Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 93. Tekad Drew


__ADS_3

Sam berjalan mengendap-endap dan buru-buru menyembunyikan dirinya dibalik jendela kantor kepala Desa, saat tamu Pak Kades mulai memenuhi seisi ruangan.


Pria itu menyiapkan ponselnya dan mengambil gambar setelah semua orang didalamnya berkumpul bersama.


"Siapa mereka?" batin Sam melihat foto hasil bidikannya pada layar ponsel, sambil menatapi satu persatu wajah orang-orang dengan seksama.


Sam pun kembali mengintip dan memasang telinganya lebar-lebar agar bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan didalam ruangan tersebut.


"Selamat siang Tuan Anjas!" sambut hangat Pak Kades kepada ladang uangnya.


"Siang juga Pak Kades," balas Tuan Anjas berjabat tangan seperti biasa.


"Ayo silahkan duduk," ajak Pak Kades kemudian.


"Bagaimana Pak Kades, apa sudah dapat kabar dari Sanyoto mengenai lahannya?" tanya Tuan Anjas.


Pak Kades menutup pintu ruangannya terlebih dahulu dan menguncinya rapat-rapat agar tidak ada orang yang masuk, lalu kembali untuk duduk bersama dengan tamunya.


"Maaf Tuan Anjas, saya belum mendapat kabar dari keluarga tuan tanah. Kan Tuan Anjas tahu sendiri, jika tuan tanah sedang masuk rumah sakit," balas Pak Kades.


"Iya saya tahu hal itu, maksud saya setelah kebakaran kemarin. Apa istrinya atau sanak keluarganya yang lain tidak bilang menyerah atau berkata hal lainnya?" tanya Tuan Anjas.


"Mereka masih bertahan Tuan Anjas, malah istrinya tuan tanah mau mencari sendiri siapa pelaku kejahatan yang telah merugikan dan meneror keluarganya," balas Pak Kades.


"Mereka begitu keras kepala," ucap Tuan Anjas.


"Benar Tuan, lalu bagaimana selanjutnya? Apa yang harus saya lakukan?" tanya Pak Kades.


"Terus teror mereka dan beri pelajaran agar keluarga itu menyerah menjual lahannya," balas Tuan Anjas menekan.


"Sebenarnya saya sedikit takut dengan istrinya tuan tanah, sebab wanita itu adalah mantan jawara di desa ini, apalagi semua teman-temannya bisa dikatakan jago bela diri. Bagaimana kalau mereka sampai tahu jika saya terlibat didalamnya, bisa-bisa saya tinggal nama saja Tuan," ucap Pak Kades memberitahu dan sedikit gentar.


"Apa yang harus ditakuti, mereka hanya sekumpulan wanita. Begini saja, saya akan menambahkan beberapa orang dari luar untuk membantumu. Kerjakan saja teror di rumah itu dan juga beri ketakutan dengan membakar kandang bebeknya yang lain," titah Tuan Anjas.


"T-tapi Tuan, kita sudah melakukan itu semua. Apa tidak ada jalan lain?" tanya Pak Kades menolak.


Tuan Anjas mengeluarkan amplop coklat dengan sejumlah uang didalamnya, seakan mengerti dengan keinginan pejabat desa korup itu.

__ADS_1


"Apa ini cukup?" tanyanya menyodorkan.


Pak Kepala Desa seketika berbinar, buru-buru ia memasukkan segepok uang dalam amplop itu kedalam saku pribadinya. "Baiklah Tuan, akan saya pikirkan cara yang lain."


Tuan Anjas tersenyum. "Hem, baguslah kalau kau mengerti dengan maksudku."


Bersamaan dengan hal tersebut, Sam telah merekam aksi suap menyuap itu. Selain merekam, ia juga mengambil beberapa foto untuk dikirimkan kepada Twister sebelum dihapus.


Dan setelah berhasil mengumpulkan bukti Sam segera kembali menyusul Drew ke lokasi survei penerima bantuan.


...----------------...


Panti Asuhan.


Disisi lain, Drew tengah kewalahan menghadapi para bocah yang bergelayutan dibadannya. Pria itu dicubiti, dipeluki bahkan diciumi pipinya oleh para bocah perempuan yang menganggap dirinya sebagai pangeran tampan.


Drew tersenyum getir dan merasa jijik dengan para anak-anak panti asuhan yang berpakaian lusuh dan kumuh, namun demi tujuan awal, ia pun berusaha menahan rasa jijiknya.


"Kakak, kalau kakak sering datang kesini, maka kami akan selalu semangat belajar!" seru anak-anak dipanti asuhan itu, sebelum akhirnya mereka pergi berlarian masuk ke dalam ruangan.


Drew menghela nafas panjang dan merasa lega, lalu menatap seorang wanita paruh baya pengurus panti serta anak-anak yatim maupun piatu, yang datang mendekat kearahnya.


"Tidak apa," balas Drew tidak mempermasalahkan.


"Terima kasih atas bantuannya, saya pribadi merasa senang karena anak-anak di panti asuhan ini akhirnya mendapatkan perhatian dari masyarakat luar," ucap wanita paruh baya itu yang kerap dipanggil Bu Siti.


"Sama-sama Bu," balas Drew tersenyum. Lalu ia menatap ke sekeliling gedung panti asuhan yang dinilai kurang layak huni.


"Maaf Ibu, jika saya boleh bertanya. Apa gedung ini tidak pernah di renovasi?" tanya Drew sedikit risih melihat langit-langit gedung bergoyang tertiup angin.


"Pernah sekali dan itu juga sudah lama sekali," balas Bu Siti.


"Gedung yang sudah berdiri puluhan tahun ini, baru di renovasi 1 kali?" tanya Drew heran.


"Iya, itu juga yang memperbaiki dari tuan tanah desa ini. Setelah itu kami belum pernah mendapat bantuan apapun lagi, akan tetapi kalau yang datang kesini seperti Nak yayasan sudah sangat sering dan mereka hanya membawa sembako dan juga buku serta pakaian. Padahal bilangnya akan memberikan dana tunai untuk perbaikan gedung panti asuhan ini," balas Bu Siti menceritakan tanpa malu.


Karena bagaimana tidak, setiap ada yang memberi sumbangan. Pasti bilangnya akan memberikan uang tunai untuk perbaikan gedung dan untuk membeli fasilitas penunjang pendidikan.

__ADS_1


Akan tetapi, satu peser pun uang tunai, tidak pernah sampai ke tangannya maupun ke tangan para pengurus panti.


Drew merasa sakit hati mendengarnya, disaat ia hidup bergelimang harta. Masih banyak warga bahkan anak-anak kecil yang serba kekurangan disekitarnya.


Hingga pada akhirnya pria itu pun bertekad akan menyalurkan dana bantuan untuk panti asuhan itu dan juga panti-panti asuhan lainnya, menggunakan dana pribadi maupun dana perusahaan yang akan ia keluarkan setiap bulannya demi menghidupi kebutuhan pokok penghuni panti tersebut.


"Bu Siti, saya berjanji akan memperbaiki gedung ini dan membelikan fasilitas-fasilitas baru agar anak-anak merasa aman dan nyaman."


"Dan kali ini saya pastikan, bantuan berupa sembako maupun uang tunainya akan sampai ke tangan anda!" tekad Drew jujur.


Sam yang baru saja tiba disana merasa tersentuh mendengarnya, akhirnya ia dapat melihat sisi positif Drew lebih dominan dibandingkan sisi negatifnya.


Dan pria itu juga berharap, dengan bertemunya kasus-kasus seperti ini, dapat memunculkan sifat baik Drew yang sempat tenggelam cukup lama.


...***...


Kantor kepala Desa.


Setelah puas mendatangi lokasi dan mensurvey langsung ke lapangan, Drew dan Sam kembali ke kantor Pak Kades demi meminta ijin agar bisa memasukkan bantuan logistik ke dalam desa.


"Silahkan saja, tapi berhubung jalanan menuju tempat lokasi begitu sempit dan jalanan bergelombang. Ada baiknya bantuan pangan serta lainnya dititipkan saja di gudang pangan desa kami, biar nanti dari pihak kami yang akan menyalurkannya," ucap Pak Kades memberi saran.


Drew menatap Sam dan mengangguk. "Baiklah kalau begitu," balas Sam setuju.


"Lalu bagaimana dengan bantuan tunainya?" tanya Drew.


"Harus ke bendahara desa dulu agar dicatat sebagai pemasukan, lalu kami akan membagikannya secara adil dan rata," balas Pak Kades tanpa ragu.


Drew mengeraskan rahangnya dan menatap tajam Pak Kades dengan rasa benci mendalam, ia merasa yakin, jika selama ini bantuan uang tunai tidak pernah sampai ke tangan warga yang membutuhkan, karena tertahan di tangan para pejabat desa korup seperti Pak Kades.


Terlebih setelah mendengar pengakuan dari para pemilik panti, dimana mereka sama sekali tidak pernah menerima bantuan apapun dalam bentuk uang tunai.


"Lihat saja nanti, jabatanmu itu akan ku gulingkan sampai terdasar, hingga kau tidak dapat bangkit lagi!" geram Drew dalam hatinya.


Sam menenangkan Drew agar bersikap biasanya saja, dengan terus mengepal erat kepalan tangan Drew. "Sabar Drew, aku tahu kau kesal. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk membongkar keburukan Pak Kades," batin Sam.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2