
Mansion Royce.
Nyonya Sherly tersenyum miring sambil menatapi cincin berlian yang tersemat pada jari manisnya. Sebuah cincin permata dengan nilai sangat fantastis, yang berhasil ia beli saat mengunjungi tempat pameran berlian siang tadi.
"Selain kedua putramu, aku juga memiliki hak atas kekayaanmu suamiku. Jadi mana bisa aku melepaskan kesempatan ini," gumamnya merasa puas karena telah berhasil menambah lagi barang-barang berharga untuk koleksi pribadinya.
"Aku ini istrimu sayang, sudah begitu kita belum punya anak. Jadi tidak ada salahnya kan kalau aku mengambil hak itu," sambungnya sambil tersenyum.
Walau usia perkawinannya kini telah menginjak delapan tahun, faktanya Nyonya Sherly masih belum memiliki keturunan setelah pernikahannya dengan Tuan Hans. Sehingga wanita paruh baya itu pun merasa takut ditinggalkan oleh sang suami.
Akan tetapi bukan hanya sebab itu saja yang nyonya Sherly takutkan, ia juga merasa takut jika suatu hari nanti dirinya tidak berkesempatan menikmati kekayaan dari suami sahnya, bahkan memiliki harta dari suaminya itu, karena ia tidak bisa memberikan pewaris untuk suaminya sendiri.
Maka dari itulah, selama dirinya masih menjadi istri sah dari tuan Hans, Nyonya Sherly selalu berusaha sebisa mungkin untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah atau harta-harta berharga lainnya. Agar ia bisa menikmati sendiri harta tersebut dan mencukupi kebutuhannya hingga hari tua kelak.
"Jika aku sudah tua nanti, siapa yang akan peduli kepadaku serta merawatku jika sakit? Kedua putramu tidak pernah menganggapku ada, bahkan mereka sebentar lagi akan memiliki keluarga. Lalu bagaimana denganku? Aku sendirian disini dan bagaimana kalau kelak kau tiada, sayangku? Aku takut kedua putramu itu akan mencampakkanku dan mengusirku dari rumah ini," gumamnya lagi.
Kecemasan Nyonya Sherly bukanlah tanpa alasan, selain ia takut kehilangan semua kenyamanan serta kemewahan dalam kehidupan ini setelah usia lanjut nanti.
Ia juga khawatir tidak kebagian harta warisan jika suaminya itu telah tiada, mengingat dirinya tidak memiliki satu orang anak pun.
Beberapa saat kemudian, nyonya Sherly berkumpul dengan semua orang di meja makan untuk menikmati hidangan makan malam bersama.
Melihat kehadiran ibu tirinya, Drew segera bangkit dari tempat duduknya.
"Bawakan saja makan malamku ke kamar," titah Drew kepada kepala pelayan dapurnya.
Twister meletakkan sendok garpunya dan bangkit dari tempat duduknya juga. "Aku sudah kenyang," balasnya menyudahi.
Nyonya Sherly terdiam menatap meja makan kosong lagi, sedangkan sang suami telah kembali ke ruang kerja sebelum ia datang ke meja makan.
"Heh!" dengusnya kesal karena keberadaan dirinya selalu tidak dianggap di rumah itu.
"Selalu saja seperti itu," keluhnya menggerutu lalu duduk dan melanjutkan makan malam seorang diri, tanpa seorang pun yang menemani.
Namun, karena hari-harinya sudah terbiasa menghadapi sikap acuh kedua putranya. Nyonya Sherly pun seperti sudah kebal dan seolah-olah menganggap hal tersebut tidaklah penting untuk masa depannya.
Karena yang terpenting baginya sekarang ini adalah, bagaimana cara ia bisa bertahan di rumah mewah itu, agar perlahan-lahan ia bisa mengeruk semua kekayaan suaminya itu sebelum tiada.
"Oh iya, besok sore ada acara arisan di rumah. Aku ingin kalian menyiapkan hidangan mewah untuk para tamuku dan aku tidak mau ada kesalahan sekecil apapun saat acara itu sedang berlangsung!" titah Nyonya Sherly kepada Bi Nonik.
"Baik Nyonya," patuh Bi Nonik lalu mencatat kegiatan tersebut dalam agenda hariannya.
...----------------...
__ADS_1
Keesokan harinya.
Rumah dokter Mutia.
Sudah lebih dari sebulan dokter Mutia membuka praktik di rumah kecil keluarganya, dokter cantik itu bekerja dari pagi hingga malam dan berjaga selama 24 jam jika ada pasien darurat dalam keadaan darurat.
Pak Tedy yang kebetulan melihat putrinya sedang senggang datang menghampiri, lalu duduk dihadapannya.
"Ada apa menemuiku Papa? Bukankah Papa ada jam mengajar di kampus?" tanya Mutia.
Pak Tedy tersenyum, sambil menatapi ruangan kecil putrinya. "Ya lima belas menit lagi Papa jalan," balasnya. "Ada yang ingin Papa sampaikan padamu," lanjutnya.
"Ada apa Papa?" tanya Mutia.
"Pernah kamu bilang sama Papa, Twister itu punya seorang adik perempuan yang bernama Tesla. Apa itu benar?" balas Pak Tedy bertanya.
Mutia mengangguk. "Benar, tapi bukan adik kandung. Tesla hanya adik angkat," balasnya.
"Apa dia Tesla yang sama dengan murid Papa di kampus ya?" ucap Pak Tedy.
"Aku kurang tahu Papa, tapi setahuku dia sedang berkuliah saat ini dan dia berasal dari desa Rawa Bebek," balas Mutia.
"Oh begitu, sepertinya memang dia." Pak Tedy berpikir dan membandingkan.
"Ada apa Papa? Kenapa tiba-tiba menanyai Tesla?" tanya Mutia penasaran.
"Oh begitu, tunggu sebentar. Sepertinya aku punya foto Tesla," balas Mutia merogoh ponselnya lalu membuka galeri. "Ini dia," tunjuknya.
Pak Tedy menatap Tesla dengan seksama dan tersenyum. "Wah ternyata benar dia, kalau begitu Papa bisa lebih dekat dengannya."
Mutia tersenyum. "Tentu saja Papa, aku juga senang ternyata Papa mengenal adiknya Twister."
Pak Tedy mengangguk, setidaknya melalui Tesla ia bisa bertanya tentang keluarganya Twister. Terlebih saat ia mengetahui jika Twister adalah putra sulung keluarga Royce, penerus perusahaan yang terkenal akan kekuasaannya di seluruh ibu kota.
Sudah begitu, keangkuhan serta kesombongan sang pemilik perusahaan tersebut, membuat ia khawatir dengan keadaan putrinya saat menikah kelak.
Apakah putrinya itu bisa diterima dengan baik, atau malah akan menjadi seorang pembantu di dalam rumah besarnya, mengingat status keluarganya sendiri yang hanyalah seorang tenaga pendidik biasa.
"Aku punya putri satu-satunya, saat tahu ia akan tinggal di keluarga seperti itu. Apakah Mutia akan bahagia?" batin Pak Tedy ragu dan cemas.
Terlebih saat tahu ada nyonya lain di dalam keluarga kaya itu, menambah kecemasan dalam diri Pak Tedy sendiri. Karena ia pernah mendengar sifat buruk dari nyonya rumah, yang anti dengan orang-orang miskin dan rakyat biasa.
Untuk itu, selain akan bertanya kepada calon menantunya nanti. Pak Tedy juga akan bertanya kepada Tesla, bagaimana keluarga Royce memperlakukannya yang hanya seorang gadis desa.
__ADS_1
Apalagi ketika dirinya mendengar desas desus kericuhan di desa, akibat keluarga Tesla berani berbuat macam-macam dengan keluarga Royce.
"Papa, kenapa melamun? Papa sedang memikirkan apa?" tanya Mutia membuyarkan seluruh lamunan ayahnya.
Pak Tedy menggeleng. "Tidak ada, Papa hanya sedang memikirkan pelajaran di kampus nanti, balasnya. "Oh iya Papa harus pergi bekerja sekarang," sambungnya lalu beranjak pergi.
Mutia tersenyum. "Baiklah, hati-hati dijalan."
...----------------...
Kampus.
Setelah jam pelajaran usai dan ada waktu senggang, Pak Tedy berjalan mendekati Tesla. Karena ia ingin sekali menanyakan sesuatu lebih banyak mengenai keluarga Twister.
"Tesla," sapa Pak Tedy.
Tesla menoleh dan tersenyum. "Iya Pak dosen!" balasnya sambil berdiri.
"Duduklah, apa Bapak menganggu waktu luangmu?" tanya Pak Tedy.
"Tidak Pak, aku tidak merasa terganggu," balas Tesla menggeleng.
"Kalau begitu, apa kita bisa berbincang sebentar?" tanya Pak Tedy lagi.
"Tentu saja bisa," balas Tesla senang.
Pak Tedy tersenyum senang mendengarnya. "Tesla, Bapak dengar kamu punya seorang kakak angkat dan dia bernama Twister."
"Ya Bapak benar! Tapi Bapak tahu darimana semua itu?" tanya Tesla sedikit bingung.
"Itu karena Twister akan menjadi menantu Bapak," balas Pak Tedy.
Telsa membulatkan kedua matanya dengan mulut menganga lebar. "B-benarkah? Jadi Pak Tedy bear ini ... Eh maaf! Maksudku, Pak Tedy ini adalah Papanya dokter Mutia?" ucapnya tidak percaya. Karena dari penampilan yang dinilai tidak mirip.
"Benar, dokter Mutia adalah putri Bapak," balas Pak Tedy.
Tesla mengangguk. "Pantas saja, nama belakang Bapak dengan dokter Mutia sama," balasnya. "Lalu apa yang ingin Bapak bicarakan?" tanyanya kemudian.
"Sebentar lagi Mutua dan Twister akan menikah, Bapak hanya ingin mengenal lebih dekat dengan keluarganya saja. Apa kamu bisa memberi tahu Bapak bagaimana keluarga dia itu?" tanya Pak Tedy.
Tesla memberitahu mengenai keluarga Royce kepada Pak Tedy, mengenai orang tuanya, nyonya Bianca, Drew dan juga lain sebagainya yang ia tahu. Dan tidak kelupaan nyonya Sherly.
.
__ADS_1
.
Bersambung.