
Malam harinya.
Berhubung ada tamu di rumahnya, Pak Sanyoto bermaksud membuat acara kecil-kecilan untuk menyenangkan hati sang putri kesayangan, dan juga untuk teman-temannya.
Pria paruh baya itu membuatkan api unggun kecil di halaman belakang rumah, dengan tidak lupa menyiapkan segala jenis makanan untuk dibakar diatas bara api itu, seperti perkemahan anak-anak.
"Ayo silahkan di mulai saja, tidak usah malu-malu." Pak Sanyoto menyuguhkan ikan bakar hasil tangkapan disungai."
Tesla dan teman-teman serempak menarik air luir mereka, lalu mengambil ikan bakar tersebut dan menyantapnya dengan sambal dan nasi.
"Wah ini benar-benar ikan bakar paling enak yang pernah aku makan!" seru Marisa dengab mulut penuh makanan.
"Hem, setuju! Daging ikannya manis dan segar, bumbunya juga meresap sempurna," timpal Tiara berlagak seperti seorang juri chef.
"Siapa dulu yang mancing ikan disungai tadi," ucap Pak Sanyoto bangga.
"Pasti bapak ya," ucap Tiara dan Marisa bersamaan.
"Tentu saja bukan," balas Pak Sanyoto terkekeh.
"Ibu yang mancing tadi," serobot Ibu Tyas.
"Ya mama yang mancing ikannya, tapi kan papa yang olah ikan sama beri bumbunya." ucap Pak Sanyoto sambil menggoda sang istri dengan mencoleknya.
"Ikh, papa genit! Malu banyak anak kecil disini," ucap Ibu Tyas malu-malu.
"Tidak apa genit juga sama istri sendiri bukan sama istri orang lain," balas Pak Sanyoto.
"Berani papa genit sam iatri orang lain? Dikempesin perutnya sama mama," balas Ibu Tyas.
"Dikempesin, emangnya perut papa ini ban?" kekeh pak Sanyoto.
"Papa dan mamamu sungguh romantis ya," bisik-bisik Marisa kepada Tesla.
"Tentu, mereka selalu seperti itu. Kadang bermesraan tidak tahu tempat," bisik Tesla juga.
"Mereka terlihat sangat mesra, tapi kenapa punya anak cuma satu saja?" bisik Tiara.
"Dulu sebelum aku lahir, Mamaku sempat punya bayi. Sayangnya saat berumur 2 bulan anak pertamanya meninggal," balas Tesla.
"Oh begitu, cowo atau cewe? Maaf, tapi meninggal karena apa?" tanya Marisa.
__ADS_1
"Cowo, meninggal karena sakit. Kalau kakakku itu masih hidup mungkin umurnya sekarang seusiaan dengan kak Bagas," jawab Tesla.
Tiara dan Marisa mengangguk, mungkin sebab itulah keluarga Sanyoto menganggap Bagas seperti keluarga sendiri. Karena telah menganggap anak pertama mereka seolah-olah masih hidup dan telah tumbuh dewasa.
Tak berselang lama kemudiaan, disaat keluarga itu bersenda gurau, seorang pria datang menghampiri dan duduk diantara mereka semua.
"Bagas," ucap Ibu Tyas tidak menyangka. Wanita itu begitu senang akan kedatangan putra angkatnya, tapi tidak dengan pak Sanyoto dan juga Tesla.
"Mau apa lagi kamu datang kesini?" ketus Pak Sanyoto.
"Papa, aku datang kesini sudah pasti karena kalian," balas Twister.
Pak Sanyoto menggeleng. "Tidak! Kau bukanlah bagian dari keluargaku lagi! Sekarang pergilah dan berkumpulan dengan keluarga aslimu!"
"Papa, maaf jika daddy berkata hal yang tidak-tidak dan menyakiti hati kalian. Tapi aku sendiri telah memberitahukannya kalau aku akan selalu menjadi bagian dari keluarga ini," balas Twister.
"Kenapa kau mau menjadi bagian dari keluarga kampung seperti kami ini Kak? Daddy mu benar, kita tidak punya hubungan darah. Jadi tidak sepatutnya kau datang kesini dan berkata seperti itu," ucap Tesla.
"Kau juga Tesla?" ucap Twister sedikit kecewa mendengarnya.
"Ya, kita sudah tidak punya hubungan keluarga lagi. Jadi sekarang aku pinta, pergilah dari sini. Karena aku tidak ingin daddymu datang lagi menemui keluargaku dan berkata kalau keluargaku lah yang memintamu agar datang kemari atau menyalahkan keluargaku karena masih berhubungan denganmu," balas Tesla.
"Oh jadi begini sikap kalian kepadaku, kepada orang yang sudah kalian anggap sebagai keluarga sendiri. Begini kah sikap kalian, setelah didatangi oleh daddyku dan mengalah kepadanya, lalu memutuskan begitu saja hubungan kita selama lima tahun?" ucap Twister tidak habis pikir.
"Mama, bukankah kau yang telah merawatku dan membimbingku untuk menjadi putramu sendiri? Kau juga mengajariku caranya menjadi montir handal dan hal ksatria lainnya."
"Lalu Papa, kau juga yang bilang padaku. Kalau kita sebagai pria harus ingat akan keluarga dan selalu menjaga serta melindungi satu sama lain?" tutur Twister lalu menatap Tesla.
"Dan kau adikku, bukankah kau selalu berkata ingin sekali punya seorang kakak laki-laki, agar bisa melindungimu dan menjagamu dari pria-pria jahat dimuka bumi ini," ucapnya.
Tesla menatap langit-langit, agar tidak ada air mata yang menetes dari kedua pelupuk matanya. Dan saat mengetahui pria itu membungkuk kepada keluarganya, Tesla pun tidak sanggup lagi menahan air matanya.
Akan tetapi isak tangisnya perlahan berubah menjadi rasa nyeri dan sesak didada yang tidak tertahankan, hingga semua orang yang melihatnya langsung panik.
"Tesla kamu kenapa?" pekik Marisa yang berada disamping wanita itu dan cemas melihat Tesla meringis kesakitan.
"Sayang," cemas Pak Sanyoto dan Ibu Tyas bersamaan.
Twister segera melihat keadaan Tesla, yang meringis sambil memegangi dadanya.
"Ini pasti gara-gara luka tabrakan yang belum sembuh sepenuhnya," duga Twister.
__ADS_1
Tak mau banyak bicara, pria itu segera membopong raga Tesla ala bridal style dan membawanya hingga ke dalam kamar.
"Kau terlihat pucat, istirahat dulu." Twister menyangga punggung dan kepala Tesla agar berbaring sedikit tinggi.
"Aku baik-baik saja," ucap Tesla tersengal.
"Apanya yang baik-baik saja, kau terlihat kesakitan!" sentak Twister. Tesla akhirnya terdiam dan membiarkan Twister mengurusnya.
Pria itu membuka kotak obat dan memberikan obat pereda nyeri dan juga obat lainnya untuk diminum oleh Tesla.
"Ini minumlah," titah Twister dan Testa meminumnya.
"Mana salep pereda nyeri yang diberikan oleh dokter Handi padamu?" tanya Twister.
"A-ada di dalam tas ku," balas Tesla.
"Ini cepat pakailah, aku keluar dulu."
"Baik," balas Tesla patuh.
Twister keluar dari kamar Tesla dan membiarkan wanita itu memakaikan salep, karena luka memarnya berada didaerah sensitif.
...----------------...
Sementara itu, Drew melajukan kendaraannya menuju Desa Rawa Bebek untuk menyusul Twister, setelah lelah menunggu kakaknya itu memberi kabar kepadanya.
"Kenapa sulit sekali menghubungi nomornya, sudah begitu kenapa dia lupa mengabariku," gumam Drew tak sabar.
Pria itu mengoceh tidak karuan dan pikirannya sudah merambah kemana-mana. Entah bagaimana kabar dari kakaknya itu, tapi satu hal yang pasti, Drew telah tiba di depan tugu desa Rawa Bebek.
Drew mengandalkan ingatannya tentang jalan yang sedang ia lalui, seketika memori awal dirinya datang ke desa itu pun terlintas.
Bagaimana pertama kali dirinya bertemu dengan Tesla dan tertabrak sepedanya, lalu memori di telaga dan juga memori saat mwnginap di rumah kembang desa itu.
Hingga pada akhirnya, Drew telah tiba di kediaman pak Sanyoto dan melihat adanya kerumunan di dalam rumah itu.
.
.
Bersambung.
__ADS_1