
Keesokan harinya.
Mansion Tuan Hans.
Nyonya Sherly mempersiapkan segala keperluan pernikahan untuk putranya, wanita paruh baya itu berencana akan menggelar royal wedding, disalah satu hotel bintang lima ternama di pusat Ibukota.
Tidak tanggung-tanggung, souvenir yang akan ia sebar berupa emas batangan berkadar 24 karat dalam bentuk logam mulia senilai 10 gram untuk para tamu undangannya.
Hal tersebut membuat Tuan Hans nampak bangga, tidak disangka istrinya itu memiliki selera yang tinggi.
Uang dapat dicari dan ketenaran hanya bisa didapat dengan uang. Begitulah pemikiran Tuan Hans, yang bisa ia dapatkan dari Nyonya Sherly, istrinya.
Sifat berbanding terbalik dari istri sebelumnya, yang tidak suka berfoya-foya dan gaya hidup mewah, serta selalu mengedepankan keserhanaan.
"Sayang, sepertinya kau harus membujuk Drew agar mau pulang ke rumah dan mulai mengajarinya menjalankan bisnis perusahaan. Aku tidak ingin orang lain menganggap hubungan keluarga kita ini tidak harmonis," ucap Nyonya Sherly.
Tuan Hans mengangguk setuju. "Kau benar sayang, sudah waktunya bagi Drew untuk meninggalkan dunia otomotif dan meneruskan bisnisku.
Pria paruh baya itu menghentak jasnya dan menelepon sang supir bergaya nyentrik dari tahun 80-an itu, lalu pergi ke tempat dimana Drew sedang menjalankan bisnisnya sendiri.
...----------------...
PT Oto Motor.
Sam lari tergesa-gesa untuk memberi kabar kepada Drew bahwa tuan Hans sedang dalam perjalanan menuju perusahaannya.
"Gawat Drew, daddymu sedang dalam perjalanan kesini," ucap Sam terengah-engah.
"Mau apa dia kesini?" ucap Drew heran.
"Tidak tahu Drew," balas Sam menggeleng. Dirinya begitu cemas, karena terakhir kali tuan Hans datang ke perusahaan Oto Motor, pria paruh baya itu ingin menutup perusahaan Drew.
"Ya sudah, terima kasih infonya Sam. Kau bisa kembali bekerja," balas Drew. Lalu menatap Bagas dan menghampirinya.
"Daddy akan datang kesini, apa kau mau aku menyembunyikanmu?" ucap Drew dengan nada pelan.
"Untuk apa bersembunyi, jika takdir akan mempertemukanku dengannya. Maka walau aku disembunyikan serapat apapun pasti akan ketahuan juga," balas Bagas.
Drew menghela nafas panjang. "Terserah kau saja."
__ADS_1
Tak berselang lama kemudian, Tuan Hans telah berdiri di depan pintu utama perusahaan dan menatap remeh usaha putranya itu. Lalu mengedarkan pandangannya keseliling, sesekali menatap semua orang yang menunduk kepadanya.
Sam segera menyambut Tuan Hans dan berusaha seramah mungkin, agar pria itu senang. "Selamat siang Tuan besar," sambutnya.
Tuan Hans berdecih, dirinya langsung berubah kesal apabila melihat Sam. "Dia masih berada disini rupanya," batinnya sebal sekali.
Itu karena ia selalu teringat akan Twister, yang pernah kabur dari rumah dan kebetulan Sam-lah yang menampung Twister selama beberapa waktu dan menyembunyikan keberadaan putra sulungnya itu darinya.
Terlebih saat kecelakaan yang dialami oleh Twister akibat balap liar dengan anggota geng motor beberapa tahun yang lalu, diketahui bahwa Sam yang mendukung dan membantu Twister mempersiapkan balapan
"Tuan Hans sepertinya masih salah paham saja kepadaku," batin Sam tersenyum getir.
Segala upaya telah dilakukan oleh Sam, agar tuan Hans percaya kepadanya. Dimana kecelakaan Twister adalah diluar kendalinya, karena setahu Sam, Twister mengikuti balapan di arena balap sirkuit bukanlah dijalan besar perdesaan.
"Ada dimana Drew? Suruh dia menghadapku!" titah Tuan Hans enggan masuk ke dalam ruang kerja Drew, melainkan menunggu didalam ruang rapat.
"Baik Tuan, segera saya panggilkan." Sam berlari menghampiri Drew dan memanggilnya.
Namun Drew menolak. "Dia yang datang sendiri kesini, jadi dialah yang seharunya mendatangiku bukan aku yang mendatanginya!" ucap Drew tidak mau kalah.
Sam menghembus nafas kasar, berada diantara kedua orang angkuh membuat kepalanya pusing.
"Dasar tidak becus! Panggilkan Drew atau pabrik ini aku ledakan!" sarkasnya menunjukkan eksistensi.
"M-maaf Tuan, t-tapi---"
"Tidak ada kata tapi-tapi, segera pergi dan bilang seperti itu padanya!" sergah Tuan Hans memotong.
Sam mengangguk pasrah, kemudian menghadap Drew kembali dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh Tuan Hans kepadanya, sambil mengusap kepalanya yang benjol.
"Dasar tua bangka!" dengus Drew melempar bolpoinnya ke dinding dan terpental hingga mengenai kepala Sam.
Mau tidak mau Drew keluar dari ruangannya dan segera menghampiri ruang rapat dimana ayahnya kini tengah berada, sesekali mengumpat kasar dan sesumbar tidak karuan.
Hingga pada akhirnya dua pria berkepala batu itu saling bertemu dan berhadapan satu sama lain di sudut meja yang berlawanan.
"Mau apa?" tanya Drew singkat.
"Pulanglah!" balas Tuan Hans tidak kalah singkat.
__ADS_1
"Tidak mau," balas Drew menolak.
"Harus mau! Kau sebentar lagi akan menikah dan Daddy tidak ingin kau terus bekerja mengurusi perusahan menyebalkan ini!" ucap Tuan Hans.
"Aku mencintai pekerjaanku dan aku tidak akan berhenti menjalankan bisnis yang kau sebut menyebalkan ini!" balas Drew tegas.
Tuan Hans mengepal erat kedua tangannya. "Pulang! Atau kau---"
"Atau apa? Daddy akan meledakkan perusahaan yang sudah ku bangun dengan susah? Bisnis ini adalah impianku dengan kak Twister, jadi jangan coba-coba mengentikannya!" kecam Drew.
"Jangan panggil-panggil nama Twister disini, karena dia telah tiada. Jadi bagi Daddy, bisnismu ini tidak berarti apapun!" ucap Tuan Hans. Lalu ia berdiri dari tempat duduknya.
"Segeralah kemasi barang-barangmu dan Daddy tunggu kepulanganmu di rumah!" titahnya kemudian.
Drew mengertakkan giginya dan menatap tajam sang ayah. "Aku tidak akan pulang ke rumahmu! Setelah Twister tiada dan kau telah menceraikan mommy, bagiku itu bukanlah rumah melainkan bangunan kosong. Terlebih ada wanita ular disisimu, jadi aku tidak sudi seatap dengan wanita seperti itu!"
Tuan Hans terbelalak, "Lancang!" sergahnya tidak terima, seraya mengangkat lengannya tinggi dan mengayunkannya kearah wajah Drew.
Namun tamparan itu nyatanya tidak terwujud, karena sebuah uluran tangan bergerak cepat menahan serangan tersebut.
Drew perlahan membuka pejaman matanya dan menatap kedua orang pria yang sedang bertatapan satu sama lain.
Tuan Hans terpaku, melihat sesosok pria yang sedang mencekal pergelangan tangannya itu dan Bagaa perlahan mengendurkan cekalan tangannya.
"T-twister ..." lirihnya gemetaran hingga refleks terkulai lemas.
Pria paruh baya itu segera memindai seluruh penampilan Bagas dari atas hingga bawah, lalu begitu seterusnya. Dan ia merasa yakin pria yang berada dihadapannya tidak lain dan tidak bukan adalah Twister.
Tuan Hans kembali berdiri dan menangkup kedua bahu Bagas. "Twister! Kau Twister putraku!" serunya merasa yakin.
"Maaf tuan besar, namaku bukanlah Twister. Tapi Bagas," balas Bagas.
Tuan Hans menggeleng. "Tidak mungkin, aku yakin kau adalah Twister putraku!" ucapnya bersikeras.
"Dia Bagas bukanlah Twister!" sela Drew. Lalu berdiri disamping Bagas.
.
.
__ADS_1
Bersambung.