
"Berhentilah berkelahi!" sergah Twister sambil berusaha memisahkan Pak Sanyoto dengan Tuan Hans yang masih bergelut, hingga berguling-guling diatas tanah.
Lalu setelah mereka berpisah, Twister pun memarahi dan menasehati mereka semua yang ada disana.
"Kalian semua benar-benar memalukan! Kalian berperilaku tidak pantas dan merugikan satu sama lain!" ucap Twister marah dan menatap ayah kandungnya terlebih dahulu.
"Itukah perilaku dari keluarga terhormat Royce yang selama ini kau banggakan, Daddy?" ucapnya kecewa lalu bergantian menatap Pak Sanyoto.
"Dia yang mulai perkelahian ini terlebih dahulu," tunjuk Tuan Hans sambil merapihkan bajunya.
"Enak saja, kau duluan yang menjambak kumisku!" balas Pak Sanyoto tidak terima.
"Sudah! Jangan berdebat lagi!" ucap Twister memisahkan lagi dan menatap ayah angkatnya. "Papa, apakah itu tindakan terpuji dari seorang tuan tanah yang terhormat di desa ini?" ucapnya begitu tidak menyangka.
"Ya kalau dia tidak mulai duluan ya tidak akan berkelahi," jawab Pak Sanyoto.
Twister menghela nafas panjang, setelah kedua ayahnya telah duduk tenang, lalu ia berganti menatap kedua ibunya.
"Dan kau Mama, apakah pantas sifat aroganmu ini di tunjukkan dimuka umum dan pantaskan kau menyandar gelar baru sebagai kepala desa kalau kelakuanmu sangat bar-bar seperti ini!"
"Ya Mama cuma memberantas kejahatan dan membela keadilan," balas Ibu Tyas mengelak.
"Mau jadi wonder women," celetuk Pak Sanyoto.
Twister berdecak kesal dan menatap ibu kandungnya. "Dan kau Mommy, aku mengenalmu sebagai wanita yang berhati lembut lagi penyabar. Tapi sejak kapan kau berubah menjadi wanita bar-bar seperti ini?" ucapnya tidak mengerti.
"Maaf Mommy terpancing emosi karena kelakuan si pelakor itu," balas Nyonya Bianca menatap sinis Nyonya Sherly dan Luna beserta dengan keluarganya.
"Seenaknya saja bilang kami ini pelakor, sudah tahu kamu yang salah karena terlalu banyak ikut campur dengan urusan keluarga Royce. Tapi kau seperti melupakan kalau kau sudah bukanlah bagian dari keluarga ini!" sentak Nyonya Sherly.
"Tidak perlu mengingatkanku tentang hubungan keluarga! Kau yang tidak mengerti dan selalu saja menganggu hubungan orang lain!" balas Nyonya Bianca kembali kesal.
"Sudah jangan berdebat lagi!" sergah Twister menghentikan keributan kembali.
"Itu semua karena dia! Dia yang memulainya terlebih dahulu!" ucap mereka saling menuding dan saling menunjuk menyalahkan satu sama lain.
__ADS_1
"Cukup! Sudah cukup! Aku tidak ingin melihat atau mendengar ada salah satu dari kalian memulai pertengkaran atau perdebatan lagi!" kecam Twister.
Semua orang nampak terdiam sambil mendengus kesal di tempat duduk masing-masing, entah karena sedang kesal atau emosi. Mereka sampai tidak menyadari jika Drew dan Tesla telah pergi dari tempat itu.
"Loh mana Tesla?" tanya Pak Sanyoto akhirnya menyadari.
"Drew juga tidak ada," ucap Nyonya Bianca mencari ke sekeliling mereka.
"Mereka telah pergi saat kalian sedang sibuk bertengkar tadi," jawab Twister.
"Kenapa kamu diam saja dan tidak mencegahnya pergi Twister!" sentak Tuan Hans marah.
"Dia pergi karenamu yang terlalu sibuk dengan egomu sendiri hingga sampai detik ini, apa kau masih belum sadar juga!" balas Twister.
"Dia putraku dan aku berhak atas dirinya!" balas Tuan Hans mulai membahas hak dan kewajiban.
"Kau tidak berhak atas diri Drew, Daddy! Karena Drew memiliki haknya sendiri, serta berhak dalam menentukan hidupnya. Untuk itu kewajibanmu adalah mendukung dia dan membuatnya bahagia, karena dengan begitu kau baru bisa mengambil hak mu dari Drew!" balas Twister.
"Dia memiliki darah keturunan Royce, jadi aku berhak mengatur hidupnya. Sudah begitu aku telah memberikannya kekayaan dan kekuasaanku selama ini, serta memilihkan dia pendamping hidup yang baik. Jadi apa kau pikir aku tidak memenuhi tanggung jawabku!" balas Tuan Hans.
Twister terkekeh mendengar pernyataan ayahnya. "Kau bilang telah memenuhi kewajibanmu sebagai orang tua? Kewajiban mana? Drew tumbuh besar bersama dengan para anak buahmu disekitar kerasnya dunia bisnis, dan kau tidak pernah memberikannya kebebasan dalam menjalani hidup. Bahkan kewajiban yang kau bilang itu bukanlah kewajiban antara ayah kepada anaknya, melainkan itu sebagai pengekangan orang tua demi ambisimu demi menjadikan Drew seperti pria yang kau mau."
"Itu semua demi kebaikkan Drew! Dan mengenai wanita yang aku pilihkan itu karena salah Drew sendiri, dia telah berani menyentuh Luna dan ingin menodainya didalam kamarnya sendiri! Apakah aku salah meminta Drew agar bertanggung jawab?" balas Tuan Hans.
"Yang dikatakan oleh Om Hans itu benar, kau tidak ada disana waktu itu Kakak. Drew ingin menodaiku dan semua orang disana melihat kejadiannya, bahkan istrimu juga ada disana disaat kejadian itu terjadi dan aku bersyukur Tuhan masih melindungiku. Karena kalau tidak, mungkin aku sudah tidak suci lagi sekarang ini," ucap Luna memasang wajah sedihnya.
"Sayang jangan menangis," ucap Bu Magda dan menatap tajam Twister.
"Putrimu sangat pandai berakting, bagaimana kalau aku putar balikkan fakta. Atau lebih tepatnya memberikan fakta yang sebenarnya," ucap Twister.
"F-fakta? Apa maksudmu? Sudah jelas-jelas putriku yang dirugikan oleh adikmu dan kau malah ingin memutar balikkan fakta? Apa otakmu sudah kemasukan air hah?" balas Bu Magda tidak terima, sekaligus deg-degan.
"Putrimu sangat sering membuang air mata buayanya, baiklah hari ini aku akan membuat dia membuang air mata aslinya," ucap Twister ingin membongkar keburukan Luna dan meminta semua orang diam agar mendengarkan ia berbicara termasuk Luna sendiri.
"Kejadian waktu itu aku mendapatkan rekaman CCTV dari lorong depan kamar Drew, disana jelas kau berjalan mendekat ke kamar Drew dengan senyum jahat, sambil membawa nampan berisi cemilan. Lalu tepat di depan pintu kamar Drew kau melakukan hal aneh, yang aku sendiri tidak mengerti apa maksudmu melakukan itu." ucap Twister sambil memberikan rekaman tersebut kepada ayahnya agar diam.
__ADS_1
"Apa yang dia lakukan?" tanya Nyonya Bianca ingin tahu dan menatap Luna tajam.
"Luna membuka tiga kancing piyama bagian atasnya, kalau bukan untuk maksud dan mencapai tujuan tertentu, lalu untuk apa dia melakukan itu?" tanya Twister kepada Luna.
"A-aku kepanasan saat itu, jadi aku buka saja kancing piyamaku," serobot Luna beralasan.
"Di rumah mewah Royce tidak mungkin ada ruangan yang bersuhu panas, kalau pun ada itu cuma diruang laundry, bahkan kamar para pembantu dipasangi AC satu persatu. Apalagi itu ruangan inti dari keluarga Royce sendiri, jadi Luna sebelum aku melanjutkan. Bisakah kau memberitahukan alasan yang masuk akal kepada kami semua yang ada disini?" tanya Twister.
Luna semakin gugup, bahkan ia terlihat mencengkram baju ibunya sendiri. "Mama, aku tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Kak Twister," isak Luna sambil membenamkan wajahnya di bahu sang ibu.
Bu Magda nampak geram. "Twister! Aku tahu kau tidak suka pada Luna karena istrimu pasti mengadu yang bukan-bukan tentang putriku bukan? Asal kau tahu saja, istrimu sering kali usil kepada putriku dan selalu ikut campur setiap kali kami melakukan sesuatu. Dan aku yakin, kau menuduh putriku karena hasutan dari istrimu itu, ya kan!"
"Bibi, aku tidak menuduh putrimu. Aku hanya bertanya, tetapi kenapa kalian jadi begitu sensitif?" ucap Twister menakuti.
"Bagaimana tidak sensitif, aku yakin mereka telah melakukan sesuatu hal yang buruk dan bisa saja kejadian waktu itu Luna berusaha menjebak putraku demi tujuan tertentu dari kalian. Mengaku sajalah!" ucap Nyonya Bianca menyela.
"Tujuan apa? Kami tidak punya tujuan apa-apa di rumah itu," balas Bu Magda.
"Oh begitu, lalu bagaimana dengan ini?" tanya Twister mulai memutar rekaman yang telah Bi Nonik rekam di ruang keluarga setelah acara pertunangan Luna selesai.
Luna, rumah ini luas dan megah sekali seperti istana saja. Kalau kamu sudah menikah nanti, jangan lupa ajak Mama untuk tinggal disini.
Benar sekali, Papa juga senang berada disini. Sofanya empuk sekali dan makanannya juga enak-enak.
Ya, tapi sabarlah kalian berdua. Aku masih harus berusaha mendapatkan kepercayaan Om Hans dan Tante Sherly, terutama calon suamiku sendiri. Drew begitu susah dibujuk, bahkan aku sampai bingung harus bagaimana lagi melunakkan hatinya.
Kalau begitu biar Mama bantu kalian agar bisa bersama.
Serta rekaman video lain dari ponsel Mutia saat Luna keluar dari ruangan Tuan Hans.
Akhirnya aku berhasil membuat pria payah itu percaya padaku dan aku juga berhasil mendapatkan dukungan darinya.
Dan setelah semua video itu habis diputar, semua mata menatap keluarga Luna yang seketika bungkam.
.
__ADS_1
.
Bersambung.