
Keesokan harinya.
Apartemen Matt.
"Sayang, kenapa kau tidak mau menemuiku lagi. Aku sangat merindukanmu," ucap Matt melalui ponselnya.
"Maaf Matt, aku tidak boleh keluar rumah. Kau tahu kan sebentar lagi aku akan menikah," balas Bella.
Matt menyugar rambutnya dan mendengus kesal. "Lalu bagaimana denganku? apa kau tidak peduli dengan kekasihmu ini Bella!"
"Kau memang kekasihku, tapi itu dulu. Kita sudah putus beberapa bulan yang lalu dan ingatlah ini, aku akan menjadi istri dari pria lain. Sudahlah Matt, aku capek. Aku mau istirahat," balas Bella.
"Setelah semua yang telah kita alami, kenikmatan bersama waktu itu dan janji kita. Apa kau masih ingin meninggalkanku?" cecar Matt.
"Matt, jangan bahas masalah itu lagi. Anggap saja itu kekhilafan kita berdua dan aku tidak ingin mengulangi kesalahan itu lagi. Jadi Matt lupakanlah aku, aku tidak mau keluarga suamiku sampai mengetahui kalau aku pernah berhubungan dengan pria lain," balas Bella.
"Pria sialann mana yang berani merebutmu dariku Bella!" ucap Matt kesal.
"Pria siallan yang kau maksud itu adalah Drew, anak dari keluarga Royce."
Matt mengeraskan rahangnya dan meninju udara sekitar. "Apa, Drew? Jadi si bocah ingusan itu yang akan menjadi suamimu?"
"Iya, memangnya kenapa? Dia satu-satunya penerus perusahaan Royce dan itulah alasan mengapa daddy melirik dia," balas Bella.
Matt berdecih. "Daddymu kurang teliti mencari menantu ternyata," sindirnya.
"Apa maksudmu Matt? Kenapa kau berkata kurang ajar begitu kepada daddyku!" sergah Bella tidak terima.
"Kau bilang daddymu tidak suka seorang pembalap sepertiku, tapi asal kau tahu saja. Drew juga sebenarnya adalah seorang pembalap. Ya walau masih amatir," balas Matt.
Bella terdiam sejenak, walau dia memberitahu kenyataan tersebut kepada sang ayah. Namun Bella yakin, ayahnya itu tetap akan melanjutkan pernikahan mereka. Mengingat kekayaan keluarga Royce.
"Sudahlah Matt, sekuat apapun kau menjelekkan calon suamiku. Dia tetap saja menang," balas Bella. Kemudian menutup panggilan itu secara sepihak.
Matt melempar ponselnya karena kesal. "Apa bagusnya keluarga itu, aku harus segera menyingkirkan Drew seperti aku menyingkirkan Twister!" geramnya.
Dan disaat pria itu tengah memaki Drew beserta keluarganya, karena telah membuat hidupnya tidak tenang, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ia segera mengambil ponselnya kembali, untuk melihat apa bunyi dari pesan tersebut.
"Ck! Siapa yang mengirimiku pesan tidak jelas ini!" decaknya kesal. Karena telah mendapatkan sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
...Aku menunggumu di sirkuit MTW!...
...From TTM....
Matt melebarkan kelopak matanya. "TTM? Twister The Monster!" ucapnya mengetahui inisal tersebut.
Pria itu menyeringai. "Aku tidak tahu ini benar dirimu atau bukan, tapi apapun itu aku siap menghadapi tantanganmu."
...----------------...
Sirkuit.
Suasana di sirkuit kali ini sangatlah ramai, karena Sam sengaja mengundang seluruh pembalap yang ada dan juga para pencinta balap motor untuk berkumpul di arena sirkuit, hanya demi menonton pertandingan yang akan dihadirkan secara khusus dan pastinya gratis.
Keramaian tersebut dimanfaatkan oleh sejumlah pihak, diantaranya para pedagang makanan ringan serta minuman keliling. Sehingga mereka bisa mendapat rejeki tambahan.
__ADS_1
Namun bukan itu tujuan utama dalam event pertandingan kali ini, melainkan ingin membongkar keburukan Matt dihadapan semua orang.
"Bagaimana, apa kalian sudah siap?" tanya Sam kepada dua orang pembalap didepannya.
"Tentu aku siap," jawab Drew menggebu-gebu.
"Baguslah, tapi apa kau yakin akan memakai nomor Twister?" tanya Sam kembali.
"Tenang saja Sam, karena aku percaya kepada Twister. Dia pasti akan melindungiku diarena balap nanti," balas Drew yakin dan tersenyum menatap Bagas yang memakai baju balap dengan nomor orang lain.
"Tenang saja, aku akan berusaha melindungimu," balas Bagas.
"Ya sudah kalau begitu kalian bersiaplah, jangan sampai ada pembalap lain yang melihat kalian." Sam menutupi Drew dengan helm milik Twister.
Tak berselang lama kemudian, suara penonton semakin bergemuruh. Karena melihat kedatangan seorang pembalap terkenal, yaitu Mattew.
Matt!
Matt!!
Matt!!
Seru para penonton yang mengidolakan Matt, sesekali mengibaskan bendera dengan nomor kebesaran Matt dan logo merk motornya.
Matt tersenyum dan memberikan lambaian tangan kepada para penggemarnya, tidak lupa melempar ciuman kepada para penonton wanitanya.
Sedangkan di kubu lain, Drew menapakkan kakinya keluar dan ia langsung disambut meriah oleh para penggemar The Monster.
Twister!!!
Seru penggemar Twister, walau mereka tidak yakin idolanya itu masih hidup atau tidak. Namun mereka yakin, yang berada dibalik seragam tersebut adalah Twister.
...***...
Tidak mau banyak berbicara, cerita pun dipercepat. Penulis membuat beberapa pembalap telah bersiap sedia digaris mereka masing-masing.
Seperti biasa Sam mengecek alat komunikasinya, sambil menatapi layar monitor dan ia bersama dengan kru lain bersiap pada posisi masing-masing.
"27 Laps, Drew jangan gegabah! Ini adalah balapan serius, kami sangat mengandalkan teknik serta keahlianmu saat ini. Tapi ingatlah ini Drew, walau kau memakai seragam Twister, kau tidak perlu menjadi dirinya. Jadilah dirimu sendiri!"
Aku mengerti Sam.
Sementara itu Bagas bertugas membayangi Matt dan berusaha sekuat mungkin menjaga Drew dari keberingasan Matt.
Tak butuh waktu lama, balapan telah dimulai dan para pembalap mulai memacu gas mereka dikecepatan tertinggi.
Sam terus memperhatikan Bagas dan Drew dalam monitor, memastikan kedua pembalap ini selalu optimal dan mesin dalam keadaan stabil.
Selain itu, ia terus memberi arahan dan juga masukan serta memberitahu ada dimana target mereka sekarang ini.
"Sudah ku bilang, The Monster itu telah mati!" ucap Matt remeh. Setelah ia mengetahui jika pria pembalap berseragam The Monster tidak punya keahlian.
Dengan keterampilannya, Matt membuat para pembalap dihadapannya jatuh tersungkur. "Minggir kalian serangga!"
Dan pria itu tertawa seakan meledek. "Tidak ada yang bisa mengalahkanku! Sesumbarnya.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya Matt berhasil berada diurutan pertama, disusul oleh Drew dibelakang Matt.
"Berkonsentrasilah kalian, karena Matt sepertinya sengaja menyingkirkan pembalap lain hanya karena ingin bertanding secara pribadi dengan The Monster!" ucap Sam menurut penelitiannya.
Karena di putaran yang hanya tinggal sedikit lagi, pembalap di sirkuit hanya tinggal tersisa 3 peserta. Yakni Matt, Drew dan juga Bagas.
"Kalau begitu Drew dalam bahaya," ucap Bagas. Ia memacu gas sekencangnya dan menjadikan dirinya naik ke posisi kedua.
"Drew aku akan membayangi Matt dan menghalanginya mencelakai dirimu, kau gunakan kesempatan itu saat aku berhasil mengecohnya."
"Tapi Twister,"
"Jangan pedulikan aku!"
Bagas mendekati motor Matt dan bertahan disisi pria dengki itu, sekan memberi perisai untuk Drew agar bisa menyusul Matt ke posisi pertama.
Melihat dirinya dihalangi oleh pembalap asing, Matt merasa tidak senang. Dengan segera ia menancap gas lebih kencang, namun Bagas tidak membiarkan Matt lepas dari bayangannya.
Sehingga adu keahlian mereka tidak dapat terelakkan lagi dan begitulah hingga mereka telah berada diputaran terakhir.
Matt berusaha lepas dari bayangan pembalap asing disebelahnya dan Bagas terus berusaha menahan Matt agar Drew punya kesempatan untuk menyalip.
Melihat jarak tersisa, Drew mengambil kesempatan tersebut. Dengan segera ia memacu gas dikecepatan tertinggi saat dijalanan berkelok dan usahanya pun membuahkan hasil.
Drew berhasil menyalip kedua pembalap besar dihadapannya. Diiringi sorak sorai penonton yang menggemuruh di seluruh sirkuit.
"Drew fokus!" pantau Sam, karena pria itu tahu Drew sedang besar kepala sekarang ini.
"Maaf," jawab Drew kemudian kembali fokus.
Bagas menghembus nafas lega, karena Drew berhasil naik ke posisi pertama. Namun ia tidak boleh lengah sedikit pun, karena pertandingan masih belum dinyatakan usai.
Sedangkan Matt mulai geram, terlebih saat melihat garis finish tinggal beberapa meter saja didepan mata.
"Menyingkirlah dari jalanku dasar serangga menyebalkan!"
Dengan gelap mata Matt menendang sisi body motor yang sedang dikendarai oleh Bagas, hingga motor Bagas mengalami oleng dan keluar dari sisi jalan.
"Twister!" pekik Sam.
Drew mendengar para penonton menjerit histeris dan Sam terus saja memanggil nama Twister.
Pria itu segera menghentikan secara paksa motornya, yang hanya tinggal beberapa centimeter saja dari garis finish, lalu menoleh kearah layar besar yang berada pada sirkuit tersebut. Dimana kecelakaan tengah terjadi.
Ia membelalakan kedua matanya, saat melihat Twister mengalami kecelakaan, hingga jatuh terlempar jauh dari motornya.
"Twister!!" pekik Drew. Turun dari motornya.
Pria itu tidak memperdulikan lagi kemenangan yang sudah berada di depan mata, ia terus berlari dan berlari secepat mungkin menghampiri sang kakak yang tergeletak di atas batu kerikil pada bahu jalan.
Sementara itu Matt tertawa kencang, saat motornya berhasil melewati garis finish.
.
.
__ADS_1
Bersambung.