berujung ia tidak jadi meminta maaf karena ada Drew di dekatnya.
Twister tersenyum. "Tidak apa, aku mengerti kemarahanmu. Aku juga yang salah tidak mengerti perasaan kalian," balasnya.
"Tidak, jangan berkata seperti itu. Akulah yang harusnya meminta maaf dan berterima kasih karena kau dan Drew telah membantu keluargaku keluar dari masalah," ucap Tesla mengutarakan rasa terima kasihnya.
"Tidak apa, jangan sungkan seperti itu padaku. Aku melakukan ini dengan ikhlas, tapi jika kau ingin berterima kasih, maka berterima kasihlah kepada Drew. Dia yang paling semangat membantu keluargamu," ucap Twister memberitahu.
Bagaimana adik lelakinya itu bertekad ingin membantu keluarga Sanyoto dan keluar dari lingkaran kesulitan.
Tesla tertegun mendengarnya, ada rasa tidak percaya saat tahu jika Drew berkorban banyak untuk keluarganya.
Bahkan pria sombong serta angkuh itu rela berkorban dan mempertaruhkan nasib perusahaan impiannya demi membeli puluhan hektar tanah milik warga desa.
Agar kehidupan keluarga Sanyoto kembali tenang dan tidak disalahkan oleh warga desa yang sebelumnya sempat membuat kesepakatan dengan pihak pengembang maupun pihak perusahaan setelah masalahnya berakhir.
"Besok ucapkan rasa terima kasihmu itu pada Drew, karena menurutku dialah yang pantas mendapatkannya," ucap Twister sambil mengusak puncak kepala Tesla. "Hari sudah malam, segeralah tidur," ucapnya kemudian. Lalu masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.
Sedangkan Tesla sendiri masih duduk terdiam di depan rumahnya dan berpikir kenapa Drew sampai rela melakukan itu semua untuk keluarganya.
Ia memang tidak mengerti kenapa Drew sampai rela melakukan hal tersebut, akan tetapi dirinya masih berhutang kata terima kasih kepada Drew. Dan ia harus menyampaikan rasa terima kasihnya itu secepat mungkin.
"Ya aku akan mengucapkannya besok," gumam Tesla.
.
.
__ADS_1
Bersambung.