Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 145. Undangan Nyonya Bianca.


__ADS_3

"Kenapa kamu menampar wajahku?" tanya Drew tidak mengerti sambil mengusap rahangnya.


"Itu karena kau suka sekali pamer kemesraan di depan orang banyak," jawab Tesla.


"Loh apa salahnya dengan itu, sebentar lagi kita akan menikah dan kenapa juga kamu harus marah sayang?" tanya Drew.


"Kalau aku menolak menikah denganmu bagaimana?" ancam Tesla to the point.


Drew terbelalak. "Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu? Jangan lakukan itu, aku tidak mau kau menolak menikah denganku lagi, Tesla!" balasnya tidak ingin hal itu sampai terjadi.


"Baik, tapi berjanjilah kau tidak akan melakukan hal seperti itu lagi di muka umum. Karena kau bisa merusak citra baik keluargaku yang selama ini terjaga dengan baik," balas Tesla.


"Baiklah, aku berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi di depan banyak orang. Tapi kalau ditempat sepi dan tidak ada orang, boleh kan?" ucap Drew genit.


Tesla mencebik dan berjalan cepat saja daripada harus melihat wajah Drew yang selalu saja mesum, semenjak dirinya diijinkan menikah lebih cepat oleh kedua orang tuanya.


Drew terkekeh, tidak pernah dia merasa sebahagia ini. Rasanya ingin sekali menari dan berputar-putar bersama angin yang berhembus. Lalu ia pun segera menyusul kekasihnya itu dan merayunya kembali agar tidak marah berkelanjutan.


Setibanya di rumah, Tesla segera berkemas untuk kembali ke kota keesokan paginya. Begitu pula dengan Drew, ia juga akan pulang ke kota dan akan tinggal bersama dengan ayahnya.


Untuk itu Ibu Tyas sengaja menghidangkan makan malam untuk putrinya sebelum pergi dan mereka menyantap makan malam itu bersama-sama.


"Kalian berdua, ingatlah pesan ini. Kalian belum menikah, jadi tolong jaga sikap kalian dan harus bisa mengendalikan diri selama berada di kota," pinta Ibu Tyas mewanti-wanti.


Terutama kepada Drew, karena pria itu seperti soang yang selalu menyosor tidak terkendali kepada putrinya.


"Ya Ma, Tesla akan ingat agar menjaga diri," balas Tesla.


"Siap Tante," jawab Drew.


"Baguslah kalau begitu, sebulan lagi adalah pertunangan kalian. Jadi Mama dan Papa akan ke kotanya sehari sebelum pertunangan itu diadakan," ucap Ibu Tyas memberitahu.


"Ya Ma, kami mengerti."


"Ya sudah, sekarang makanlah sebelum makanannya dingin," ucap Ibu Tyas menawari.


Sementara itu Pak Sanyoto menatap Drew dan Tesla secara bergantian, ada perasaan tidak menyangka saat mengetahui itik kecilnya itu akan menjadi milik orang lain dan pergi dari kehidupannya untuk menjalani kewajiban sebagai seorang istri.


Hal itu membuatnya tanpa sadar menitikkan air mata, makanan pun terasa asin baginya. Hingga nafsu makannya seketika menurun drastis dan Ibu Tyas menemani suaminya yang tiba-tiba saja keluar dari meja makan.


"Ada apa sayang? Kenapa Papa tidak melanjutkan makan malamnya?" tanya Ibu Tyas.


Pak Sanyoto buru-buru menghapus air matanya. "Tidak ada, Papa sudah kenyang dan mau cari angin segar saja."


Ibu Tyas menatap wajah suaminya yang terlihat sedih dan menduga kesedihan suaminya itu pasti karena putrinya sebentar lagi akan menikah.


"Papa, Tesla sudah cukup umur untuk menikah dan Mama juga yakin Tesla sudah siap secara mental dalam menjalani biduk rumah tangga," ucap Ibu Tyas menenangkan.

__ADS_1


"Ya Mama benar, tapi Papa masih belum bisa terima saja kalau dia itu sudah dewasa dan akan pergi dari kita," balas Pak Sanyoto.


"Dia pergi hanya masuk ke dalam keluarga suaminya, bukan pergi untuk selama-lamanya. Jadi untuk apa Papa bersedih dan menakutkan hal yang tidak berdasar lainnya. Tesla menemukan pria yang sangat mencintainya dan Mama yakin Tesla akan hidup bahagia bersama dengan Drew nanti," balas Ibu Tyas.


Dan itu membuat Pak Sanyoto semakin terisak. "Mama benar, harusnya Papa senang karena Tesla akhirnya menemukan jodoh yang mencintai dia. Papa terlalu banyak mengkhawatirkan hal yang tidak berguna, sampai tidak memikirkan kebahagiaan anak sendiri."


Ibu Tyas tersenyum. "Kalau begitu berhentilah bersedih dan masuklah ke dalam, karena angin malam tidak baik untuk kesehatan."


Pak Sanyoto menurut dan masuk ke dalam rumah sambil menggandeng tangan istri istimewanya. Lalu berkumpul bersama lagi di meja makan dan menghabiskan malam itu dengan mengobrol bersama agar mempererat hubungan.


...----------------...


Sebulan kemudian.


Restoran Manyu.


Hari ini keluarga Sanyoto akan berkunjung ke restoran Manyu, sesuai undangan yang telah di kirim oleh Nyonya Bianca sebelumnya kepada keluarga tersebut.


Dan dalam pembahasannya Nyonya Bianca berencana akan menutup restorannya selama dua hari, untuk pertemuan dua keluarga hari ini dan juga acara pertunangan Drew dengan Tesla yang akan diadakan besok.


Hal itu tentu disambut antusias oleh Drew dan Tesla beserta keluarganya, tidak terkecuali nyonya Bianca sendiri. Dirinya begitu bahagia karena dapat turut andil secara langsung dalam setiap rencana pernikahan Drew dengan Tesla.


Selain itu, adanya ibu Tyas. Nyonya Bianca sendiri seperti mendapat teman baru yang bisa mendukung dan membelanya dari kejahatan nyonya Sherly.


Seperti saat sekarang ini, Ibu Tyas tengah menegur Nyonya Sherly ketika terlalu ribut dalam mengatur dekorasi apa yang akan mereka gunakan pada esok hari.


Nyonya Bianca mengangguk. "Kau benar, aku juga tidak suka dengan idenya. Lebih baik banyak bunga yang bertaburan disetiap dekorasi daripada emas dimana-mana," timpalnya berani.


Nyonya Sherly mendengus kesal. "Bertaburan bunga? Memangnya kalian akan membuat tempat ini menjadi kuburan. Emas dan permata sangatlah sesuai dengan keluarga terpandang Royce, begitu mewah dan berkelas!"


"Kalau begitu, jangan dekorasi untuk putra dan putri kami. Kau dekor saja kamarmu sendiri dengan emas dan permata, biar kelilipan matamu itu!" jawab Ibu Tyas ketus.


Lalu segera merangkul Nyonya Bianca agar pergi menjauh dari Nyonya Sherly dan mereka mulai melakukan pengaturan menu hidangan untuk acara pertunangan, serta mengatur keperluan penting lainnya.


Dan benar saja, Nyonya Sherly yang merasa diabaikan pun berubah geram. Terlebih saat acara penting untuk keluarga Royce, dirinya tidak selalu dilibatkan.


Dan tibalah mereka diacara makan malam bersama, semua orang telah berkumpul dan Nyonya Bianca segera membuka acara makan malam bersamanya itu.


"Besok adalah hari pertunangan Drew dan Tesla, aku bersyukur sekali akhirnya mereka bisa bersatu dalam sebuah ikatan pertunangan. Dan aku juga berharap hubungan mereka baik-baik saja hingga ke jenjang pernikahan," harap Nyonya Bianca menangis haru.


Karena sebelumnya Drew telah gagal menikah sebanyak dua kali, maka untuk itu ia hanya bisa berharap hubungan keduanya berjalan lancar hingga menikah dan menjadi keluarga yang harmonis kedepannya.


"Amin!" seru mereka yang berada disana dengan rasa suka cita.


Dan tak lama setelah doa-doa terbaik, acara makan malam pun dimulai dan mereka menyantap hidangan yang telah disediakan oleh restoran Manyu.


"Apa ini bebel dari peternakan Sanyoto?" tanya Ibu Tyas saat mencicipi satu gigit potongan daging bebek.

__ADS_1


"Tentu, bagaimana rasanya?" tanya Nyonya Bianca antusias.


"Wah lezat sekali, bumbunya begitu meresap hingga kedalam. Kematangan daging juga begitu sempurna, kulit bebek bagian luarnya ini sangat crispy, tapi daging bagian dalamnya sangatlah lembut dan sedikit juici. Aku suka sekali," puji Ibu Tyas berbinar-binar.


Sedangkan Pak Sanyoto sama berbinarnya dengan ibu Tyas, dan karena tidak sabar memakai pisau dan garpu, akhirnya pria itu memotong menggunakan tangan dan makan dengan lahap.


"Benar, ini enak sekali!" ucap Pak Sanyoto dengan mulut yanh penuh dengan makanan.


Semua orang disana tertawa, tapi berbeda dengan Nyonya Sherly. Menatap jijik pria di dekatnya itu.


"Dasar kampungan!" gumamnya jadi hilang selera makan.


Dan setelah acara makan malam tersebut, Nyonya Bianca menyiapkan hidangan penutup untuk semua orang.


"Makanan apa ini?" tanya Pak Santoto bertanya-tanya sambil menatapi sekeliling makanan berbentuk imut dan indah dihadapannya.


"Ini es krim," balas Ibu Tyas memukul bahu suaminya karena selalu saja bertingkah norak.


"Oh jadi ini yang namanya es krim, tapi kenapa bisa bagus seperti ini tampilannya. Biasanya papa beli yang di warung ada kacang hijaunya," ucap Pak Sanyoto membandingkan es di desa.


"Itu bukan es krim, tapi es lilin."


"Oh," Pak Sanyoto membulatkan bibirnya. Lalu menyendok hidangan penutup itu dengan wajah berseri-seri. "Ini enak sekali!" serunya seperti anak kecil.


"Kalau begitu makanlah sepuasnya," ucap Nyonya Bianca mengijinkan.


"Terima kasih," balas Pak Sanyoto.


Sementara Pak Sanyoto sibuk dengan es krimnya, Nyonya Bianca juga menawarkan kepada keluarga Tesla agar menginap di rumahnya selama beberapa hari. Dan hal itu disetujui oleh yang lain, termasuk Twister dan Mutia.


Ibu Tyas pun akhirnya setuju, ia merasa tidak ada salahnya menginap di rumah calon besan. Karena setelah Drew dan Tesla menikah di kota, ibu Tyas juga berencana akan mengadakan resepsi pernikahan di desa selama beberapa hari.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Next\=\=> kita kondangan.


Hai readers setia, terima kasih karena telah setia membaca karya author receh ini. Author ingin memberitahukan sesuatu, yaitu setelah bab ini. Kita akan masuk ke dalam bab-bab terakhir.


Terus dukung karya author ini, jangan lupa beri like setelah baca. Komen jika berkenan. Berikan gift dan bintang untuk penyemangat lagi.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2