Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 83. Tatapan tajam.


__ADS_3

Sementara itu Frans berkacak pinggang sambil menunjukkan raut wajah kesal, ketika salah satu asisten dokter Mutia mengadu tentang kejadian tadi pagi, dimana pasien pria yang bernama Twister, berencana akan mengunjungi rumah calon istrinya pada malam hari ini.


"Mau apa dia ke rumah dokter Mutia?" tanya Frans terlihat tengah mengeratkan kedua rahangnya.


"Tidak tahu Pak Direktur, dia bilang ingin ke rumah dokter Mutia jam 8 malam ini," balas si asisten dokter.


Frans menatap kasar jam dinding kantornya, yang telah menunjukkan pukul 20.10 WIB dan itu berarti Twister sedang berada di rumah calon istrinya sekarang ini.


Pria itu pun melempar apapun benda disekitarnya karena murka dan gusar, ia merasa seakan-akan dirinya telah dikhianati oleh sang calon istrinya sendiri. Yang bukan hanya telah berani menerima tamu seorang pria ke rumah tanpa seijin dirinya terlebih dahulu, akan tetapi Mutia juga tidak memberitahukan hal ini kepada dirinya.


"Kenapa kau tidak bilang kepadaku sejak dari tadi hah!" geram Frans memaki asisten dokter Mutia yang sengaja untuk memata-matai pergerakan Mutia, apalagi saat menangani pasien pria agar tidak berani berkhianat.


"M-maaf Pak Direktur, saya baru ingat setelah dokter Mutia berkata ingin pulang cepat hari ini," balas asisten dokter itu.


"Breng-sekk! Dasar tidak berguna! Sudah sana pergi!" sergah Frans mengusir asisten dokter wanita itu dan berdecak kesal. "Mau apa si Twister itu datang ke rumah Mutia? Apa dia ingin merebut Mutia dariku? Argh!!" geramnya.


Dengan langkah terburu-buru, pria berkaki jenjang serta berperawakan kurus itu pun segera mengambil mobilnya, dan bermaksud untuk mendatangi rumah Mutia.


Agar ia bisa tahu, demi menjawab rasa penasarannya akan kedatangan Twister ke rumah calon istrinya itu.


...----------------...


Rumah Dokter Mutia.


Sedangkan disisi lain, Twister masuk ke dalam rumah dan duduk setelah sang pemilik rumah mengijinkannya untuk duduk.


"Sebutkan apa maksud dan tujuan dari kedatanganmu ke rumah saya ini dan untuk apa kau ingin bertemu dengan Mutia malam-malam begini?" tanya Pak Tedy sudah seperti sidang skripsi saja.


"Sebenarnya kedatangan saya kesini bukan untuk bertemu dengan Mutia saja, tapi saya juga ingin bertemu dengan Om dan Tante," jawab Twister.


"Apa maksudmu Twister?" tanya Mutia menyela sambil menyuguhkan air dan menaruhnya diatas meja.


"Kalau bisa saya ingin ada tante juga disini," ucap Twister sebelum menjawab maksud serta tujuan kedatangannya. Dan hal tersebut membuat Mutia semakin berdebar kencang.

__ADS_1


"Mutia, panggil Mamamu kesini. Bilang kita sedang kedatangan tamu tidak diundang," ucap Pak Tedy meminta.


"Baik Pah," patuh Mutia lalu pergi ke kamar mencari sang ibu.


Tak berselang lama kemudian, Ibu Lily pun datang ke ruang tamu setelah diajak oleh Mutia. Ia menatapi Twister yang sedang menunggu kedatangannya, lalu duduk disebelah suaminya, dengan raut penasaran.


"Ada apa ini? Kenapa meminta kita berkumpul disini? Dan siapa pria ini Mutia?" tanya Ibu Lily tidak mengerti.


Mutia pun gelagapan, ia benar-benar bingung harus berkata jujur atau tidak. "D-dia ... Dia ..." tergagapnya.


Twister tersenyum dan menyapa ibu Lily dengan hormat. "Malam Tante. Maaf kalau kedatangan saya ini membuat anda berdua bingung dan terkesan mendadak, tapi jujur ada yang ingin saya sampaikan kepada anda berdua."


"Apa itu?" tanya Pak Tedy dan Ibu Lily bersamaan.


"Kedatangan saya kesini adalah bermaksud untuk melamar putri anda, Mutia," balas Twister tulus.


Mutia dan kedua orang tuanya sontak membelalakkan kedua mata mereka bersamaan, tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba saja mereka mendengar hal mengejutkan yang tidak terduga dari orang asing, yang bahkan satu hari pun mereka belum mengenalnya dengan baik.


"Saya salut dengan keberanianmu karena telah datang kemari dan mengajukan lamaran secara langsung untuk putri saya. Tapi masalahnya Nak Twister, dalam hal mengajukan lamaran, kami tentu saja tidak bisa menerima lamaranmu begitu saja tanpa pertimbangan terlebih dahulu."


Mutia tertunduk lesu dan raut wajah itu tertangkap jelas oleh kedua mata Twister. "Om, mungkin putrimu telah memiliki calon suami, tapi aku tulus meminang putrimu. Setidaknya, tanyakanlah terlebih dahulu kepada Mutia. Apakah dia bahagia dengan pria pilihan keluarga anda?" tanya Twister.


"Bicara apa kamu? Tentu saja Mutia bahagia apabila bersanding dengan Frans! Calon suaminya itu adalah orang terpandang, memiliki karier cemerlang dan ia juga pemilik rumah sakit besar di kota. Tentu sudah pasti Frans bisa membahagiakan Mutia setelah menikah nanti," ucap Ibu Lily menyela.


"Sedangkan kamu siapa? Tiba-tiba datang mengajukan lamaran untuk Mutia, padahal kami saja belum mengenalmu secara jelas," ucap Ibu Lily kemudian.


"Tante, saya memang pria biasa. Saya bekerja di perusahaan perakitan motor dan saya juga pernah tinggal di desa mengurus bebek sekaligus bekerja di bengkel milik mama angkat saya. Dan satu lagi, saya juga mantan pembalap motor," balas Twister jujur dan apa adanya tanpa ada kebanggaan sendiri.


Pak Tedy dan Ibu Lily menghela nafas panjang bersamaan, lalu menatap Mutia heran karena tidak habis pikir dengan pria yang berkunjung ke rumah untuk melamar putrinya itu.


"Kau bekerja menjadi bawahan seseorang tanpa kedudukan tinggi, lalu kau bekerja jadi pengurus bebek dan juga mantan pembalap?" ucap Ibu Lily menatap rendah.


Twister mengangguk. "Benar," balasnya tanpa malu.

__ADS_1


Ibu Lily menghela nafas panjang sekali lagi, memang ia akui jika Twister jauh lebih tampan daripada Frans. Namun setelah mendengar pekerjaan serta identitas dari pria itu, membuat Ibu Lily merasa Mutia hanya sedang gatal mata saja.


"Mutia, kau dengar penuturan pria itu tadi? Dia hanya orang biasa dan lebih baik kau tetap pilih Frans saja," bisik Ibu Lily penuh penekanan. Karena ia tidak ingin putrinya menikah dengan pria tidak mapan walau punya penghasilan tetap dan berwajah bak supermodel.


Mutia hanya bisa menyimak saja perbincangan di depan matanya itu, padahal dia sendiri tidak tahu kalau kedatangan Twister ke rumahnya ternyata adalah untuk melamarnya.


Alhasil gadis muda itu pun merasa serba salah dan tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana menjelaskannya kepada keluarga maupun kepada Twister.


Bersamaan dengan hal tersebut, seorang pria baru saja menapakkan kedua kakinya di depan pintu masuk, dan segera mendekati ruang tamu dimana semua orang tengah berkumpul bersama.


Pria itu berdecak kesal, karena dugaannya mengenai keberadaan Twister yang kini telah berada di dalam rumah Mutia adalah benar adanya.


Frans menarik kerah Twister agar bangun dan menatap tajam pria bertubuh atletis dihadapannya. "Breng-sek!! Beraninya kau datang dan merebut calon istriku!" sarkasnya sambil melayangkan satu kepalan tangan kearah wajah Twister.


Namun dengan mudah Twister menahan kepalan tangan itu dengan satu tangannya. "Ada apa denganmu? Kenapa main kasar di rumah orang?" ucap tajam Twister.


Terdengar dingin, namun mematikan.


Seisi rumah Mutia sontak terkejut bukan main saat melihat sikap arogan Frans yang ingin meninju Twister, namun beruntung tidak berujung pada perkelahian didalam rumah mereka itu.


"Frans!" tegur Pak Tedy dengan tegas.


"Om, apapun yang dikatakan pria ini lebih baik jangan Om dengarkan. Dia pasti sedang berusaha menghasut pikiran semua orang dengan menjelek-jelekkanku di depan kalian berdua, agar ia bisa merebut Mutia dariku!" tukas Frans emosi.


"Frans! Tenangkan dirimu! Twister bahkan belum menyebut namamu satu kali pun disini!" tegas Pak Tedy.


Frans mengendurkan cengkraman tangannya dan mendengus kesal menatap Twister. "Mungkin dia belum menyampaikan fitnah tentang diriku kepada kalian, tapu aku minta pada Om dan Tante janganlah percaya dengan apa yang diucapkan oleh pria ini!" tukasnya.


Twister menatap Frans dan mengunci kedua bola matanya. "Fitnah mengenai apa? Aku tidak pernah menfitnah siapapun termasuk dirimu, karena itu bukan bagian dari prinsip hidupku. Tapi mengenai kata fitnah, aku lebih menyukai kata kejujuran. Jadi Frans, lebih baik kau jujur pada semua orang. Apa kau tulus menikahi Mutia atau tidak?"


Frans meneguk ludahnya susah payah dan kedua bola matanya bergetar, seiring dengan tatapan tajam yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2