Bad Boy Dan Gadis Desa

Bad Boy Dan Gadis Desa
Bab 67. Batalnya perjanjian.


__ADS_3

Twister begitu murka saat melihat sang adik, dengan sengaja diperlakukan secara kasar oleh dua orang pria dewasa dihadapannya.


Terlebih saat adiknya itu mengeluarkan air mata, dimana ini kedua kalinya ia melihat adiknya menangis. Karena sebab yang sama, oleh orang yang sama, yaitu oleh sang ayah kandung.


"Kakak ... " lirih Tesla memeluk Twister erat.


Pandangan Twister berganti kepada Tuan Anjas yang telah berlaku kasar kepada Tesla. "Beraninya kau mendorong adikku!" sentaknya.


"Twister! Jaga nada bicaramu! Apa kau tidak tahu siapa dia hah!" sergah Tuan Hans.


"Siapa dia? Untuk apa aku harus mengetahuinya dan apa untungnya bagiku?" balas Twister.


"Twister! Dia adalah Tuan Anjas, pria ini yang akan menjadi mertuamu nanti, setelah kau menikah dengan Alia putrinya. Jadi Daddy minta padamu, berperilakulah yang sopan kepada calon mertuamu ini!" sentak Tuan Hans sambil memperkenalkan calon besannya.


Twister mendengus kesal sambil menatapi penampilan Tuan Anjas dari atas hingga kebawah. "Kalau begitu katakan kepadanya, kalau aku ingin membatalkan perjodohanku dengan putrinya."


Tuan Anjas membelalakkan kedua matanya, begitu pula dengan Tuan Hans yang sama terkejutnya saat mendengar keputusan tiba-tiba dari Twister.


"Tidak bisa! Seenaknya saja kau memutuskan hubungan ini dengan putriku!" sentak Tuan Anjas marah dan tidak terima pembatalan perjodohan putrinya begitu saja.


"Twister, tarik kembali ucapanmu itu dan jangan berani macam-macam, apalagi mengubah keputusanmu seenaknya tanpa persetujuan. Ingatlah akan janji yang pernah kau berikan pada Daddy!" tekan Tuan Hans mengingatkan.


Twister berdecih. "Baiklah kalau begitu, selagi kalian berkumpul disini, maka aku tegaskan sekali lagi padamu Daddy, bahwa aku secara pribadi membatalkan perjanjian kita!"


Tuan Hans menggeleng. "Tidak bisa! Tidak semudah itu kau membatalkan perjanjian yang pernah kita sepakati bersama," tolaknya.


"Perjanjian apa! Sepertinya Daddy harus membaca ulang lagi perjanjian kita itu, dimana aku akan menuruti setiap keinginanmu. Menerima jodoh yang kau berikan, serta menerima keputusanmu sebagai pewaris perusahaan Royce."


"Akan tetapi ada satu hal yang kau lupakan Daddy, dimana aku akan menganggap batal perjanjian kita itu jika Daddy melakukan hal-hal yang tidak aku sukai."


"Dan hal yang tidak aku sukai salah satunya adalah kau telah menganggu kenyamanan serta memecah kedamaian keluarga sederhanaku!" tutur Twister menegaskan ketidak sukaannya.


Tuan Hans mengeraskan rahangnya, sambil terus menatap tajam Twister. Sepertinya pria itu melupakan satu hal, dimana Twister tidak akan pernah memaafkan seseorang atau siapapun yang berani mengganggu keluarga Sanyoto.


Sedangkan Tesla sendiri terpaku mendengar keputusan tersebut. "Kak Bagas," lirihnya.


Twister tersenyum, lalu mengajak Tesla pergi. "Kenapa diam saja, bukankah kau ada jam kuliah?"


Tesla mengangguk dan mengusap air matanya. "Iya," balasnya haru.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini."


"Tidak bisa! Mau kemana kalian, Twister!" cegah Tuan Hans terlihat murka.


"Tentu saja membawa adikku pergi menjauh dari orang-orang tamak dan kasar seperti kalian," balas Twister.


"Apa yang kau katakan baru saja hah! Demi gadis kampung itu, kamu berani berkata seperti itu kepada Tuan Anjas dan Daddymu sendiri! Apa yang bisa keluarga kampung itu berikan padamu, hah!"


"Katakan pada Daddy, Twister. Apa mereka bisa memberikanmu kekayaan, gelar atau kekuasaan? Ingatlah Twister, ketiga hal itu hanya bisa kau dapatkan setelah menjadi penerus perusahaan Royce!" geram Tuan Hans tidak terima.


Twister menoleh. "Aku lebih rela menjadi peternak bebek tanpa dosa, daripada mengurusi perusahaan yang akan mendapat keuntungan setiap harinya dari hasil merampas tanah keluarga sederhanaku!" tegasnya. Lalu membawa Tesla agar pergi bersamanya.


Tuan Hans seketika bungkam dan berkacak pinggang menatapi kepergian putra sulungnya itu, sesekali meninju udara sekitar karena kesal sebab rencananya gagal begitu saja akibat ulah gadis kecil.


Pria itu menghempaskan raganya diatas sofa dan memijat pelipisnya yang berdenyut.


Sedangkan Tuan Anjas yang mendengar Twister tidak ingin meneruskan perusahaan Royce, mulai mundur perlahan.


"Jika aku meneruskan hubungan ini, maka impianku memimpin perusahaan Royce akan sia-sia dan tidak ada gunanya. Mana mungkin aku membiarkan putriku menikah dengan pria pengurus ternak bebek," batinnya menimang-nimang kembali.


"Tuan Hans, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Tuan Anjas memastikan.


"T-tapi bagaimana janji perusahaan dengan para warga? Bahkan kita sudah mengeluarkan uang banyak agar bisa menjalankannya, dan tidak mungkin hanya karena satu masalah, rencanamu untuk mendapatkan lahan mereka berhenti begitu saja," ucap Tuan Anjas.


"Kalau begitu lupakan saja," balas Tuan Hans tidak peduli. Kemudian pergi bersama dengan Martino untuk mengurus keperluan lainnya.


Tuan Anjas merasa geram. "Siall!! Aku sudah mengeluarkan banyak uang dan waktu, hanya demi mendapatkan kepercayaan memegang kendali atas perumahan itu, tapi keinginanku harus gagal karena keputusan tidak masuk akal itu. Aku gagal. Gagal!!" sarkasnya marah.


...----------------...


Perjalanan menuju kampus.


Tesla terdiam disepanjang jalannya dan menghela nafas berkali-kali, karena merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada Twister.


"Maaf," ucap Tesla pada akhirnya.


"Minta maaf untuk apa?" tanya Twister.


"Maaf karena aku melibatkanmu dalam masalah keluargaku, maaf juga aku telah merusak masa depanmu," balas Tesla lemas.

__ADS_1


"Kenapa berkata seperti itu? Menurutku, kau sama sekali tidak merepotkan dan justru aku tenang sekarang ini, karena telah terbebas perjanjian dengan daddyku," balas Twister menenangkan.


"Tidakkah aku jahat, maksudku. Kau punya keluarga asli, tapi kau malah memberontak kepada keluargamu sendiri. Sudah begitu, gara-gara masalah keluargaku, kau jadi gagal bertunangan," ucap Tesla merasa tidak enak hati.


Twister terkekeh dan mengusak puncak kepala Tesla. "Jangan berkata seperti itu lagi, aku senang karena perjodohanku tidak jadi," balasnya.


"Tapi apa yang membuatmu senang dan berkata seperti itu? Aku tadi sempat melihat calonmu dan dia sangat cantik, aku merasa bersalah sekali karena telah memisahkan kalian sebelum waktunya," balas Tesla.


Twister menghembus nafas panjangm "Pikirkanlah ini baik-baik, jika pertunanganku dengan wanita itu batal. Setidaknya aku bisa bebas menentukan wanita pilihanku," balasnya tersenyum.


"Bebas menentukan pilihan? Lalu wanita mana yang beruntung mendapatkan dirimu?" tanya Tesla.


Twister tersenyum malu dan menatap Tesla. "Rahasia," balasnya.


"Rahasia? Jawaban macam apa itu? Kenapa kau harus merahasiakannya padaku?" cecar Tesla penasaran.


"Sudahlah, berhenti menunjukkan wajah jelek itu padaku. Sekarang turunlah dari mobilku dan pergilah belajar sana!" titah Twister.


"Tidak! Tidak mau, aku tidak akan turun sebelum kau mengatakan siapa wanita itu," ucap Tesla menolak.


Twister berdecak kesal dan kembali mengingat awal pertemuannya dengan sang pujaan hati, seketika wajahnya memerah dan berubah malu.


"Kenapa wajahmu memerah dan kenapa kau sengar sengir sendiri seperti itu?" tanya Tesla kembali.


Twister mendorong Tesla agar keluar dari mobilnya. "Berhenti menanyaiku pertanyaan bodoh lagi. Sudah sana turun," ucapnya tidak peduli.


"Ck! Menyebalkan!" balas Tesla tidak ada pilihan lain selain turun dari mobil Twister sebelum jam kulaih dimulai.


Twister tersenyum, lalu mengeluarkan secarik kertas pemberian dari seorang dokter wanita yang pernah merawatnya selama di desa Rawa Bebek dari dalam dompetnya.


Semoga lekas sembuh.


"Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, entah bagaimana kabar dia sekarang ini dan ada dimana dia, aku juga tidak tahu."


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2