Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 31. Lamaran pernikahan.


__ADS_3

Malam harinya.


Hotel bintang lima.


Drew segera datang ke hotel, dimana keluarganya sedang menunggu kedatangannya yang sudah terlambat selama beberapa menit.


"Darimana saja kamu Drew? Apa kamu sudah lupa kalau hari ini kita mengundang keluarga tuan Bams hah!" tanya Tuan Hans mencecar putranya yang baru saja tiba di restoran.


"Walau terlambat setidaknya aku sudah datang memenuhi permintaan Daddy bukan? Jadi lebih baik Daddy tidak perlu memarahiku seperti itu. Sudah bagus aku mau datang ke acara tidak penting ini!" balas Drew menggerutu.


"Anak tidak tahu diuntung, sudah bagus orang tuamu ini masih peduli dengan masa depanmu. Jika tidak, mau jadi apa kamu kedepannya hah!" balas Tuan Hans begitu geram, sambil menunjuk wajah Drew.


"Sudah sayang jaga tekanan darahmu," sela nyonya Sherly sambil mengusap dada suaminya.


"Setiap hari ia hanya bisa membuatku kesal, jika bukan karena kau memiliki darah keturunan Royce, maka sumpah demi apapun aku sudah melenyapkanmu sejak lama!" gertak Tuan Hans.


Drew mengepal erat kedua tangannya dan menatap sinis kepada sang ayah yang tengah menceramahinya.


"Kalau begitu untuk apa Daddy repot-repot mengurusi masa depanku dan menjodohkanku dengan wanita yang tidak aku suka? Lalu kenapa Daddy juga harus sibuk mencampuri segala macam urusan pribadiku kalau aku hanya bisa membuat Daddy kesal dan marah-marah saja, hah!" sergah Drew.


"Kau!" sergah tuan Hans mengangkat tangan kanannya, namun segera ia urungkan mengingat tempatnya berdiri saat ini adalah tempat umum.


"Sayang," belai Nyonya Sherly menenangkan.


"Jika saja ini bukan tempat umum, maka Daddy tidak akan segan-segan menampar wajahmu itu!" ucap Tuan Hans menahan emosi.


Drew mengerangg kesal, lalu pergi dari tempat itu, namun dengan lantang tuan Hans segera melarangnya.


"Jika selangkah lagi kamu keluar dari tempat ini, maka Daddy bersumpah akan menghancurkan tempat usahamu itu dalam waktu hanya satu malam Drew!" sarkas tuan Hans.


Drew mengeraskan rahangnya dan mengepal erat kedua tangannya itu, lalu menatap sinis sang ayah yang selalu saja mengekang dan juga mengancamnya dengan sesuatu.


"Aku ingin hidup bebas seperti Twister," batin Drew.


Karena selama Twister masih hidup, pria itu tidak pernah mau menuruti keinginan sang ayah yang selalu memintanya belajar bisnis, untuk meneruskan perusahaan properti milik keluarga besarnya itu.


Twister lebih memilih menjadi seorang pembalap, mengingat gaya hidupnya yang suka sekali akan petualangan pemacu adrenalin.


Oleh karena itu, Tuan Hans hanya bisa mengharapkan Drew satu-satunya, agar mau menuruti keinginannya itu untuk meneruskan perusahaan properti.


Dan melarang Drew agar tidak mengikuti jejak putra pertamanya, karena profesi pembalap terlalu berbahaya. Selain itu tuan Hans tidak ingin kejadian serupa sampai menimpah Drew.

__ADS_1


"Duduk!" titah Tuan Hans.


Drew akhirnya patuh dan mengalah, karena ia tidak ingin usaha impiannya bersama dengan sang almarhum Twister itu sampai hancur.


Dengan malas Drew duduk dikursi yang telah disediakan untuknya, lalu mereka bertiga pun duduk diam, sambil menunggu kehadiran tuan Bams beserta keluarganya.


...***...


Tak berselang lama kemudian, tuan Bams telah tiba di hotel, dengan menggandeng lengan sang putri kesayangan dan juga istrinya untuk masuk ke dalam hotel secara bersamaan.


Mereka bertiga langsung disambut ramah oleh pelayan hotel dan mengarahkannya langsung ke ruangan VVIP, dimana tuan Hans telah menunggu kehadirannya.


"Akhirnya kau datang juga tuan Bams," sapa hangat tuan Hans tersenyum ramah kepada rekan bisnisnya.


"Maaf kami terlambat tuan Hans, biasa perempuan kalau sudah dandan pasti membutuhkan waktu ekstra," gurau tuan Bams.


"Benar, pantas saja istri dan putrimu terlihat cantik malam ini," balas tuan Hans memuji.


"Istrimu juga cantik tuan Hans," balas tuan Bams memuji.


"Kalian sudah datang jauh-jauh, tapi berdiri saja disitu. Marilah duduk!" ucap nyonya Sherly menarik lengan sahabatnya.


"Iya, laki-laki kalau sudah mengobrol sampai lupa tujuan awal mereka," balas Nyonya Marlyn terkekeh.


Jika Drew terdiam karena kesal akibat dirinya yang dijodohkan secara terpaksa, lain halnya dengan Bella.


Gadis cantik nan sek-si itu, terdiam lemas, sambil merasakan sakit disekujur tubuh, akibat permainan Matt yang terlalu kasar padanya kemarin malam.


Pikirannya hanya satu, jika tidak bisa membalas ulah pelayan wanita yang telah membuat bibirnya bengkak hingga malu. Maka sampai kapapun gadis itu tidak akan pernah bisa tidur tenang.


"Aku telah membayar mahal Matt, kau harus ingat janjimu!" batin Bella merasa kesal sendiri, sesekali meremas gaunnya jika mengingat kelakuan Matt padanya.


...***...


Beberapa saat kemudian.


"Oke semua sudah berkumpul, jadi aku tidak ingin berbasa basi lagi denganmu tuan Bams. Maksud undangan makan malam di hotel kali ini adalah, aku Hans Royce sendiri ingin melamar putrimu Bella Kusuma untuk putraku Drew Royce sebagai istri dan juga menantu keluarga kami. Jadi, apakah kalian menerima lamaran pernikahan ini?"


Tuan Bams tentu merasa senang dan menyambut lamaran pernikahan itu dengan suka cita. "Tentu saja kami menerima lamaranmu tuan Hans!"


"Syukurlah kalau begitu," ucap Nyonya Sherly menyambut gembira.

__ADS_1


Dengan segera wanita itu merogoh tas mewahnya dan mengeluarkan sekotak perhiasan sebagai tanda pengikat hubungan.


"Indah sekali," ucap Nyonya Marlyn dengan kedua mata berbinar.


"Tentu saja indah, karena aku sendiri yang telah memilihnya. Perhiasan mewah ini kuberikan khusus untuk menantuku," balas nyonya Sherly berbangga diri.


"Wah, kau sangat murah hati nyonya Sherly. Tidak seperti mantan istri suamimu itu, wanita itu sama sekali tidak tahu yang namanya benda bagus." bisik Nyonya Marlyn.


"Kau benar Nyonya Marlyn, wanita itu begitu payah dan tidak berguna. Sudahlah jangan membahas tentang orang lain, karena hari ini adalah hari bahagia untuk putra dan putri kita. Aku ingin selalu membicarakan kebahagiaan mereka," balas Nyonya Sherly.


Lalu menghampiri Drew. "Drew ayo pakaikan perhiasan ini kepada Bella," pintanya.


Drew mengangkat tangannya ragu-ragu dan menatap malas satu set perhiasan berkilauan dihadapannya itu, lalu memakaikannya kepada Bella dengan berat hati.


Seketika Drew teringat akan ibu kandungnya sendiri dan menyadari jika ia sama sekali belum pernah membelikan ibunya itu hadiah berbentuk perhiasan.


"Drew cepat kenakan perhiasan itu!" pinta tuan Hans penuh penekanan.


Drew melingkarkan sebuah kalung dileher jenjang Bella, lalu memakaikan gelang dan juga perhiasan lainnya.


Nyonya Sherly dan Nyonya Marlyn menatap Bella dengan tatapan takjub.


"Kau terlihat pantas mengenakkan itu sayang, bukan begitu Nyonya Marlyn?" puji Nyonya Sherly.


"Benar sekali Nyonya Sherly, terima kasih."


"Sama-sama," balas Nyonya Sherly.


Drew menghembus nafas kasar, lalu meninggalkan acara tersebut dan memilih duduk seorang diri di luar hotel.


Ia kembali memikirkan aksi Bagas disirkuit tadi siang dan membandingkannya dengan Twister.


"Tidak, tidak ada yang berbeda. Mereka begitu mirip, gaya dingin itu. Aku mengenal Twister dengan baik, apakah Bagas adalah Twister?" duga Drew namun segera ia tepis.


"Tidak, aku melihat sendiri jasad Twister yang telah meninggal dan berlumuran darah. Jadi tidak mungkin Bagas adalah dia," ucap Drew dan menggeleng.


Pria itu kembali memikirkan Tesla dan membandingkan keduanya. "Tapi jika dilihat secara seksama, mereka berdua tidak memiliki kemiripan."


Drew berencana akan menanyakan hubungan itu, demi menunaikan rasa penasarannya. Sesekali berharap agar dugaannya itu benar, dimana Twister masih hidup dan Bagas hanyalah samarannya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2