
Sementara itu masih diatas bukit, Drew enggan melepaskan ciumannya. Walau wanita dihadapannya itu sudah memberontak tertanda telah menyerah dan ingin mengakhiri.
Drew terus menyesap kuat benda kenyal ranum menggiurkan itu, benda yang sudah lama ia inginkan untuk dinikmati. Dan kali ini Drew tidak akan melepaskannya dengan mudah begitu saja, saat ada kesempatan menyicipinya.
Rasa manis yang memabukkan, membuat Drew hanyut akan permainannya sendiri. Ciuman pertama yang baru pertama kali ia rasakan bersama dengan wanita yang ia cintai, dan itu rasanya sangatlah luar biasa.
Rasanya ingin selalu menjelajah lebih dalam dan menikmati setiap lekuk bibir wanitanya itu, maka tak heran Drew tidak ingin melepaskannya, karena rasa penasaran yang kuat tengah melanda dirinya saat ini.
Berbeda halnya dengan Tesla, dirinya yang telah ambruk diatas rerumputan, membuat Drew semakin leluasa melumaat habis bibir ranumnya itu dari atas tubuhnya.
Sedangkan ia sendiri sudah hampir mati karena kehabisan oksigen, ingin sekali memukul badan Drew sekuat tenaga dan mendorongnya menjauh agar bisa menarik udara segar sejenak, akan tetapi hal itu nyatanya sulit dilakukan karena kedua tangannya telah terkunci oleh cengkraman tangan besar Drew.
Hingga pada akhirnya pagutan itu pun terlepas, saat ada sesuatu benda melayang dan mendarat tepat mengenai kepalanya.
"Aduh!" pekik Drew melepaskan ciumannya. Dan kesempatan itu diambil oleh Tesla untuk mendorong Drew, agar ia bisa terbebas dari ciuman maut nan mematikan.
"Yuhu, kena sasaran!" ucap Pak Sanyoto yang melempar sendal jepitnya dari kejauhan. Dan bersorak kegirangan, serta merasa puas karena sendal jepit usangnya itu telah berhasil mengenai target.
Drew menelan ludahnya susah payah, setelah melihat siapa orang yang datang menghampiri dan bukan hanya satu, melainkan banyak orang.
Pak Sanyoto yang melihat putrinya engap-engapan seperti ikan kurang air nampak kesal, tanpa permisi lagi ia menjitak kepala Drew dan memarahinya.
"Dasar pria mesum! Kamu apakan anak perawanku sampai dia sesak nafas seperti itu! Kamu mau perkaos putriku ya!" cecar Pak Sanyoto murka.
"K-kalian tapi bagaimana bisa tahu kami ada disini?" tanya Tesla bingung.
"Dasar bebek bodohh, apa kau tidak ingat siapa bapak moyang dan ibumu ini? Semua warga telah mengenal keluarga kita dan mereka menunjuk kemana kamu pergi bersama dengan si sontoloyo ini!" balas Pak Sanyoto dan menjewer telinga Drew.
Masa bodo dengan keluarga kandung dari Drew yang sudah geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan putranya yang dinilai berani merejeng anak gadis orang lain dan pembalasan dari seorang ayah yang telah dibawa lari putrinya.
"M-maaf Om, aku khilaf. Habis enak sih," celetuk Drew dan itu menambah kekesalan Pak Sanyoto, hingga pria bulat itu tidak segan-segan memukuli bokongg Drew dengan sendal jepitnya hingga putus.
Semua orang disana segera melerai aksi Pak Sanyoto yang nampak gemas pada Drew, sebelum gelap mata melakukan hal kejam lainnya. Sedangkan Drew hanya bisa cengengesan walau sudah dipukuli panttat-nya berkali-kali hingga ngilu.
Sementara itu Tuan Hans yang menyaksikan hal tersebut tidak habis pikir, ia tidak pernah berlaku kasar atau main tangan kepada kedua putranya, akan tetapi putranya itu malah dengan mudahnya meminta maaf kepada orang lain yang telah berani memukulinya.
Padahal harusnya putranya itu marah, tapi Drew malah mengikhlaskan orang lain yang bukan hanya memarahi, tetapi juga memukulinya dengan sadis.
"Kau telah salah Drew, sudah bawa kabur anak gadis orang tanpa permisi, kau juga inginkan hal lain. Kau harus dihukum!" ucap Nyonya Bianca menatap Drew yang malang.
__ADS_1
"M-maaf Mommy, hukum aku apapun yang kalian mau, tapi jangan hukum Tesla. Ini semua murni kesalahanku," balas Drew memohon.
Nyonya Bianca menghela nafas panjang dan menatap putranya itu, hidup Drew yang selalu tertekan oleh ayahnya sendiri membuat ia tidak tega menghukumnya.
"Bagaimana Bu Tyas? Apa hukuman yang cocok untuk putraku ini?" tanya Nyonya Bianca meminta saran.
"Putramu harus di arak keliling kampung dan melakukan aksi sosial di desa ini selama 1 minggu," balas Ibu Tyas memberi hukuman.
"Berani sekali kalian meminta putraku yang terhormat melakukan pekerjaan rendah seperti itu!" serobot Tuan Hans tidak menerima.
Ibu Tyas memicingkan kedua matanya dan menatap tajam Tuan Hans sambil berkacak pinggang tanpa rasa takut.
"Ini desaku, dan aku adalah seorang jawara desa sekaligus kepala desa di desa ini. Saat ada orang luar yang berani berbuat onar di desaku, apalagi dia sampai berani menyentuh seorang gadis yang notabenenya adalah seorang gadis kembang desa, maka dia harus menerima apapun hukuman yang berlaku disini!" jawab Ibu Tyas dan mendekati Tuan Hans.
"Apa kau sudah jelas dengan jawabanku Tuan Hans Royce yang terhormat! Daripada darahmu naik melihat desa ku yang sederhana dan tentram ini, ada baiknya kau pulang ke rumah dan tidur kelonan dengan istrimu yang penuh dempulan dimukanya itu!" ucapnya kemudian.
Tuan Hans seketika bungkam dan mati kutu, tidak pernah dia kalah berdebat dengan seseorang. Akan tetapi kali ini dia harus mengakui, bahwa lidahnya telah lemas kehabisan kata-kata untuk membalas.
"Dia bukan hanya pandai dalam ilmu bela diri, tapi juga pandai bersilat lidah," batin Tuan Hans mengakui.
"Baik, tapi sebelum aku kembali ke kota. Aku harus mengatakan sesuatu kepada putraku Drew," balas Tuan Hans.
Tuan Hans mendekati Drew yang masih tidak sudi menatapnya. "Pulang lah ke rumah, Daddy berjanji tidak akan melarangmu menjalin berhubungan dengan wanita manapun yang kau sukai," ucapnya.
Drew menoleh dan menatap wajah ayahnya yang serius. "Benarkah? Apa kau sekarang mengijinkan aku untuk melanjutkan hubunganku dengan Tesla?" tanyanya memastikan.
Tuan Hans menghela nafas pasrah, sebenarnya ia tidak ingin sampai berbesanan dengan keluarga yang dinilai sangat bar-bar seperti keluarga Sanyoto itu. Akan tetapi apa boleh buat, daripada pusing karena selalu kesal menarik urat.
Tuan Hans akhirnya menyerah juga, dan membiarkan Drew menjalin kasih kembali bersama dengan Tesla.
"Terima kasih Daddy, aku berjanji setelah urusanku selesai disini. Maka aku akan pulang ke rumah secepatnya dan memenuhi semua tanggung jawabku kepadamu," balas Drew begitu semangat. Ia bahkan sampai melupakan kekesalannya itu pada sang ayah di waktu sebelumnya.
Tuan Hans mengangguk, lalu berjalan pergi melewati Nyonya Bianca dan menyempatkan diri untuk melirik mantan istrinya sekilas. Ada perasaan senang juga melihat mantan istrinya bisa tersenyum mendengar keputusannya.
"Ayo Martino kita pulang!" titah Tuan Hans.
"Baik Tuan besar, tapi bagaimana dengan nyonya Bianca? Dia menyetir sendiri kemari dan setahu saya, nyonya Bianca kurang handal dalam mengendarai mobil," balas Martino.
"Kalau begitu kau tinggal-lah sejenak disini, jangan biarkan dia menyetir mobil lagi," balas Tuan Hans.
__ADS_1
Martino mengangguk patuh dan menatap Nyonya Bianca. "Nyonya, saya menunggu anda dibawah."
Nyonya Bianca mengangguk. "Baik, terima kasih Martino."
"Sama-sama," balas Martino tersenyum dan merasa senang saat Nyonya Bianca menyebut namanya. Tapi apakah pantas memiliki perasaan seperti itu kepada mantan istri atasannya?
Sementara itu dibawah kaki bukit sana, Nyonya Sherly memilih untuk pulang sendiri karena tidak betah berlama-lama berada di desa tersebut.
"Kalau kelamaan berada disini aku bisa jadi orang kampung! Mana banyak serangga, ikh sebalnya!" ketusnya lalu pergi tanpa menunggu suaminya selesai turun dari bukit.
...***...
Setelah diarak keliling kampung, akhirnya Drew dan Tesla telah tiba di kediaman Sanyoto. Mereka berdiskusi kembali mengenai masa depan putra dan putri mereka bersama dengan Nyonya Bianca.
Dan cukup lama melakukan pertimbangan, akhirnya kedua keluarga itu sepakat akan menikahkan Drew dengan Tesla secepat mungkin mengingat keduanya sudah semakin dekat saja dan ia tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan seperti contohnya Drew yang khilaf lagi.
"Ya sudahlah, kita nikahkan saja mereka secepatnya." ucap Ibu Tyas.
"Aku setuju," balas Nyonya Bianca.
"Tapi aku masih belum siap kehilangan itik kecilku," balas Pak Sanyoto tidak rela.
"Apa kau mau mereka sampai melakukan sekkss bebas saat di kota nanti? Walau kita percaya kepada mereka, tapi kita tidak tahu kalau tiba-tiba saja terjadi situasi dimana keduanya saling hilang kendali dan bisa saja mereka melakukan hal itu dan ah ... Jadi," jelas Ibu Tyas menerangkan.
Pak Sanyoto nampak merungkut, dan setelah perdebatan dalam dirinya selesai. Dia pun akhirnya menyetujui keinginan istrinya.
"Baiklah, kita nikahkan saja mereka daripada kepikiran terus. Kalau sudah sah kan enak, mereka mau melakukan apapun juga ya bebas," ucap Pak Sanyoto setuju pada akhirnya.
"Syukurlah kalau begitu, Drew pasti senang sekali memdengarnya," ucap Nyonya Bianca gembira.
Mereka pun mengakhiri perbincangan tersebut dan menghampiri Tesla dan Drew yang sedang berduaan di teras rumah. Dan Drew begitu gembira saat Tesla diijinkan untuk menikah dengannya tanpa harus menunggu gadis itu lulus kuliah terlebih dahulu.
Dengan semangat pria itu mengangkat tubuh Tesla, lalu mencium bibirnya hingga bertubi-tubi dan membuat semua orang disana tersedak nafas mereka bersamaan.
"Dasar bebek jantan kegatelan, maen sosor anak orang aja!" protes Pak Sanyoto cemburu.
.
.
__ADS_1
Bersambung.