
Keesokan harinya.
Panti asuhan.
Sesuai dengan janjinya, Drew menyerahkan bantuan berupa sembako dan juga alat-alat tulis kepada beberapa panti asuhan di desa Rawa Bebek, serta uang tunai untuk membeli berbagai macam fasilitas dan juga untuk biaya renovasi gedung agar layak dihuni oleh anak-anak panti.
Selain bantuan dari Drew, pejabat daerah serta perusahaan Royce juga turut memberikan santunan kepada beberapa panti jompo, serta membeli keperluan untuk para penghuni yang seluruhnya sudah berusia lanjut itu.
Dan mereka yang menerima pun, berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan kepada mereka.
"Terima kasih atas kepeduliannya, kami hanya bisa berdoa, semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua kebaikan para dermawan yang telah membantu kami semua disini dan selalu diberikan kemudahan rejeki, kesehatan dan kebahagian dalam hidup," ucap salah satu perwakilan panti penerima bantuan, sebelum melepas kepergian orang-orang yang telah membantu mereka.
"Amin!" seru semua orang bersamaan.
Tuan Hans tersenyum senang, ada kebanggaan tersendiri saat melihat semua orang berbahagia atas rejeki yang mereka terima hari ini.
"Apakah ini yang namanya bahagia? Mereka bersyukur dan bersuka cita saat menerima rejeki yang tidak seberapa? Apa yang membuat mereka berseru senang seperti itu?" batin Tuan Hans tidak mengerti.
Namun satu hal yang pasti, hari ini ia belajar bahwa memberi dapat membuat orang lain bahagia. Dan memberi tidak membuat dirinya jadi miskin, melainkan ia mendapat sesuatu yang berharga, yaitu nilai dari berbagi itu sendiri.
Semangat baru, kebersamaan, keceriaan, serta senyum dan tawa.
Lalu, apa yang berbeda dari kehidupannya sekarang ini?
Ia memang punya segalanya, bergelimang harta, gelar tinggi dalam bisnis, kekayaan, kekuasaan dan istri muda yang cantik. Akan tetapi dia merasa tidak memiliki kelima rasa itu sepanjang hidupnya.
Lalu bagaimana mereka yang hidup dalam kesederhanaan, bisa mendapatkan segalanya?
Bersyukur.
Mungkin itulah jawaban yang tepat untuk Tuan Hans saat ini, dimana pria itu jarang sekali bersyukur atau bahkan tidak pernah sama sekali.
Disaat ia memiliki istri yang baik hati dan pintar lagi cantik, dirinya tidak bersyukur saat itu. Bahkan ia tergiur dengan daun muda lain dan merasa harus memilikinya juga sebagai kebanggaan tersendiri karena mampu memiliki istri baru.
Namun apa yang terjadi, ia malah kehilangan istri terbaiknya. Bahkan ia juga kehilangan perhatian kedua putranya akibat terlalu memaksakan keinginannya kepada mereka berdua.
Ia tidak mengerti rasa bersyukur, namun melihat kejadian ini. Tuan Hans seakan mendapat suatu pencerahan, ia juga harus mengakui, jika dirinya begitulah angkuh dan sombong.
Apa yang harus ia sombongkan? Buktinya sikap seperti itu tidak bisa membuatnya merasa puas, malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Tuan Hans menghela nafas panjang, sambil menatap ke angkasa. "Mereka benar," gumamnya menyadari selama ini sikapnya telah salah.
Dengan langkah berani ia menghampiri Ibu Tyas dan meminta waktu untuk berbicara.
__ADS_1
"Maaf, maaf atas kesalahan yang pernah saya perbuat kepada keluarga anda, Nyonya," ucap Tuan Hans mengakui sikap tidak baiknya selama ini.
Tak elak pernyataan Tuan Hans tersebut, membuat Drew dan Twister beserta Sam tersedak ludah mereka bersamaan.
"Daddy? ... Minta maaf?" terheran-heran mereka kebingungan.
"Aku yakin akan ada badai setelah ini," celetuk Drew terperangah.
"Hush! Bukankah itu permulaan yang bagus," ucap Sam.
"Benar, aku hanya berharap Daddy akan selalu seperti ini," timpal Twister senang melihat perubahan sikap kepada ayahnya.
Tak berapa lama kemudian, Tuan Hans pamit pulang ke kota kepada semua orang. "Ayo Drew, Twister kita pulang," ajaknya.
Drew menolak. "Tidak Daddy, masih ada yang harus aku selesaikan disini. Kalau kalian mau pulang, maka pulang saja duluan," tolaknya.
"Kenapa Drew? Kasus di desa ini telah selesai, kita juga sudah menangkap dalang utamanya. Apalagi yang ingin kau selesaikan?" tanya Tuan Hans.
"Kau ingin berbuat apa?" tanya Twister ikut berdikusi.
"Aku ingin memperbaiki kandang bebek yang telah habis terbakar dengan membangunnya kembali dan aku juga ingin berbicara kepada warga desa yang masih bersikukuh ingin menjual lahannya kepada pihak pengembang," balas Drew.
"Apa yang ingin kau lakukan dengan para warga desa ini?" tanya Tuan Hans tertarik.
"Daddy, aku ingin membeli seluruh lahan warga desa yang sebelumnya telah membuat kesepakatan kepada Tuan Anjas. Agar mereka tidak lagi menyalahkan keluarga Sanyoto, maupun perusahaanmu," balas Drew yakin.
"Aku akan menggadai perusahaanku kepada bank, dan sisanya aku akan meminjam pada perusahaanmu," balas Drew.
"Apa alasanmu melakukan semua ini? Apa kau tahu resikonya? Kau bisa saja kehilangan perusahaanmu karena bangkrut," tanya Tuan Hans memperdalam pertanyaannya dan juga memperingati..
Drew tersenyum. "Tidak masalah aku bangkrut Daddy, karena aku sudah berjanji kepada diriku sendiri. Aku akan membantu keluarga Sanyoto untuk memperbaiki semua kekacauan disini. Karena walau bagaimanapun juga, kerugian yang tengah dialami oleh keluarga Tesla, ada sangkut pautnya dengan kesalahanku, yaitu membatalkan pernikahanku dengan Bella."
"Sudah begitu, Tesla juga pernah membantuku dalam mengungkap kejahatan Bella dan Alia. Jadi aku rasa yang ku lakukan saat ini adalah sebagai bentuk balas budiku padanya," balas Drew menjelaskan.
Tuan Hans kembali terperangah mendengar pengorbanan Drew semacam itu, ia pun mendesis panjang, lalu menyadari jika semua kejadian ini tidak lepas dari kesalahannya saat pertama kali mengenal keluarga tersebut.
Dimana ia juga pernah memprovokator para warga desa agar menjual lahan mereka dan memanasi mereka untuk menggulingkan lahan keluarga Sanyoto, demi memberi pelajaran kepada keluarga itu.
Tuan Hans menghela nafas panjang. "Baiklah, kalau begitu segera kirimkan rincian biayanya pada Daddy!" balas pria itu pada akhirnya menyetujui. Walau ia tidak tahu mau diapakan tanah seluas itu setelah Drew membelinya.
"Terima kasih Daddy," balas Drew bersuka ria.
Tuan Hans mengangguk, lalu masuk ke dalam mobilnya dan pergi bersama dengan Martino untuk kembali ke ibu kota.
__ADS_1
Sedangkan ketiga pemuda tampan itu saling memandang satu sama lain, setelah Tuan Hans menghilang dari pandangan mereka.
"Jadi bagaimana?" tanya Sam.
"Aku ingin membantu mereka memperbaiki kandang bebek," balas Drew santai.
Twister dan Sam melebarkan kelopak matanya, mereka berdua sampai menampar wajah mereka sendiri, karena tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Drew.
"Kenapa kalian memandangku seperti itu? Aku serius ingin membantu," ucap Drew tidak ingin diremehkan.
Twister terkekeh. "Apa kau yakin ingin membuat kandang bebek Drew?" tanyanya tidak yakin.
"Tentu saja," balas Drew yakin.
"Baguslah kalau begitu, ikutlah denganku ke gudang. Disana ada banyak sekali pekakas penting yang berguna untuk membuat kandang baru," ajak Twister dan Drew menurut.
Sam hanya bisa menggeleng kepalanya ketika melihat keteguhan hati Drew, yang ingin sekali membantu anak buah Pak Sanyoto dalam membangun kandang bebek yang baru.
Namun yang jadi pertanyaannya adalah, apakah Drew sanggup melakukan hal tersebut. Mengingat kandang bebek milik Pak Sanyoto sangatlah besar dan membutuhkan waktu berhari-haro dalam pengerjaannya.
Ditambah lagi Drew tidak pernah memegang pekakas atau alat-alat tukang lainnya, apakah pria itu bisa membedakan mana itu martil, tang, paku dan alat lain sebagainya.
Apakah Drew bisa membantu atau malah menyusahkan semua orang?
Entahlah.
...----------------...
Rumah sakit.
"Apa Papa yakin mau pulang hari ini ke desa?" tanya Tesla sedikit keberatan mengenai keputusan sang ayah yang dinilai tergesa-gesa.
"Tentu sayang, kekacauan di desa sudah sangat memusingkan. Ditambah Papa harus mengurus kandang-kandang kita yang terbakar, jadi Papa tidak boleh terlalu lama berdiam diri," balas Pak Sanyoto.
Tesla menghela nafas panjang. "Baiklah, kalau begitu aku ikut pulang ke desa."
"Jangan, Papa bisa sendiri. Kau harus kuliah dan menyelesaikan tugasmu," balas Pak Sanyoto menolak.
Tesla menggeleng. "Tidak, aku harus mengantar Papa sampai ke rumah dengan selamat. Kalau tidak begitu, bagaimana aku bisa tenang disini."
Pak Sanyoto menghembus nafas kasar. "Ya sudah kalau begitu," balasnya tidak ada pilihan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.