
Setelah Twister keluar dari ruang kerja Tuan Hans, Luna yang kala itu menguping segera masuk ke dalam sana untuk mencari perhatian lebih agar ayahnya Drew tetap mempertahankan dirinya di rumah ini.
Luna mengetuk pintu dan menyembulkan kepalanya. "Om, apa aku boleh masuk ke dalam?" sapanya meminta ijin.
Tuan Hans menoleh. "Tentu saja Luna, masuklah!" jawabnya. "Ada apa?" tanyanya kemudian menghentikan sejenak pekerjaannya.
Luna memasang wajah sedih dan terduduk di dekat kaki Tuan Hans. "Om, sepertinya Drew tidak mau pulang ke rumah karena ada aku disini. Apa sebaiknya aku pergi saja dari rumah ini dan melupakan semua perlakuan Drew di kamarnya waktu itu?" isaknya menangis.
Tuan Hans meletakkan pulpennya dan mengelus puncak kepala Luna yang terduduk dilantai. "Jangan bersedih Luna, bagaimana pun juga Om telah berjanji akan menikahkan Drew denganmu secepat mungkin, demi mempertanggung-jawabkan perbuatan kotor Drew padamu."
"Tapi Om, Drew tidak mencintaiku dan dia juga tidak ingin aku terus menerus berada disini," ucap Luna semakin sedih, membuat Tuan Hans semakin terenyuh mendengar ratapannya.
"Jangan khawatirkan hal itu, Om berjanji akan membuat Drew menerimamu dan menjadikanmu wanita satu-satunya yang akan selalu berada disisinya," balas Tuan Hans.
"Tapi Om, bagaimana dengan Drew? Dia pasti tidak menerima begitu saja keinginanmu dan aku takut dia akan melakukan tindakan lebih membahayakan lagi, melebihi kelakuannya padaku waktu itu. Aku takut sekali Om, aku takut Drew akan melampiaskan kemarahannya padaku dan kehormataanku akan menjadi taruhannya," ucap Luna cemas.
"Jangan cemas, dia tidak akan berani melakukan itu padamu. Kalaupun dia melakukannya, Om bersumpah akan memaksa Drew agar bertanggung jawab atas perbuatannya terhadapmu!" balas Tuan Hans menegaskan.
"Benarkah Om?" tanya Luna memastikan sambil menatap Tuan Hans dengan linangan air mata buayanya.
"Benar! Sekarang berdirilah dan berhentilah menangis, ini sudah larut malam. Pergilah ke kamarmu dan beristirahat," ucap Tuan Hans membantu Luna agar berdiri.
Luna mengangguk patuh, sambil mengusap air mata dengan jari-jari lentiknya. "Terima kasih Om, Luna berjanji, setelah Drew pulang ke rumah ini dan telah menikah dengannya. Luna akan selalu berusaha membahagiakan Drew dan melayaninya dengan sepenuh hati," balasnya meyakinkan.
Tuan Hans mengangguk dan tersenyum. "Hem, baguslah kalau begitu. Memang itulah yang Om harapkan darimu dan om percaya sepenuhnya kepadamu," balasnya termakan omongan.
"Ya Om, kalau begitu Luna harus kembali ke kamar. Om juga jangan tidur larut malam," ucap Luna sebelum berpamitan.
"Ya, kau tidak perlu khawatirkan Om. Om bisa menjaga diri," balas Tuan Hans tidak mengapa.
"Baiklah, selamat malam," ucap Luna berpamitan.
"Ya selamat malam," balas Tuan Hans.
Luna keluar dari ruang kerja Tuan Hans dengan tidak lupa menutup pintu ruangan tersebut setelahnya.
"Akhirnya aku berhasil membuat pria payah itu percaya padaku dan aku juga berhasil mendapatkan dukungan darinya," ucap Luna sambil tersenyum dibalik wajah sedihnya itu dan pergi dari sana sebelum ada orang lain yang melihat.
__ADS_1
...----------------...
Desa Rawa Bebek.
Pak Sanyoto memperhatikan Drew yang sedang menulis sesuatu, perlahan tapi pasti pria bulat itu mendaratkan bokongnya disebelah Drew.
"Lagi ngapain sih?" tanyanya ingin tahu.
"Oh Papa mertua, ini aku sedang membuat laporan keuangan dan membuat estimasi keuntungan dari bisnis baruku disini," balas Drew menunjukkan grafik rumit dan kerumitan lain-lainnya.
Pak Sanyoto hanya bisa mengangguk, sambil memperhatikan gambar bergaris banyak itu. "Apanya yang mau dilihat kalau semua gambar ini cuma ada angka dan garis," celetuknya.
Drew terkekeh, kemudian menjelaskan tentang pekerjaannya kepada Pak Sanyoto dan sudah tentu pria bulat itu tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Drew.
"Singkirkan, Om tidak mengerti."
Drew mengerti. "Ya memang sulit sekali mengerti jika belum mempelajarinya."
"Memangnya kamu pendidikannya sampai S berapa?" tanya Pak Sanyoto.
"S2? Pasti pusing sekali ya pelajarannya, kalau Om yang kuliah sudah pasti nyampe nya S Teler," gurau Pak Sanyoto.
Drew tertawa mendengar itu. "Papa mertua kau bisa saja, mana ada S Teler."
"Ada, coba kau sekolah lagi. Jurusan beban hidup, pasti Teler kamu nanti," balas Pak Sanyoto. Jokes bapak-bapak memang berbeda sekali.
Drew menggeleng sambil terkekeh geli, tidak disangka ayahnya Tesla memiliki selera humor yang tinggi dan hal tersebut membuat Drew semakin betah berada di dekatnya.
Akan tetapi, bagaimana jika suatu hari nanti kedua orang tua Tesla sampai tahu kalau mereka telah dibohongi olehnya? Tentang dirinya yang sedang kabur dari rumah dan juga tenang hubungannya dengan Tesla yang telah berakhir cukup lama.
"Ini sudah malam, tidurlah!" perintah Pak Sanyoto.
"Om duluan saja, aku masih punya beberapa pekerjaan lagi yang harus dikerjakan," balas Drew.
"Oh ya sudah kalau begitu," ucap Pak Sanyoto sambil menguap dan menutup mulutnya.
Setelah Pak Sanyoto pergi, Drew mengambil ponselnya yang telah dimatikan selama hampir satu minggu semenjak kepergiannya dari rumah waktu itu, ia sengaja tidak menghubungi siapapun orang terdekatnya, karena ingin menenangkan diri dari berbagai tekanan.
__ADS_1
Bahkan melarang orang tua Tesla memberitahu Tesla ataupun Twister bahwa dirinya sedang berada di desa Rawa Bebek dengan alasan tidak ingin menganggu mereka disana.
Sepuluh menit telah berlalu, Drew yang terdiam akhirnya memutuskan untuk menyalahkan ponselnya dan memberanikan diri dalam menghadapi banyaknya pertanyaan dari berbagai pihak ataupun resiko terburuk nanti yang akan menerpa dirinya, demi agar masalah dalam hidupnya itu segera berakhir.
Lalu tak lama setelah ia menyalahkan ponselnya itu dan semua orang pun kini telah mengetahui keberadaan Drew.
Terutama Tuan Hans, pria paruh baya itu telah mendapatkan informasi mengenai keberadaan Drew, setelah berhasil menangkap sinyal dari nomor ponsel Drew yang baru saja diaktifkan.
"Desa Rawa Bebek," ucap Tuan Hans sambil mengepal erat kedua tangannya.
"Kenapa aku tidak kepikiran Drew ada disana?" batinnya menyesal karena tidak menelusuri tempat kediaman Sanyoto, yang jelas-jelas putranya itu memiliki kedekatan dengan keluarga mantan pacarnya.
Secepat mungkin Tuan Hans mengerahkan anak buahnya untuk terjun ke desa Rawa Bebek dan mengeruduk kediaman Sanyoto demi menyeret Drew agar keluar dari tempat tersebut.
Sementara itu, informasi keberadaan Drew juga terdeteksi oleh Sam. Dan secepat mungkin pria itu memberitahu info penting tersebut kepada Twister.
"Kita harus segera kesana sebelum Daddy!" ucap Twister mengajak Sam pergi.
Sedangkan Nyonya Bianca yang tahu keberadaan Drew pun merasa gelisah, ia memutuskan untuk pergi ke desa Rawa Bebek demi memastikan agar mantan suaminya itu tidak bertindak kasar kepada putranya maupun kepada orang lain.
Bukan hanya Nyonya Bianca, kegelisahan juga melanda Tesla yang mengetahui jika keluarganya telah menampung Drew selama ini. Dan gadis itu begitu takut Daddynya Drew akan melakukan hal kejam kepada keluarganya seperti yang sudah-sudah.
Dengan cepat Tesla meminta pada Nyonya Bianca untuk ikut ke desa dan mereka pun pergi bersama-sama menuju desa tersebut.
Dan bukan hanya mereka-mereka saja yang kini telah terjun menuju desa Rawa Bebek, Luna yang mengetahui berita penting itu pun segera menyusul kesana bersama dengan Nyonya Sherly dan juga keluarganya.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Next\=> Semua orang telah berkumpul di desa Rawa Bebek dan ketegangan terjadi disana.
Ketegangan apakah itu? tunggu di bab selanjutnya.
__ADS_1