Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 73. Membawa Bella.


__ADS_3

Disisi lain, Bella yang masih mengenakan gaun pengantin tengah bersungkur dikedua kaki sang ayah, sambil menangis terisak dan terus memohon agar tidak membiarkan Tuan Hans membawanya ke kantor polisi.


"Daddy, tolong bantu aku. Aku melakukan itu karena tidak sengaja," ucap Bella memohon.


"Mommy, bukankah kau bilang akan membantuku," ucap Bella kemudian kepada Nyonya Marlyn.


"Aku tidak mendidikmu menjadi seorang penjahat, tapi setelah aku melihat kejadian hari ini, aku merasa telah gagal mendidikmu. Kau memang pantas masuk penjara!" geram Tuan Bams betapa murka dan kecewa pria itu sebagai seorang ayah.


Nyonya Marlyn hanya bisa menangis dan terus mengusap dada suaminya agar tidak terbawa emosi, yang berujung pada menyakiti putrinya.


"Sayang sudahlah jangan memarahi Bella, jagalah tekanan darahmu dan tolonglah putri kita," mohon Nyonya Marlyn penuh harap.


Tuan Bams menyentak tangan istrinya. "Kau juga sama bersalahnya dengan Bella! Kau mengetahui perbuatan zina putrimu sendiri, tetapi kau malah terus menutupinya dan tidak memberitahukannya kepadaku!"


"Sayang, maafkan aku. Aku hanya tidak ingin mengecewakan dirimu dan putus hubungan dengan keluarga Royce," balas Nyonya Marlyn beralasan.


"Tapi apa yang terjadi, hah! Pernikahan ini tidak terjadi, karena kalian berdua telah mengecewakan mereka, bahkan mengecewakan semua keluarga kita! Coba saja kalau kalian dari awal bilang padaku, maka kejadian hari ini, tidak akan mungkin terjadi! Setidaknya aku bisa memutuskan hubungan pernikahan Bella sebelum mendapat malu seperti ini!" sergah Tuan Bams kesal.


"Ya aku mengerti kemarahan dan juga rasa kecewamu sayang, tapi berhentilah memarahi kami dan bantulah Bella. Ia melakukan hal itu karena tekanan dari Matt," ucap Nyonya Marlyn.


Tuan Bams berdecak kesal dan mengangguk cepat. "Ya benar! Ini semua gara-gara pria brengsekk itu! Ia sudah membuat kehidupan putriku hancur dan merubahnya menjadi seorang penjahat!" geramnya.


Tak berselang lama kemudian, Tuan Hans bersama dengan Nyonya Sherly mendatangi keluarga Tuan Bams dan membawa beberapa orang polisi wanita untuk membawa Bella ke kantor polisi.


"Jangan Om, jangan bawa Bella ke kantor polisi. Bella mengaku salah dan maafkan Bella om," isak tangi Bella mengiba.


"Tidak ada yang bisa lepas dari hukum, kau harus segera diadili karena telah melakukan kesalahan. Beruntunglah Twister telah melewati masa kritisnya, karena kalau tidak, aku akan menuntut lebih parah daripada ini!" tolak Tuan Hans tegas.


Tidak mendapat dukungan dari sang ayah maupun tuan Hans, Bella meminta pertolongan Nyonya Sherly.


"Tante, kau menyayangiku bukan? Tolong bujuk Om Hans agar tidak menahanku di penjara," pinta Bella mengiba.


Nyonya Sherly menghela nafas panjang dan menolak mengasihani, karena dirinya juga sudah tidak bisa lagi menolong Bella. Mengingat sikap keluarga Royce yang begitu sangat membencinya.


"Kalau aku membantu Bella dan menunjukkan perhatian padanya, maka kedua putraku akan semakin membenciku dan aku juga tidak mau sampai Hans ikut membenciku," batin Nyonya Sherly menimbang-nimbang.

__ADS_1


"Menyingkirlah Bella! Kau telah salah, mana mungkin aku bisa membantumu," ucapnya menjauh dari Bella.


"Tante, kau juga sama. Kau bilang akan selalu mendukungku, tapi saat aku sudah seperti ini, kau malah menjauhiku," ucap Bella tidak terima.


"Itu dulu Bella, Tante memang mendukungmu. Tapi saat tahu kau berbuat salah, maka Tante sudah tidak bisa memaafkanmu apalagi mendukungmu. Terlebih kau telah mencelakai putra Tante!" ucap Nyonya Sherly menangis didada suaminya.


"Dasar wanita penjilat!" batin Nyonya Marlyn mengeram dibuatnya.


Tuan Bams menatap Tuan Hans dan berusaha meminta keringanan. "Tuan Hans, kita telah menjadi sahabat sejak lama. Ku mohon jangan bersikap seperti itu kepada putriku. Dia memang salah, tapi semua itu terjadi karena tekanan dari seseorang," jelasnya.


"Aku tidak peduli, yang jelas dia telah melukai salah satu putraku. Jadi aku tidak bisa memaafkannya," balas Tuan Hans bersiteguh dan meminta polisi wanita membawa Bella dengan segera.


Bella menangis serta meminta semua orang agar membantunya dan melakukan penolakan untuk dibawa ke kantor polisi, namun walau sekuat apapun pemberontakan Bella, ia tetap dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa sebagai terdakwa.


Tuan Bams segera menyusul putrinya ke kantor polisi, dengan tatapan tajam serta kecewa kepada Tuan Hans, karena telah melakukan hal kejam kepada putrinya.


Sedangkan Nyonya Marlyn seketika memutuskan hubungan pertemanannya dengan Nyonya Sherly dan bersumpah akan membuat hidup wanita itu menderita.


"Dulu kau ku bantu agar bisa mendapatkan tuan Hans, tapi setelah putusnya hubungan ini, maka jangan salahkan aku membuat hidupmu berantakan suatu hari nanti!" bisik Nyonya Marlyn penuh penekanan.


Nyonya Sherly nampak ketakutan setelah mendengar pernyataan tersebut. "Aku sedang terancam sekarang dan aku tidak boleh jauh-jauh dari suamiku," batinnya gelisah.


Wanita itu pun berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya, dengan memijat kedua bahu serta menyediakan teh herbal setelah mereka tiba di rumah.


Hal tersebut dilakukan oleh Nyonya Sherly agar semakin disayang oleh sang suami dan tidak terpengaruh dengan ucapan-ucapan yang dapat menggoyahkan hati Tuan Hans.


Namun kejadian hari ini, membuat kepala Tuan Hans merasa sakit. Dan pria itu tidak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk sang istri kesayangan.


"Pergilah, aku ingin sendirian saat ini."


Tuan Hans ingin menggunakan waktu sendirinya untuk merenung, merenungi setiap kejadian yang terjadi, merenungi tentang sikap kedua putranya, bahkan merenungi hal-hal lain selain keluarganya, seperti orang-orang terdekat mereka.


"Sam, Tesla, Bianca, sekarang dokter wanita itu. Mereka terlihat bahagia, padahal mereka tidak memiliki ikatan darah apapun. Atau gelar yang pantas untuk dibanggakan.


"Mereka hanya orang-orang biasa, baru saja hari ini aku melihat kejadian mengerikan. Tapi kenapa, kenapa mereka begitu sangat ahli mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya menjadi kewajibanku."

__ADS_1


"Dan Drew, aku tidak pernah melihat ia bersosialisasi dengan orang-orang biasa. Atau bergaul dengan orang yang bukan dari kalangan atas. Ada apa dengan semua itu? Apa mereka tidak mengerti artinya gaya hidup berkelas? Atau ada yang salah dengan diriku ini?"


Tuan Hans terus merenungi apapun pertanyaan yang terlintas didalam benaknya, dan tak khayal hal tersebut membuat ia menjadi lelah sekali.


Hingga pada akhirnya pria paruh baya itu pun, menghela nafas panjang, lalu mengistirahatkan raga serta pikirannya dari lelah yang menerpa.


...----------------...


Keesokan harinya.


Rumah sakit.


Tesla mengunjungi kamar dimana Twister tengah dirawat saat ini, ia tersenyum melihat kakaknya itu telah bangun dan sedang bercanda dengan Drew.


"Selamat pagi," sapa Tesla tersenyum sambil menunjukkan buket bunga cantik untuk sang kakak.


Twister dan Drew menoleh. "Selamat pagi," sapa keduanya kompak, dengan senyum menghiasi kedua wajah tampan pria itu.


"Kakak, apa kau sudah baikkan?" tanya Tesla memberikan buket bunga tersebut dan duduk disamping Twister.


"Aku sudah membaik dan terima kasih atas bunga darimu ini," balas Twister mencium aroma bunga itu dan menimang diatas pangkuannya.


"Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya. Oh iya kak Twister, katakan padaku, apa kau sudah melihat dokter yang menangani operasimu semalam?" tanya Tesla.


"Tentu saja dia sudah melihatnya, bahkan tadi pagi dokter itu datang kesini untuk mengecek kesehatan Twister," serobot Drew.


Tesla memicingkan kedua matanya kepada Drew. "Berisik sekali, aku tidak bertanya padamu."


Twister tersenyum lembut dan teringat dengan dokter Mutia saat mengecek kondisinya tadi pagi. Dimana dokter itu menyentuh tubuhnya dengan sentuhan lembut dan hangat. Serta senyuman yang dapat menggetarkan hati.


"Aku senang, karena bisa bertemu denganmu lagi," ucap Twister bicara sendiri. Sampai Drew dan Tesla yang berada didekatnya menjadi kebingungan.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2