
Tak berselang lama setelah itu, Drew telah kembali ke rumah dari jalan-jalannya bersama dengan Tesla dan segera menuju kamar seperti biasa, karena tidak ingin melihat nenek sihir dalam rumahnya itu.
Akan tetapi langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita melambaikan tangan ke arahnya.
"Siapa dia?" tanya Drew dalam hati dan memperhatikan lebih seksama agar terlihat lebih jelas.
Sedangkan dari kejauhan sana, seorang gadis nampak berjalan mendekat ke arah Drew dan tersenyum. "Hai, kamu pasti Drew ya?" sapanya berusaha akrab.
"Siapa?" tanya Drew dingin.
"Kenalin, aku Luna?" jawab Luna tersenyum manis dan mengulurkan lengan kanannya.
"Siapa kau, kenapa ada di rumahku? Dan mau apa disini?" tanya Drew mengeluarkan aura mencekam, hingga Luna spontan menarik uluran lengannya kembali.
"A-aku Luna, a-aku anak dari sepupunya tante Sherly. Kebetulan tante yang mengajakku menginap di rumah ini selama beberapa hari," jawab Luna berusaha tenang, karena ia merasa sedikit gemetar berhadapan dengan Drew.
Drew menyunggingkan senyumannya dan menatap sinis Luna. "Oh jadi kau adalah wanita yang dimaksud oleh Daddy itu? Asal kau tahu saja, aku tidak tertarik padamu!" tolaknya mentah-mentah.
Luna seketika bungkam dengan kedua mata terbelalak lebar dan berusaha menelan ludahnya dengan susah payah, saat mendengar Drew begitu dingin terhadapnya, bahkan menolaknya sebelum ia sempat melakukan apapun.
Lalu Drew yang kesal, segera naik ke lantai atas dan membanting pintu kamarnya secara kasar. Hingga mengagetkan beberapa pelayan disana termasuk Luna sendiri.
"Suara apa itu?" tanya Nyonya Sherly yang turut mendengar kerasnya bantingan pintu.
Luna menghembus nafas kasar dan menghentak kakinya. "Dia begitu sulit didekati Tante," keluhnya.
"Siapa? Apa maksudmu Drew?" tanya Nyonya Sherly.
Luna mengangguk dan menunjukkan wajah memelasnya. "Iya, pria itu begitu menakutkan. Bahkan dia tidak sedikitpun tertarik denganku," ucapnya pasrah.
Nyonya Sherly menghela nafas panjang. "Berusahalah terus sampai kau berhasil, Drew bukannya tidak tertarik padamu. Tetapi dirimu saja yang belum berusaha keras merayunya," balas nyonya Sherly memberi dorongan semangat.
Luna mengangguk mengerti, memang dia terlalu terburu-buru tadi. "Baiklah aku mengerti."
Nyonya Sherly tersenyum. "Bagus, bagaimana kalau kita makan malam bersama."
"Ya Tante," seru Luna setuju.
...***...
Keesokan paginya.
Kegiatan minggu pagi memang sedikit senggang dipagi hari, walau begitu keluarga Royce telah bangun untuk melakukan serangkaian aktifitas.
Seperti contohnya Drew, dia menghabiskan minggu paginya dengan memilih berolahraga di ruang Gym milik pribadinya. Agar tubuhnya itu selalu bugar dan otot-ototnya semakin terlihat sempurna.
Cucuran peluh membasahi raga setengah telanjang Drew dan hal tersebut membuatnya semakin tampan saja.
"Tesla aku mencintaimu," ucap Drew setiap kali ia mengangkat beban berat, seperti tambahan tenaga ekstra tidak kasat mata dan ternyata hal itu berhasil dilakukan.
Drew semakin semangat dibuatnya, tanpa terasa ia berhasil melatih otot hingga 2 jam lamanya. Dan bersamaan dengan hal tersebut Bi Nonik datang menemui Drew.
__ADS_1
"Ada apa Bi?" tanya Drew menyeka peluhnya dengan handuk kecil.
"Maaf Tuan muda, tuan besar mengajak anda untuk sarapan pagi bersama," jawab Bi Nonik.
Drew mengangguk, dan bergegas mengenakan kaos oblongnya. Kemudian pergi dari ruangan itu menuju ruang makan keluarga.
Setibanya di ruang makan, Drew kembali terusik oleh sesosok wanita sama yang dilihat tadi malam, wanita itu tengah menikmati sarapan pagi dengan penampilannya yang bisa di bilang sangat meresahkan.
Luna masih berpakaian tidur serba minim, bahkan tidak terlihat seperti piyama kebanyakan. Pegunungan kembar padat nan kenyal begitu menggoda bagi kaum adam, belum lagi wanita itu seperti sengaja memamerkan bagian pahanya yang putih mulus sempurna.
Drew memperhatikan itu semua dan Nyonya Sherly yang mengintip sangat senang melihatnya.
"Aku yakin Drew pasti tertarik dengan godaan yang diberikan oleh Luna," batin Nyonya Sherly yakin akan berhasil dengan ajarannya.
"Bi Nonik, kemana semua orang?" tanya Drew menunggu sarapan paginya disiapkan oleh Bi Nonik.
"Semua sudah selesai sarapan pagi, hanya tinggal tuan muda sama nona Luna saja," balas Bi Nonik menjauh dari Luna, seakan merasa risih melihat penampilannya yang seperti wanita malam saja.
Drew menghela nafas panjang. "Untuk apa dia disini?" tanyanya keberatan melihat Luna dengan santainya memakan makanan apapun tanpa malu.
"Tentu saja sarapan, mau apa lagi?" jawab cepat Luna sebelum Bi Nonik sempat menjawabnya.
"Kalau begitu Bibi, tolong antarkan sarapan pagiku ke kamar," pinta Drew karena tidak ingin duduk bersama dengan Luna.
Melihat Drew ingin pergi, Nyonya Sherly segera mendekati Drew dan menghadangnya. "Drew sayang, kamu mau kemana? Apa kamu mau makan di kamar lagi hem?"
Drew memutar bola matanya malas. "Bibi bilang padanya agar tidak ikut campur urusan pribadiku," ucapnya pada Bi Nonik.
"Siapa yang memintamu melakukan itu semua? Jangan lupakan ini Tante, walau kau nyonya rumah ini dan istri yang disayangi oleh Daddy. Tapi bagiku kau tidak lebih penting daripada orang asing," balas Drew tajam.
"Drew sayang, Tante mengerti rasa tidak sukamu kepada Tante. Tapi percayalah Tante tidak pernah bermaksud buruk kepadamu, turuti saja permintaan Tante. Lagipula ucapan Tante tadi ada benarnya bukan?" ucap Nyonya Sherly penuh maksud.
"Kau tidak punya maksud buruk ya, lalu bagaimana dengan wanita itu! Kau seenaknya membawa orang asing ke dalam rumah ini dan lebih parahnya lagi dia berpakaian layaknya seorang wanita rendahan! Apa sebenarnya tujuanmu Tante? Sudah ku katakan sebelumnya pada Daddy, aku tidak menginginkan wanita itu. Entah dia mau dijodohkan denganku atau hanya sebatas menginap disini!" sindir Drew tidak suka.
"Drew sayang, kalau kamu tidak mau menikah dengan Luna ya tidak apa-apa, Tante juga tidak memaksa kok. Tapi walau Luna orang asing, dia tetaplah kerabat Tante, jadi biarkan Luna menginap disini selama beberapa hari untuk menemani Tante ya," balas Nyonya Sherly.
"Terserah!" sergah Drew menjauh pergi dari sana, sambil membawa piring berisi sarapan paginya.
Nyonya Sherly tersenyum menatap Luna dan mendekat. "Tetap pertahankan kerja kerasmu, aku yakin Drew akan tergoda suatu hari nanti."
"Baik Tante," balas Luna mengangguk dan menyantap cemilan ringan milik Drew.
...***...
Kamar Drew.
Drew menyugar rambutnya karena kesal dengan sang ibu tiri beserta tamu yang dibawa oleh ibu tirinya itu, seakan tahu saja kelemahan laki-laki terletak pada keimanannya.
Akan tetapi Drew masih sanggup bertahan dari godaan seperti itu, sehingga penampakkan Luna yang sekssi tadi, tidak mengganggu akal sehatnya.
Dengan segera Drew menghubungi Tesla melalui video call, agar rasa bosannya itu bisa tergantikan.
__ADS_1
"Halo sayang," sapa Drew manja.
Tesla mencebik. "Drew kenapa kamu tidak pakai baju hah?" balasnya memalingkan wajah.
"Aku mau mandi, makanya aku buka baju." Drew cengengesan sambil memamerkan otot-otot sempurnanya.
"Kalau begitu mandi dulu sana!" ucap Tesla menasehati.
"Badanku masih basah oleh keringat, sudah begitu aku baru saja sarapan. Katakan padaku, apa kamu sudah sarapan?" tanya Drew.
"Sudah," balas Tesla.
"Sarapan pakai apa?" tanya Drew manis.
"Pakai nasi goreng kampung," balas Tesla.
"Ah sedih sekali, harusnya kau main ke rumahku. Disini banyak sekali makanan enak dan bergizi," ejek Drew.
"Kenapa aku harus main ke rumahmu? Kalau memang niat berbagi, harusnya kau kirimkan saja langsung padaku," balas Tesla.
Drew terkekeh dan merasa gemas dengan wajah polos Tesla. "Kau belum mandi ya?"
"Belum," balas Tesla jujur.
"Bagaimana kalau kita mandi berdua? Aku akan membantumu membersihkan diri," celetuk Drew bercanda.
Tesla bersemu merah pada wajahnya, sambil mengetuk layar ponselnya berkali-kali karena kesal dengan ucapan Drew yang dinilai tidak senonohh. "Dasar kau Drew, apa itu pikiranmu? Mesum sekali!" gemasnya.
Drew tertawa kecil dan bersamaan dengan itu pintu kamarnya terketuk dari luar.
"Sayang, tunggu sebentar ya. Ada yang mengetuk pintu, kau jangan matikan panggilan kita," ucap Drew.
"Oke," balas Tesla. Lalu Drew berdiri dan menaruh ponselnya menghadap pintu masuk.
Pria itu membuka pintu kamarnya dan menatap datar. "Mau apa kau ke kamarku?" tegur Drew kepada Luna yang ternyata datang ke kamar dan mengetuk pintu.
"Maaf Drew aku menganggumu, tapi aku tidak bisa mengabaikan perintah dari Tante untuk membawakan beberapa cemilan sehat untukmu," balas Luna mencoba masuk, tapi Drew menahannya. Sesekali menatap ponselnya yang masih terhubung dengan Tesla.
"Pergi dari sini!" usir Drew kemudian.
"Ada apa? Kenapa kau kelihatan panik?" tanya Luna ingin tahu.
Sampai-sampai gadis itu merangsek ingin masuk dan mendorong Drew, agar ia bisa melihat dengan jelas benda apa yang sedang dipandangi oleh Drew sejak daritadi.
"Oh kamu sedang video call-an ya, maaf kalau begitu aku menganggumu. Oh iya ini cemilan untukmu, jangan lupa dimakan ya," ucap Luna genit.
Drew menelan ludahnya susah payah dan segera menutup pintu kamarnya setelah Luna pergi, lalu buru-buru pria itu menghampiri ponselnya yang panggilan tersebut ternyata telah terputus sebelum ia sempat menjelaskan apapun kepada Tesla.
.
.
__ADS_1
Bersambung.