
Restoran Manyu.
Suasana hening terjadi didalam sebuah ruangan tertutup khusus, dengan fasilitas karoke untuk tamu VVIP dalam restoran yang terkenal akan sajian bebek pekingnya itu.
Seorang pria paruh baya tengah terdiam dan menatapi seorang chef, yang sedang menunjukkan keahlian memotong daging dan juga menyajikan makanan mewah dihadapannya dengan sangat trampil.
Nyonya Bianca seakan telah tahu apa yang telah menjadi kebiasaan sang mantan suami, tanpa banyak bicara wanita paruh baya itu segera melayani sang tamunya bak seorang raja kaya.
"Aku terkesan atas pelayananmu terhadapku yang selalu saja berhasil membuatku terpukau," ucap Tuan Hans mulai menyantap makan siangnya.
"Terima kasih," balas Nyonya Bianca dan kembali fokus melayani mantan suaminya itu seperti seorang tamu VVIP kebanyakan.
Tuan Hans menikmati makan siangnya, sambil terus menatapi nyonya Bianca tanpa berkedip. Hatinya selalu saja sakit, setiap melihat wanita dihadapannya itu yang selalu saja mengabaikan keberadaannya.
Wanita yang tidak pernah ada keinginan untuk mempercantik diri, baik di depan suami maupun diluar rumahnya. Akan tetapi, daya tariknya itu selalu saja dapat memikat hati dan tidak pernah pudar walau telah termakan usia.
Bukankah itu berarti, sang mantan istrinya memang nampak cantik secara natural?
Tuan Hans memandangi kembali sang mantan istrinya dengan lekat secara diam-diam, sambil menyesap teh chamomile madunya.
Semakin dimakan usia, semakin berselera untuk dilihat dan semakin lama dilihat, semakin enak pula untuk dipandang.
Seperti itulah yang ia rasakan saat ini, melihat sang mantan istri dari jarak dekat dan menikmati layanan langsung dari jari jemari tangannya.
Suatu hal yang tidak pernah ia lakukan dimeja makan, selama masih berumah tangga dahulu. Karena terlalu sibuk mengurusi pekerjaan, hingga tidak mempunyai waktu untuk berdua apalagi berlama-lama menatapinya seperti ini.
Tuan Hans mengulurkan tangan yang berisi gelas kosong, dan nyonya Bianca dengan sigap menuangkan air dingin.
Namun belum usai wanita itu mengisi penuh air pada gelas tamunya, cekalan cukup kuat menarik lengan kanannya. Sehingga ia harus duduk diatas pangkuan tamunya itu.
Nyonya Bianca berusaha untuk bangun, akan tetapi kedua lengan Tuan Hans dengan cepat melingkar di pinggangnya.
"Lepaskan aku," ucap Nyonya Bianca.
"Kenapa aku harus melepaskanmu," balas Tuan Hans tidak sudi.
"Karena perlakuanmu sungguh tidak pantas," ucap Nyonya Bianca memalingkan wajahnya.
"Apanya yang tidak pantas? Aku telah memesan ruang khusus tamu VVIP di restoranmu, anggap saja ini sebagai salah satu pelayanan terbaik yang kau punya," ucap Tuan Hans menarik dagu mantan istrinya.
"Ini rumah makan, bukan club malam dan aku seorang chef, bukanlah wanita penggoda. Jadi jangan samakan aku seperti istri barumu itu," sindir Nyonya Bianca.
Tuan Hans tersenyum miring. "Kau masih marah padaku rupanya," ucapnya lalu melepaskan rangkulannya.
__ADS_1
Nyonya Bianca segera berdiri dan merapikan afron yang ia kenakan. "Kita sudah tidak punya hubungan apapun, dan perlakuan seperti tadi aku harap kau tidak pernah mengulanginya lagi."
"Baiklah, tapi tolong penuhi permintaanku."
"Apa?" tanya Nyonya Bianca.
"Duduklah disampingku dan temani aku makan siang hingga selesai," pinta Tuan Hans. Lalu berdiri dan menarik satu kursi agar nyonya Bianca bisa duduk disebelahnya.
"Baiklah," balas Nyonya Bianca lalu duduk. Setelah melepaskan afronnya terlebih dahulu.
Tuan Hans kembali duduk pada posisinya dan mulai menyantap makanan diatas mejanya lagi. "Tidak lama lagi Drew akan menikah, ku harap kau bisa menghadiri acara pernikahannya."
"Tentu saja. Drew adalah putraku, bagaimana bisa aku mengabaikan tanggal penting untuk hari bahagia putraku sendiri," balas Nyonya Bianca.
"Hari bahagia? Setahuku Drew tidak menginginkan pernikahan ini," ucap Tuan Hans.
"Kalau Drew tidak menginginkannya, lalu mengapa kau memaksanya untuk menikah," balas Nyonya Bianca.
"Drew tidak ingin meneruskan bisnisku, jadi aku harus segera mencari pewaris dari keturunannya. Sebagai bentuk tanggung jawab Drew karena telah menolak menuruti keinginanku meneruskan bisnis perusahaan Royce," balas Tuan Hans.
Nyonya Bianca mendengus kesal. "Kenapa? Lagi-lagi kau harus mengorbankan kebahagiaan putramu, hanya demi kepentingan pribadimu saja Hans! Apa kau tidak pernah bertanya apa yang Drew inginkan, atau apa yang menjadi kebahagiaannya!"
Tuan Hans menatap tajam Nyonya Bianca dan memukul meja. "Aku tidak peduli mengenai kebahagiaan Drew, yang kupedulikan adalah masa depannya yang cemerlang! Dan itu sudah pasti didapatkan olehnya dengan cara mengikuti semua kemauanku!" tegasnya.
"Kau sama sekali tidak berubah Hans! Kau selalu saja egois. Kau berpikir kebahagiaan seseorang tidaklah penting, karena kau telah dibutakan oleh kekuasaan!" protes Nyonya Bianca.
"Duduk!"
"Lepaskan tanganku!" sergah Nyonya Bianca menghentak tangannya.
"Kenapa kau selalu saja tidak menurutiku!" sentak Tuan Hans melototi.
"Kenapa aku harus menuruti pria egois seperti dirimu itu!" balas Nyonya Bianca.
"Kau membuatku habis kesabaran Bianca!" ucap Tuan Hans lalu berdiri dari tempat duduknya dan mendesak nyonya Bianca hingga menempel ke dinding dan segera mengunci pergerakannya.
"Akh kau mau apa!"
"Diam! Apa kau tidak pernah bosan, selalu saja melawan ucapanku?" hardik Tuan Hans sambil mengikis jarak yang ada dan terus mendekatkan wajahnya.
"Ingatlah batasanmu Hans! Kau tidak berhak mengunciku seperti ini! Aku sudah bukan istrimu lagi!" ucap Nyonya Bianca melawan.
Bersamaan dengan hal tersebut, Drew yang mengetahui jika ayahnya datang ke restoran dan sedang bersama dengan sang ibu, segera menghampiri ruangan dimana keduanya berada.
__ADS_1
"Daddy! Menjauhlah dari Mommyku!" sergah Drew, sambil menarik bahu Tuan Hans agar menjauh dari Nyonya Bianca.
Lalu menghadangnya agar tidak bisa mendekatinya kembali. "Apa yang Daddy lakukan, sampai Mommy menangis seperti ini? Apa Daddy kurang puas membuatnya menderita!" sarkas Drew tidak terima.
Tuan Hans membetulkan jasnya yang berantakan dan menatap tajam Drew. "Jangan ikut campur masalah orang tua!" tunjuknya.
Drew menggeleng. "Aku tidak peduli dengan masalah kalian, tapi aku tidak bisa diam saja saat melihat Mommy ku disakit olehmu!" pekiknya.
"Drew!" sarkas Tuan Hans dan melayangkan satu tamparan keras diwajah Drew hingga pipinya memerah.
"Drew!" pekik Nyonya Bianca. Lalu segera memutar tubuh Drew untuk melihat wajah putranya yang sehabis ditampar.
"Kenapa kau menampar Drew, kali ini apa kesalahannya!" sentak nyonya Bianca.
Tuan Hans menatap gusar. "Kesalahannya adalah ia selalu saja memihakmu dan kalian berdua pembangkang!"
"Bukan Drew yang salah, tapi letak kesalahannya adalah pada dirimu sendiri. Apa kau pernah berpikir dengan akal dan hatimu, kenapa dia selalu membangkang padamu dan memihak diriku ini, hah? Itu semua karena keegoisanmu!" sergah Nyonya Bianca sambil memeluki Drew seperti anak kecil.
Tuan Hans menatap nanar, dengan kedua bola mata yang memerah. Nafasnya pun menggebu, seakan tidak terima dengan ucapan tajam yang menghujam langsung ke inti jantungnya.
Akal sehat pria itu hampir saja tertutup emosi, hingga nyaris menyakiti seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya, jika Bagas dan Sam terlambat sedikit saja mencegahnya.
"Daddy sadarlah!" tegas Bagas, sambil memegangi lengan Tuan Hans yang hampir saja mendarat diwajah Nyonya Bianca.
Tuan Hans menoleh dan ia terbelalak. "K-kau ... Kau memanggilku apa tadi?" ucapnya mendadak lemas.
Nyonya Bianca seketika melebarkan kelopak matanya, ia menatap Bagas yang tengah berdiri dan menjadi penengah diantara mereka berdua.
"Daddy sadarlah dan ku mohon berhentilah bertengkar," pinta Bagas.
Tuan Hans berusaha menelan ludahnya yang tercekat dan menatapi Bagas. "Siapa yang kau panggil Daddy barusan? Apa kau tidak tahu siapa aku ini hah!"
Drew segera merangkul Bagas dan menatap kedua orang tuanya. "Daddy, Mommy. Maaf aku menyembunyikan ini dari kalian. Tapi pria yang berdiri ditengah-tengah kita hari ini, dia adalah Twister," ucapnya memberitahu dan disambut rasa tidak percaya dari kedua orang tuanya.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Next \=\=\=>>> Bagas akan balapan dengan Matt.
__ADS_1
Siapa yang akan menang? Dan siapa yang akan mengalami kecelakaan?
Tunggu di bab selanjutnya. Dan untuk kisah cinta Drew dengan Tesla, akan dihadirkan setelah balapan kali ini.