Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 85. Sebuah keputusan.


__ADS_3

"Apa maksudmu? Kau menilai buruk tentang diriku hanya karena aku menggoda adikmu yang masih bau kencur itu hah! Dan kau berusaha memisahkan aku dengan Mutia karena alasan tidak masuk akal itu?"


"Aku benar-benar tidak mengerti, terutama kepadamu Mutia. Kita sudah jalan bersama cukup lama dan kita baik-baik saja sampai pria ini muncul diantara kita. Sudah begitu, apa yang kau lihat dari pria ini? Apa karena dia lebih tampan daripada aku?"


"Dia begitu hebat karena dalam beberapa hari saja, dia mampu membuatmu berubah pikiran. Entah apa yang sudah ia katakan sampai otakmu tercuci seperti itu," ucap Frans.


Mutia mengepal erat tangannya dan merasa kesal dengan Frans yang selalu saja menuduh seseorang untuk menutupi semua keburukkannya, hingga ia pun telah habis kesabaran dalam menghadapi Frans.


Terlebih ketika melihat Twister yang selalu saja di tuduhkan dengan hal-hal yang tidak benar.


"Aku telah mengenal Twister jauh sebelum aku mengenalmu, dia tidak pernah mendesakku atau mengancamku untuk mengatakan semua kebenaran tentang dirimu. Dia hanya berusaha membuatku sadar demi kebahagiaanku sendiri dan beruntungnya pikiranku telah terbuka sebelum aku terlambat."


"Jadi maaf Frans, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini dan aku tidak ingin menikah dengan pria seperti dirimu," tutur Mutia mencurahkan isi hatinya kepada semua orang.


"Mutia, kau bicara apa? Pikirkan baik-baik sekali lagi keputusanmu itu!" tekan Ibu Lily tidak menerima.


"Tidak Mah, Mutia sudah dewasa dan Mutia tahu apa yang terbaik untuk Mutia sendiri. Jadi Ma, tolong biarkan Mutia yang memilih dan Mutia janji tidak akan mengecewakan Mama dan Papa," balas Mutia mengambil keputusan.


Pak Tedy dan Ibu Lily hanya bisa mendesaah pasrah. "Baiklah kalau memang jalan yang kau pilih bisa membuatmu bahagia, maka jalankanlah," ucap Pak Tedy memberi dukungan.


Mutia tersenyum senang dan memeluk ayahnya. "Terima kasih Papa," balasnya merasa lega.


Twister tersenyum senang mendengarnya, akan tetapi Frans nampak geram mendengar semua itu.


"Dasar keluarga payah! Tidak berguna! Kalian semua seperti kacang lupa akan kulitnya! Oke, aku akan mengingat hal ini seumur hidupku dan aku bersumpah akan membuat kalian semua menanggung akibatnya, terutama kau Mutia!" kecam Frans emosi dan menunjuk Mutia dengan wajah murkanya.


"Tidak perlu berteriak di rumahku dan tidak perlu juga mengancam keluargaku! Aku yang telah mengambil keputusan ini sendiri, jadi akulah yang akan menanggung semua akibatnya. Bukan mereka!" balas Mutia penuh penekanan.


Entah keberanian dari mana, akan tetapi tatapan hangat Twister mampu membuatnya merasa aman.


Frans berdecih dan meludah dihadapan mereka semua. "Wanita tidak tahu diri, aku pastikan kau akan kehilangan pekerjaanmu detik ini juga!" kecamnya.


"Pecat saja aku, aku siap!" balas Mutia tidak masalah. Dia sudah tahu akan terjadi seperti ini, tapi itu lebih baik daripada harus terus menerus terikat bersama dengan pria mesum.


"Baik, besok jangan injakkan lagi kakimu di rumah sakitku!" sergah Frans sebelum meninggalkan kediaman pak Tedy.


Ibu Lily menghela nafas panjang dan terduduk lemas setelah Frans pergi dan tidak berhasil membujuknya untuk menarik ucapannya itu.


Kini impiannya sirna sudah, karena putri semata wayangnya tidak akan menjadi seorang dokter lagi.

__ADS_1


Ia pun menatap tajam Twister dan memarahinya. "Sudah puas kamu menghancurkan karier putriku hah! Kau bukan hanya telah berhasil menghancurkan kariernya, kau juga telah menghancurkan masa depan dan juga kebanggaan keluarga Permadi!" isaknya terasa sesak.


Twister berjongkok untuk bisa menatap Ibu Lily. "Maaf kalau saya membuat anda sekeluarga bersedih, tapi percayalah Tante, saya akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi kepada Mutia. Saya akan membuatnya bekerja kembali menjadi dokter ternama dan mengharumkan nama besar keluarga Permadi."


"Apa yang bisa kau lakukan? Kau hanya pria biasa, mana mungkin bisa membuat putriku mendapat pekerjaan yang baik. Kau pasti sedang berbual, menggunakan kata-kata manis begitu agar kami semua percaya denganmu!" ucap Ibu Lily tidak percaya.


"Tante, anakmu seorang dokter dan gelarnya tidak akan pernah terhapus walau ia telah berhenti bekerja. Minimal percayalah kepada putrimu sendiri dan saya akan selalu berada disisinya, terus mendukung serta membantu Mutia agar sukses kembali. Dan itulah janji Twister kepada Mutiara Permadi beserta keluarganya," balas Twister sungguh-sungguh.


Mutia dan juga kedua orang tuanya merasa tersenyuh mendengar penuturan Twister. Hingga pada akhirnya mereka pun tidak bisa melarangnya lagi.


"Baiklah, sekarang saya ingin bertanya kepadamu sekali lagi. Apa kamu tulus mencintai putriku, Mutia?" tanya Pak Tedy mempertegas kembali.


"Saya tulus mencintai Mutia," balas Twister serius.


"Baiklah, kalau begitu kau harus buktikan kepada kami mengenai janjimu itu dan bukanlah hanya sekedar ucapan belaka!" tegas pak Tedy.


"Saya berjanji, saya akan membuktikannya. Demi Mutiara," balas Twister tersenyum lembut menatap wanita pujaan hatinya.


Sedangkan Mutia membalas senyuman itu dan menangis haru, hatinya merasa senang sekali mendengar ketulusan cinta dari Twister untuknya.


...----------------...


"Sayang, ini tehmu." Nyonya Sherly mengetuk pintu ruangan kerja tuan Hans sambil membawa secangkir teh herbal.


"Hem masuklah," sahut Tuan Hans tanpa menatap istrinya.


"Sayang, ini sudah malam. Kenapa tidak berhenti bekerja dan tidurlah," ucap Nyonya Sherly perhatian.


Tuan Hans menghela nafas panjangnya. "Mana mungkin aku beristirahat disaat pekerjaanku menumpuk, sudah begitu tidak ada yang bisa membantuku memegang pekerjaan ini," balasnya mau bagaimana lagi.


Mengingat kedua putranya tidak mau meneruskan bisnis perusahaan keluarganya, dan dia hanya bisa mengandalkan Martino si bujang lapuk, yang sekarang ini sama sibuk seperti dirinya.


Seketika Tuan Hans mengingat nyonya Bianca, mantan istrinya itu selalu membantunya mengerjakan laporan keuangan atau membantu mengarsip dokumen agar tidak keteteran bekerja.


"Sherly, apa kau bisa membantuku membereskan beberapa dokumen ini dan menyusunnya didalam kabinet sesuai abjad?" tanya Tuan Hans meminta bantuan.


Nyonya Sherly mengaruk lehernya yang tidak gatal sambil menatapi semua pekerjaan menumpuk diatas meja hingga berserakan di lantai.


"Sayang, maaf tapi aku tidak mengerti pekerjaan kantor. Daripada salah menyusun semua ini lebih baik aku membantumu yang lain ya, apa kau pegal? Mau aku pijat?" balas Nyonya Sherly berusaha menyenangkan.

__ADS_1


Namun Tuan Hans menatapnya datar. "Tidak perlu, pergilah tidur duluan!" ucapnya malas.


Nyonya Sherly tersenyum getir dan berbalik untuk pergi, hatinya selalu saja diliputi oleh rasa cemas, karena akhir-akhir ini suaminya selalu lembur dan tidur di ruang kerjanya sendiri.


Sudah begitu, semenjak gagalnya pernikahan Drew serta masuknya Twister ke rumah sakit. Sang suami selalu menunjukkan sikap dingin kepadanya.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangannya terketuk dari luar dan Tuan Hans menatap jam diatas meja kerjanya.


"Siapa yang datang malam-malam begini?" batinnya bertanya.


"Daddy," panggil Twister.


Tuan Hans terdiam sejenak dari aktifitasnya. "Twister? Tidak mungkin dia ke ruanganku malam-malam begini, lagi pula untuk apa dia kesini? Twister maupun Drew sudah tidak mau mengunjungiku walau kita tinggal dibawah satu atap yang sama," batinnya menggeleng.


"Aku pasti kelelahan bekerja, makanya berhalusinasi," tepisnya menduga seperti itu.


"Daddy, kenapa kau tidak menjawab panggilanku?" panggil Twister akhirnya membuka pintu ruangan kerja Tuan Hans.


Tuan Hans menatap pintu kerjanya dan ia tidak menyangka jika putra sulungnya itu datang kehadapannya.


"Ada apa kesini? Daddy sedang sibuk?" ucap Tuan Hans pura-pura tidak peduli, padahal jauh dari dalam lubuk hati. Pria itu merasa senang sekali.


Twister duduk dihadapan ayahnya. "Daddy, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu."


"Apa katakan saja," balas Tuan Hans acuh, namun penasaran.


"Aku ingin bekerja di perusahaanmu dan aku ingin kau mengajariku agar bisa meneruskan perusahaan keluarga kita," ucap Twister sungguh-sungguh.


Tuan Hans melebarkan kelopak matanya dan berganti manatap Twister dengan tatapan tidak percayanya.


"B-benarkah itu?" tanya Tuan Hans.


Twister mengangguk. "Benar, sudah seharusnya aku membantumu dan aku ingin kita bersama-sama menjalankan bisnis keluarga. Jadi tolong ajari aku," balasnya yakin.


Tuan Hans tersenyum senang, sambil mengerjapkan kelopak matanya seperti menahan tangis. "Baik! Daddy akan mengajarimu hingga kau menjadi seorang pemimpin yang dapat diandalkan!" ucapnya semangat.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2