
Karya baru berjudul : BENANG TANPA UJUNG.
Kisah ini bercerita tentang seorang wanita peranakan Tionghoa yang bernama Melin sering disapa Alin dan bermarga Lim, yang memiliki seorang suami pemabukan dan juga gemar berjudi bernama Yudi atau sering dipanggil koh Judi oleh teman-teman perjudiannya.
Kekerasan dalam rumah tangga juga sering terjadi didalam keluarga Alin, apalagi jika Yudi kalah berjudi dalam keadaan mabuk. Ia selalu membentak dan ringan tangan kepada istrinya.
Bagaimanakah kisah Alin dalam menjalani bahtera rumah tangganya dan apa alasan wanita itu selalu kuat menghadapi sikap suami yang selalu kasar terhadapnya?
Bab 1. Suami tidak berguna.
Tengah malam.
Seorang ibu muda tengah berusaha menenangkan bayinya yang berusia tiga bulan dari tangisan, serta rewel akibat demam sehabis imunisasi.
"Sssh ... Ssshh ..." Alin berusaha menenangkan sang bayi, dengan terus menimang-nimangnya didalam gendongan.
__ADS_1
Namun ayunan maupun indung-indung sayang, nyatanya tidak mampu menenangkan bayi mungil tersebut. Hingga pada akhirnya tangisan sang bayi kecil itu pun membangunkan salah satu penghuni rumah didalamnya.
"Mama, dede Marlina kenapa?" tanya Yuan, anak pertama Alin berusia 6 tahun.
"Dede demam sayang, kokoh Yuan tidur lagi ya. Besok kan kokoh sekolah," ucap Alin menggiring putranya kembali ke dalam kamar agar melanjutkan tidurnya.
"Tapi kokoh tidak bisa tidur kalau dede masih nangis," balas Yuan tidak dapat tidur, sesekali mengucek kedua mata lelahnya.
"Ya kokoh tutup matanya saja ya," ucap Alin mengelus dahi Yuan, sesekali menimang bayi Marlina yang masih rewel dalam dekapannya.
"Sudah, sebentar lagi juga panas dede Marlina bakalan turun kok. Kokoh bobo ya," pinta Alin sabar.
Namun Yuan malah pergi ke dapur, lalu kembali ke dalam kamar tidur, sambil membawakan segelas air minum untuk sang ibu. "Mama ini air diminum, mama pasti capek gendong dede."
Alin bergetar mendengarnya, ia segera mengambil air dari kedua tangan mungil Yuan dan meminum air pemberiannya itu. "Terima kasih, sayang."
"Sama-sama," jawab Yuan lalu merangkak naik keatas ranjang dan berusaha tidur sendiri. "Mama jaga dede Marlina saja, kokoh bisa tidur sendiri."
__ADS_1
"Ya sudah selamat malam, mimpi indah kokoh." Kecup Alin sesudahnya, lalu menatap ke sebelah sisi Yuan yang kosong tanpa seseorang dan tersenyum getir.
"Dia masih belum pulang," gumam Alin lalu menatap jam dinding.
Melihat Yuan telah tertidur lelap dan panas pada bayinya semakin mereda, Alin mencoba merebahkan kedua kakinya diatas meja kecil. Sesekali menatap pintu masuk dan berharap sang suami pulang ke rumah dengan segera.
Hingga rasa lelah dan kantuk membuat kedua netranya terlelap sendiri, akan tetapi ia harus terus terjaga demi menjaga pintu rumah, demi menunggu sang suami yang sedang asyik bermain judi di rumah temannya.
Alin mengambil sebotol minyak gosok berwarna hitam beserta kapas putih untuk luka, lalu membalurkan perlahan disekitar lebam pada bagian tubuhnya.
Terutama luka lebam dekat pipinya itu, akibat sebuah tamparan keras melayang tadi pagi. Sewaktu ia melarang suaminya untuk tidak pergi berjudi dan ingatannya kembali terlempar pada pagi hari tadi.
Lu jadi bini jangan cerewet, gua pergi main ke rumah si Ah Chin cuma sebentar!
Tapi koh, sudah berapa kali Alin bilang jangan berjudi. Jangan begadang saja! Punya waktu harusnya habiskan bersama anak kita, bukan dengan orang lain. Belum lagi toko sembako kita harus dijaga, Alin enggak sanggup sendirian mengurus rumah!"
....
__ADS_1