Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 101. Hubungan semakin dekat.


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Perusahaan Drew.


Tuan Hans telah menerima rincian biaya dari Drew, mengenai rencananya membangun beberapa bangunan diatas lahan desa.


Pria itu tersenyum puas, setelah mengetahui jika Drew akan mengelola tanah tersebut menjadi ladang uang yang sangat menggiurkan.


"Tidak sia-sia aku memberikan pinjaman pada Drew, jika ia pergunakan uang pinjaman ini sebagai modal usaha. Maka aku yakin Drew akan mampu mengembalikan hutang-hutangnya," ucap Tuan Hans senang.


"Benar Tuan Hans, selain Drew bisa melunasi hutang-hutangnya nanti. Perusahaan kita juga akan mendapatkan untung dari bunga yang dibebankan dari pinjaman Drew tiap bulannya," timpal Martino.


Tuan Hans mengangguk. "Iya, kau benar Martino. Lalu bagaimana dengan Twister? Dia ingin membangun apa dilahan yang dia beli?" tanyanya juga ingin tahu.


"Tuan Twister berencana ingin membangun rumah sakit untuk nona Mutia disana" balas Martino.


"Rumah sakit? Seluas itu?" tanya Tuan Hans merasa sangat menyayangkan.


"Benar Tuan, kabarnya tuan muda juga ingin membuat posyandu dan taman terbuka hijau serta fasilitas umum untuk warga desa," balas Martino.


Tuan Hans menghela nafas cukup panjang dan menyimpulkan jika putra sulungnya itu benar-benar menuruni sifat sosial dari istri pertamanya.


"Sungguh sangat disayangkan, walau lahan itu tidak terlalu luas, tapi Twister lebih memilih membuatnya sebagai tempat umum untuk orang lain, yang bisa diartikan kegiatannya itu tidak dapat memberikan keuntungan lebih. Tapi mau bagaimana lagi, itu adalah jalan yang telah diambil oleh Twister dan aku juga tidak dapat melarang ia mengambil keputusannya sendiri," ucap Tuan Hans.


"Anda benar sekali Tuan Hans, jika Drew memikirkan untung dalam berbisnis. Maka tuan Twister lebih memilih untuk berbagi," jawab Martino.


"Sifat Drew lebih mirip denganku, dia keras kepala. Tapi bicara mengenai bisnis, Drew lebih bisa menjalaninya dengan baik dan ia termasuk pria yang tekun. Maka dari itulah aku ingin sekali Drew yang meneruskan perusahaanku ini, karena Drew merupakan salah satu kriteriaku yang sesuai sebagai pemimpin hebat jika sudah matang nanti. Tapi sayangnya Drew menolak meneruskan bisnisku ini, karena tidak sesuai dengan keinginannya."


"Sedangkan Twister sendiri, dia bisa dikatakan lebih menurut daripada Drew dan dia juga bisa diandalkan dalam menjalankan bisnisku ini. Akan tetapi, dalam memimpin perusahaan, sifat ibunya tidak bisa dijadikan sebagai pemimpin. Karena dunia bisnis sangatlah kejam, siapa yang kuat maka dia yang akan menang dan bertahan," ucap Tuan Hans menyatakan pemikirannya.


"Menurut saya, tuan Twister memiliki potensi besar dalam berbisnis. Mungkin sifat sosialnya yang tinggi bisa menjadi hal baru dalam dunia perbisnisan. Dimana ia bisa bekerja sambil beramal," balas Martino menurut pertimbangannya.


Tuan Hans menghela nafas panjang, walau ia tidak menyukai sifat sosial terhadap sesamanya Twister yang begitu tinggi. Akan tetapi, Tuan Hans tidak ingin berdebat terlalu banyak mengenai sifat putra sulungnya itu.


"Semoga saja, lagipula mereka masih muda dan masih butuh banyak belajar dalam dunia perbisnisan. Aku hanya berharap kedua putraku itu bisa bertahan hidup dan menjadi kebanggaan keluarga Royce nantinya," harap Tuan Hans.


"Semoga saja Tuan," balas Martino.


"Hem, sudahlah berhenti membicarakan mereka. Bawa pekerjaan kita yang belum selesai ke mejaku dan juga panggilkan Twister," titah Tuan Hans sambil duduk dibangku kebesarannya.


"Baik Tuan!" patuh Martino.


Tak berapa kama kemudian Nyonya Sherly memasuki ruang kerja suaminya, ia datang dalam kondisi cemberut, lalu menyerahkan buku rekening diatas meja kerja.


"Ada apa ini? Kenapa kau bersikap tidak sopan seperti ini kepada suamimu!" tekan Tuan Hans tidak suka.


"Sayang, kau berjanji tidak akan memotong uang belanja pribadi bulananku. Tapi apa ini? Kau memotongnya hampir setengah dari yang biasa kau transfer tiap bulan padaku!" balas Nyonya Sherly kecewa.


Tuan Hans menghembus nafas kasar dan menatap Martino seakan memberi perintah agar keluar dari ruangannya segera.

__ADS_1


"Baik Tuan, saya undur diri dulu," pamit Martino.


Dan setelah Martino keluar dari ruangannya, Tuan Hans kembali menatap Nyonya Sherly. "Kenapa kau sebagai istri tidak pengertian hem?" tegurnya.


"Aku sangat pengertian padamu sayang, tapi masalah janji, aku tidak suka jika kau mengingkarinya," balas Nyonya Sherly berani.


"Tapi apa perlu kita membicarakannya disini? Ini adalah tempat kerjaku dan di perusahaan juga banyak sekali orang-orang. Jika berita memalukan seperti ini sampai terdengar ke telinga orang lain, kau bisa menjatuhkan harga diri suamimu!" tegas Tuan Hans.


"Aku tidak peduli! Apa kau tahu .. Gara-gara kau memotong uang belanja pribadiku, aku jadi tidak bisa datang ke pameran berlian hari ini. Dan teman-temanku mengolok-olokku karena mereka menganggap, kalau aku ini tidak sanggup membeli perhiasan yang telah aku janjikan akan ku beli pada saat berada di pameran kepada mereka. Bukankah itu sama saja kau menjatuhkan harga dirimu sendiri dan juga harga diri istrimu ini!" balas Nyonya Sherly mengambek.


Tuan Hans memicingkan kedua matanya dan menggebrak mejanya, hingga nyonya Sherly terperanjat.


"Dasar istri boros! Kerjamu hanya bisa menghambur-hamburkan uang saja dan uang yang aku berikan padamu tiap bulannya selalu saja kau gunakan untuk pamer kepada teman-teman sosialitamu! Harusnya kau malu dengan sikap burukmu itu!" gertak Tuan Hans muak.


"Apa salahnya aku menggunakan uang pemberian darimu sayang? Bukankah kau yang selalu mengijinkan aku memakainya? Sudah begitu, aku selalu saja menyelipkan namamu setiap kali aku membeli barang mewah agar namamu selalu paling diatas diantara suami teman-temanku yang lain!" bantah Nyonya Sherly.


"Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus segera mengirim kekurangannya saat ini juga dan berjanjilah kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi!" pinta Nyonya Sherly kemudian.


"Kau berani membentakku hanya karena uang tidak seberapa, baik aku akan mengirimkanmu uang. Tapi lihatlah apa yang bisa aku lakukan setelah ini!" kecam Tuan Hans.


Nyonya Sherly menatap suaminya dengan linangan air mata. "Sayang, aku tidak mengerti dengan dirimu. Kenapa kau berubah seperti ini padaku?" isaknya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Lalu berbalik pergi dari ruang kerja itu, sebelum Tuan Hans sempat membalas perkataannya.


"Sherly!" panggil Tuan Hans. Namun Nyonya Sherly telah menghilang dari pandangannya.


"Iya Tuan!" sahut Martino bergegas menghampiri.


"Transfer uang ke rekening istriku segera dan jangan beritahu mengenai masalah kedatangannya kali ini kepada orang lain!" titah Tuan Hans.


"Baik Tuan besar," patuh Martino lalu menjalankan perintah.


Sementara itu, Twister yang kebetulan dipanggil oleh sang ayah, tidak sengaja mendengar perbincangan ayahnya itu dengan sang ibu tiri. Ia begitu prihatin melihat kondisi ayahnya kini yang selalu dimanfaatkan oleh nyonya Sherly.


Tapi apa boleh buat, hal itu tidak terlepas dari kesalahan tuan Hans sendiri, dimana pria itu lebih memilih kerikil berlapis emas daripada berlian tertutup lumpur.


"Permainan perasaan dalam kata-kata selalu saja berhasil membuat orang kuat menjadi lemah," gumam Twister lalu menemui sang ayah.


...----------------...


Disisi lain.


Kegiatan pembangun di desa diatas lahan yang dibeli oleh perusahaan Drew sebelumnya, membuat hubungannya dengan Tesla kini berangsur membaik, bahkan bisa dibilang hubungan mereka semakin dekat saja.


Seperti saat sekarang ini, Drew tidak ragu mengantar bahkan menjemput Tesla sepulang kuliah.


"Drew, bagaimana pembangunan di desa. Apa sudah selesai?" tanya Tesla ingin tahu.


Drew mendengus. "Baru sebulan membangun, mana mungkin selesai secepat itu."

__ADS_1


Tesla membulatkan bibirnya. "Oh begitu, aku pikir sudah selesai."


"Kau pikir membangun bangunan diatas tanah seluas itu cuma sekedar menumpuk batu hingga tinggi hah! Semua harus diatur dengan penuh perhitungan!" balas Drew memberitahu.


"Ya kan aku hanya bertanya, tidak perlu sewot seperti itu." Tesla mencebik dan membuang mukanya.


Drew menatap Tesla yang memalingkan wajah dan terlihat kesal kepadanya. "Ya sudah aku minta maaf, memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Drew.


"Tidak ada, aku hanya mau tahu saja. Lagipula apa hubungannya denganku," balas Tesla.


Drew menepikan mobilnya di pinggir jalan dan mematikan mesin mobilnya.


"Kenapa berhenti? Tempat kost ku masih jauh dari sini," ucap Tesla.


"Sepertinya kau marah padaku, bagaimana kalau kita turun dulu. Kebetulan disana ada taman, kita bisa menghabiskan sore bersama," tunjuk Drew.


"Tidak mau," cebik Tesla.


Drew menghela nafasnya panjang. "Ya sudah kalau tidak mau turun, biar aku turun sendiri saja. Kebetulan aku haus dan mau minum es campur kecang merah di warung itu," ucapnya memancing dan turun dari mobilnya.


Tesla melipat kedua tangannya dan mendengus kesal, apalagi saat melihat Drew tengah menikmati es campur sambil meledek kearahnya.


"Ayo kesini lah!" ucap Drew melambaikan tangannya.


"Tidak mau, aku tidak suka es campur!" sahut Tesla berdusta.


"Ya sudah kalau begitu jatahmu buat aku saja!" balas Drew menghabiskan satu mangkus es campur yang ia beli untuk Tesla sebelumnya.


Tegukan demi tegukan es manis segar yang melewati kerongkongan Drew, membuat Tesla tak sengaja ikut menelan air liurnya.


Dan hal tersebut membut Drew tersenyum. "Sudah jangan malu-malu, kesinilah! Aku traktir!"


Tesla menghembus nafasnya perlahan dan mau tidak mau dia pun harus turun dari mobil, mengingat rasa haus yang mulai melanda dirinya.


"Baiklah," ucap Tesla pada akhirnya.


Drew tersenyum senang, lalu menggeser bokongnya agar Tesla bisa duduk. "Terima kasih," ucap Tesla setelah ia duduk.


"Sama-sama, sekarang kau mau minum apa? Belilah yang kau suka," ucap Drew.


Tesla merasa senang mendengarnya. "Baiklah, aku mau beli bakso dan minum es kelapa," ucapnya lalu memanggil pedagang sekitar mereka berada.


Mereka pun menikmati indahnya suasan di sore hari, sesekali tersenyum malu jika keduanya kedapatan saling mencuri pandang satu sama lain.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2