Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 59. Duo kanebo kering.


__ADS_3

"Bagus deh kalau dia sudah pergi dari sini," gerutu Tesla sambil membawa piring-piring kotor bekas sarapan pagi ke dalam dapur dan membersihkan semuanya.


"Dia itu sama sekali tidak bisa menghargai usaha orang lain dan bodohnya aku masih saja peduli kepadanya," oceh Tesla menyalahkan diri sendiri.


Lalu disaat setelah selesai membersihkan piring dan menyusun rapi di dalam rak susun, tatapan Tesla tertuju kepada satu piring kosong diatas meja makan.


"Siapa yang makan disini?" tanyanya dalam hati.


Merasa tidak betah karena ada piring yang kotor walau hanya satu, wanita itu pun segera membawanya untuk dibersihkan.


"Apa ini?" ucap Tesla setelah melihat ada catatan kecil dibawah piring kotor yang ternyata itu adalah pesan dari Drew.


Aku tidak bisa berkata macam-macam padamu, tapi aku harus jujur dan mengakui sesuatu, yaitu rasa dari nasi goreng buatanmu ini sangatlah enak. Sudah begitu porsi nasinya juga banyak, dan aku yakin jumlah nasinya bisa membuatku kenyang sampai ke kota tujuan.


Terima kasih atas sarapan paginya, maaf kalau kata-kataku tadi telah membuatmu kesal dan marah.


Untuk Tesla dari Drew.


Tesla menarik senyum tipis, entah mengapa hatinya terasa senang saat mendapat pesan permintaan maaf serta pujian tersebut. Sampai-sampai rasa kesal didalam hatinya perlahan memudar begitu saja.


"Dasar bodoh!" umpat Tesla pada akhirnya.


...----------------...


Disisi lain.


"Kenapa Drew?" tanya Twister kepada Drew yang terdiam melamun seperti memikirkan sesuatu.


Drew menghela nafas panjang. "Twister, apa menurutmu aku ini pria tidak baik?"


"Kau berhati baik Drew, tapi sayang kebaikan hatimu tertutup oleh sifat sombong dan juga angkuhmu," balas Twister apa adanya.


"Tapi, aku merasa biasa saja. Darimana kau bisa menilaiku seperti itu?" tanya Drew.


"Itu kan hanya menurutku saja, jika kau ingin tahu cobalah tanya pada hatimu sendiri," balas Twister.


"Bagaimana caranya aku bertanya pada hatiku sendiri? Selama ini aku hanya hidup seperti biasa, menjalani kehidupan normal dengan sikap sebagaimana mestinya. Tapi aku tidak mengerti kenapa semua orang memandang buruk kepadaku," keluh Drew.

__ADS_1


"Cobalah terus, kau hanya belum menyelami hatimu hingga ke yang paling dalam Drew," balas Twister.


"Menyelami? Apa hatiku seluas lautan sampai harus menyelam?" tanya Drew bingung.


"Dalamnya samudera bisa diukur oleh manusia dengan menggunakan teknologi canggih, tapi dalamnya hati manusia tidak ada yang tahu, bahkan bisa lebih dalam dari pada luasnya samudera."


"Jadi Drew, hanya manusia itu sendiri-lah yang dapat melihat isi hatinya direlung hati yang paling dalam," tutur Twister mencoba mencerahi pikiran dan hati Drew.


Drew kembali menatap ruas jalan sambil memaknai setiap ucapan Twister, namun bukan Drew jika pikirannya tercerahkan begitu saja, apalagi dengan kata-kata yang sulit untuk dimengerti.


"Kau bilang hanya manusia itu sendiri yang bisa melihat isi hati di relung hati paling dalam, tapi kau barusan bilang aku ini sombong dan angkuh. Tahu darimana berkata seperti itu dan apa buktinya aku bersikap demikian?" tanya Drew.


"Ya itu karena kau selalu menunjukkan sifat-sifat burukmu daripada sifat baikmu, jadi aku bisa menilaimu seperti itu," balas Twister.


"Aku tetap tidak mengerti," ucap Drew malas berpikir.


Twister mendengus kesal, lalu memukul kepala Drew. "Dasar anak bodoh! Begini saja, apa kau menyukai sifat daddy?" tanyanya ingin memberi contoh.


Drew menggeleng. "Tentu saja aku tidak menyukai sifat daddy, pria itu sombong, keras kepala dan seperti kanebo kering!" balas Drew apa adanya.


"Menurutmu Daddy seperti itu?" tanya Twister dan Drew mengangguk.


"Sama seperti kau menilai Daddy, maka aku dan orang lain menilaimu demikian. Kau tidak menyukai sifat daddy karena penilaianmu itu, begitu pula dengan orang lain menilaimu yang memiliki sifat sama seperti daddy!" tegas Drew menjelaskan.


"B-begitu kah? Semenyebalkan itukah diriku?" tanya Drew tercengang, jika sifat pada dirinya disamakan dengan sifat sang ayah.


Twister mengangguk. "Ya begitulah, bisa dibilang kalian berdua itu Duo Kanebo Kering!" balasnya sambil mengemudi dan terkekeh riang.


"Apa itu berarti kau menganggapku sama seperti kanebo kering?" tunjuk Drew pada diri sendiri.


"Ya begitulah," balas Twister dan Drew langsung mendengus kesal.


"Tapi Drew, aku yakin akan satu hal tentang dirimu."


"Apa itu Twister?" tanya Drew penasaran, apa yang bagus dalam dirinya selain tampan dan kaya.


"Kau baik dan berhati lembut, aku hanya berharap kau mengeluarkan sisi positifmu itu secepatnya dan membuang jauh-jauh sisi negatifmu," harap Twister.

__ADS_1


"Aku seperti itu? Bukankah baik dan berhati lembut itu membuat kita cengeng dan mirip seperti wanita? Bukankah sikap seperti itu membuat kita dipandang lemah oleh orang lain?" ucap Drew.


"Tidak Drew, kau akan dianggap sebagai wanita oleh pria pecundang. Tapi kau akan dianggap pria sejati oleh orang-orang yang mencintai dan juga menyayangimu," balas Twister.


Drew seketika terdiam kembali, pikirannya masih berkecamuk dengan hati kecilnya. "Apakah begitu? Apa aku bisa?" batinnya.


...----------------...


Mansion Royce.


Tuan Hans telah berdiri tegap sambil berkacak pinggang saat melihat kedua putranya turun dari mobil, tatapannya begitu tajam, tidak ada senyum diwajahnya, tidak ada sapa hangat dan hanya ada kerutan diwajah yang bertambah.


"Bagus kalau kalian sudah pulang. Cepatlah mandi! Aku tidak mau rumahku bau seperti kandang bebek!" tegas pria paruh baya itu.


Drew dengan polosnya mencium pakaian yang sedang ia dan Twister kenakan. "Kami berdua tidak bau bebek sama sekali," bantahnya.


"Maaf daddy, kami pulang sedikit terlambat. Apa kau mengijinkan kami masuk atau ingin membiarkan kami pergi dan tinggal di apartemen lagi?" tanya Twister sopan santun.


Tuan Hans seketika menurunkan kedua lengannya dan menyungkir dari muka pintu agar kedua putranya bisa masuk.


"Masuk saja, setelah itu cepat makan siang dan istirahat. Daddy harus ke kantor," ucap Tuan Hans lalu masuk ke dalam mobil.


Drew menatap mobil sang ayah hingga menghilang dikejauhan, lalu berganti menatap Twister. "Kau hebat sekali Twister! Bagaimana caramu menundukkan si kanebo kering itu?"


"Daddy punya sifat keras kepala, tapi hatinya selembut tahu sutera. Jika aku mengikuti sifat keras kepalanya, maka setiap masalah tidak akan pernag habis," balas Twister lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


"Begitu ya," ucap Drew masih berdiri.


"Drew, bagaimana kalau kita makan siang saja di restoran Manyu!" ucap Twister setengah berteriak dan tidak jadi masuk ke dalam rumah, karena melihat sang ibu tiri sedang ada di dalam.


"Aku setuju dengan idemu Twister, ayo kita pergi!" seru Drew senang.


Lalu mereka berdua segera pergi dari rumah dan meninggalkan nyonya Sherly yang tengah menatap kesal kepada keduanya.


"Mereka berdua sama sekali tidak memandangku!" sergah Nyonya Sherly kesal.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2