
Keesokan paginya.
Drew telah bangun pagi-pagi sekali dan duduk bersiap di depan teras rumah Pak Sanyoto, menunggu kedatangan orang-orang yang sudah pasti akan mendatanginya kesini.
Dan benar saja, tak lama setelah ia berpikir demikian. Satu persatu dari mereka telah hadir memenuhi halaman rumah keluarga Sanyoto.
Martino, dialah orang pertama yang tiba disana bersama dengan beberapa orang suruhan dari ayahnya sendiri. Dan mereka segera menghampiri Drew, setelah keduanya saling bertemu pandang dikejauhan beberapa saat.
"Tuan Drew, syukurlah kalau anda baik-baik saja," ucap Martino mengucap syukur melihat Drew dalam kondisi sehat dan baik.
"Terima kasih atas perhatiannya," balas Drew datar.
"Mari ikut saya pulang ke rumah Tuan Drew, karena tuan besar telah menunggu kepulangan anda," ucap Martino meminta.
"Tidak, kalau dia ingin aku pulang ke rumah. Maka dia sendirilah yang harus datang kesini menjemputku," balas Drew menolak untuk ikut.
"Tuan, tolong mengertilah. Karena kalau anda menolak, tuan besar pasti akan semakin menekan hidup anda," ucap Martino membujuk.
"Dia selalu menekanku dan aku sudah tidak heran dengan tindakannya jika aku menolak setiap keinginan egoisnya. Jadi biarkan saja dia menekanku sesuka hati, karena aku sudah kebal dengan kecamannya itu," balas Drew bersikeras.
Martino menghela nafas panjang menghadapi sikap keras kepala Drew yang sulit sekali untuk dibujuk, sebenarnya ia juga merasa tidak tega melihat Drew selalu saja tertekan oleh keinginan tuan Hans, akan tetapi disatu sisi dia tetap harus menjalankan perintah dari atasannya itu.
"Drew, tolong pulanglah ke rumah. Kali ini bukanlah anak buah dari daddymu yang meminta, akan tetapi ini adalah permintaan dari paman Martino kepada seorang anak yang pernah bermain kuda-kudaan diatas punggung pamannya," ucap Martino mengingatkan masa kecil Drew.
Drew seketika melebarkan kelopak matanya menatap pria paruh baya kira-kira seumuran dengan ayahnya itu, ia hampir melupakan kenangan masa lalu karena sibuknya Martino dibawah pekerjaan sang ayah.
Akan tetapi, Drew tidak pernah melupakan suatu masa ketika Martino pernah menemaninya bersama disaat sendirian dan juga menjadi teman mainnya disaat tidak ada anak sebaya yang ingin bermain, karena takut dengan larangan dari ayahnya sendiri.
Selain itu Martino juga selalu setia mengantar dan menjemputnya di sekolah, dari ia duduk dibangku taman kanak-kanak sampai sekolah dasar tahap akhir.
__ADS_1
Bahkan Martino pernah menjadi ayah palsunya, karena takut dimarahi oleh tuan Hans disaat ketahuan membolos dan dipanggil oleh pak kepala sekolah saat dirinya duduk dibangku sekolah menengah pertama.
Kau saja yang menjadi Daddyku sementara waktu untuk menghadapi pak kepala sekolah, paman. Dan aku berjanji kedepannya aku akan selalu mendengarkan kata-katamu paman Martino. Tapi ingat, jangan beritahu Daddy tentang masalah ini. Biar menjadi rahasia diantara kita.
Drew menelan ludahnya kasar dan terdiam cukup lama untuk mengingat momen-momen tersebut, bahkan kesendirian Martino sampai saat ini adalah karena permintaan egois darinya yang meminta martino agar tidak menikah dan tidak pergi meninggalkannya apabila telah hidup berumah tangga.
"Drew, pulanglah. Demi Paman," ucap Martino kembali meminta halus, namun Drew tetap saja menolak.
"Maaf Martino, tapi aku tidak bisa menuruti permintaanmu. Karena kali ini urusannya telah berbeda, aku akui kau banyak sekali membantuku sewaktu aku kecil dulu. Tapi sekarang aku sudah dewasa sekarang, aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri diatas kakiku sendiri," balas Drew.
Martino tertunduk lemah, pria dihadapannya kini telah tumbuh dewasa dan tidak membutuhkan dirinya seperti waktu kecil dahulu. Dimana anak kecil itu selalu mencari dan mengandalkan dirinya jika sedang terkena masalah.
"Baiklah, tapi jangan salahkan Paman kalau Paman bertindak kasar padamu," ucap Martino tidak ada pilihan lain. Selain memerintahkan para ajudan bawaannya agar membawa Drew secara paksa.
Drew menepis semua tangan-tangan orang yang hendak membawanya, dan memberikan pukulan telak dimasing-masing wajah mereka.
Bersamaan dengan hal tersebut, Pak Sanyoto dan Ibu Tyas bergegas keluar dari rumahnya setelah mendengar ada suara kegaduhan didepan halaman rumahnya sendiri dan mereka terkejut saat melihat Drew sedang dikeroyok oleh beberapa orang pria tidak dikenal.
Drew menghentikan perkelahian tersebut, namun ia tidak dapat mengelak saat ada satu pukulan keras melayang diwajah tampannya, hingga ia terhuyung dan jatuh ke tanah.
"Drew!" pekik Martino dan Ibu Tyas bersamaan.
"Tuan muda!" pekik anak buah tuan Hans.
Drew berdiri tegak kembali, dan berusaha melawan orang yang telah berani memukulnya. Akan tetapi ia menahan pukulan tersebut karena Ibu Tyas dengan cekatan mencekal pergelangan tangan Drew.
"Hentikan! Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kalian bertengkar di rumahku!" sergah Ibu Tyas nampak murka.
Namun belum sempat mereka menjawab, keadaan menjadi semakin rumit saat ada seseorang dengan menaiki mobil mewahnya terlihat menapakkan kaki dihadapan mereka semua.
__ADS_1
"Lepaskan tangan putraku!" sergah Tuan Hans yang baru saja tiba dan ibu Tyas melepaskan cekalannya.
"Huh si simelekete datang," celetuk Pak Sanyoto. "Mau apa kamu datang kesini? Kalau mau cari keributan janganlah disini!"
Tuan Hans berdecih, lalu mendekati Drew. "Aku tidak ada urusan dengan kalian berdua, tapi kedatangan ku kesini adalah untuk menjemput putraku yang sedang kabur dari rumah," jawabnya.
"Apa kabur dari rumah?" ucap Ibu Tyas dan Pak Sanyoto terkejut bersamaan.
"Ya Drew kabur dari rumah, apa dia tidak memberitahu kalian berdua? Tapi aku sama sekali tidak menduga, kalau Drew lebih memilih tempat kumuh seperti ini sebagai tempat berteduh, daripada di hotel mewah miliknya sendiri," balas Tuan Hans.
Drew menatap pak Sanyoto dan ibu Tyas yang nampak kecewa, baru sedikit kebenaran terungkap mengenai keberadaan dirinya. Drew sudah merasa bersalah sekali, bagaimana kalau mereka sampai tahu tentang hubungannya dengan Tesla?
"Dia memang sudah menginap disini selama satu minggu, tapi bukan alasan kabur dari rumahlah yang ia katakan kepada kami. Dia berkata ingin menginap disini karena sedang mengurus pekerjaan," balas Ibu Tyas.
Tuan Hans terkekeh. "Begitu ya, aku tidak menyangka kalau Drew menyembunyikan hal penting kepada kalian berdua, padahal kalian cukup dekat dengan putraku," ucapnya lalu menatap Drew. "Drew apa kau tidak memberitahu mereka hal lain kenapa kau kabur dari rumah hem?" tanyanya kemudian.
Drew menelan ludahnya susah payah, sambil membuang wajahnya kesisi lain dan tidak berani menatap wajah kedua orang tua Tesla, karena takut akan reaksi kecewa mereka terhadap dirinya jika ketahuan telah melakukan sebuah kebohongan tentang hubungannya dengan Tesla.
"Hal lain apa?" tanya Pak Sanyoto ingin tahu. Namun Drew hanya terdiam membisu. "Katakanlah!" pintanya menekankan.
"Sepertinya dia tidak berani bicara jujur kepada kalian, baiklah kalau begitu biar aku saja yang memberitahukannya kepada kalian berdua," ucap Tuan Hans menyela.
Drew menatap ayahnya dan menggeleng, namun tuan Hans tetap berniat memberitahu kebenaran tersebut kepada keluarga Sanyoto agar Drew tidak dekat-dekat lagi dengan keluarga itu.
"Hubungan Drew dengan Tesla telah berakhir sejak lama dan bukan hanya itu saja, Drew sudah bertunangan dengan wanita lain dan tidak lama lagi mereka akan segera menikah," ucap Tuan Hans memberitahu semuanya.
Dan pernyataan tersebut, terasa bagai sambaran petir untuk kedua orang tua Tesla.
.
__ADS_1
.
Bersambung.