Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 104. Mengaku.


__ADS_3

Nyonya Sherly berdecih, lalu meninggalkan acara arisannya untuk berganti pakaian terlebih dahulu sebelum memulainya kembali.


"Lihat saja nanti kau Marlyn, aku akan membalas perbuatanmu dan aku tidak akan membiarkan kau hidup dengan tenang!" umpat Nyonya Sherly kesal.


Sedangkan nyonya Marlyn sendiri akan terus mengganggu keluarga Royce agar selalu terjadi perselisihan, dan tujuan awalnya adalah membuat nyonya Sherly diceraikan terlebih dahulu.


Demi membalaskan dendamnya kepada keluarga Royce, karena telah menjebloskan putri serta suami tercintanya, yaitu tuan Bams.


"Suamiku, aku tidak akan tinggal diam saja. Mereka harus membalas semua perbuatan yang telah mereka perbuat pada keluarga kita," gumam Nyonya Marlyn sedih, bercampur dendam membara didalam hatinya.


...----------------...


Restoran Manyu.


Sementara itu disisi lain, Drew sengaja makan malam di restoran ibunya karena tahu jika hari ini ibu tirinya sedang mengadakan acara arisan di rumah.


"Mom aku makan malam disini saja ya," ucap Drew lalu mencari meja kosong.


"Loh tumben, ada apa sayang?" tanya Nyonya Bianca menanyai Drew yang sedang bad mood.


"Ya aku hanya tidak mau pulang cepat ke rumah, karena disana sedang ada acara arisan ibu-ibu. Pasti berisik sekali dan aku tidak nyaman jika ada mereka semua," balas Drew mengadu.


Nyonya Bianca membulatkan bibirnya. "Oh begitu, ya sudah makan malam disini saja. Kamu mau makan apa?" tanyanya melayani.


"Makan apa saja," balas Drew tidak mau memilih.


"Baiklah, tunggu sebentar ya. Biar Mommy siapkan untukmu," balas Nyonya bianca dan dibalas anggukkan oleh Drew.


Tak butuh waktu lama, semangkuk sup misoa hangat dengan kuah kaldu perpaduan dari tulang ayam yang direbus lama dan potongan daging udang telah tersaji dihadapan Drew.


"Wah baunya lezat sekali, aku belum pernah melihat menu ini sebelumnya. Apa ini menu baru?" tanya Drew memperhatikan dengan seksama apa saja yang berada di dalam mangkuknya itu.


"Tentu saja, selama menunggu kiriman daging bebek dari peternakan Sanyoto telah siap dan normal kembali, Mommy selalu belajar mengembangkan menu baru agar restoran kita ini bisa terus beroperasi. Ya syukur-syukur kalau menu baru ini bisa terkenal juga seperti menu-menu sebelumnya yang ada disini," balas Nyonya Bianca penuh harap.


Drew tersenyum bangga kepada ibunya. "Kau memang wanita yang hebat, Mom. Aku bangga padamu karena Mommy selalu saja bekerja keras dan tidak pernah putus asa," pujinya.


"Terima kasih atas pujiannya sayang, kalau begitu segeralah dihabiskan dan Mommy tunggu penilaian darimu," pinta Nyonya Bianca menunggu.


"Baik, tentu saja!" Drew pun menyeruput menu baru tersebut dengan segera selagi hangat dan berseru setelah menikmatinya. "Wah lezat sekali!"

__ADS_1


"Benarkah begitu?" tanya Nyonya Bianca antusias.


Drew mengangguk pasti. "Hem, tentu saja. Ini sangat enak dan aku yakin menu baru-mu ini bisa menjadi menu andalan dari restoran ini juga!" ucap Drew terkagum-kagum. "Aku mau nambah lagi Mom!" pintanya kemudian.


Nyonya Bianca terkekeh, sekaligus senang mendengarnya. "Baik tunggu sebentar," lalu memenuhi permintaan putranya itu hingga puas.


"Makananmu memang selalu juara Mom," puji Drew setelah menghabiskan tiga mangkuk makanan bergizi tersebut, sambil mengusap perutnya.


"Terima kasih," balas Nyonya Bianca senang.


"Ah aku kenyang sekali, hanya makananmu saja yang membuatku selalu puas," ucap Drew sambil membandingkan masakan ibu tirinya, yang dinilai tidak bisa masak dan terlalu membosankan.


"Ya Mommy kan seorang cheff, sudah pasti harus bisa memasak enak," balas Nyonya Bianca membanggakan diri.


Drew tersenyum membenarkan. "Kau benar, Mom. Andaikan saja Mommy masih tinggal bersamaku di rumah. Mungkin aku sudah gendut sekarang ini," guraunya.


Akan tetapi Nyonya Bianca seketika menurunkan senyumnya dan tertunduk lemas. "Maaf kalau Mommy terlalu egois, gara-gara berpisah dengan daddymu. Kalian jadi tidak terurus," ucap Nyonya Bianca merasa bersalah.


Drew mengusap pundak ibunya. "Maaf Mom, tidak seharusnya bicara seperti itu padamu."


"Tidak apa, sudahlah jangan bahas masalah itu. Sekarang ceritakan hal lain, misalnya bagaimana proses pembangunan di desa?" tanya Nyonya Bianca mengalihkan pembicaraan, sekaligus ingin tahu progress putranya.


Nyonya Bianca merasa senang saat mengetahui jika keluarga Sanyoto telah bangkit kembali membangun peternakan bebeknya, setelah sebelumnya mengalami keterpurukan akibat kasus kebakaran kandang yang di sebabkan oleh ulah beberapa oknum di desa.


Selain itu, ia juga merasa bangga kepada kedua putranya karena telah menunjukkan sikap kepedulian mereka terhadap sesama dan bahu membahu membantu dalam memperbaiki segalanya.


"Mommy senang mendengarnya, kalau pembangunan hotel milikmu bagaimana? Sudah sampai mana perkembangannya," tanya Nyonya Bianca.


"Hem ... Jika pembangunannya lancar, mungkin butuh waktu 6 bulan lagi sampai semuanya selesai dibangun. Kalau rumah sakit Twister, besar kemungkinan 2 bulan lagi akan rampung," balas Drew menjelaskan.


"Syukurlah kalau begitu, Mommy hanya berharap semuanya berjalan dengan lancar dan usaha mu membuahkan hasil nyata," doa Nyonya Bianca tulus.


"Amin, terima kasih Mom," balas Drew.


Nyonya Bianca merasa takjub, setelah mengetahui jika kedua putranya memiliki rencana bagus dalam rencana pembangunan di desa.


Terutama rasa takjubnya kepada Drew, jika sebelumnya yang ia ketahui bahwa putra bungsunya itu begitu susah diatur dan sering tawuran saat sekolah menengah atas.


Serta sempat ikut serta dalam kelompok geng motor dan bisa dibilang badboy, namun hari ini nyonya Bianca merasa gelar buruk putra bungsunya itu perlahan mulai menghilang.

__ADS_1


Hal tersebut pun menjadi bahan pertimbangan nyonya Bianca, bagaimana putranya bisa berubah secepat itu?


"Aku yakin Drew berubah menjadi baik pasti karena mengenal Tesla dan bergaul dengan keluarga sederhananya itu," duga Nyonya Bianca merasa demikian.


Sementara itu Twister juga bisa hidup sederhana setelah tinggal bersama dengan keluarga Sanyoto, yang membuat nyonya Bianca merasa mantap untuk mendekatkan Drew dengan Tesla.


Akan tetapi sebelum ia mendekatkan kedua insan tersebut, nyonya Bianca harus bertanya terlebih dahulu kepada mereka berdua, agar tidak terjadi kesalahpahaman atau keterpaksaan dalam menentukan keinginannya menjodohkan Drew dengan Tesla.


"Drew ada yang ingin Mommy tanyakan padamu," ucap Nyonya Bianca lebih mendekatkan lagi duduknya.


"Apa Mom, tanya saja." Drew menunggu.


"Em ... Bagaimana ya Mommy bertanya-nya? Mommy takut kamu marah," ucap Nyonya Bianca ragu-ragu pada akhirnya.


"Ck! Apa sih bikin penasaran saja? Aku janji tidak akan marah deh," balas Drew penasaran.


Nyonya Bianca tersenyum lalu menggenggam tangan Drew. "Drew sayang, Mommy mau tanya padamu. Bagaimana menurutmu Tesla itu?" tanyanya memulai.


Drew mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali. "Tesla? Bagaimana sikapnya?" tanya Drew balik.


Nyonya Bianca mengangguk berkali-kali dan menunggu jawaban dan respon dari putranya. "Iya, jawablah."


"Kenapa sih harus bertanya seperti itu? Apa tidak ada pertanyaan lain?" protes Drew enggan.


"Tidak, jawab saja!" pinta Nyonya Bianca menekan.


"Tesla itu cerewet, suaranya juga cempreng seperti bebek. Tapi ___" ucap Drew terhenti, karena tiba-tiba saja bayangan Tesla memenuhi isi kepalanya, hingga membuat Drew tersenyum salah tingkah.


"Tapi apa Drew?" cecar Nyonya Bianca deg-degan.


"Ya tapi dia baik dan cantik, sudah begitu dia punya pikiran dewasa," balas Drew sesuai yang ia tahu.


Nyonya Bianca tersenyum. "Jadi apa kau menyukainya?" tanyanya to the point.


"Tentu saja aku menyukainya," jawab cepat Drew tanpa berpikir lagi. Membuat wajahnya seketika memerah tidak karuan saat menyadari jika sang ibu sedang menjebaknya agar mengaku.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2