
Drew tertidur pulas di kamar tamu dalam rumah Pak Sanyoto dan pria itu tidur seperti orang mati, karena hingga waktu menjelang mahgrib tiba, Drew belum juga terbangun dari tidurnya.
Dan bersamaan dengan hal tersebut, Ibu Tyas baru saja tiba di kediamannya pun nampak bertanya-tanya dengan kelakuan suaminya yang tengah membungkuk, seperti orang yang sedang mengintip ke dalam kamar tamu.
"Tidurnya pulas sekali," gumam Pak Sanyoto pelan.
"Ada apa sayang? Apa yang sedang kamu lihat di dalam?" tanya Ibu Tyas menepuk pundak suaminya hingga terjingkat.
"Astaga Mama! Bikin kaget saja!" pekik Pak Sanyoto sambil mengusap-usap dadanya karena lemas akibat terkejut.
"Ada apa sih Pap? Memangnya ada siapa di dalam kamar ini?" tanya Bu Tyas penasaran.
"Di dalam ada tamu tidak diundang, datang tidak dijemput tapi tidak mau pulang-pulang," celoteh Pak Sanyoto.
"Apa si Papa ini, enggak jelas!" ucap Bu Tyas tidak mengerti.
"Lihat saja sendiri lah," balas Pak Sanyoto menunjuk celah pada pintu.
Bu Tyas pun mengintip dan ia terkejut karena ada Drew di rumahnya. "Bukankah dia adaah Drew? Tapj bagaimana bisa dia ada di rumah kita?" cecarnya ingin tahu.
Pak Sanyoto menceritakan kejadian di ruang makan tadi, dimana Drew tahu-tahu sudah tiba saja di rumah mereka tanpa memberi kabar ingin datang terlebih dahulu, lalu tertidur setelah mencuci semua piring kotor dan belum bangun sampai hari hampir malam.
"Tapi apa alasan dia ingin menginap disini? Padahal Tesla tidak berencana pulang kampung dan putri kita juga tidak mengabari Drew akan datang kemari?" tanya Bu Tyas.
"Entahlah, Papa juga tidak tahu. Tapi Drew bilang kalau dia mau menginap disini untuk mengontrol bisnis hotelnya," balas Pak Sanyoto.
"Tapi apa mungkin dia memilih menginap di rumah kita yang tidak pakai AC sama sekali? Padahal dia bisa tinggal di dalam hotel pribadinya yang lebih mewah dan lebih mewah bukan?" ucap Bu Tyas kembali berpikir.
"Benar juga, Papa juga tidak mengerti kenapa dan ada apa dengan dia? Apa jangan-jangan mereka sedang bertengkar?" balas Pak Sanyoto menerka.
"Kalau mereka berdua sedang bertengkar, untuk apa Drew sampai jauh-jauh datang dan menginap di rumah kita?" jawab Bu Tyas.
"Kau benar juga," balas Pak Sanyoto membenarkan.
"Apa Drew sedang mengalami masalah didalam keluarganya?" ucap Bu Tyas masih menduga
"Kalau ada masalah di keluarganya, pasti Twister sudah memberitahukan hal itu kepada kita," jawab Pak Sanyoto.
Ibu Tyas menghela nafas panjang dan berhenti memikirkan hal-hal yang belum diketahui kebenarannya. "Ya sudah biarkan saja dia tidur di rumah kita sampai dia puas, aku mau pergi mandi dulu, habis itu membuat makan malam untuk kita bertiga," ucap Bu Tyas.
Pak Sanyoto mengangguk. "Ya sana masak yang banyak, karena anak itu makannya banyak sekali."
Ibu Tyas terkekeh kecil. "Baiklah," patuhnya mengerjakan.
...***...
Aroma wangi dari masakan buatan ibu Tyas mulai merebak memenuhi ruang dapur keluarga Sanyoto, aroma lezat itu mengapung liar diudara dan terbawa oleh hembusan angin hingga memenuhi beberapa ruang didalam sana.
Drew mulai terusik tidurnya, ketika aroma lezat terus saja menusuk indra penciumannya. Hingga mau tidak mau, Drew harus membuka kedua matanya itu karena aroma tersebut mulai membuat perutnya berbunyi.
"Wangi apa ini? Sepertinya lezat sekali," gumam Drew sambil berusaha melawan kantuknya.
__ADS_1
Lalu, ia pun bangun dari tempat tidur dan pergi mengikuti kemana aroma lezat itu membawanya.
Setibanya di dapur Drew nampak tertegun melihat Ibu Tyas telah menyiapkan makan malam untuk keluarganya, terlihat juga Pak Sanyoto membantu sang istri dalam menyiapkan piring dan menata semua makanan diatas meja makan.
Pemandangan langka yang baru pertama kali ia lihat dalam seumur hidup dan Drew sampai merasa iri karena kedua orang tuanya tidak pernah hidup berdampingan hingga se romantis itu.
Namun sang pemilik nampaknya belum menyadari kedatangan orang lain dalam ruangan tersebut, hingga Drew harus menyaksikan adegan romantis lain yang dinilai untuk kalangan 21 tahun keatas.
"Ehem!" Drew akhirnya berdehem, karena kelakuan kedua orang di dapur itu mulai menyiksa batinnya.
Sehingga buru-buru lah, Pak Sanyoto menaikkan celananya lagi, lalu bergegas menjauh dari istrinya dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan Bu Tyas yang salah tingkah karena malu aksi mereka kepergok orang lain pun, segera pergi ke kamar mandi dengan wajah memerahnya.
Drew memalingkan wajahnya sambil terkekeh kecil dan berpikir apa mereka selalu melakukan itu dimana-mana?
Seketika Drew memikirkan tentang masa depannya bersama dengan Tesla, kemungkinan besar ia juga akan melakukan itu jika sudah tinggal bersama sebagai suami istri.
Dan lamunan tersebut malah membuat Drew menjadi salah tingkah sendiri, sehingga Pak Sanyoto merasa kesal melihatnya.
"Heh! Kenapa senyam senyum sendirian disana seperti orang gilla saja! Mau makan tidak?" ketus Pak Sanyoto.
Drew berhenti melamunkan Tesla dan segera menghampiri Pak Sanyoto, lalu duduk bersama untuk menyantap makan malam.
"Kapan kau pulang?" tanya Pak Sanyoto.
"Belum tahu, mungkin seminggu atau sebulan lebih," balas Drew.
Pak Sanyoto tersedak makanannya sendiri. "Sebulan? Apa tidak salah? Terus Daddy simelekete mu itu tahu tidak kamu menginap disini?"
Pak Sanyoto menelan ludahnya kasar. "Kepedean sekali," gerutunya.
"Sudah jangan ribut di depan makanan, itu tidak baik. Dan Papa, biarkan saja Drew menginap disini selama yang dia mau," ucap Bu Tyas yang baru saja keluar dari kamar mandi dan menghampiri mereka berdua.
Pak Sanyoto mencebik sedangkan Drew bersorak senang.
"Terima kasih Mama mertua, kau memang ibu mertua ter-the best!" balas Drew mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Jangan terlalu memuji, ayo jangan malu-malu. Ambil dan makanlah yang banyak," ucap Bu Tyas menawari.
Drew tanpa ragu mengeruk semua makanan yang ada dihadapannya, membuat Pak Sanyoto kembali berdecih. "Dia seperti orang kelaparan saja, makan lauk banyak seperti itu. Apa tidak takut cacingan? "
Drew mendengar celetukkan itu, tapi dia tidak mempermasalahkannya, malahan dia merasa senang sekali berada disana dan merasa seakan berada di rumah yang sesungguhnya.
...----------------...
Beberapa hari kemudian.
Mansion Royce.
Sementara itu anak buah Tuan Hans tidak henti-hentinya memberi kabar dari hasil pencarian mereka terhadap Drew yang menghilang.
__ADS_1
"Apa kau sudah mengeceknya disetiap bandara dan disetiap jam penerbangannya?" tanya Tuan Hans mengecek.
"Sudah Tuan besar, akan tetapi sampai saat ini, tuan Drew tidak terlihat berpergian menggunakan pesawat terbang," balas Martino.
"Bagaimana dengan hotel? Apa ada berita dia menginap di hotel mana?" tanya Tuan Hans kembali.
"Tuan Drew juga tidak menginap di hotel, bahkan seluruh hotel di kota ini tidak terdaftar namanya," balas Martino apa adanya.
"Bagaimana dengan hotel diluar kota? Restoran-restoran lainnya atau tempat yang sering dia kunjungi, rumah kerabat dan lain sebagainya?" selidik Tuan Hans sambil memegang daftar nama-nama tempat yang mungkin ada Drew di dalamnya.
"Tuan Drew tidak pernah sekalipun mengunjungi tempat-tempat yang sudah disebutkan tadi Tuan," balas Martino.
"Bagaimana dengan nama rekening di bank nya? Apa ada transaksi lintas rekening atau pembayaran lain-lain?" selidik Tuan Hans kembali.
Martino menggeleng lemah. "Tidak ada Tuan besar, selama beberapa hari ini tidak ada tanda-tanda aktifitas keuangan baik itu online maupun offline dari tuan Drew."
Tuan Hans mengepal erat kedua tangannya dan menghembus nafas kasar. "Kalau begitu cari Drew lagi, kalau perlu telusuri hingga ke lubang semut sekalian dan kabari aku jika ada perkembangan mengenai keberadaan Drew!" perintahnya tidak mau tahu.
"Baik Tuan," patuh Martino patuh.
Bersamaan dengan hal tersebut Twister memasuki ruang kerja ayahnya, lalu duduk dihadapannya.
"Kenapa kau datang ke ruang kerja Daddy? Apa ada masalah di kantor?" tanya Tuan Hans.
"Tidak ada masalah di kantor ataupun pekerjaan lainnya," balas Twister.
"Kalau begitu apa?" tanya Tuan Hans.
"Daddy, ku mohon berhentilah mencari Drew. Biarkan dia menenangkan diri selama beberapa waktu," jawab Twister.
Tuan Hans menatap Twister dingin. "Kau tidak mengerti, apa kau tahu kenapa aku sangat menginginkan Drew kembali ke rumah ini?"
"Kau ingin Drew kembali ke rumah ini dan menuruti setiap permintaan Daddy, tapi apakah Daddy tidak pernah berpikir atau bertanya terlebih dahulu bagaimana perasaan Drew saat melakukan apa yang Daddy minta?" jawab Twister.
"Kau berbicara seolah Daddy ini sangat kejam pada Drew, tapi apakah kau tidak berpikir kenapa Daddy melakukan semua ini? Daddy peduli pada masa depan Drew dan Daddy ingin Drew punya kehidupan cemerlang dalam meniti karier dan sukses di segala macam bidang bisnis. Selain itu Daddy juga ingin Drew segera menikah dan memiliki keluarga yang bahagia, serta istri yang selalu berada disisinya," ucap Tuan Hans memberitahu keinginannya.
"Tapi Daddy itu bukanlah rasa peduli, melainkan ambisi dan juga keegoisanmu!" balas Twister.
"Kalau memang itu semua yang terbaik untuk masa depan Drew, Daddy rasa semua itu tidak ada salahnya," ucap Tuan Hans.
"Tidak semua orang bisa kau sama ratakan dengan keinginanmu Daddy, Drew punya jalan sendiri dan biarkan dia menentukan jalannya," balas Twister.
"Menentukan jalan seperti apa? Setahu Daddy, jalan yang Daddy tentukan adalah yang terbaik untuk Drew," balas Tuan Hans teguh pada pendiriannya.
Twister mendengus kesal dan tidak mengerti dengan sikap egois ayahnya yang terlalu menekan Drew agar mau menuruti setiap keinginannya.
"Daddy, aku hanya berharap kau tidak menyesal dikemudian hari," ucap Twister sebelum pergi dari ruang kerja sang ayah.
Sedangkan Tuan Hans tidak mengubris peringatan tersebut, malah ia sedang mencari cara agar Drew segera ditemukan dan menikah dengan Luna secepat mungkin.
.
__ADS_1
.
Bersambung.