Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 127. Patah hati


__ADS_3

Sementara itu disisi lain, Martino memberhentikan mobilnya tepat setelah ia mendapat panggilan dari tuan Hans, yang memintanya untuk membatalkan perintah karena Drew telah menyerah.


"Terserah kau mau menurunkannya dimana, yang jelas Drew telah kembali padaku!" ucap Tuan Hans dari ujung panggilannya.


"Baik Tuan," balas Martino patuh.


"Berikan ponselmu padanya, aku ingin bicara."


"Baik Tuan," balas Martino lalu memberikan ponselnya pada Tesla.


Namun Tesla menolak mendengarkan apalagi bicara dengannya, dan Martino terpaksa menekan load speaker agar Tesla dapat mendengar suara atasannya yang ingin bicara.


Drew telah memilih keputusan yang tepat, yaitu memilih keluarganya. Jadi aku sarankan padamu, lebih baik jangan kembali lagi ke sisinya. Karena Drew telah setuju menikah dengan wanita pilihan keluarga Royce dan aku ingin kau tidak mengganggu hubungan mereka, apalagi merusaknya.


Setelah panggilan itu berakhir, Tesla kembali meneteskan air matanya. Hatinya merasa sakit ketika mendengar jikalau Drew telah menerima wanita lain disisinya dalam waktu secepat itu.


Tapi mungkin ini lebih baik, daripada dirinya harus terluka lebih dalam lagi. Maka lebih baik ia harus melupakan Drew selamanya.


Sementara itu Martino, yang sempat mendengar pernyataan tuan Hans untuk Tesla, merasa tidak enak hati.


Pria itu menyempatkan diri melirik sejenak kearah gadis yang tengah meringkuk di sudut mobil, sambil menatap kosong ruas jalan disebelahnya. Terlihat air mata dari gadis itu masih jatuh berguguran membasahi wajahnya, membuat Martino seketika merasa tidak tega.


Disaat orang lain tengah bersedih, mana bisa ia melakukan hal keji dengan membuangnya di tempat orang asing.


Dan pada akhirnya Martino pun memutar balik kendaraannya dan mengurungkan niat untuk menurunkan Tesla di jalan umum yang terlihat asing baginya.


"Saya akan membawa anda kembali ke kampus," ucap Martino menyebutkan arah tujuannya.


Akan tetapi Tesla masih saja setia menatap kosong ke ruas jalan raya.


Martino menghela nafas panjang, hal inilah yang membuatnya tidak mau menikah, atau mencari wanita untuk dijadikan kekasih hingga detik ini. Karena ia takut jatuh cinta, yang dapat membuat hati sakit dan terluka, hingga lemahnya iman seseorang jika mengalami suatu masalah yang bernama patah hati akibat cinta.


Tak butuh waktu lama, Martino telah tiba di kampus. Ia segera menurunkan Tesla dan memintanya agar tidak sedih berlarut-larut.


"Anda masih sangat muda Nona Tesla dan masih memiliki banyak kesempatan dalam membangun cinta kembali, walau bukan dengan tuan Drew. Saya hanya berharap anda bisa segera melupakan kesedihan dan kembali semangat menjalani hari-hari," ucap Martino sebelum akhirnya ia melaju pergi.


Sejenak Tesla berpikir, apakah ia bisa melupakan Drew, disaat cinta dalam hatinya sedang bermekaran layaknya bunga dimusim semi?

__ADS_1


Tesla mengusap air matanya dan terus melangkah maju ke depan, walau cintanya telah kandas ditengah jalan.


Bersamaan dengan hal tersebut, sebuah uluran tangan tiba-tiba menarik kuat lengannya dan membawanya untuk menepi ke sudut. Hingga gadis itu benar-benar terkejut dibuatnya.


"Tesla," ucap Drew memeluk secara sembunyi-sembunyi.


"Drew ... " lirih Tesla. Akan tetapi kejadian tadi membuatnya tersadar, jika mereka sudah tidak lagi mempunyai hubungan apapun.


Tesla mendorong Drew agar menjauh darinya. "Pergilah! Aku tidak mau melihatmu lagi!"


Drew menahan Tesla yang ingin pergi. "Tolong dengarkan aku sebentar saja," mohonnya.


"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, semuanya telah jelas. Hubungan kita telah berakhir dan mulai sekarang aku ingin kita menjalani hidup kita masing-masing," tolak Tesla menghentak tangan Drew.


"Tesla please ... Aku tidak mau hubungan kita berakhir begitu saja, bagaimana kalau kita saling berhubungan secara rahasia, agar kita bisa saling terhubung satu sama lain?" ucap Drew berharap hubungannya bisa kembali.


Tesla membalik badannya dan menatap Drew. "Kau ingin kita terus memiliki hubungan? Lalu bagaimana dengan daddymu yang jahat itu? Apa kau bisa menang melawannya? Apa kau tidak takut akan resiko yang ditimbulkan oleh ayahmu itu jika kau bersikeras melawannya lagi?"


"Pikirkan Drew, pikirkan lagi baik-baik keinginanmu itu! Apa kau tidak tahu betapa sakitnya hatiku ini saat daddymu menentang hubungan kita, apa kau tidak merasakan hal itu?" ucap kesal Tesla sambil menunjuk-nunjuk dada Drew dengan tenaga.


...----------------...


Sedangkan di tempat berbeda, Nyonya Sherly berlari kecil ke kamar Luna untuk memberi kabar baik kepada anak sepupunya itu. Jika suaminya telah berhasil membujuk Drew agar kembali pulang ke rumah.


"Benarkah itu Tante?" tanya Luna dengan sorak sorai dalam hatinya.


Nyonya Sherly mengangguk cepat. "Ya benar, Om kamu sedang dalam perjalanan menuju kesini dan kabarnya juga Drew akan menyusul pulang."


Luna merasa senang akan hal tersebut dan tiba-tiba saja jantungnya berdebar kencang saat memikirkan wajah Drew. "Tidak sia-sia aku menginap disini dan aku sudah tidak sabar menunggu kepulangan Drew."


Nyonya Sherly tersenyum. "Baguslah kalau begitu, sekarang pergilah mandi dan percantik wajahmu itu."


"Baiklah Tante," balas Luna lalu mulai membersihkan diri dan mempercantik penampilannya.


Tak berselang lama kemudian, tuan Hans telah tiba di kediamannya. Ia pulang ke rumah karena harus berganti baju terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor.


Melihat hal tersebut, Nyonya Sherly dengan senyum indahnya menghampiri Tuan Hans dan membantunya berpakaian.

__ADS_1


"Sayang, apa benar Drew akan pulang ke rumah kita?" tanya Nyonya Sherly dengan tangan sibuk memakaikan jas suaminya.


"Hem," balas Tuan Hans mengangguk.


"Kau pasti membutuhkan tenaga ekstra dalam menghadapi putra keduamu itu. Drew selalu bersikap semaunya, apalagi jika ia menginginkan sesuatu. Dia pasti akan berusaha keras mendapatkannya walau itu sulit dilakukan," ucap Nyonya Sherly.


Tuan Hans hanya menyimak perkataan istrinya kali ini, karena ia sedang enggan berbicara. Apalagi saat tahu Martino menurunkan Tesla di depan kampus tempatnya belajar, dan bukannya menurunkan Tesla dijalan sepi atau jalan tidak dikenal agar Drew tidak bisa menemukannya.


"Sayang, apa kau yakin Drew tidak akan bertemu dengan Tesla lagi? ucap tanya Nyonya Sherly.


Tuan Hans menatap istrinya yang sedang memakaikannya dasi. "Aku sudah mengancamnya, seharusnya dia tahu apa akibatnya jika melanggar."


Nyonya Sherly tersenyum miring, sambil merapihkan rambut suaminya ia berkata. "Drew termasuk pria yang berani dan bisa dibilang sangat nekad, dia pasti berusaha keras memikirkan cara untuk bertemu dengan Tesla walau itu secara sembunyi-bunyi."


Tuan Hans menelan ludahnya kasar, karena hal seperti yang telah disebutkan oleh istrinya tadi bisa saja terjadi suatu hari nanti.


Nyonya Sherly memperhatikan suaminya yang terdiam seperti memikirkan sesuatu, lalu mengusap kedua bahunya.


"Sayang, daripada hal itu menjadi beban pikiranmu. Bagaimana kalau Drew sebaiknya kita nikahkan saja secepat mungkin," saran Nyonya Sherly mulai pada tujuannya.


"Kau benar, Drew harus segera menikah. Karena dengan begitu dia bisa terbebas dari Tesla," balas Tuan Hans setuju.


Nyonya Sherly tersenyum dan mengusap lembut rahang suaminya. "Kalau begitu, kita nikahkan Drew dengan Luna. Karena aku yakin, Luna sanggup menjaga Drew dari godaan gadis desa seperti Tesla," balasnya.


Tuan Hans kembali terdiam, sambil menatap dirinya pada pantulan cermin dihadapannya dan dengan satu kali tarikan nafas, pria itu menyetujui saran dari istrinya.


"Baiklah, kita akan menikahkan Drew dengan Luna."


Nyonya Sherly tersenyum puas, bahkan ia ingin melompat karena rasa senang akibat keinginannya itu terpenuhi. Akan tetapi ia harus tetap menjaga sikap didepan suaminya dan menyimpan kabar baik tersebut setelah suaminya berangkat ke kantor.


"Kau telah bertindak tepat suamiku, Luna gadis yang baik dan juga penurut. Aku yakin Luna sanggup menggantikan posisi Tesla dihati Drew," ucap Nyonya Sherly yakin.


Tuan Hans mengangguk. "Semoga saja begitu," ucapnya lalu bersiap untuk pergi.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2